Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Melamar Dinda


__ADS_3

Sungguh menjadi kejutan besar buat Dinda, karena ia yang baru saja pulang mengantar pesanan kue mendapati Nathan dan keluarganya saat ini sedang berada di rumahnya dan sedang mengobrol bersama kedua orang tuanya. Kebetulan saat ini ayah Dinda juga sedang tidak bekerja karena hari libur. Tak seperti biasanya, Cynthia yang biasanya datang hanya berdua dengan Keenan diantar oleh supir, kali ini datang bersama Nathan dan juga Frans. Membuat hati Dinda menjadi berdebar dan pikirannya juga entah melayang kemana-mana memikirkan ada apa keluarga itu datang. Dinda saat ini hanya diam mematung di depan pintu, seakan ragu untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Nah itu Dinda sudah pulang. Dinda sini duduk Nak," panggil Santi hingga semua yang ada di di situ pun melihat ke arah Dinda.


"Dinda, sini Sayang," panggil Cynthia pula.


Dinda hanya mengangguk, perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati dua keluarga yang sedang tampak mengobrol bersama. Dinda pun segera saja duduk di samping ibunya itu.


Nathan terus saja menatap Dinda tanpa berkedip, tetapi mulutnya seakan terkunci tak bisa mengucap kata apapun, ia terlalu gugup, menurutnya dapat melihat Dinda saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar untuknya.


"Dinda, pasti kamu baru pertama kali ini kan melihat saya. Perkenalkan saya Frans papanya Nathan," ucap Frans memperkenalkan diri.


Memang Dinda belum pernah melihat Frans secara langsung, tetapi ia sudah pernah melihat fotonya sewaktu dulu Nathan pernah memberitahu dan menceritakan soal ayahnya yang sangat sibuk di luar Negeri.


"Iya Om salam kenal. Benar ini memang pertama kalinya kita bertemu," ucap Dinda.


"Iya ya benar sekali dan pasti kamu bingung kan kenapa saat ini Om beserta istri dan anak Om juga cucu Om bisa berada di sini?" Tanya Frans.


"Cukup mengejutkan buat saya. Memang ini ada apa Om? Lalu dimana Keenan? Bukankah tadi Om bilang datang bersama Keenan juga?" Dinda melontarkan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


"Oh iya, Keenan langsung bermain dengan Nadine. Biasalah Keenan memang selalu antusias jika sudah bertemu dengan Nadine," jawab Frans.


"Iya Dinda, lagipula ini kan kita sedang berbicara masalah orang dewasa, jadi lebih baik anak-anak tidak ada di sini. Dua anak itu juga cepat menangkap jika orang tua sedang berbicara. Karena mereka itu benar-benar anak yang genius," ujar Cynthia.


"Ya ya Nyonya benar," sahut Santi.


"Jadi sebenarnya ini ada apa? Kenapa Tante, Om dan Nathan datang ke sini bersama-sama?" Tanya Dinda.


"Jadi begini Din, sebenarnya kita datang ke sini karena ada yang ingin kita sampaikan," ucap Nathan.


"Apa?" Tanya Dinda mengernyitkan dahinya.


"Oke, jadi Ayah dan Ibu aku sudah memaafkan kamu kan dan sudah tidak perlu lagi ada yang dibahas. Lalu ada apa lagi?" Tanya Dinda yang kesekian kalinya, ia benar-benar sudah sangat penasaran karena sedari tadi belum mendapatkan jawaban apapun.


"Kamu benar Ayah sudah memaafkan mereka dan sudah melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Lagipula Tuan Nathan juga tidak lepas dari tanggung jawabnya dengan membantu Ayah secara diam-diam saat kita berada di Bandung dulu," kata Doni yang sedari tadi hanya diam saja.


"Iya Yah aku juga sudah tahu masalah itu dan sekarang yang aku tanyakan ini ada apa? Kenapa mereka datang ke sini?" Tanya Dinda lagi yang terlihat mulai emosi.


"Dinda, sudah, sudah, sepertinya kamu sangat penasaran. Biar sekarang Om saja ya yang menjelaskannya. Jadi kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan bahwa Nathan dan Clara sudah resmi bercerai. Mereka sudah tidak lagi menjadi pasangan suami istri dan Nathan buru-buru meminta datang ke sini untuk segera melamar kamu Dinda," kata Frans.

__ADS_1


Dinda membelalakkan matanya, ia benar-benar sangat terkejut. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, mereka memang tidak mengetahui jika tujuan keluarga Nathan datang kemari untuk hal ini, mereka mengira hanya ingin bersilaturahmi sembari mengucapkan maaf atas kesalahan di masa lalu itu.


"Maaf Paman, Bibi, dan Dinda. Kalian pasti sangat terkejut, tapi aku tidak mau menunda-nunda waktu lagi. Aku dan Dinda sudah saling mencintai sejak lama, akan tetapi ada penghalang sehingga kita tidak bisa untuk melanjutkan hubungan kita saat itu. Dan sekarang aku benar-benar sudah berpisah dengan Clara, kami tidak punya hubungan apa-apa lagi. Ya meskipun aku sekarang hanya seorang duda, tapi apa salah jika aku ingin menikahi Dinda? Apalagi Dinda juga ibu dari anak kandung aku. Apa aku salah ingin bertanggung jawab atas Dinda dan Nadine meskipun semuanya sudah terlambat," ucap Nathan yang begitu tulus.


Dinda menatap Nathan, mencoba mencari kebohongan di matanya tetapi sama sekali tidak ia temui dan tentu saja membuat Dinda menjadi bingung menanggapinya.


"Maaf Om, Tante, Nathan, menurut aku ini terlalu cepat. Lagipula apakah Keenan akan setuju jika tau ayahnya akan menikah dengan aku? Keenan pasti berpikir lalu bagaimana dengan ibunya? Keenan itu masih terlalu kecil untuk mengerti tentang ini semua," ucap Dinda.


"Dinda seperti yang tadi dibilang sama Mama, bahwa Nadine Dan Keenan itu adalah anak yang genius, kalau mereka diberi pengertian sedikit saja, mereka pasti langsung akan mengerti. Apalagi Keenan itu sangat dekat dengan Nadine, dia sangat menyukai Nadine sebagai sahabatnya. Aku yakin Keenan akan senang jika dia nantinya bisa setiap hari bersama dengan Nadine, apalagi kalau dia tahu bahwa Nadine adalah saudaranya sendiri, begitu juga sebaliknya," ucap Nathan meyakinkan Dinda.


"Dinda, sebaiknya kamu pikirkan lagi Nak, kasihan Nadine juga. Pikirkan secara baik-baik, apa lagi sih yang kamu ragukan. Kamu juga tahu kan kalau Nadine selama ini selalu menanyakan dimana keberadaan papanya, bahkan dia sangat merindukan papanya. Untuk melihat wajah papanya dari foto saja dia tidak pernah, kamu sama sekali tidak pernah memberitahu bagaimana sosok ayahnya. Apa kamu tidak pernah memikirkan kebahagiaan Nadine sama sekali Dinda, kasihan Nadine. Sekarang Nadine juga sudah mengenal Nathan, dia juga sudah merasa dekat dengan Nathan, Nyonya Cynthia dan juga Keenan. Ibu rasa tidak ada salahnya kalian menikah. Kamu juga masih sangat mencintai Tuan Nathan, Ibu tahu itu Dinda," ucap Santi.


"Bu, Nathan ini hanya masa lalu aku," kata Dinda.


"Kamu bohong Dinda, aku tahu kalau kamu masih sangat mencintai aku. Terima aku Dinda, ini semua demi Nadine juga. Aku ingin berkumpul bersama kalian, aku ingin membangun rumah tangga bersama kamu Dinda. Aku yakin Nadine juga akan senang kalau tahu aku adalah ayah kandungnya," ucap Nathan.


Tanpa mereka sadari, ternyata ada dua bocah genius yang sedari tadi sudah mendengar percakapan mereka. Keenan dan Nadine sangat terkejut mendengar kenyataan bahwa Nathan adalah ayah kandung Nadine.


"Mama, jadi Om Nathan itu Papa kandung Nadine?" Tanya Nadine sehingga mereka semua pun terkejut dan menatap ke arah dua bocah tersebut.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...


__ADS_2