Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 7 Masuk Rimbanya Dunia


__ADS_3

Dulu perjuangannya untuk masuk sekolah ini sungguh sangat berat, dan sekarang perjuangannya sudah berakhir, sekarang dia harus melanjutkan perjuangannya ini di luar sana, di dalam rimbanya dunia, rimba yang di dalamnya penuh dengan berbagai kebuasan, kerakusan, kelaparan, kelicikan setip manusia. Teguh harus siap! semoga modalnya menuntut ilmu selama enam tahun di Al-Zaytun sudah cukup untuk menghadapi rimbanya dunia!


Begitu Teguh keluar dari sekolah ini, bermulalah pengembaraannya, semenjak masuk dunia SMP dia sudah meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa mimpi satu-satunya yang terbesar adalah masuk melebur jiwanya dalam wadah dunia perfilman, mimpinya itulah yang akan dia cari dan dialah Sang Pencari Sejati. Seperti yang pernah di katakan Ibu Kasiem yang telah merubah namanya menjadi Teguh Prayitno.


Jakarta, dua puluh tahun yang lalu, Teguh lahir di sini, di tempat setiap orang mengadu nasibnya, dengan mengorbankan segalanya, menepikan kehormatannya, mengutamakan hidup dan masa depannya. Tempat di mana segalanya ada, tempat di mana manusia suka berdusta, tempat di mana segalanya bermula, di sinilah dulu Teguh di lahirkannya oleh seorang ibu yang tak berdaya. Dan sekarang dia kembali datang, setelah sekian lama dia mengembara, mencari kedamaian yang nyata, sekarang dia akan berjuang, seperti orang-orang yang selalu mencari menang, walau terkadang mereka tidak menang.


“Permisi mas, numpang tanya, kalau nomer dua puluh B yang…” tukang ojek itu tidak jawab, dia cuman tunjuk jari, ternyata nomer yang dia cari ada di sebrang jalan, malu deh Teguh. “Makasih ya mas!” langsung aja dia masuk.


“Permisi pak kalau mau casting…”


“Di sebelah mas!” malu lagi deh, sekarang tanya lagi.


“Tempat casting…”


“Langsung ke atas aja mas!” dia pun ke atas, sampai di atas ‘sekarang langsung masuk apa tanya dulu ya? ah langsung masuk aja lah!’


“Mas sudah daftar?”


“Belum bu!”


“Daftar dulu ya mas!”


“Tapi bu, saya sudah pernah kirim foto ke kantor ini.”


“Ya ngga apa-apa, sekarang mas daftar aja lagi ya mas!” sekarang dia yang di tanya, langsung dia isi biodatanya, biar tidak lama, ‘ni kasih foto berapa ya? aku cuman bawa foto dua. Mana foto di pinggir sungai lagi, ngga ada seninya sama sekali.’ foto yang lain pada bergaya, ya kaya foto artis gitu, foto close up gitu, nah Teguh? ‘jangan pessimist donk Guh! Pokoknya aku harus optimist! Kalau rejeki kan ngga ke mana’ dia mencoba mensport dirinya sendiri.


Semua sudah beres, dia kasih langsung kertas pendaftaran itu sama ibu yang tadi.


“Sudah selesai mas? “


“Sudah bu!”


“Ada nomer telephone, atau hape?”


“Ada bu!”


“Ya sudah makasih, mas boleh pulang, nanti kita hubungi lewat hape mas!”


“Makasih bu!” luar biasa! Teguh seneng banget, ini pertama dia terlibat dalam dunia perfilman, mimpinya, dia seneng banget, akhirnya dia menyentuh dunia yang selama ini hanya ada di otaknya, dia berharap dia di terima, lalu dia ikut shootting film, dan dia jadi actor, ‘aku ngga bisa ngebayangin sekarang aku pulang dulu’ satu langkah sudah dia lewati, walaupun dia tau untuk mencapai mimpinya itu dia harus melangkah sebanyak ribuan langkah, bahkan lebih, tapi bagi dia itu jumlah yang sedikit, karena dia yakin dengan mimpinya itu, sekarang dia mau pulang, lain kali dia datang ke PH yang lain. ‘Jangan menyerah Teguh! Mimpimu akan segera menjadi nyata, tidak akan lama lagi.’ Ya..kira-kira lima atau sepuluh tahun lagi lah. ‘Biar kata orang aku tu seorang pemimpi, ya...emang aku seorang pemimpi, kenapa?’ sepertinya dia memang sangat optimist dengan impiannya, mungkin karena dia memamng belum pernah merasakan pahitnya udara rimbanya dunia, selama ini dia itu seperti di kurung dalam kandang, dia hanya tau makan dan tidur aja.


***


Dia mulai merasa Capek! dia capek nunggu panggilan dari PH yang dia datangin dulu. Sekarang sudah dua minggu lebih, tapi tak ada kabar apa-apa, dia tanya Maman, tapi katanya tidak ada telpon buat dia, nomer hape yang dia cantum kan di dalam biodatanya adalah nomer hapenya Liliknya itulah kenapa dia tanyakan kabar pada Maman, lenyap deh kesempatan, ‘kalau begitu, mulai sekarang aku akan datangin PH yang lain, dan aku harus ikut casting sebanyak mungkin! Kali aja mujur’ dan sekarang ini dia sudah ada tiga alamat PH di Jakarta, dia harus segera bergerak! sebenarnya dia juga capek di kontrakan mulu, mana istri Maman bawel abizzz, masa dia nyuruh Teguh pulang kampung? Katanya dia di sini selalu jadi beban, sebab dia pengangguran.


‘Jangan salahin aku dong! aku pengen ngontrak sendiri sama Lilik Maman ngga boleh. Ya sudah aku numpang deh, tapi nanti kalau aku sudah jadi actor terkenal, aku ngga bakal numpang sama siapa-siapa lagi, aku akan ngebuat bangga setiap orang yang sudah mengenalku, Teguh Prayitno gitu loh!...’


Dia mau berangkat lagi, kali ini dia mau ke PH Virgo Putra, Jalan tampak siring nomer sebelas, kata Maman sih deket dari sini, tinggal jalan aja sampai katanya, dia pun bersiap pergi dia pergi lewat depan rumah pemilik kontrakan Maman, anak perempuan bang O’is si pemilik kontrakan sedang duduk di ruang tamu, sepertinya dia sedang kencan, sebab ada seorang cowok di sampingnya, anggun, cantik, imut. Tapi dia sudah punya cowok, ngapain memuja cewek orang, sampai sekarang Teguh belum tau namanya siapa.


“Permisi bu!” begitu dia melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi


“Mas Teguh mau ke mana?”


“Biasa bu, mau mengenal Jakarta, mari bu!”


“Ya..mari..mari…”  


Sampai di jalan tapak siring, ketemu juga akhirnya, dia jalan menuju jalan ini ternyata jauh, di pedalaman, naik turun, sekarang dia harus cari nomer sebelasnya, dia terlihat senang, deg-degan mau casting film, ‘nah ketemu juga nomer sebelasnya’ ada tulisan ‘casting di samping’ dia pun bertanya pada orang yang jaga rumah itu.


“Maaf pak, kalau mau ikut casting di mana ya pak?”


“Di ruang samping dek! Tapi mulainya nanti dek jam dua siang! Soalnya sekarang orang-orangnya masih di lokasi shootting, nanti datang lagi aja dek!”


“Oh iya makasih pak!” ternyata belum mulai castingnya, ‘lebih baik aku cari makan dulu, aku kan belum sarapan tadi pas pergi.’ Dia melihat warung soto,Tanpa ragu dia pun masuk dalam warung soto tersebut.


***


Dia langsung masuk ruang casting, begitu dia sampai lagi di PH Virgo Putra, masih sepi dia langsung nulis biodatanya seperti waktu itu.


“Gue kira casting film, kalau casting sinetron mah gue ogah..” cowok kribo keluar dari ruangan casting, sombong amat, dia pergi, bisa di tebak si kribo tadi pasti pemain senior, buktinya dia sudah berani bilang kayak tadi. kalau sekelas Teguh, dapat peran sekedar lewat di dalam sebuah cerita aja sudah bangganya setengah hidup kali.


“Ya berikutnya.” Teguh masuk, dia sedikit gemetar juga, padahal dia dengan yang namanya acting sudah biasa, ada banyak orang ternyata.


“Mundur sedikit, ya sedikit lagi dek! Perkenalan dulu ya dek!” ‘hah perkenalan? O..aku ngerti.’ Dia memang baru kali ini ikut casting.


“Dalam hitungan…eh sebentar dek! Coba menghadap kanan, ya sekarang ke depan lagi, menghadap ke kiri, senyum! Ya sekarang menghadap ke depan lagi, oke… satu..dua..tiga..action!”


“Nama saya Teguh Prayitno, tinggi seratus enam puluh sembilan centimeter, berat lima puluh lima kilogram, umur dua puluh tahun, saya tinggal di jalan haji saidi tiga dalam, cipete selatan, cilandak Jakarta selatan.”


“Oke bagus! Apa pengalaman adek?”

__ADS_1


“Saya pernah ikut sebuah festival di sebuah theater, dan saya mendapatkan…” dia tidak pede, dia takut nanti kalau pas casting dia tidak bisa gimana? Pasti dia akan malu. ‘Optimist dong!’ suportnya untuk dirinya sendiri dalam hati “THE BEST ACTOR” dia terkejut, merkeka semua yang ada di ruangan ini pada tepuk tangan, dia jadi rada pede.


“Hebat..hebat.., sekarang coba adek peragakan adegan ketika adek dapat ‘the best actor’ itu.”


“Sepotong aja ya bang?”


“Ya, sepotong aja nanti kalau semuanya, yang lain pada ngga jadi casting.” dia sedikit lupa. Tapi dia coba semampunya.


“Sekarang sudah aku dapatkan selendang bidadari ini, harus aku apakan selendang ini? Apa aku bakar saja selendang ini? Jangan! Lebih baik aku simpan saja!”


“Bagus..bagus, sekarang coba adek perankan seolah adek gagal menjalankan tugas dari bos! Bisa?”


“Bisa bang!”


“Oke...action!”


“Maafkan saya bos! Tapi saya janji bos, kalau saya di beri kesempatan, saya akan tebus semua kesalahanku ini bos, saya mohon bos! Kasih saya kesempatan sekali lagi, bos…”


“Ya cukup! Ya terima kasih adek Teguh Prayitno, ada nomer telpon kan dek?”


“Ada bang!”


“Ya bagus dek!” dia bangga banget, mudah-mudahan ini adalah awal dari segalanya buat dia, dia harus bersyukur, dia mau sholat ‘asar dulu ini ada masjid, dia seneng banget, dia mau bersyukur sekalian berdo’a kepadaNya.


Hatinya masih gembira karena dia berhasil ikut casting, dia pun kembali ke kontrakan Maman, saat dia sedang santai di kontakan itu lewatlah seorang cewek cantik.


“Siang Dila? Dari mana nih?”


“Habis beli es, mas Teguh gi ngapain?”


“Lagi ngobrol ma Dila.” lengkapnya Fitka Fadila. Cantik kan namanya? secantik orangnya. siapa Dila itu? Dila itu anaknya bang  O’is yang punya kontrakan ini, bedegh…anaknya cantik bgt deh. Kalau tau artis cantik yang namanya Naysila Mirdad, ya... wajahnya sebelas dua belas deh. Manjanya juga bikin orang di sekitarnya merasa ser… gitu.


“Ya... kalau itu sih Dila sudah tau. Mas Teguh sudah kerja ya?”


“Belum Dil, kalau Dila kelas berapa sekarang?”


“Kelas satu mas.”


“Kelas satu?” sebenarnya dia sudah tau kali, kalau Dila emang kelas satu, tapi dia pengen basa-basi dulu, biar dia tau sedikit-banyak tentang Dila. “ngga mungkin lah Dil, mas Teguh ngga percaya”


“Lho…emang Dila tu kelas satu SMA kok, emang menurut mas Teguh Dila kelas berapa?”


“Dila tu mas kira sudah kelas tiga gitu deh, lagian body Dila sudah gede sudah dewasa gitu.”


Ternyata ngobrol sama Dila enak juga, nyambung, ini membuat Teguh semakin bersemangat.


Rupanya casting yang dulu di Virgo Putra tak dapat membawanya menuju impiannya, dia tidak lolos, hal ini membuat dia terpukul, baru dia rasakan kejamnya rimba dunia.


“09 September 2006,


Aku pusing kalau setiap hari harus seperti ini, selalu aja ada masalah, di mana sih tempat yang ngga akan pernah ada masalah? Dan siapa manusia yang ngga pernah dapat masalah? Tolonglah jawab pertanyaanku ini!” Ini adalah sebuah tulisan yang Teguh tulis di buku diarynya setelah sebulan dia memasuki rimbanya dunia, Jakarta lah sang ibu kota Indonesia yang telah membuat dia mengeluh, terasa berat memang buat mereka yang baru saja masuk dalam lambung Jakarta.


“21 November 2006,


Sudah terlalu banyak garam yang aku makan selama ini, tapi entah kenapa otak ku ngga bisa berfikir denga jernih, kenapa aku begitu bodoh, hingga aku mau saja di bohongi oleh orang yang sama sekali aku tidak kenal. Ya…aku sadari, mungkin itu semua terjadi karena obsesiku tuk menjadi actor layar lebar terlalu tinggi, tapi aku harap aku  bisa melupakan kejadian ini, kejadian di mana aku memberikan satu buah hape dan uang sejumlah seratus ribu rupiah kepada orang yang mengaku dirinya seorang sutradara, ah..sudah sudah ngga usah di ingat lagi masalah ini.” Apa yang dia alami selama tiga bulan pertama di luar Al-Zaytun membuat dirinya merasa rindu pada almamaternya, rasa pahitlah yang dia rasakan selama tiga bulan pertama di Jakarta, usahanya untuk mewujudkan mimpinya menjadi salah satu actor milik Indonesia tidaklah semudah apa yang ada di pikirannya, Production house besar di Jakarta sudah dia datangi dan hanya dapat dia datangi, dia memang belum layak untuk masuk lebih jauh, belum satu persenpun dia merasakan kekejaman dari rimbanya dunia.


Hari ini dia ada di kantin lagi, kantin umum di Al-Zaytun, tempat yang selalu menjadi kenangan untuk setiap murid di sini, karena di sini lah tempat yang paling aman untuk mereka menemui orang yang mereka sayangi, buat mereka yang mempunyai orang tersayang tentunya, dan Teguh saat ini ada di sini, di kantin umum ini, pake baju hitam lengan panjang berkerah, dengan celana hitam bahan, rambutnya sedikit panjang tak teratur, beda banget penampilannya dengan yang dulu, rambut yang panjangnya tidak lebih dari 10cm, tapi sekarang? Mungkin lebih dari 15cm.


“Kak! Kak Teguh!” seorang cewek menyebut namanya, dia pun menoleh, dan seorang cewek yang sudah dia kenal ada di pintu kantin, dengan di sampingnya Maryam.


“Eh Dewi? Iyam? Sini duduk!”


“Nih kak, Iyam sudah Dewi bawa dari kamarnya, dia masih tidur kak jam segini coba.”


“Ih Dewi jangan bilang ke kakak coba! Kan malu.”


“Ya sudah sana, kakak! Dewi tinggal dulu ya!” cewek bernama Dewi pergi, dia adalah cewek yang selama ini selalu berkomunikasi dengan Teguh, dia juga yang selalu menampung curahan hatinya tentang Maryam, Maryam mendekat dan duduk di depan Teguh.


“Iyam sudah makan?”


“Kakak tu gimana sih? Kan Dewi tadi sudah bilang kalau Iyam baru bangun tidur, ya belum makan lah kak!”


“Ya sudah pesen makan yuk!”


“Beli mie ayam aja ya kak!” mereka pergi ke tempat mie ayam, Teguh seneng banget ketemu lagi sama Maryam, dia ngerasa damai ada di samping Maryam, bisa terlihat dari pancaran wajahnya, seperti tak ada capeknya dia ngeliat wajah polos Maryam, dia masih saja melihat wajah Maryam, mereka balik lagi ke meja makan di kantin ini.


“Iyam!”


“Iya kak?”

__ADS_1


“Iyam kangen ngga sih sama kakak?”


“Kalau kangen kenapa? Kalau enggak kenapa?”


“Ya tega aja kalau Iyam sampai ngga kangen sama kakak, padahal kakak tu kangen banget sama Iyam, apa lagi sama manjanya Iyam, ih bikin gemes tau ngga.”


“Ah yang bener?”


“Iya Yam, kakak jujur lho.”


“Wah, jangan-jangan kakak naksir sama Iyam nih kak! Bahaya tu.”


“Yam!”


“Iya apa lagi? Iyam masih di sini kak.”


“Iyam tau ngga?”


“Ya ngga tau lah kak, kan kakak belum kasih tau Iyam.”


“Kakak lagi nulis buku.”


“Terus.”


“Kakak pake nama Iyam di buku kakak, tapi kakak belum tau judul bukunya apa.”


“Wah ngga boleh tu kak, kakak harus izin dulu sama Iyam, mahal lho pake nama artis terkenal seperti Iyam.”


“Apa ini bukan minta Izin namanya?”


“Oke! Iyam izinin, tapi jangan di pake buat nama orang jahat ya! Pake untuk nama orang yang baik hati, rajin bekerja dan suka memberi.” ngeliat tingkah dan setiap perkataan yang Iyam lakukan, Teguh jadi semakin terpesona, wajarlah kalau dia jatuh hati sama cewek ini, tapi sayang dia terlalu cuek, lihat saja, dia ngga perduli Teguh mau ngomong apa, selalu dia bisa menjawab, “terus kalau sudah jadi, Iyam boleh baca dan geratis, deal?”


“Oke! Deal.” Teguh mengulurkan tangan ke Maryam, tapi dia menolak berjabat tangan, dia hanya tersenyum dan kemudian tertawa.


“Kakak serius benget deh…” tidak bisa di mengerti dengan kelakuan anak satu ini, kasian Teguh, dia narik lagi tangan yang sudah di ulurkan, Maryam masih tersenyum manis di depannya, ‘ugh… pengen nyubit pipinya’ batin Teguh.


Setelah dia merasa mendapatkan apa yang dia inginkan dia pun kemabali ke Jakarta, dia sudah mengambil Ijazah untuk dia melamar kerja di Jakarta, karena dia merasa tidak mungkin dia bisa hidup di Jakarta tanpa dia bekerja.


***


Sudah begitu lama dia di Jakarta, namun dia masih juga belum bisa beradaptasi. dia juga pernah berniat untuk melanjutkan kuliah saja di Jakarta dia ingin mengambil fakultas perfilman di salah satu institut di Jakarta bernama IKJ Institut Kesenian Jakarta, namun nahas yang dia alami, begitu dia mengutarakan keinginanya itu ...


“Engga Guh! Kalau Teguh mau kuliah Teguh harus jadi dokter!” dokter! Adalah keinginan mamanya, Kasmini sangat menginginkan Teguh menjadi dokter, Kasmini belum tau prosedur untuk menjadi seorang dokter, dia juga belum tau berapa dana yang harus dia keluarkan untuk menjadi dokter.


“Ma Teguh ngga sanggup jadi dokter ma! Banyak syaratnya ma, memang Teguh bisa masuk ke fakultas kedokteran ma! Karena Teguh lulusan IPA, tapi otak Teguh sudah Teguh setting untuk memikirkan Film ma! Dunia entertainer!”


“Aduh anak mama ini susah ya di bilangin! Jadi orang terkenal itu lebih susah Guh! Kalau Teguh jadi dokter kan Teguh bisa menolong banyak orang!”


“Ma! Minat Teguh cuman satu ma! Dan itu adalah Film!”


“Teguh anak mama sayaaaang!!! Mamamu ini sudah merasakan jadi orang yang terkenal Guh! Teguh tau kan akibatnya? Pasti Teguh juga merasakannya kan?”


“Teguh bukan ingin terkenal ma! Teguh hanya ingin berkarya di bidang yang Teguh bisa ma! Tolong lah ma! Kasih kesempatan anakmu ini!”


“Engga Guh!”


“Teguh akan buktikan ma! Teguh akan tunjukan pada mama bahwa Teguh bisa.”


“Tolonglah Guh! Jangan nekat, lebih baik Teguh ke sini, nanti mama akan carikan sekolah kedokteran yang bagus, anak mama satu-satunya harus jadi dokter.” Kasmini sama sekali tak merestui mimpi Teguh untuk berkarya di dunia entertaint, mamanya benar karena Kasmini menjadi biduan lah kemudian dia tak bisa melihat Mami yang terakhir kali dia bernafas dulu, dia di sibukkan dengan urusannya, karena dia menjadi biduan juga keluarganya berantakan, dan Teguh adalah korban dari kehancuran keluarganya dengan Sunaryo ayah kandung Teguh, namun ini sudah menjadi keputusan Teguh.


“Jikalau mama tidak bisa merestui Teguh, Teguh akan berusaha sendiri ma! Sampai kapanpun akan Teguh kejar mimpi Teguh ma! Akan Teguh buktikan pada mama sampai mama bilang ‘Ya’ pada mimpi Teguh, Teguh ingin membuktikan pada mama, bahwa anak mama yang Idiot ini bisa mewujudkan mimpinya!” Teguh pun menutup telponnya, karena mereka berdebat melalui telpon genggam.


Mungkin masa-masa ini adalah masa yang begitu menyakitkan bagi dia, bukan hanya masalah dengan mamanya, tapi masalah dengan asmaranya pun belum juga kunjung tanda-tanda keberhasilannya menemui cewek yang pas untuk dirinya, apa mungkin dia menyesal karena dia sudah tega memutuskan Yani dengan cara sepihak? Rasanya tidak! Kalau begitu kenapa dia masih terlarut dalam kepedihan ini? Bukankah Teguh Prayitno adalah seorang yang periang?


Beberapa hari yang lalu setelah dia berdebat dengan mamanya, dia juga mencoba datang ke Al-Zaytun, kali ini tujuannya bukan Maryam, tapi Zahra.


“Adik-adik sekalian, kakak ucapkan trimakasih banget ya, karena kalian sudah nyambut kedatangan kakak dengan begitu meriahnya.” Teguh langsung menuju ruang theater, disini sudah ramai anak-anak, mereka ternyata kangen dan rindu akan kehadirannya, di sini juga ada Zizah. Itu lho anak yang gendut, bawel manja. itu anaknya lagi senyum-senyum sama Teguh, tadi saja sewaktu Teguh baru sampai ke ruangan ini, dia yang nyambutnya pertama kali, kebiasaanya tak berubah sama sekali, makin gendut iya.


“Anak-anak, bagaimana kalau sebagai penutup acara kita pada hari ini KTP mengajar kalian ber theater?” Apakah Teguh masih inget materi yang dulu kak Iyas kasih ke Teguh?


“Sep, gue lupa semua tau materi theater.”


“Yang penting coba dulu Guh! Itu materi pertama yang kak Iyas berikan pada kita dulu kan?” Isep teman theater-nya dulu yang sekarang masih bertahan di Al-Zaytun menjadi mahasiswa dan mengajar theater juga mengingatkan pelajaran yang dulu mereka timba ilmunya bersama, itu memang materi paling pertama yang kak Iyas kasih ke mereka “Try” atau “Coba”, sebab dulu sewaktu Teguh, Isep, Asimo, Silvi, Arsyi dan Ika baru pertama mengenal dunia acting, mereka semua masih malu dan tak berani mencoba, tapi setelah sekali mereka mencoba, mereka semua jadi bisa. Dan sekarang Teguh akan mencoba mempraktekkan materi dari kak Iyas ini. ‘Aku harus tunjukin ke mereka semua, para junior-juniorku kalau aku, Teguh Prayitno masih ada’ Batinnya dalam hati.


“Baik lah adik-adik, sekarang mari kita berdiri semua!...” ‘aku harus PD dong! Iya ngga?’ batinnya lagi, awalnya dia memang grogi juga, bayangin aja, sudah lama banget dia tidak ngajar, tapi akhirnya selesai juga acara ini, inilah waktu yang dia tunggu-tunggu, saatnya menemui Zahra.


Dia pun pergi ke kantin umum seperti biasanya dia dulu bila ada waktu luang pasti kantin umum yang dia tuju, dia memang sengaja datang ke Al-Zaytun tanpa mengabari Zahra.


Sungguh bagaikan petir dibawah matahari menghampiri isi hatinya, dia melihat Zahra sedang duduk berdua berhadapan di salah satu sudut kantin, awalnya dia tak percaya, namun dia kemudian bertanya pada salah satu teman Zahra yang dia kenal yang dia temui di kantin, dan ternyata benar dia adalah cowok Zahra yang sedang bersama Zahra, kekecewaannya ini membuat dia pulang tanpa hasil hanya menambah lara di jiwanya saja.

__ADS_1


“Sudahlah lupakan saja! Zahra bukan tujuan pencarianku. Perjalanan yang harus aku tempuh masih jauh, masih panjang!” Dia mencoba menasehati dirinya sendiri.


***


__ADS_2