Rahim Penebus Hutang

Rahim Penebus Hutang
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

"Tidak, aku tidak setuju kalau kita berpisah. Enak saja kamu memutuskan secara sepihak seperti itu. Memangnya orang tua kita akan setuju?" Kata Clara.


"Orang tua kita itu tidak mengetahui bagaimana kondisi rumah tangga kita Clara. Eh sorry aku salah, aku ralat kata-kataku tadi. Maksudku orang tuamu, kalau orang tuaku sudah tahu, bahkan ibuku sendiri sudah muak melihat tingkah lakumu yang seperti ini. Mungkin kalau ibumu tahu bagaimana sikapmu juga, dia akan marah. Kau sama sekali tidak pernah peduli terhadap anak dan suamimu Clara," kata Nathan.


"Kau tidak perlu mengulangi kata-kata itu lagi, aku sudah bosan mendengar kata kamu tidak pernah peduli dengan anak dan suamimu Clara. Sepertinya kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku Nathan. Justru karena aku peduli dengan kalian, aku peduli pada Keenan, aku berusaha mencari uang lebih untuk membahagiakannya dan karena aku peduli padamu, aku ingin membantumu bekerja," kata Clara.


"Sudah aku katakan juga padamu Clara, kau tidak perlu bekerja. Aku masih sanggup untuk menghidupimu dan Keenan, bahkan untuk tujuh turunan kita nanti hartaku juga tidak akan habis," kata Nathan bukan bermaksud menyombong, tetapi memang saat ini perusahaan keluarga Nathan sedang berkembang pesat termasuk yang ia kelola sendiri.


"Ya aku tahu, tetapi ini juga termasuk hobiku dan kau tidak bisa melarang hobiku," hardik Clara tetap membela dirinya.


"Sudahlah, kau juga sudah aku talak satu dan itu artinya apa? Kita akan segera berpisah. Surat perceraian akan segera aku urus. Kau tenang saja, kau masih bisa menikmati hidup sesuka hatimu dan setelah kita berpisah nanti kau akan bebas Clara, tidak akan ada lagi yang menunggu kepulanganmu baik Keenan apalagi aku. Dan kau tenang saja, apartemen ini akan aku serahkan menjadi milikmu sebagai salah satu harta gono gini. Aku juga tidak akan sudi untuk tinggal di apartemen ini lagi, terlalu banyak kenangan buruk bersamamu yang tidak pantas untuk aku kenang," kata Nathan terang-terangan. Sungguh membuat Clara merasa sakit hati mendengarnya.


"Aku tidak mau Nathan, kalau aku bilang tidak mau ya aku tidak mau titik," kata Clara tetap ngotot.


"Apa alasanmu tidak mau? Bukankah seharusnya kau senang, kau terbebas dari anak dan suamimu. bukankah selama ini kau ingin menikmati hidupmu itu sendirian? Kau juga sebenarnya tidak menginginkan Keenan kan, semua hanya demi Mama, iya kan?" Apa yang Nathan katakan benar sehingga berhasil membuat Clara membisu.


"Kenapa kau diam? Sudahlah kalau kau mau istirahat, sekarang kau pergi saja ke kamarmu. Besok akan aku urus semuanya," kata Nathan.


"Aku tidak mau berpisah Nathan, aku pastikan kau tidak akan bisa menceraikan aku," kata Clara.

__ADS_1


"Sekarang gini saja, kau mau berhenti dari pekerjaan modelmu itu dan fokus kepada anak dan suamimu, untuk tetap diam di rumah menjaga dan mengurus rumah, mengerjakan seluruh pekerjaan ibu rumah tangga pada umumnya atau kita berpisah. Hanya ada dua pilihan itu Clara, kau tidak boleh memilih yang lain," kata Nathan, ia sengaja memberikan pilihan yang sulit, yang jelas-jelas berat untuk Clara. Karena ia tahu Clara tidak akan mungkin rela kehilangan pekerjaannya dan itu artinya dia akan memilih untuk berpisah.


"Oke, kita berpisah," ucap Clara yang membuat Nathan begitu senang mendengarnya. "Tetapi aku akan membawa Keenan. Hak asuh anak akan jatuh kepada ibunya, kalau kau benar-benar ingin berpisah denganku, maka kau juga harus siap untuk kehilangan Keenan."


Kini pilihan sulit itu malah berbalik kepada diri Nathan sendiri. Clara sengaja mengancam Nathan karena ia yakin dengan membawa nama Keenan Nathan tidak akan mungkin menceraikannya, karena clara tahu betul bagaimana Nathan sangat menyayangi Keenan. Meskipun sebenarnya Clara sama sekali tidak peduli terhadap Keenan, tetapi ia juga tidak rela untuk berpisah dengan Nathan. Karena baginya, Nathan adalah sumber keuangan perusahaan keluarganya. Kalau tahu Nathan dan Clara akan berpisah, sudah pasti kedua orang tuanya, apalagi ibunya yang matre itu akan marah terhadapnya dan tentu saja ia tidak mau hal itu terjadi.


Nathan membelalakkan matanya, lalu mendekati Clara dengan tatapan murka.


"Kau bilang apa tadi? kau mau membawa Keenan bersamamu? Heh," cibir Nathan.


"Iya, memangnya kenapa? Keenan itu anakku," ucap Clara menantang.


"Kau yakin bisa menjaganya, sekarang saja saat kita masih bersama kau sama sekali tidak menjaganya Clara, kau juga tahu siapa yang selama ini menjaga Keenan dengan baik, Mamaku dan aku yang menjaga saat berada di apartemen. Kau sama sekali tidak pernah mengurusnya, baik pagi, siang, sore maupun malam. Apa kau tidak pernah ingat itu? Kau harus ingat Clara. Aku akan memenangkan hak asuh anak di persidangan nanti," kata Nathan dengan tatapan serius.


"Hah apa kau yakin? Aku rasa kau lupa kalau kita pernah menitipkan Keenan hanya untuk satu hari saja saat kau mau ikut aku dalam perjalanan bisnis ke luar kota dan Mamaku sedang ada urusan, Mamamu sama sekali tidak bisa untuk menjaga Keenan, sehingga kita terpaksa menitipkan Keenan di tempat penitipan sampai urusan Mamaku selesai, padahal Mamamu sangat santai. Apa kau lupa? Biar aku ingatkan lagi Clara, Mamamu juga tidak peduli terhadap cucunya sendiri," ucap Nathan.


"Stop! Kau boleh mengatakan aku tidak peduli terhadap anakku, tapi jangan bawa-bawa Mamaku, jelas saja Mamaku peduli terhadap Keenan, Keenan itu cucu kandungnya," ujar Clara, ia seperti mendapat tamparan oleh ucapan Nathan.


"Sudahlah Clara, aku capek berdebat denganmu, aku ingin istirahat," kata Nathan lalu pergi begitu saja meninggalkan Clara menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau berpisah denganmu!" Clara berteriak, ia merasa sangat kesal saat ini.


*****


"Jadi kamu mau cerita soal apa Jen, dari tadi malam mau cerita tapi nggak jadi karena kita udah capek banget kan? Jadi mendingan sekarang kamu ceritain deh sebelum nanti siang kita balik ke Jakarta," pinta Dinda.


"Iya Din, jadi sebenarnya apa yang kamu katakan semalam itu benar, kalau aku sudah menikah. Aku sudah 2 tahun menikah," ungkap jeny.


"Oh ya, bagus dong. Selamat ya sayangku," ucap Dinda lalu memeluk sahabatnya itu. "Aku senang banget deh karena akhirnya kamu menemukan jodoh juga setelah sekian lama menjomblo dan nggak bisa buka hati buat pria lain, gara-gara cinta pertama kamu waktu kecil dulu, yang cinta monyet itu kan," ledeknya.


"Dinda masih ingat aja deh, jadi sebenarnya aku itu memang menikah dengan cinta monyet aku itu Din," ucap jeny tersipu malu.


"Serius? Ya ampun jodoh itu memang nggak kemana ya. Ternyata kamu bisa ketemu lagi dan menikah dengan cinta monyet kamu itu," ujar Dinda.


"Nggak usah bilang cinta monyet lagi dong, kan udah dewasa sekarang," protes Jeny.


"Ya dari cinta monyet menjadi cinta beneran deh. Mudah-mudahan kalian berdua langgeng ya. Tapi ngomong-ngomong siapa laki-laki yang sangat beruntung karena sudah lama dicintai oleh sahabat terbaik aku ini?" Tanya Dinda sembari menatap jeny.


Bukannya langsung menjawab, Jeny malah terlihat gugup, seakan mulutnya terkunci untuk mengatakan siapa pria yang menjadi suaminya saat ini.

__ADS_1


...……… Bersambung ………...



__ADS_2