Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Menerima Lamaran


__ADS_3

"Mama jangan nangis dong. Maafin Nadine ya udah buat Mama sedih, kalau Mama sedih Nadine juga ikut sedih Ma. Hu … hu … hu …," ucap Nadine dalam tangisnya.


Dinda menciumi rambut dan semakin erat memeluk anak kesayangannya itu.


"Sayang, Mama sedih karena Mama udah buat Nadine marah sama Mama, Mama udah salah sama Nadine. Maafkan Mama ya Sayang, Mama janji untuk kedepannya tidak akan ada lagi yang Mama sembunyikan dari Nadine," ucap Dinda sembari melerai pelukan mereka.


"Nadine yang harusnya minta maaf sama Mama. Nadine udah buat Mama sedih, harusnya Nadine mengerti kalau Mama melakukan itu semua karena ada penyebabnya," ucap Nadine yang membuat Dinda tersenyum seraya menatap anaknya itu. Meskipun masih kecil, usianya baru 6 tahun tetapi dia sangat mengerti bagaimana kondisi orang tuanya.


"Makasih ya Sayang, Mama sayang banget sama Nadine. Nadine tenang aja ya, Mama tidak akan mungkin kok menikah dengan Om Nathan tanpa izin Nadine dan Keenan. Karena menurut Mama, kamu itu yang paling terpenting. Mama tidak butuh siapapun lagi asal ada kamu, Nenek dan Kakek dalam hidup Mama. Bukankah selama ini hidup kita baik-baik saja?" Ucap Dinda menyembunyikan kegundahan hatinya.


Nadine tampak terdiam, sebenarnya ia sangat senang karena mengetahui ayah kandungnya masih hidup, terlebih lagi dia adalah Nathan ayah dari sahabatnya juga. Nadine juga senang karena ternyata Keenan adalah saudaranya, tetapi entah kenapa seperti ada perasaan yang tak wajar yang tak pantas dirasakan oleh anak seusianya, ia seperti tak rela, tetapi tak bisa dijelaskan apa penyebabnya.


*****


Keesokan harinya, seperti biasa setelah menyiapkan segala keperluan anaknya, Dinda pun sibuk membuat kue di dapur. Nadine yang yang sudah selesai sarapan menghampiri ibunya itu untuk berpamitan pergi ke sekolah.


"Mama, Nadine pergi sekolah dulu ya," pamit Nadine meraih tangan sang Ibu dan menyalami serta mencium punggung telapak tangannya.


"Udah selesai ya sarapannya?" Tanya Dinda.


"Udah Ma. Oh ya Mama nggak usah anterin Nadine, Nadine pergi sama kakek aja. Kata Kakek hari ini Kakek nggak buru-buru kok," kata Nadine.


"Oh ya, memang Nadine udah bilang sama Kakek?" Kata Dinda.


"Ayah yang tadi bilang ke Nadine Sayang, karena Ayah lihat kamu juga masih sibuk kan di dapur. Jadi biar Ayah saja yang mengantar Nadine sekalian ayah pergi kerja," ucap Doni yang tiba-tiba saja muncul bersama dengan sang istri.


"Iya Dinda, kamu kan masih sibuk buat kue pesanan, jadi kamu selesaikan saja kuenya, lanjutkan. Biar Ayah dan Ibu yang mengantarkan Nadine ke sekolah," sambung Santi.

__ADS_1


"Loh bareng Ibu juga? Nanti Ibu pulangnya gimana?" Tanya Dinda.


"Iya Dinda, Ibu mau membeli beberapa bahan kue. Kamu tenang saja, seperti Ibu tidak biasa saja. Kan bisa Ibu pulang pakai taksi online atau naik ojek," jawab Santi.


"Jangan dong Bu, nanti Ibu kirim aja dimana alamatnya. Aku suruh Pak Tedy yang jemput Ibu ya. Lagipula kan Pak Tedy juga sebentar lagi datang," kata Dinda.


"Ya sudah terserah kamu saja, kalau begitu kita pergi dulu ya antar Nadine," ucap Santi.


"Iya, Ayah, Ibu, Nadine hati-hati ya. Sekolah yang benar ya sayang," ucap Dinda.


"Iya sayang," jawab Santi. Sedangkan Doni hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Iya Mama Sayang, bye … ," ucap Nadine.


"Bye Sayang," balas Dinda.


Lalu mereka bertiga pun segera saja pergi meninggalkan rumah.


*****


"Nenek mau tanya apa?" Tanya Nadine.


"Setahu Nenek, bukankah selama ini Nadine mencari tahu informasi tentang Papa Nadine. Meskipun Mama sudah mengatakan sejak lama kalau Papa Nadine sudah meninggal, tapi Nadine selalu kekeh bertanya bagaimana wajah Papa, Nadine ingin sekali melihat foto Papa. Sekarang Nadine sudah tahu kan bahwa Papa Nadine masih ada, bahkan Nadine juga sudah bertemu dengannya langsung. Apakah Nadine tidak merasa senang?" Tanya Santi.


Awalnya Nadine tampak terdiam dan menundukkan wajahnya itu, akan tetapi baru saja Santi hendak berbicara lagi, Nadine sudah berbicara terlebih dahulu.


"Iya Nek, sebenarnya Nadine senang karena tahu bahwa Papa Nadine masih ada. Tapi kenapa harus Om Nathan? Bukan Nadine tidak suka dengan Om Nathan, Nadine suka karena Om Nathan itu baik. Tapi om Nathan kan Papinya Keenan Nek, Nadine tahu bagaimana perasaan Keenan saat ini, pasti dia merasa marah karena ternyata Papinya itu punya anak dari perempuan lain," kata Nadine.

__ADS_1


Doni yang saat itu sedang menyetir pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja mendengar ucapan cucu geniusnya itu, benar-benar sangat pintar berbicara, tak seperti anak kecil pada umumnya.


"Sayang, kamu jangan bicara seperti itu ya. Ini kan urusan orang tua dan mereka sudah memutuskan segalanya dengan matang. Lagipula semua bisa terjadi sampai seperti ini itu karena memang sudah takdir Sayang. Kalau Nadine sayang sama Mama dan mau melihat Mama bahagia, izinkan Mama menikah dengan Om Nathan. Percayalah ini juga untuk kebahagiaan Nadine," bujuk Santi.


"Iya Nek, nanti Nadine bilang ke Mama kalau Nadine menyetujuinya," kata Nadine yang membuat kakek dan neneknya itu begitu sangat senang mendengarnya.


*****


Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan Nathan dan keluarganya untuk melamar Dinda. Sesuai dengan perjanjian, setelah tiga hari Nathan dan keluarganya pun kembali lagi untuk menagih jawaban dari Dinda.


"Jadi bagaimana Dinda? Apa kamu mau menerima lamaranku?" Tanya Nathan langsung saja ke intinya, karena ia sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban itu.


"Sekarang aku mau tanya dulu, apakah Keenan sudah menyetujuinya?" Tanya Dinda. Karena menurutnya izin dari anak-anak adalah yang paling terpenting.


Saat ini Keenan dan Nadine pun ikut duduk bersama mereka, tidak seperti biasanya mereka yang selalu bermain dan tidak ikut dalam perbincangan orang dewasa.


"Keenan, ayo jawab Sayang. Kamu sudah janji kan mau menjawabnya langsung di depan kita semua saat ini," pinta Chintya.


"Keenan, kenapa diam saja. Ayo jawab Sayang," pinta Nathan pula.


"Iya, Keenan setuju kok kalau Papi menikah dengan Tante Dinda," jawab Keenan.


"Alhamdulillah." Ucapan rasa syukur pun terdengar dari mulut mereka saat itu.


Nadine juga menyatakan bahwa ia juga menyetujuinya. Karena anak-anak sudah menyetujui dan tidak ada lagi yang menghalangi mereka, Dinda pun menerima lamaran Nathan. Nathan begitu sangat senang, ia langsung saja melingkarkan cincin mutiara yang sangat indah ke jari manis Dinda di depan Kedua keluarga itu.


"Tuan Nathan, saya harap saat ini Anda benar-benar serius dan tidak akan menyakiti putri saya," kata Doni.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu tenang saja ya, aku pasti akan menjaga Dinda dengan baik, membahagiakannya dan tidak akan pernah menyakiti hatinya. Bapak dan Ibu jangan panggil aku Tuan lagi ya, sekarang ini aku adalah calon menantu kalian dan sebentar lagi aku akan menikah dengan Dinda," ucap Nathan yang membuat dua keluarga itu pun tersenyum dan tampak bahagia saat ini.


...……… Bersambung ………...


__ADS_2