
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu Mas?" Santi yang sedari tadi hanya diam mematung melihat anak dan ayah itu dalam kesedihan, kini mulai angkat bicara dan mendekati mereka karena mendengar ucapan dari sang suami.
"Maksud Ayah, Ibu dan Dinda bisa pergi jauh dari sini, biar Ayah yang akan menanggung semuanya," jelas Doni.
"Nggak Ayah, Dinda nggak mau ayah menanggung ini semua. Kita keluarga Ayah, jika memang hanya Dinda yang bisa menebus semua hutang keluarga ini, hanya dengan cara ini, Dinda Rela," ucap Dinda.
"Mas, apa sih yang kamu pikirkan? Dinda sendiri sudah rela melakukannya. Sudahlah, lagipula aku tidak mau pergi dan meninggalkanmu di sini sendirian," kata Santi yang lebih menyayangi suami daripada anaknya sendiri.
"Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Santi, entah apa yang ada di dalam otakmu itu sampai kamu benar-benar tega dan menyetujui untuk menjual anak kita," kata Doni.
"Sudahlah aku bosan, kamu terus saja mengulangi perkataan itu. Semuanya juga sudah terjadi kan, Dinda juga sudah menerimanya," kata Santi.
"Dinda baru menyetujuinya dan mendatangi kontrak itu, tetapi semuanya masih bisa dihindari. Ya dengan cara kalian berdua harus kabur dari sini," ujar Doni terus membujuk anak dan istrinya.
"Nggak Yah, aku nggak akan pergi. Aku sudah menyetujuinya dan aku harus menemui pria itu nanti malam," kata Dinda dengan mantap, lalu ia beranjak dari tempat duduk dan menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar, lagi-lagi Dinda menangis tersedu-sedu, ia meratapi takdir yang menurutnya begitu kejam. Kenapa ini semua harus terjadi kepada dirinya, jika memang ada pilihan lain dan itu semua tidak memperburuk keadaan, sudah pasti Dinda akan memilih jalan lain.
Saat itu tiba-tiba ada pesan masuk di ponsel-nya dari nomor tak dikenal. Dinda pun segera saja membuka pesan tersebut yang ternyata dari Nathan. Nathan mengirimkan dimana lokasi mereka akan bertemu pada jam 08.00 malam nanti. Dinda mencampakkan ponselnya itu di sembarang tempat, ia menjambak rambutnya sendiri untuk menumpahkan rasa kekesalannya itu. Hatinya begitu pedih membayangkan apa yang akan ia lakukan nanti malam dengan pria yang telah beristri.
*****
Sementara itu, Nathan yang saat ini sedang mengunjungi ibunya itu pun tampak terdiam sehingga membuat Cynthia keheranan.
__ADS_1
"Nathan, kamu kenapa?" Tanya Cynthia.
"Aku nggak papa kok Ma, cuma memikirkan sedikit pekerjaan di kantor yang belum selesai," jawab Nathan berbohong.
Nathan tidak mungkin menceritakan kepada ibunya tentang apa yang sedang terjadi saat ini. Meskipun ia merasa senang karena Dinda sudah setuju untuk menjual rahimnya, tetapi di satu sisi dia juga sangat sedih karena membohongi ibunya dengan cara seperti ini.
"Nathan, kamu harus mengurangi kesibukanmu di kantor. Kamu kan punya asisten, serahkan saja pekerjaanmu kepada asisten dan sekretaris kamu. Mama mau kamu fokus juga dengan rumah tangga kamu, Mama ingin kamu memberikan cucu buat Mama Nathan. Kamu lihat sekarang, Mama ini sudah semakin tua. Apa kamu mau melihat Mama ini mati tanpa melihat atau menggendong seorang cucu," kata Cynthia dengan tatapan sendu.
"Ma, Mama jangan ngomong seperti itu dong. Umur Mama itu masih panjang. Mama tenang saja ya, aku janji akan memberikan seorang cucu buat Mama," ucap Nathan yang terus mencium tangan ibu tercintanya itu.
"Mama tunggu ya janji kamu. Sebenarnya ada apa Nathan? Kalian sudah menikah selama tiga tahun, masa iya Clara belum juga hamil. Apa kalian memang sengaja mau menundanya?" Tanya Cynthia yang tampak curiga.
"Enggak Ma, kami juga sudah periksa ke Dokter dan semua baik-baik saja," jawab Nathan.
Nathan terdiam, Clara itu hanya statusnya saja sebagai seorang istri tetapi sikapnya sama sekali tidak mencerminkan jika dia adalah wanita yang sudah bersuami. Jangankan terhadap keluarga Nathan, bahkan dengan Nathan sendiri saja dia sama sekali tidak peduli. Clara selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri. Akan tetapi Nathan sama sekali tidak ingin memberitahu masalah itu kepada ibunya, ia tidak mau Cynthia jadi kepikiran dan akan berpengaruh pada kesehatannya.
"Clara masih ada pemotretan Ma, tapi dari sini nanti aku akan jemput Clara sekalian pulang ke apartemen," jawab Nathan yang lagi-lagi terpaksa berbohong.
Padahal dia sama sekali tidak ada janji dengan Clara. Clara sendiri tidak mau jika diantar atau jemput dengan Nathan, entah apa alasannya. Tapi Nathan sama sekali tidak peduli.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 malam. Nathan segera saja berpamitan dengan alasan akan menjemput Clara pulang. Akan tetapi bukan itu tujuan sebenarnya melainkan ia akan pergi ke sebuah tempat yang sudah ia janjikan tadi bersama dengan Dinda.
*****
__ADS_1
Nathan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah hotel bintang lima. Ia langsung masuk ke dalam kamar yang sudah dipesannya untuk menunggu kehadiran Dinda.
Tidak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar tersebut. Nathan membukakan pintunya yang ternyata adalah Dinda yang telah tiba.
"Ternyata kau datang juga. Aku tidak menyangka jika kau benar-benar akan menepati janjimu itu," kata Nathan.
"Aku bukan seorang yang suka ingkar janji," ketus Dinda lalu masuk ke dalam kamar hotel tersebut dan langsung saja duduk di tepi ranjang.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Nathan dan ditanggapi anggukan oleh Dinda.
"Kau butuh pemanasan dulu atau kita langsung melakukannya?" Tanya Nathan lagi.
"Terserah kau saja," jawab Dinda. Meskipun sebenarnya ia sangat takut tetapi ia tetap berusaha untuk tetap menerimanya.
Sama hal-nya dengan Nathan, ia begitu sangat gugup seperti hendak melakukan malam pertama. Nathan belum pernah melakukan hubungan ranjang sebelumnya meskipun ia telah beristri.
Perlahan Nathan mulai mendekati wajah Dinda dan mencumbu mesra bibir milik Dinda yang ternyata rasanya sangat manis.
"Wow ternyata ini sangat nikmat," gumam Nathan dalam hati.
Meskipun sudah menikah, akan tetapi Nathan sama sekali tidak pernah menyentuh Clara dengan intim selain memegang tangan dan mencium keningnya, itu pun hanya berakting di depan orang tua mereka. Ini adalah pengalaman pertama bagi Nathan dan ternyata membuatnya ketagihan.
Tanpa berlama-lama lagi, Nathan segera mendorong tubuh Dinda ke atas kasur. Ia mulai melucuti satu persatu kain yang menempel pada tubuh Dinda dan dirinya hingga mereka sama-sama polos. Dinda Hanya bisa pasrah dengan meneteskan air matanya, ia terpaksa menyerahkan tubuhnya untuk pria tampan yang saat ini sedang berada di atasnya. Nathan segera mengarahkan miliknya yang sudah tampak berdiri sempurna ke arah milik Dinda hingga penuh. Dinda merintih, rasanya begitu perih, Nathan yang merasa tidak tega pun hanya bermain dengan sangat lembut sambil sesekali menyumbat mulut Dinda itu dengan ciuman mautnya agar Dinda tidak merasakan begitu sakit.
__ADS_1
...……… Bersambung ………...