
Dinda dan ibunya tidak mempercayai apa yang barusan mereka dengar. Dinda hanya menganggap itu hanyalah sebuah lelucon yang dilontarkan dari mulut Gio untuk menghibur dirinya. Terlihat dari wajah Dinda yang menampilkan senyum kecut di bibirnya saat ini.
"Kak nggak usah bercanda dalam kondisi yang serius. Apa maksud kamu dengan ucapan tadi Kak, mau menghibur aku?" Hardik Dinda.
"Dinda, apa kamu tidak bisa melihat keseriusan aku ini. Kenapa kamu menganggapnya ini hanya sebuah lelucon? Aku serius Dinda, aku ingin menikahi kamu. Di depan Ibu kamu aku datang untuk melamar kamu, dan nanti kalau kamu menyetujuinya, aku akan datang bersama Ibu aku untuk melamar kamu di depan Ayah kamu juga," kata Gio menatap Dinda dengan serius.
"Nggak, ini nggak mungkin Kak. Kakak tahu kan gimana kondisi aku sekarang ini? Aku hamil Kak, tanpa suami. Memangnya Kakak nggak malu menikahi aku dengan statusku seperti ini? Apalagi orang tua Kakak, aku yakin Ibu kamu nggak akan menyetujuinya. Aku nggak mau Kak," tolak Dinda.
"Din Kenapa kamu menolak aku? Aku serius. Aku mencintai kamu Din. Soal orang tua aku, aku yakin mereka akan menyetujuinya asal aku bahagia," ucap Gio.
"Cinta? Sejak kapan kamu cinta sama aku? Aku yakin itu hanya sebatas rasa kasihan kamu terhadapku saja Kak. Nggak mungkin kamu mencintai wanita seburuk aku, aku sudah melakukan kesalahan, aku hina Kak," kata Dinda yang terus saja menyudutkan dirinya sendiri bermaksud agar Gio menyerah.
Akan tetapi nyatanya Gio sama sekali tak perduli akan hal itu. Karena rasa cintanya telah membutakan segalanya. Ia benar-benar tulus mencintai Dinda dan ingin menikahi wanita itu.
"Nak Gio, ini adalah masalah yang serius. Kamu harus memikirkannya secara matang-matang, tidak bisa mengucap kata menikah sembarangan," kata Santi yang kini angkat bicara.
"Bu Santi, aku tidak berbicara sembarangan. Aku sudah memikirkan ini dari semenjak aku mengetahui kondisi Dinda, aku memang sudah mencintai Dinda sejak pertama kali bertemu dengannya. Untuk itu aku memutuskan untuk menerima Dinda apa adanya. Memang awalnya terasa sangat berat, jujur terbesit rasa simpati dalam diri aku dengan kondisi Dinda. Tetapi bukan berarti aku mau bertanggung jawab karena aku kasihan dengan Dinda Bu, tapi karena aku mencintainya. Apa kalian berdua tidak memikirkan bagaimana nasib anak Dinda nanti di saat lahir tanpa seorang ayah?" kata Gio terus mencoba meyakinkan kedua wanita yang ada di depannya itu.
Dinda dan Santi terdiam, tetapi Dinda tetap kekeh pada pendiriannya. Ia tidak mau menikah dengan Gio, selain ia tidak mencintainya, ia juga merasa kasihan dengan Gio. Menurutnya Gio adalah pria yang baik dan tidak pantas bersama dengannya, Gio lebih pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan tentu saja bukan dirinya.
"Kak Gio, sebaiknya kamu pergi sekarang dari rumahku. Aku benar-benar nggak tahu Kak harus ngomong apa sekarang. Biarkan aku sendiri," kata Dinda dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Din, tapi aku butuh jawaban dari kamu. Aku harap kamu bisa memberikan jawaban itu secepatnya," ucap Gio.
__ADS_1
Tanpa menggubris ucapan Gio, Dinda pun langsung saja masuk ke dalam kamar meninggalkannya.
"Maaf Nak Gio, sebaiknya kamu sekarang pergi saja ya dulu. Biarkan Dinda tenang memikirkan ini semua. Ibu akan bantu kamu untuk berbicara dengan Dinda nanti dan Ibu pasti akan menghubungimu segera," kata Santi mencoba memberi pengertian kepada Gio.
"Baik Bu, terimakasih ya Bu. Aku benar-benar serius melamar Dinda dan ingin menjadikannya istriku Bu. Aku janji akan menganggap anak yang dilahirkan Dinda nanti sebagai anak kandung aku sendiri," ucap Gio dengan sangat tulus.
Setelah itu, Gio segera saja berpamitan untuk meninggalkan rumah Dinda. Saat Gio baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pintu, ia bertemu dengan Lily yang saat itu juga hendak ke rumah Dinda menemui ibunya.
"Kak Gio? Kak Gio ngapain di rumah Dinda? Kan Dinda-nya nggak ada di rumah," tanya Lily penasaran.
Gio tersentak, ia sempat terkejut karena melihat kehadiran Lily yang tiba-tiba. Akan tetapi ia teringat lagi jika rumah Lily memang berada di sekitaran sini.
"Oh ini Ly, tadi aku hanya berkunjung saja sekalian menanyakan gimana kabar Dinda dan dimana dia sekarang, tetapi ibunya nggak mau kasih tahu aku," kata Gio beralasan, berharap Lily akan mempercayai ucapannya itu.
"Iya Ly, terus kamu sendiri ada apa ke sini?" Tanya Gio pula.
"Ini Kebetulan tadi Ibu aku ada buat cemilan dan menyuruh aku untuk mengantarnya ke sini, untuk Bu Santi," jawab Lily.
"Oh gitu, ya udah kalau gitu kamu silahkan lanjut, aku mau pulang dulu ya," ucap Gio.
"Iya kak, hati-hati ya," ucap Lily.
Gio pun melanjutkan langkah kakinya menuju ke mobil dan segera meninggalkan pemukiman tersebut. Sedangkan Lily hanya ke rumah Dinda sebentar mengantarkan makanan dari orang tuanya itu dan langsung hendak berpamitan pulang, akan tetapi saat itu Lily mendengar sesuatu barang yang jatuh dari arah kamar Dinda.
__ADS_1
"Bu Santi, ada orang ya di kamar?" Pertanyaan Lily membuat Santi sempat tegang, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang karena takut akan ketahuan oleh sahabat anaknya itu
"Oh itu pasti kucing. Dinda kan tidak ada di rumah, jadi bagaimana mungkin di kamar Dinda ada orangnya," jawab Santi.
"Oh iya Bu, Lily kira Dinda ada di rumah. Oh ya Bu kalau ada kabar dari Dinda, tolong sampaikan ya kalau Lily sangat merindukannya. Lily permisi dulu," ucap Lily sekalian berpamitan.
"Iya Nak, nanti Ibu akan menyampaikannya. Salam buat Ibu kamu ya, sampaikan terimakasih Ibu," ucap Santi pula.
Lalu Lily berlalu dari pandangan mata Santi meskipun ia masih penasaran merasakan jika ada sesuatu yang janggal dan disembunyikan oleh Santai. Sedangkan Santi dapat bernafas lega saat ia tidak melihat Lily lagi dari pandangan matanya.
*****
Nathan duduk di kursi kebesarannya sambil memijat-mijat batang hidung mancungnya itu, pertanda bahwa ia saat ini sedang merasakan bingung dengan situasi yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Padahal proyek yang ia jalani di Bandung sudah berhasil dan ia juga sudah berhasil bekerja sama dengan Pak Alex yang merupakan investor terbesar di kota Bandung. Bahkan ayahnya yang selalu dipanggilnya Pak Tua itu juga sudah memujinya karena perusahaannya berangsur membaik dan telah diserahkan sepenuhnya kepada Nathan.
Tok … tok … tok …
Dimas mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan CEO.
"Tuan, aku sudah melakukan perintahmu. Pak Bram sudah menaikkan jabatan untuk Pak Doni saat ini dan sudah pasti gajinya juga akan lebih tinggi," ucap Dimas memberikan laporan.
"Kerja yang bagus, dengan begini Pak Doni tidak akan curiga. Aku harap apa yang aku lakukan ini bisa menebus kesalahanku kepada keluarganya," ucap Nathan yang tampak lega.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1