
"Mama … Papi … Kak Keenan resek deh, lagi-lagi dia pakai sepatu putih punya aku!" Teriak Nadine.
Nathan yang saat itu masih bersiap-siap akan pergi ke kantor, segera saja keluar menghampiri Keenan dan Nadine. Sedangkan Dinda masih tampak sibuk mengurusi dua anak kembar mereka yang saat ini berusia 10 tahun dan bersekolah duduk di kelas 4 SD.
"Nadine, Keenan, kalian itu kenapa sih. Sudah SMA loh, sudah remaja beranjak dewasa. Tapi masih berantem terus seperti anak kecil," kata Nathan.
"Kak Keenan resek nih Pi, selalu aja pakai sepatu aku. Padahal kan kaki Kakak lebih besar dari kaki aku. Nanti kalau sepatu aku rusak gimana," kata Nadine kesal.
"Ya ampun Dek, Kakak cuma pinjam aja kok. Soalnya sepatu Kakak yang putih kotor," kata Keenan.
"Ya itu bukan urusan aku Kak. Kakak bisa kan pakai sepatu yang lain, kenapa juga harus pakai sepatu aku," protes Nadine.
"Pokoknya sepatu ini sudah Kakak pakai dan nggak akan Kakak lepas," kata Keenan.
"Papi lihat deh Kakak, resek banget kan," kata Nadine meminta pembelaan dari Papinya.
"Ngadu aja terus," hardik Keenan.
"Sudah, sudah. Sekarang kita sarapan. Kalau berdebat terus kalian bisa terlambat pergi ke sekolah. Dan kamu Nadine, tenang saja ya, nanti Papi belikan sepatu baru," kata Nathan.
"Beneran Pi?" Tanya Nadine yang terlihat sangat senang.
"Iya dong Sayang. Karena sepatu kamu sudah dipakai sama Kak Kenan, kamu kasih aja nggak usah diminta lagi. Kamu Papi belikan sepat baru pokoknya," kata Nathan.
"Ye … makasih ya Pi. I love you so much, thank you so much Papi. Nadine sayang banget sama Papi," ucap Nadine lalu mencium pipi sang ayah.
"Iya deh anak kesayangannya Papi," cibir Keenan.
"Sirik bilang, wek … ," ledek Nadine.
"Enggak, siapa juga yang sirik," bantah Keenan dengan wajah bete.
"Duh … ini ada apaan sih ribut-ribut," kata Dinda yang baru saja muncul bersama kedua anak laki-laki kembar yang diberi nama Kenzie Edward Collin dan Kenzo Edward Collin. Keduanya tampak mirip seperti ayah dan kakaknya. Sama halnya dengan kakak-kakaknya yaitu Keenan dan Nadine, mereka juga terlahir sebagai anak yang genius dengan memiliki keahliannya di bidang masing-masing.
"Aku yakin deh Ma, pasti Kak Keenan dan Kak Nadine berantem lagi," kata Kenzo.
__ADS_1
"Iya aku yakin juga seperti itu, karena Kak Keenan itu paling nggak bisa kalau nggak gangguin Kak Nadine," sambung Kenzie yang membuat Dinda dan Nathan tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya itu.
"Sudah ya Keenan, Nadine, kalian sarapan dulu. Nanti bisa terlambat pergi ke sekolahnya," kata Dinda.
"Iya Ma, lagipula aku juga udah nggak kesal lagi kok karena Papi mau beliin aku sepatu baru," kata Nadine.
"Iya tau kok yang mau dibeliin sepatu baru," hardik Keenan yang terlihat jutek.
"Keenan, kamu nggak usah iri seperti itu sama adik kamu. Karena Papi mau belikan Nadine sepatu baru, nanti Keenan Mama belikan sepatu baru juga gimana," kata Dinda.
"Serius Ma?" Tanya Keenan dan ditanggapi anggukan oleh ibunya itu.
"Yes, akhirnya ada Mama juga yang membela aku, yang mau membelikan aku sepatu baru, terimakasih ya Ma," ucap Keenan.
"Iya sama-sama, ya sudah cepat siapin sarapannya, habis ini kita langsung pergi untuk beraktivitas," ucap Dinda.
Lalu Mereka pun langsung saja melanjutkan sarapan dan setelah itu melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
*****
"Apaan sih, norak banget. Seperti baru pertama kali aja ke sini," hardik Keenan.
"Apaan sih Kak, ini kan spesial karena sekarang kita datangnya bareng si kembar. Dulu kan waktu kita ke sini si kembar belum lahir," ucap Nadine.
Ya memang dulu mereka pernah datang ke Paris di saat usia kandungan Dinda 7 bulan. Karena sibuknya pekerjaan Dinda dan Nathan sehingga Mereka pun baru sempat datang ke sini lagi di saat anak kembar mereka itu sudah berusia 10 tahun. Sudah sangat lama tetapi bukan berarti mereka tidak pernah berjalan-jalan ke tempat lain sebelumnya, tentu saja sebagai keluarga yang tidak kekurangan harta, Nathan dan Dinda sudah pergi berjalan-jalan ke negara lainnya. Tetapi ini adalah negara Perancis dan kota Paris yang sangat disukai oleh Nadine.
"Nadine, sepertinya kamu senang banget ya," ucap Nathan.
"Iya dong Pa aku senang banget, tapi sayang ya Oma, Opa, Kakek dan Nenek nggak bisa ikutan ke sini," jawab Nadine.
"Ya nggak bisa dong Sayang, mereka kan sudah tua, jadi harus banyak istirahat di rumah daripada harus ikut kita jalan-jalan," kata Dinda.
"Tahu nih Nadine. Berbeda dengan kita yang masih muda, jadi masih bisa berkeliling dunia," kata Keenan.
"Iya, iya, Kak Keenan tuh selalu aja ikut-ikutan kalau untuk urusan menyalahkan aku," gerutu Nadine mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ngambek … ," ledek Keenan.
"Biarin," jawab Nadine.
Begitulah Keenan dan Nadine, tiada hari tanpa berdebat. Tetapi meskipun demikian, mereka tetaplah adik kakak yang saling menyayangi. Keenan begitu menyayangi Nadine, ia selalu membantu Nadine dalam keadaan apapun dan tak ingin melihat adiknya itu terluka sedikitpun, begitupun juga dengan Nadine terhadap Keenan.
Saat ini, Keenan dan Nadine sedang berjalan-jalan berdua di sekitar Menara Eiffel. Sedangkan Dinda, Nathan dan kedua anak kembarnya sedang beristirahat tak jauh dari lokasi tempat Keenan dan Nadine berada.
"Kak Keenan, Kakak tau kan kalau aku suka banget sama kota ini. Aku jadi punya impian deh," kata Nadine.
"Impian apa?" Tanya Keenan.
"Aku ingin, suatu saat nanti kalau aku udah dewasa akan ada seorang pria yang melamar aku di sini Kak," kata Nadine.
Keenan menatap Nadine, ia dapat melihat dari tatapannya jika impian itu benar-benar impian dari dalam lubuk hati Nadine yang paling dalam.
"Ketinggian impiannya. Lagipula melamar itu kan bisa dimana aja, jauh banget kalau harus ke sini dulu," kata Keenan.
"Apa salahnya Kak, namanya juga impian. Kak Keenan selalu aja sirik sama aku," kata Nadine.
Lalu mereka berdua pun melangkahkan kaki menghampiri kedua orang tua dan juga kedua adik kembarnya itu untuk beristirahat makan siang.
Sungguh sebuah keluarga yang sangat bahagia, Dinda dan Nathan tidak pernah menyangka jika akan memiliki keluarga sempurna seperti ini meskipun sebelumnya keduanya pernah menjalani kehidupan yang begitu sulit dengan berbagai rintangan yang berhasil mereka lewati. Kuncinya adalah Nathan dan Dinda selalu percaya jika kebahagiaan itu pasti akan datang suatu saat nanti.
"Oh ya, di depan kalian semua dan di kota cinta ini, Papi ingin menyatakan sesuatu untuk Mama kalian dan kalian akan menjadi saksinya," ucap Nathan.
"Apa tuh Pa?" Tanya Kenzie dan Kenzo secara bersamaan. Kedua kakaknya itu pun juga tak kalah ingin tahu apa yang akan diucapkan oleh ayah mereka.
"Papi mau bilang kalau Papi sangat mencintai Mama kalian. I love you Sayang," ucap Nathan sembari menatap sang istri serta tersenyum manis.
"I love you more Sayang," jawab Dinda tersenyum.
Membuat kedua anak mereka yang sudah beranjak dewasa itu merasa iri. Sedangkan anak kembar mereka juga ikut merasakan kebahagiaan dan cinta yang dirasakan oleh kedua orang tuanya itu.
...……… Tamat ………...
__ADS_1