Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Mencari Dinda


__ADS_3

Pagi-pagi sekali saat jalanan masih begitu sepi, Nathan sudah melajukan mobilnya menelusuri kota Jakarta. Ia memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali sebelum Clara bangun. Setelah tadi malam ia tidak bisa pergi kemana-mana karena terus diawasi oleh ibunya yang terus saja bertanya kepada Clara, pagi ini ia memilih untuk pergi secara diam-diam. Mungkin saja Clara saat ini tidak menyadari jika dirinya sudah tidak ada di rumah karena Clara sendiri selalu saja bangun kesiangan, tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Kemana lagi tujuan Nathan saat ini kalau bukan untuk mencari Dinda. Ia yang sudah menahan hasratnya dan merasa khawatir ingin bertemu dengan Dinda dari kemarin sudah tidak sabar lagi untuk menemuinya. Nathan pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Dinda.


Setibanya di rumah Dinda, terlihat di sekeliling rumah Dinda yang begitu sepi. Nathan tidak melihat tanda-tanda bahwa ada orang di dalam rumah tersebut.


"Kemana ya Paman dan Bibi? Apa mungkin mereka semua sudah pergi bekerja? Terus dimana Dinda? Bukankah sift pagi pun Dinda masuk jam 08.00, ini masih jam 07.00, mana mungkin mereka semua sudah tidak ada di rumah," Gumam Nathan.


Nathan pun melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama dan mengetuk pintu rumah tersebut.


Tok … tok … tok …


Berulang kali Nathan mengetuk pintu itu tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda orang yang akan membukakan pintu tersebut untuknya. Ia menjadi bertambah bingung, apa mungkin rumah ini benar-benar kosong?


Saat itu seorang tetangga lewat dan menghampiri Nathan.


"Maaf, Mas cari siapa ya?" Tanya seorang pria paruh baya sebut saja namanya Pak Tejo.


"Oh iya Pak, saya mau cari orang yang tinggal di rumah ini. Dimana ya mereka?" Tanya Nathan.


"Oh Pak Doni dan Bu Santi ya? Mereka baru saja kemarin pindah. Katanya Pak Doni dapat pekerjaan di luar kota, jadi istrinya ikut pindah," jelas Pak Tejo.


"Lalu bagaimana dengan anaknya Pak?" Tanya Nathan.

__ADS_1


"Oh Neng Dinda ya Mas?" Tanya Pak Tejo.


"Iya benar Pak," jawab Nathan.


"Kalau Neng Dinda, semalam saya lihat masih keluar dari rumah ini sewaktu pergi bekerja, tapi sampai sekarang saya belum ada melihatnya lagi. Mungkin Neng Dinda juga sudah ikut pindah dengan orang tuanya," kata Pak Tejo.


"Terima kasih ya pak informasinya," ucap Nathan.


"Iya Mas sama-sama, saya permisi dulu," ucap Pak Tejo dan berlalu dari pandangan mata Nathan.


"Dinda kamu pergi kemana? Bagaimana mungkin kamu pergi meninggalkanku Dinda, urusan kita belum selesai. Aku ingin memastikan kalau kamu hamil anakku atau tidak, apalagi saat ini kita sudah mempunyai hubungan. Kenapa kamu tega sekali meninggalkanku? Dinda, kamu tahu kalau aku mencintaimu, kalau terbukti kamu hamil anakku aku akan menceraikan Clara dan kita akan bersama," gumam Nathan yang terlihat sangat sedih. Nathan yang biasanya angkuh seakan berubah menjadi lemah hanya gara-gara masalah cinta.


Ia pun segera saja masuk ke dalam mobilnya lagi dan mencari keberadaan Dinda.


*****


"Jeny!" Panggil Nathan sehingga langkah Jeny terhenti dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ia terkejut melihat Nathan yang saat ini ada di depan matanya dan sedang menghampirinya.


"Iya Tuan," jawab Jeny.


"Jen, apa kamu melihat Dinda? Apa kamu tahu dimana keberadaan Dinda?" Tanya Nathan.


Jeny terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri memang tidak mengetahui dimana keberadaan Dinda. Akan tetapi ia teringat sesuatu jika Dinda ada menitipkan amplop kepadanya.

__ADS_1


"Saya tidak tahu Tuan, tapi yang saya tahu Dinda sudah resign dari restauran ini dan semalam adalah hari terakhir dia bekerja," kata Jeny.


Nathan begitu terkejut mendengarnya, ternyata memang Dinda benar-benar pergi meninggalkannya. Tapi kemana? Nathan benar-benar bingung harus mencari keberadaan kekasihnya itu. Nathan terlihat sangat terpukul tidak siap harus kehilangan Dinda.


"Apa Dinda ada mengatakan sesuatu padamu kemana dia akan pindah? Tanya Nathan.


"Maaf Tuan, saya benar-benar tidak tahu kemana Dinda pindah. Dinda hanya mengatakan kalau dia resign karena akan pergi jauh melupakan semua masalahnya yang ada di Jakarta. Dinda menitipkan ini sama saya dan meminta tolong untuk memberikannya kepada Tuan Nathan jika saya bertemu dengan Tuan. Mungkin saja di dalam sini ada petunjuk dimana Dinda berada," ucap Jeny yang mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Nathan.


Dengan cepat Nathan pun menyambar amplop tersebut dari tangan Jeny.


"Tuan, saya permisi dulu, saya harus bekerja," pamit Jeny lalu pergi meninggalkan Nathan.


Apa hubungan Dinda dengan Tuan Nathan? Kenapa Dinda harus menitipkan surat itu untuknya dan terlihat jelas jika Tuan Nathan sangat syok mendengar kabar bahwa Dinda sudah pergi dari kota Jakarta ini," gumam Jeny yang sangat kebingungan sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam restauran.


*****


Nathan segera masuk ke dalam mobilnya dan membuka surat yang terdapat di dalam amplop tersebut.


"Nathan aku minta maaf kalau aku harus pergi meninggalkanmu. Tapi menurutku ini adalah keputusan yang paling tepat, akan lebih baik jika kita sama sekali tidak berhubungan lagi. Aku lebih memilih pergi menjauhimu demi keutuhan rumah tanggamu bersama dengan Clara. Apalagi saat ini Clara sudah mengandung anakmu, jaga dia baik-baik Nathan, aku minta tolong jangan pernah sakiti hatinya, jaga dia setulus hatimu. Keinginanmu dan Clara saat ini sudah tercapai, aku rasa kalian sudah tidak membutuhkanku lagi. Lagipula aku sama sekali tidak mengandung anakmu, aku sudah memeriksanya ke dokter dan dokter mengatakan kalau aku memang sulit untuk memiliki anak. Jadi kau tidak perlu mencariku lagi karena aku tidak akan mungkin hamil anak darimu Nathan. Selamat tinggal Nathan, terimakasih atas kebahagiaan singkat yang telah kau berikan padaku, aku minta maaf kalau aku sudah banyak melakukan kesalahan. Terimakasih juga karena telah memberikanku yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan, yaitu kau telah mencintaiku dan aku juga mencintaimu, tapi aku akan berusaha untuk melupakanmu Nathan. Selamat tinggal, salam Dinda."


Setelah membaca isi surat dari Dinda, Nathan pun menangis histeris, perasaannya begitu hancur setelah mengetahui wanita yang sangat dicintainya itu pergi meninggalkannya. Lagi-lagi ia harus menerima kenyataan ditinggal oleh wanita yang dicintainya untuk kedua kalinya.


"Dinda, kenapa kau tega sekali melakukan ini padaku? Dinda, aku mencintaimu tapi kau meninggalkanku begitu saja," ucap Nathan sembari memukul setir mobilnya berulang kali hingga tangannya itu pun terluka.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2