Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Nathan, mau sampai kapan kita berada di sini? Memangnya kamu sama sekali tidak ingin pergi ke kantor?" Tanya Dinda.


"Sebenarnya aku ada meeting jam 02.00 siang, tetapi aku tidak ingin berpisah denganmu Sayang, aku benar-benar ingin menikmati waktu berdua denganmu," ucap Nathan.


"Tapi kamu tidak boleh seperti ini, kamu juga harus mementingkan pekerjaanmu. Aku juga akan bekerja nanti sore, jadi aku harus pulang. Pasti Ayah dan Ibu juga mencariku," kata Dinda.


Dinda memang tidak mengabari kedua orang tuanya jika tadi malam dia tidak pulang. Ia juga lupa membawa ponselnya sehingga orang tuanya pasti tidak dapat menghubunginya.


"Sayang," panggil Nathan.


"Hem," Jawa Dinda.


"Terimakasih ya karena kamu telah memberikan aku kesempatan untuk menjadi kekasihmu. Kau harus percaya bahwa aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun dengan Clara. Dia sama sekali tidak mau aku sentuh dengan alasan tidak mencintaiku. Tapi aku juga sama sekali tidak mencintainya, aku mencintaimu Dinda," ucap Nathan sembari menatap mata indah Dinda yang terlihat begitu teduh.


Dinda pun membalas tatapan tersebut, ia mencoba mencari kebohongan dari mata Nathan tetapi sama sekali tidak menemukannya. Ia tahu dan bisa merasakan jika Nathan benar-benar tulus mencintainya.


"Iya, aku juga mencintaimu Nathan. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku selalu bahagia saat bersamamu," ucap Dinda.


Nathan meraih tubuh sang kekasih ke dalam pelukan hangatnya lalu mengurainya. Lalu mereka berdua pun kembali menyatukan bibir hingga terjadilah permainan panas di atas ranjang yang terulang kembali.


*****


"Dimas bagaimana pagi tadi? Apa semua yang ku perintahkan padamu sudah selesai?" Tanya Nathan saat ia baru saja tiba di perusahaan.


"Tentu saja sudah selesai Tuan, aku sudah mengirimkan filenya ke alamat emailmu," jawab Dimas.


"Good job," ucap Nathan lalu merogoh ponsel di dalam kantong celananya. "Sekarang kau lihat itu notifikasi pada ponselmu."


Dimas pun segera saja melihat notifikasi pada ponselnya yang ternyata Nathan mengirimkan uang untuknya, ia begitu terkejut melihat nominal yang besar berjumlah 10 juta.

__ADS_1


"Ini, ini uang apa Tuan?" Tanya Dimas.


"Tentu saja itu bonus untukmu. Karena kau selama ini sudah bekerja dengan baik untukku, kau selalu bisa menghandle apapun yang aku perintahkan saat aku sedang tidak berada di perusahaan," kata Nathan.


"Ini sungguh Tuan?" Tanya Dimas tidak mempercayainya. Bagaimana tidak, ia seperti sedang kejatuhan durian runtuh.


"Tentu saja itu benar," jawab Nathan.


"Terimakasih Tuan," ucap Dimas yang begitu sangat senang karena mendapatkan bonus dari Tuannya.


Padahal ia biasa mendapatkan bonus jika sedang menang tender, itupun tidak sebanyak ini. Ia pun dapat melihat jika suasana hati Tuannya hari ini begitu baik. Bahkan Tuannya yang biasanya uring-uringan dan berwajah angkuh hari ini terlihat begitu sangat bahagia dan terus saja tersenyum.


"Ada apa dengan Tuan Nathan? Kenapa dia begitu terlihat sangat bahagia? Bukankah jika masalah istrinya dia sama sekali tidak pernah merasakan bahagia? Apa jangan-jangan dia sudah melakukan sesuatu dengan istrinya? Ah entahlah, yang jelas ini sangat menguntungkan buatku. Aku juga merasa senang jika melihat Tuan Nathan bahagia seperti ini," batin Dimas dengan sejumlah pertanyaan di dalam hatinya.


"Ya sama-sama, jangan lupa materi meeting nanti juga kau kirimkan kepadaku," kata Nathan.


"Wah luar biasa sekali. Kau benar-benar bisa diandalkan," Nathan memuji sembari menepuk tangan.


"Anda saja yang tidak pernah menyadarinya Tuan," gerutu Dimas.


Nathan yang mendengar gerutuan Dimas pun meliriknya sehingga membuat Dimas bergidik.


"Maaf tuan, aku permisi," ucap Dimas lalu segera saja keluar dari ruangan CEO, ia tidak mau jika akan merusak mood baik Tuannya itu.


Dimas tersenyum sumringah pertanda ia sedang bahagia, bagaimana tidak ia baru saja mendapatkan bonus 10 juta dan tentu saja uang itu akan ia berikan kepada orang tuanya dan juga calon istrinya nanti. Memang gaji Dimas terbilang tidak sedikit, tetapi karena ini uang adalah bonus jadi sudah pasti Dimas merasa lebih bahagia dan akan menggunakan uang tersebut untuk sesekali berbelanja dengan Ibu dan calon istrinya.


*****


Gery melajukan mobilnya menuju ke restauran milik keluarganya, tentu saja untuk melihat Dinda. Karena ia masih merasa sangat khawatir dengan kondisi Dinda yang sakit, terlebih lagi Dinda sama sekali tidak menjawab teleponnya.

__ADS_1


Setibanya di restauran, Gery pun segera saja mencari dimana keberadaan Dinda yang ternyata saat itu ia sedang mengemasi meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan.


"Akh … ," Dinda berteriak karena terkejut melihat Gery yang tiba-tiba ada di belakangnya itu, sehingga nampan yang dibawanya berisi piring dan gelas terjatuh dan pecah berkeping-keping.


"Dinda, aku minta maaf karena sudah mengagetkanmu," ucap Gery.


"Kenapa kamu tiba-tiba ada di belakangku, aku menjadi kaget," Dinda pun segera memunguti pecahan kaca tersebut.


Akan tetapi, tiba-tiba saja jarinya itu tertusuk kaca dan mengeluarkan darah


"Aw," Dinda merintih merasakan nyeri dijarinya.


Gery yang sangat khawatir pun refleks meraih jari Dinda dan menghisap darahnya. Dinda terkejut dengan perlakuan yang Gery lakukan. Memang selama berpacaran Gery merupakan tipikal cowok yang romantis, maka dari itu Dinda bisa mencintai Gery. Akan tetapi karena larangan dari orang tuanya itu pun Dinda berusaha untuk melupakan Gery dan akhirnya jatuh cinta pada sosok Nathan.


Bersamaan dengan hal itu, Nathan yang juga baru saja masuk ke dalam restauran sangat murka melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Ia segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri Dinda dan Gery. Dengan sangat kasar Nathan melepaskan tangan Gery dari jari Dinda sehingga Nathan pun terjungkal.


"Dinda, kamu kenapa? kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Nathan yang saat ini beralih memegang jari Dinda.


"Aku tidak kenapa-napa Tuan," jawab Dinda yang terkejut melihat Nathan kini ada di depannya.


"Ada apa ini? Mengapa dua pria ini kompak sekali mengagetkanku hari ini. Untung saja aku tidak punya penyakit jantung," batin Dinda.


Nathan langsung saja meminta kotak P3K kepada kasir, setelah itu ia pun kembali lagi dengan membawa kotak P3K tersebut. Ia menuntun Dinda untuk duduk di kursi dan membersihkan lukanya itu serta menempelkan plester di jarinya. Sedangkan Gery saat ini terlihat sedang menahan emosinya melihat kedekatan mereka berdua. Karena sedari tadi ia ingin mendekati Dinda, tetapi Nathan selalu saja menghalanginya.


"Ada apa denganmu Tuan Nathan? Kau datang ke restauranku dan kau marah-marah serta melarangku untuk berdekatan dengan Dinda? Kau sadar tidak kalau kau itu sudah mempunyai istri!" Bentak Gery.


Saat itu, para pengunjung di restauran menjadi memperhatikan mereka, ada salah satu dari mereka yang merekam kejadian itu dan menyebarkannya di media sosial sehingga dengan sangat cepat rekaman video itu dilihat oleh Clara.


...………… Bersambung ………...

__ADS_1


__ADS_2