
Di saat Nathan sedang pergi karena mendadak ada urusan pekerjaan, Dinda pun diam-diam keluar dari rumah karena ia benar-benar tidak bisa tenang memikirkan masalah anak-anaknya saat ini. Tak hanya Kenzo, bahkan Kenzie juga pergi entah pergi ke mana dan meminta kedua orang tuanya tidak usah mencarinya. Jika kondisinya sudah tenang ia pasti akan kembali, yang membuat Dinda pun tidak mungkin hanya bisa diam saja di dalam rumah tanpa melakukan sesuatu.
Dinda sengaja pergi menggunakan taksi karena jika ia meminta antar supir di rumah, sudah pasti nantinya Nathan akan bertanya kepada sang supir di mana istrinya itu pergi.
Saat berada di perjalanan Dinda mencoba menghubungi Kenzo tetapi nomor ponselnya belum juga aktif, sehingga ia mencoba untuk menghubungi salah satu teman dekat Kenzo dan ternyata benar jika anaknya itu memang sedang berada di sana. Hanya saja Kenzo tampak menyendiri dan tidak mau diganggu oleh siapapun, hingga Dinda memutuskan untuk langsung ke sana menemuinya.
*****
"Kenzo ada yang datang mencarimu," kata Farid, menghampiri sahabatnya itu yang tampak sedang duduk termenung di depan jendela ruangan.
"Siapa? Apa kamu yang memberitahu keberadaanku di sini?" Tanya Kenzo.
"Ya, karena aku tidak tega membohongi Tante Dinda yang sangat mengkhawatirkanmu Ken," ungkap Farid yang mengakuinya.
"Mama? Tapi kamu benar-benar tidak bisa dipercaya Rid, sudah aku katakan jangan mengatakan kepada siapapun jika aku sedang berada di sini, kenapa kamu malah memberitahu Mamaku," tukas Kenzo.
"Oke aku minta maaf. Tapi mau bagaimana lagi sekarang, Mamamu sudah ada di sini. Tidak baik juga terus bersembunyi dari masalah Ken, ayo sekarang cepat temui ibumu. Aku merasa kasihan, sepertinya Tante Dinda juga sehabis menangis," kata Farid.
Kenzo yang mendengar akan hal itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke ruang depan, menghampiri sang ibu yang berada di sana.
"Kenzo, ucap Dinda yang merasa sangat senang karena melihat anaknya tersebut.
"Mama," ucap Kenzo pula, lalu keduanya pun saling mendekat dan berpelukan erat.
"Kenzo, syukurlah kamu baik-baik saja Nak. Mama pikir kamu tadi ada di mana, Mama sangat mengkhawatirkanmu. Maafkan Mama ya karena tidak bisa mencegah Papi kamu, Mama benar-benar tidak bisa tenang karena tidak bisa menghubungimu. Untungnya Mama masih menyimpan nomor ponsel teman dekat kamu dan ternyata kamu ada di sini, kondisi kamu juga baik-baik saja," ucap Dinda.
"Mama datang ke sini dengan siapa dan ada apa Ma?" Tanya Kenzo sembari melerai pelukan mereka.
"Mama datang ke sini sendiri, Papa kamu sedang pergi karena ada urusan pekerjaan. Mama juga tidak teguran dengan Papi, Mama benar-benar kecewa dengan sikap Papi," kata Dinda.
"Jangan seperti itu Ma, kasihan Papi," ucap Kenzo.
"Lebih kasihan kamu Kenzo. Seharusnya di saat kamu sedang ada masalah seperti ini Papi itu mendukung kamu, bukan malah mengusir kamu dari rumah," ujar Dinda yang terlihat sangat kesal.
"Tapi memang aku yang salah Ma, aku sudah mengecewakan Mama dan Papi, aku juga sudah mengkhianati saudara kembar aku sendiri. Jadi wajar saja Papi bersikap seperti itu," ucap Kenzo.
__ADS_1
"Bukankah kalian melakukannya dalam keadaan tidak sadar karena kalian dijebak? Itu artinya tidak sepenuhnya kesalahan kalian, apalagi kamu juga mau bertanggung jawab," imbuh Dinda.
"Mungkin Papi terlalu syok dengan kejadian ini Ma, Papi pasti juga merasa kasihan terhadap Kenzie. Apalagi setelah Papi dan Kenzie tahu bahwa diam-diam aku juga mencintai Ciara, pasti mereka sangat kecewa Ma dengan aku. Lalu bagaimana kondisi Kenzie sekarang Ma?" Tanya Kenzo.
"Tadi Kenzie pamit keluar rumah dan meminta Papi atau Mama jangan ada mencari atau menghubunginya. Dia hanya membutuhkan waktu menenangkan diri dan katanya dia akan kembali ke rumah setelah keadaannya sudah sedikit lebih tenang. Mama yakin kok Kenzie hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, mau tidak mau dia harus menerima kenyataan ini. Bukan Mama tidak peduli terhadap Kenzie, Mama hanya mau memberikan waktu untuk Kenzie berfikir. Mama datang ke sini karena mau mengajak kamu ke rumah Ciara, kita harus ke sana sekarang Ken. Kita harus berbicara dengan Ciara," kata Dinda.
"Ke rumah Ciara? Untuk apa Ma, Ciara sudah sangat membenciku, dia tidak akan mungkin mau bertemu denganku lagi," kata Kenzo.
"Itu urusan belakangan, yang penting kita harus menemui Ciara dulu untuk membahas kelanjutan hubungan kalian selanjutnya. Saat ini Ciara lah orang yang paling terpukul karena dia menanggung beban seberat itu Kenzo, Mama hanya tidak mau jika Ciara tidak kuat menanggungnya sendirian. Kamu juga tidak mau 'kan jika Ciara benar-benar nekat menggugurkan kandungannya atau bahkan dia malah menghilangkan nyawanya beserta anak di dalam kandungannya itu," kata Dinda yang malah timbul pikiran negatif di dalam otaknya.
"Jangan bicara seperti itu Ma, tentu saja aku tidak mau. Ya sudah Ma ayo kita pergi ke sana sekarang," ucap Kenzo, ia juga sangat takut karena bisa saja ucapan ibunya itu akan terjadi.
Lalu Kenzo pun berpamitan dengan Farid dan mengatakan akan pergi bersama ibunya.
"Kenzo, lebih baik kamu memakai mobilku saja daripada harus mencari taksi lagi dan akan memperlambat perjalanan kalian. Istriku juga pergi bawa mobil sendiri kok, jadi aku tidak perlu menjemputnya," tawar Farid.
Farid juga sudah mendengar ceritanya dari Kenzo dan merasa kasihan terhadap sahabatnya itu.
"Tidak perlu Rid, terima kasih banyak ya atas bantuanmu dan maaf aku sudah menyusahkanmu dengan datang ke sini dan menceritakan semua masalahku denganmu," ucap Kenzo.
"Terima kasih banyak yang Rid," ucap Kenzo.
"Terima kasih banyak ya Nak Farid karena sudah menolong Kenzo dan memberitahu keberadaan Kenzo di sini. Kirim salam untuk istrimu ya, Tante dan Kenzo permisi dulu," ucap Dinda.
"Iya Tante sama-sama dan nanti akan aku sampaikan ke istriku. Hati-hati ya Tante Dinda, Kenzo," ucap Farid.
Segera saja Dinda dan Kenzie keluar dari kediaman Farid dan tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sudah menemukan taksi, lalu bergegas menuju ke kediaman Ciara.
*****
"Argh … tidak, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak sanggup menerima beban ini sendirian. Aku tidak mau menikah dengan Kenzo pria yang sama sekali tidak aku cintai, tapi aku juga tidak mungkin meminta pertanggungjawaban Kenzie karena ini bukan anaknya. Apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa kamu harus hadir di dalam perutku, kenapa kamu membuat hidupku hancur, kenapa?" Teriak Ciara diiringi tangisannya sembari memukuli perutnya sendiri karena merasa sangat emosi.
Ciara juga terlihat sudah terlihat seperti orang gila karena sedari tadi hanya menangis, mengamuk yang membuat kamarnya yang sudah porak-poranda kini semakin hancur berantakan karena tidak ada lagi barang yang berada pada tempatnya, semuanya sudah tergeletak di atas lantai.
Di saat itu pun, Kenzo dan Dinda yang sudah tiba di sana langsung saja masuk ke dalam rumah Ciara karena memang tidak dikunci. Hingga kini mereka sudah tiba di depan kamar Ciara dan mendengar tangisan wanita tersebut.
__ADS_1
Tok … tok … tok …
"Ciara buka pintunya, ini aku Kenzo. Tolong buka pintunya Ra," ucap Kenzo sembari mengetik pintu.
"Untuk apa kamu datang ke sini Kenzo dan kenapa kamu sembarangan masuk ke rumahku tanpa izin. Pergi kamu, pergi … !" Usir Ciara dengan suara lantang.
"Kenzo, biar Mama saja ya yang bicara," kata Dinda dan ditanggapi anggukan kepala oleh anaknya itu.
Tok … tok … tok …
"Ciara, ini Tante Ciara. Tolong kamu keluar ya, Tante ingin berbicara dengan kamu." Dinda mengetuk pintu dan berbicara dengan sangat lembut.
Ciara tersentak karena mendengar suara ibunya si kembar yang berada di luar.
"Tante mohon kamu keluar ya Ciara, Tante hanya ingin berbicara dengan kamu sebentar saja. Tidak baik juga seperti itu terus, kita harus bicara supaya kamu lebih tenang," ucap Dinda lagi.
Sehingga Ciara pun beranjak dan melangkahkan kakinya serta membukakan pintu kamar.
Kenzo dan Dinda benar-benar sangat terkejut melihat kondisi Ciara saat ini, ia sudah terlihat seperti orang yang tidak waras dengan penampilan yang begitu acak-acakan, raut wajahnya yang sangat kusut dan terlihat sangat sedih, mata dan hidungnya juga sembab serta memerah karena wanita itu sedang menangis. Yang lebih mengejutkan lagi, kamar Ciara juga begitu berantakan. Sehingga Dinda dapat menyimpulkan jika Ciara memang begitu frustasi dengan apa yang sudah menimpanya. Untungnya mereka datang di waktu yang tepat, jika terlambat sedikit saja tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya.
"Sayang," ucap Dinda yang langsung saja memeluk Ciara diiringi air matanya yang sudah tidak tertahankan lagi untuk jatuh.
"Tante, hidup aku benar-benar sudah sangat hancur Tante," ucap Ciara yang menangis di dalam pelukan Dinda.
"Jangan berbicara seperti itu ya Sayang, ini semua adalah cobaan. Kamu harus kuat dan kamu tidak sendirian, di sini ada Tante dan Kenzo. Ayo kita bicarakan masalah ini baik-baik dan dengan kepala dingin, percayalah Kenzo juga merasa sangat stres dengan kejadian ini karena ini semua juga bukan karena keinginan kalian berdua," kata Dinda sembari mengusap lembut punggung Ciara untuk menenangkannya.
Kenzo sendiri merasa sangat sedih dan menangis melihat kondisi Ciara saat ini, hatinya begitu hancur melihat wanita yang dicintainya begitu rapuh bahkan tidak bisa mengontrol kondisinya sendiri. Dengan bodohnya ia malah membiarkan Ciara sendirian yang ia pikir membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, tetapi kenyataannya malah menyiksa dirinya sendiri.
Setelah sedikit tenang, Ciara pun mengajak Kenzo dan ibunya tersebut menuju ke salah satu ruangan yang tentunya tidak berantakan seperti kamarnya.
"Ciara Tante datang ke sini mau meminta kamu untuk menikah dengan Kenzo. Tante mohon jangan menolak, kasihan anak kamu apalagi kalau sampai kamu menggugurkannya. Apa kamu tidak pernah berpikir anak itu juga tidak pernah meminta untuk ada di dalam kandunganmu, tapi kalian lah yang membuatnya hadir. Apakah setelah melakukan kesalahan pertama kamu akan membuat kesalahan kedua kalinya dengan membuang janin itu, apa kamu sama sekali tidak mempunyai perasaan dan ingin melihatnya hadir ke dunia? Tante tahu kamu tidak mencintai Kenzo, tapi jika kalian menikah nanti Tante yakin rasa cinta itu pasti akan ada. Yang terpenting untuk sekarang ini pikirkan dulu anak kalian," ucap Dinda yang membuat Ciara pun tampak terdiam dan berpikir.
Dalam hatinya sangat memberontak dan ingin menjawab tidak, tetapi mendengar ucapan Dinda membuatnya pun sadar bahwa keputusannya untuk menggugurkan kandungan sebenarnya memang sangat salah. Bagaimanapun juga anak di dalam kandungannya itu tidak berdosa.
"Iya Tante, aku mau menikah dengan Kenzo," jawab Ciara. yang pada akhirnya pun terpaksa menyetujui, karena ia memang sudah tidak memiliki pilihan lain lagi.
__ADS_1
...*****...