
Nathan mencampakkan tubuh Clara dengan sangat kasar di kursi belakang mobil, lagi-lagi Clara mengigau dan menyebut nama Bryan.
"Bryan, kau benar-benar brengsek! lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti Bryan. Kau tidak bisa melakukan ini padaku, kau yang telah merenggut kesucianku Bryan, Aku tidak terima.
"Apa maksud Clara, kenapa dia selalu saja menyebut nama Bryan. Terus apa maksudnya memberikan semuanya, merenggut kesucian? Apa jangan-jangan Clara ini sudah melakukan hubungan intim dengan pria lain? Siapa itu Bryan? Atau dia itu kekasih Bryan? Oh aku tahu, jadi ini penyebabnya dia sama sekali tidak mau berhubungan intim denganku. Alasannya karena tidak cinta, tetapi ternyata karena ia mempunyai pria lain di belakangku yang sangat dia cintai. Dasar wanita brengsek! Pantas saja kau begitu menginginkan aku berhubungan dengan wanita lain, bahkan meminta wanita itu untuk hamil anakku, ternyata kau juga sudah berhubungan dengan laki-laki lain. Clara …Clara, tidak salah jika saat ini aku ingin berpisah denganmu. Kau lihat saja, aku pasti akan menyelidiki ini semua dan setelah semua terbukti benar, maka aku akan berbicara soal ini kepada Mama," ucap Nathan, lalu ia pun segera saja melajukan mobilnya dan membawa Clara Pulang ke apartemen.
*****
Keesokan harinya, Dinda terbangun karena sinar mentari yang menerpa masuk melalui celah-celah ventilasi kamarnya. Bersamaan dengan saat itu ada panggilan telepon masuk di ponselnya yang ternyata dari Jeny, Dinda pun segera saja menjawab telepon dari sahabatnya itu.
"Halo Dinda, kamu kemana saja sih? Dari tadi aku telepon nggak kamu angkat," suara Dinda dari seberang telepon begitu sangat keras sehingga membuat gendang telinga Dinda hampir pecah.
"Aduh … Jeny, ngomongnya nggak usah teriak-teriak gitu dong. aku dengar kok, aku nggak budek," kata Dinda.
"Kalau nggak budek, kenapa kamu lama sekali angkat telepon aku. Pasti kamu baru bangun tidur kan?" Tuding Jeny.
"Iya kamu benar, aku memang baru bangun tidur. Soalnya badan aku nggak enak banget Jen," jawab Dinda.
"Kamu sakit Din? Kenapa kamu nggak bilang dari tadi. Di sini ada Pak Manager dan dia tanyain dimana kamu," kata Jeny.
"Iya Jen sorry, aku juga baru bangun dan baru merasa kalau badan aku nggak enak. Bisa nggak tolong kamu sampaikan saja ke Pak Budi, kalau hari ini aku izin, nggak bisa masuk kerja," ucap Dinda.
"Ya sudah Din, bisa kok. Nanti aku sampaikan ya. Kamu cepat sembuh ya Din, istirahat saja dulu hari ini di rumah. Kamu tenang saja, semua pekerjaan kamu hari ini aku yang kerjain," kata Jeny.
Memang Jeny itu sahabat yang paling baik, karena dia selalu saja mengerti kondisi Dinda.
"Iya Jen, makasih banyak ya," ucap Dinda.
"Sama-sama Din. Ya sudah kalau gitu aku mau lanjutkan pekerjaan aku lagi ya, bye …," ucap Jeny.
__ADS_1
"Bye … ," balas Dinda.
Lalu panggilan telepon terputus.
Tidak ada niat sama sekali dalam hati Dinda untuk tidak bekerja hari ini, tapi memang Dinda bangun kesiangan karena badannya yang begitu sangat lelah. Lagi-lagi Ia pun merasa perih di bawah sana akibat permainan panas yang ia lakukan bersama Nathan. Entah sampai kapan ia akan melakukan itu semua, yang jelas Dinda begitu sangat muak, ia ingin cepat-cepat hamil agar urusannya dengan Nathan juga berakhir.
*****
"Tuan … Tuan Nathan!" Panggil Dimas.
Dimas merasa sejak tadi saat ia sedang mempresentasikan tentang satu berkas yang dibawanya, tetapi tuannya itu sama sekali tidak menanggapinya. Nathan terlihat sedang melamun, meskipun tubuhnya saat ini ada berada di sini, tetapi pikirannya itu entah melayang kemana.
"Tuan!" Panggil Dimas lagi dan kali ini lebih kuat sembari sedikit mengguncang pelan bahu Tuannya itu, sehingga Nathan pun tersadar dari lamunannya.
"Ada apa? Berani sekali kau menyentuhku," Bentak Nathan.
"Ma-maaf Tuan, aku dari tadi sudah memanggilmu dan Tuan sama sekali tidak mendengarnya. Apakah anda sudah jelas dengan apa yang aku jelaskan tadi?" kata Dimas.
Dengan sangat terpaksa dan dengan sabar, Dimas pun menjelaskan ulang apa yang baru saja di presentasikannya tadi di depan Tuan arogannya itu.
"Sudah, sudah, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi saat ini. Lebih baik kau tinggalkan saja file itu di sini. Aku akan mempelajarinya sendiri," ucap Nathan.
"Kenapa tidak dari tadi Tuan. Mulutku sudah berbuih menjelaskannya," umpat Dimas yang begitu kesal.
"Kau bicara apa?" Tanya Nathan dengan tatapan tajam.
"Tidak Tuan, aku tidak berbicara apapun," jawab Dimas bergidik.
"Sebaiknya kau keluar sekarang!" Usir Nathan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku permisi Tuan," ucap Dimas lalu segera melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan CEO.
"Tunggu!" Panggil Nathan.
Dimas pun membalikkan badannya lagi menghadap Nathan.
"Ada apa Tuan?" Tanya Dimas.
"Buatkan aku kopi!" Perintah Nathan.
"Baik Tuan," jawab Dimas lalu beranjak Pergi.
Nathan benar-benar tidak bisa berkonsentrasi, bahkan saat ini matanya terasa begitu ngantuk karena ia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sejak tadi malam. Ia terus saja terbayang-bayang wanita yang sedang dikaguminya saat ini, Dinda, ya hanya Dinda yang ada di dalam pikiran Nathan.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, Clara saat itu baru saja terbangun dari mimpinya. Ia merasa tidak asing saat melihat di sekelilingnya itu.
"Apartemen? Kenapa aku bisa ada di apartemen? Seingatku tadi malam aku berada di klub malam," ucap Clara keheranan.
Clara mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi tadi malam di saat ia mabuk berat. Sekilas ia teringat jika Nathan datang menjemputnya dan tentang ocehannya yang tidak jelas itu.
"Duh … gawat, kira-kira apa saja yang sudah aku ucapkan tadi malam di depan Nathan? Bisa Gawat kalau sampai aku bawa-bawa nama Bryan. Meskipun kita berdua tidak saling mencintai, tidak pernah melakukan apapun, setidaknya Nathan jangan sampai tahu tentang kelakuanku dibelakangnya. Kalau sampai dia tahu dan kasih tahu ke orang tua aku ataupun orang tuanya, bisa habis aku. Bagaimana kalau Nathan menceraikan aku, aku nggak akan mendapatkan apa-apa, apalagi saat ini perusahaan orang tua aku sangat bergantung dengan perusahaan keluarga Nathan. Aduh … Clara, bego, bego. Kenapa juga sih kamu tuh harus memikirkan Bryan, pria brengsek yang tidak tahu terima kasih," gumam Clara.
Tiba-tiba clara terdiam, ia merasakan sesuatu yang sangat tidak enak di dalam perutnya serta terasa begitu mual.
Huek … huek …
Clara segera ingin muntah, ia bergegas berlari masuk dalam toilet lalu menumpahkan seluruh isi di dalam perutnya.
__ADS_1
...……… Bersambung ………...