
Pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri itu pun masuk ke dalam rumah kontrakan yang ukurannya tidak terlalu besar. Pertama kali masuk mereka akan dipertemukan dengan ruang depan, lalu ruang tengah yang dilengkapi dengan dua kamar tidur, terakhir menuju ke dapur serta ruang makan dan juga ada kamar mandi tidak jauh dari sana.
Ciara tampak menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi secara perlahan. Bukan mengeluh karena tempat tinggal yang membuatnya tidak tahu bagaimana menjalani kehidupannya nanti, tetapi apakah ia bisa menjalani hidup sebagai seorang istri dari seorang pria yang sama sekali tidak dicintainya? Meskipun pria tersebut adalah ayah dari anak yang sedang ia kandung. Apalagi pria itu merupakan saudara kembar kekasihnya sendiri, yang sudah pasti akan membuatnya selalu terbayang-bayang dan juga selalu merasa bersalah.
"Ra, aku minta maaf ya karena belum bisa membelikanmu rumah. Bahkan aku hanya mengajak kamu tinggal di rumah kontrakan yang tidak mewah. Tapi kamu tenang saja ya, nanti di saat keuanganku sudah stabil aku pasti akan mengajakmu pindah ke rumah yang lebih layak lagi," ucap Kenzo.
"Tidak apa-apa Ken. Lagi pula kita memang harus berhemat 'kan? Oh iya aku tahu keuanganmu sudah menipis untuk pernikahan kita, kamu juga tidak mau menerima bantuanku sama sekali waktu itu, jadi aku mohon kali ini terima bantuanku. Aku punya tabungan, ini bisa kamu pakai untuk beli mobil atau apapun, kamu pasti membutuhkan kendaraan untuk kerja," kata Ciara seraya menyerahkan kartu ATM miliknya.
Akan tetapi Kenzo menepisnya dengan pelan, pertanda ia menolaknya.
"Jangan Ra, aku ini suami kamu. Aku yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas kamu, bukan malah kamu yang mengeluarkan uang untuk kehidupan kita. Kalau kamu mau menggunakan uang kamu sendiri untuk apapun itu terserah kamu, tapi kalau untuk urusan pribadiku apalagi rumah, biar aku yang setiap bulan akan memberikanmu uang. Meskipun jumlahnya tidak banyak, mudah-mudahan cukup untuk kehidupan kita berdua. Aku janji akan bekerja keras untuk kamu dan Anak kita nantinya, apalagi untuk kelahiran Anak kita," kata Kenzo yang membuat Ciara terdiam.
Entah kenapa meskipun Kenzo sudah berusaha untuk bersikap baik tetapi tetap saja ia tidak begitu peduli terhadap ucapannya. Menikah dengan Kenzo masih terasa seperti mimpi baginya, mimpi yang tidak diharapkan.
"Ya sudah aku mau istirahat dulu," kata Ciara.
"Kamu mau tidur di kamar yang mana?" Tanya Kenzo, mengingat persyaratan pernikahan dari istrinya tersebut.
"Yang ini saja," jawab Ciara yang menunjuk kamar pertama, lalu ia pun membuka pintu tersebut dan membawa barang miliknya masuk.
"Ara, apa kamu mau aku bantu menyusun pakaian? Kamu 'kan sedang hamil, kamu tidak boleh kecapean. Apalagi acara hari ini banyak menyita tenaga," kata Kenzo.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku Kenzo, urus saja diri kamu sendiri. Masalah menyusun pakaian itu bisa kapan saja, sekarang aku mau istirahat dan tolong jangan menggangguku," tukas Ciara yang langsung saja masuk ke dalam kamar serta menutup pintunya dengan rapat.
Memang rumah tersebut beserta kamar-kamarnya sudah dibersihkan oleh sang pemilik. Apalagi rumah itu juga baru kosong seminggu yang lalu, sehingga masih tampak bersih dan bisa langsung untuk ditempati.
Setelah Ciara masuk ke dalam kamarnya, Kenzo juga masuk ke dalam kamarnya sendiri lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Baik Kenzo maupun Ciara sama-sama merenungi nasib pernikahan mereka saat ini yang terasa seperti mimpi. Akan tetapi Ciara merasa ini adalah mimpi buruk dan belum bisa untuk menerimanya, berbeda dengan Kenzo yang merasa bahwa ini mimpi indah yang membuatnya senang. Kenzo tak menyangka karena pada akhirnya ia bisa menikah dengan wanita yang dicintainya. Tetapi tentu saja jalan cerita pernikahan ini juga membuatnya sedih, apalagi Ciara menerimanya hanya karena terpaksa demi anak di dalam kandungannya.
"Aku hanya perlu bersabar, tidak tahu itu entah sampai kapan tapi selama aku masih menjadi suami Ciara maka aku akan berusaha untuk membuat Ciara mencintaiku," batin Kenzo, lalu ia memejamkan matanya hingga tanpa sadar pun terlelap.
*****
Keesokan harinya, baik Ciara maupun Kenzo sama-sama akan menjalani aktivitas mereka masing-masing. Tidak ada cuti setelah menikah seperti yang dilakukan oleh pasangan pengantin baru pada umumnya, terlebih lagi Kenzo juga memiliki tugas seperti biasa untuk menyelidiki kasus kematian yang tak wajar dan ia pun akan bekerja sama dengan Ciara di rumah sakit tempat istrinya itu bekerja.
"Pagi Ra," sapa Kenzo saat ia sudah rapi dan menghampiri Ciara yang berada di dapur.
"Pagi. Maaf karena ini adalah hari pertama aku menjadi seorang istri jadi aku belum terlalu tahu apa yang harus aku lakukan, tapi aku sudah menyiapkan sarapan dan hanya ini. Kalau tidak suka kamu boleh mencari sarapan di luar, ucap Ciara seraya menunjuk segelas susu dan juga roti yang tersaji di atas meja.
Meskipun Ciara tampak cuek bahkan terlihat membencinya, tetapi membuat Kenzo merasa senang dan masih merasa seperti mimpi jika ia sudah memiliki seorang istri yang menyiapkan sarapan pagi untuknya. Tetapi ia pun bertanya-tanya dari mana Ciara mendapatkan makanan, karena memang mereka belum belanja apapun.
"Terima kasih Ra, justru kamu sudah melakukan kewajiban kamu dengan baik. Tapi dari mana kamu mendapatkannya, kapan kamu belanja?" Tanya Kenzo.
Ya tadi malam di saat Kenzo sudah terlelap sedangkan Ciara tidak bisa tidur dan merasa perutnya lapar karena ia memang belum makan sejak kemarin malam, memutuskan pergi ke supermarket terdekat sendirian dan berbelanja. Apalagi mereka memang belum memiliki makanan apapun di rumah tersebut.
"Jadi tadi malam kamu keluar sendiri dan belanja, kamu membeli makanan dengan uang kamu? Kenapa kamu tidak membangunkanku Ra, aku bisa menemani kamu dan memberi kamu uang belanja. Aku benar-benar minta maaf ya, aku ketiduran sampai lupa waktu," ucap Kenzo.
"Tidak apa-apa, sudah aku katakan aku juga punya uang. Lagi pula kamu 'kan juga bilang terserah aku mau menggunakan uang aku untuk apapun, jadi jangan melarangku jika aku menggunakan uangku sendiri untuk kebutuhan rumah ini," kata Ciara.
"Iya, terima kasih banyak ya. Tapi aku ini suamimu dan ini aku ada uang untuk kebutuhan rumah, tolong kamu terima ya. Kalau nanti kurang, kamu boleh bilang ke aku," ucap Kenzo seraya memberikan uang pertama kalinya sebagai nafkah untuk sang istri.
Setelah berpikir sejenak, pada akhirnya Ciara pun menerimanya. Ia merasa tidak enak jika terus menolak niat baik Kenzo.
"Terima kasih," ucap Ciara dan menyimpan uang tersebut.
__ADS_1
Lalu Ciara dan Kenzo duduk di ruang makan menikmati sarapan bersama, meskipun tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka.
"Ra, hari ini 'kan kita ada tugas bersama di rumah sakit, boleh tidak kalau aku ikut kamu. Tadi Komandan meneleponku dan aku disuruh langsung ke rumah sakit," kata Kenzo.
Ciara hanya menganggukkan kepalanya, pertanda ia setuju. Setelah selesai sarapan mereka pun langsung saja pergi menuju ke rumah sakit.
*****
Saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, Ciara hanya terlihat diam saja. Bahkan disaat Kenzo mengajaknya untuk berbicara, Ciara hanya mengucap sepatah atau dua patah kata seperlunya saja, sangat terlihat jelas jika ia sama sekali tidak menyukai situasi saat ini.
Setiba di rumah sakit, Ciara juga tampak berjalan menjauhi Kenzo. Untungnya Kenzo mengerti, mungkin karena di rumah sakit tersebut ada Kenzie yang membuat Ciara pastinya merasa tidak enak jika bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
Saat Ciara baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit dan Kenzo berada di belakangnya, dari kejauhan terlihat Kenzie yang di saat itu bersama dengan Salsa menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh kebencian. Lalu ia pun membuang muka dan pergi meninggalkan Salsa sendirian karena wanita itu memang sedang menunggu kedatangan Ciara dan Kenzo sebagai rekan kerjanya untuk menangani sebuah kasus.
Tetapi di saat itu terlihat Kenzo yang berlari mengejar saudara kembarnya itu.
"Kenzie … tunggu aku Ken … !" Panggil Kenzo hingga ia pun berhasil meraih tangan Kenzie dan membuat langkah kaki saudara kembarnya itu terhenti.
"Ada apa? Kita sama sekali tidak memiliki urusan apapun saat ini," ucap Kenzie ketus.
"Kenzie, aku benar-benar minta maaf. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku, ini semua sudah terjadi Kenzie. Dari kemarin kamu tidak kelihatan, jadi aku tidak sempat pamit sama kamu. Sekarang aku sudah pindah, aku dan Ciara tinggal di rumah kontrakan," ucap Kenzo.
"Oh ya? Lalu untuk apa kamu mengatakannya padaku, apa kamu sengaja ingin pamer? Oh iya selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga kalian bahagia atas pernikahan yang berawal dari sebuah pengkhianatan," ucap Kenzie yang juga melirik Ciara sekilas dengan tajam.
Membuat Ciara yang tadinya juga ingin berbicara dengan Kenzie kini hanya diam saja dan juga menahan rasa sakit serta rasa bersalah di dalam hatinya.
...*****...
__ADS_1