
Di kota Bandung pada sebuah pemukiman, terlihat seorang wanita muda yang saat itu sedang menjajakan kue sembari berteriak.
"Kue … kue … kue seribuan saja."
Wanita itu terlihat sangat gigih menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang bertemu dengannya. Ia tidak pernah putus asa karena memang itu adalah pekerjaan yang selalu ia tekuni di pagi hari sebelum ia pergi bekerja lagi di sore harinya.
"Dinda, bagaimana kuenya, apa sudah habis?" Tanya Santi.
"Belum Bu, ini sedikit lagi. Bagaimana dengan kue Ibu?" Tanya Dinda pula.
"Kue Ibu juga masih ada, boleh tidak jika Ibu menitipkannya saja padamu, Ibu harus segera pulang. Tadi Ayahmu bilang hari ini akan pulang siang, jadi Ibu mau memasak dulu untuk Ayahmu," kata Santi.
"Ya sudah Bu bisa kok. Ibu duluan saja, nanti biar Dinda yang menghabiskan jualan kue ini," kata Dinda.
"Terimakasih ya Nak, Tapi seandainya nanti siang kue ini juga belum habis, kamu bawa pulang saja ya, tidak apa-apa kita bisa membagikannya kepada tetangga atau kita sendiri yang memakannya seperti biasa. Karena kamu harus istirahat, nanti sore juga kan kamu harus bekerja lagi," kata Santi.
"Baik Bu, nanti siang Dinda pasti akan pulang kok," jawab Dinda.
Lalu Santi pun segera saja pulang ke rumah, sedangkan Dinda masih sibuk menjajakan kuenya itu berkeliling kampung.
"Kue … kue … kue … ," suara merdu Dinda terdengar di sepanjang jalan pemukiman tersebut.
"Dinda … !" Panggil seseorang dari arah belakang, sehingga Dinda pun menoleh ke arahnya.
"Lily, kamu dari mana? Tanya Dinda.
"Kebetulan kita bertemu di sini, aku baru pulang dari pasar mau pulang ke rumah. Kue kamu masih ada nggak?" Tanya lily.
__ADS_1
Lily adalah seseorang yang baru saja ia kenal di kota tersebut, tetapi sikap Lili yang begitu baik terhadapnya yang membuat Dinda merasa sangat nyaman hingga akhirnya mereka pun bersahabat.
"Iya, daganganku masih ada. Kebetulan Ibu juga pulang cepat, jadi dagangan Ibu sekalian aku yang menjualkannya. Kamu mau beli?" Tawar Dinda.
"Iya Din, aku mau beli semuanya ya," kata Lily.
"Semuanya?" Tanya Dinda mengulangi ucapan sahabatnya itu.
"Iya Din, nanti siang ada tamu yang mau datang ke rumahku, kata Ibu sih saudara dari Jakarta. Jadi Ibu suruh aku cari cemilan seperti roti-roti gitu, tapi aku lupa. Jadi mendingan aku beli kue kamu aja, apalagi kan kue buatan kamu dan Ibu kamu itu sudah terkenal sangat enak Din," kata Lily.
"Kamu bisa saja, terimakasih kalau memang kamu mau memborong kue aku," ucap Dinda.
"Iya Din sama-sama, memang kue kamu tinggal berapa?" Tanya Lily.
Lalu Dinda pun menghitung jumlah kue yang saat ini tersisa di dalam bakulnya itu.
"Ya sudah aku ambil semuanya ya," kata Lily.
Dinda segera membungkus semua kuenya, lalu Lily memberikan uang sebesar Rp. 26.000 kepada Dinda.
"Rp. 25.000 saja Ly, satunya bonus," kata Dinda.
"Eh, jangan begitu atuh Din. Kamu itu kan jualan, nanti nggak ada untungnya," kata Lily.
"Ini juga sudah ada untungnya kok Ly, lagi pula cuma satu doang. Terimakasih sekali lagi karena kamu sudah memborongnya," ucap Dinda.
"Sama-sama, terimakasih juga ya karena sudah dikasih bonus," ucap Lily.
__ADS_1
"Iya sama-sama Ly," jawab Dinda.
"Ya sudah sekarang kita barengan aja yuk jalannya. Kamu juga mau pulang kan," ajak Lily.
"Iya benar," jawab Dinda.
Lalu Dinda dan Lily pun bersama-sama berjalan sambil mengobrol menuju pulang ke rumah mereka yang jaraknya cukup dekat.
Dinda tiba di rumah kontrakan, ukurannya lebih kecil dari tempat tinggalnya di Jakarta dulu. Ia langsung saja masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian longgarnya itu dengan pakaian rumahan. Perutnya sudah terlihat sedikit membuncit di usia kandungannya yang kini sudah menginjak 18 minggu. Ya di saat Dinda memutuskan untuk pergi meninggalkan kota Jakarta, ia tidak menyadari jika saat itu ternyata ia sudah hamil dan baru ketahuan saat usia kehamilannya sudah memasuki 4 minggu. Saat ini ia pun harus menanggungnya sendiri dengan menyembunyikan kehamilannya itu dibalik baju longgarnya. Hanya kedua orang tuanya itulah yang tahu. Meskipun kedua orang tua Dinda telah memintanya untuk menggugurkan kandungan itu, tetapi Dinda sama sekali tidak mau. Ia tetap memilih untuk melahirkan bayinya, karena menurutnya itu adalah buah cintanya dengan pria yang pernah dicintainya itu meskipun pria tersebut adalah suami orang lain.
*****
Sementara saat ini Nathan merasa sangat kesal karena lagi-lagi ia kalah dalam merebutkan tender. Entah apa yang menyebabkan akhir-akhir ini saham di perusahaannya semakin menurun, ia tidak tahu apa kesalahannya. Padahal ia sudah menjalankan semuanya dengan sangat baik meskipun ia sudah kehilangan Dinda dan sempat tidak fokus selama satu bulan. Tetapi setelah itu ia pun kembali bangkit dan juga sudah berhubungan dengan sang istri, Clara. Saat ini perut Clara juga sudah terlihat membuncit dengan usia kandungannya yang memasuki 20 minggu. Meskipun Nathan tidak tahu anak siapa yang saat ini sedang dikandung oleh Clara.
"Kau pulang terlambat lagi, apa kau sama sekali tidak memikirkan kalau aku ini sedang hamil," protes Clara.
"Kau bisa diam atau tidak Hah! Aku ini capek. Bukannya menyiapkanku makan malam, kau malah menyambutku dengan ocehan tak berarti," bentak Nathan.
"Bisa tidak kau bersikap baik kepadaku, sedikit saja. Aku ini sedang hamil anakmu. Kau tahu kalau ibu hamil itu harus dimanja-manja tetapi tidak dengan kau, kau malah selalu saja memarahiku. Apa anak dalam perutku ini sama sekali tidak bisa membuatmu cinta padaku?" kata Clara.
"Cinta omong kosong apa yang kau ucapkan itu? Apa menurutmu kita melakukan itu semua karena cinta, sama sekali tidak Clara. Dan aku heran kenapa hanya dalam sekali saja kita melakukannya kau bisa langsung hamil, sedangkan Dinda, aku sudah beberapa kali melakukannya tetapi dia tidak hamil. Aku curiga jangan-jangan itu bukan anak ku," tuding Nathan entah kenapa seperti ada yang mengganjal pikirannya. Saat ini Clara sedang hamil, tetapi ia seperti tidak memperdulikannya. Seandainya itu adalah Dinda, sudah pasti Nathan akan sangat menyayangi Dinda dan memanjakannya.
Clara cukup terkejut mendengar ucapan Nathan tetapi ia mencoba untuk bersikap tenang.
"Dinda, Dinda, Dinda, hei Nathan kau tahu kan kalau Dinda itu sudah pergi jauh dari sini. Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Sadar Nathan aku ini istrimu, aku sedang mengandung anakmu, jadi saat ini lebih baik kita fokus dengan rumah tangga kita. Sebentar lagi kita akan memiliki anak, itu artinya keinginan Mamamu untuk memiliki cucu juga akan terwujud. Apa kau tidak pernah berpikir seperti itu Nathan?" kata Clara.
...……… Bersambung ………...
__ADS_1