Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 19: Tak Beralasan (2)


__ADS_3

Bulan pertama selama Kamisah di Malaysia mereka masih berkomunikasi, tak ada permasalahan apapun, hingga Kamisah jatuh sakit dan tak berdaya di sana, Kasmini mulai kerepotan mengurusi adiknya itu, dengan tiba-tiba Tugimin hadir mendekati Kamisah, ia selalu perhatian pada adik Kasmini itu yang juga mantan pacar pertamanya dua puluh tahun lalu. Begitu Kamisah sembuh dari sakitnya itu ia mulai putus komunikasi dengan suaminya yang di Jakarta dan menjalin perselingkuhan dengan Tugimin, alasanya karna Tugimin lebih perhatian padanya ketimbang suaminya, ya wajar saja wong suaminya jauh entah di mana, Tugimin dekat di mana, pertengakran pun terjadi lagi antara Kamisah dan Kasmini yang berujung Kamisah kabur dengan Tugimin, Akhirnya Kasmini pun curhat pada anak semata wayangnya.


“Mas, Lilik Kamisah kabur dari sini.”


“Hem... sesuai dengan penerawangan mamas kan ma? Sekarang mau bagaimana lagi? Mamas kan cuman anak kecil, jadi ya larangannya, pendapatnya ga berguna buat mama.”


“Ya mama kan cuman pengin yang terbaik mas, mama juga niatnya pengen nolong adik mama.”


“Mamas sih ga mau nyalahin mama, tapi mamas akan memenuhi janji mamas.” Kasmini masih terus curhat dan Teguh hanya bisa menjadi pendengar yang baik.


Dan dampak dari kejadian di Malaysia, Yanto suami Kamisah selalu menelpon Byunge di rumah dan menanyakan kabar Kamisah, hal itu sangat mengganggu pikiran byunge, itu pendapat Teguh, dan langkah yang di ambil oleh Teguh adalah menyita hape Byunge dengan tujuan agar Byunge tidak terganggu pikirannya karna terus memikirkan anak bungsunya yang menggila lagi.


Kabar Kamisah pun menghilang begitu saja, Kasmini sudah tak perduli lagi dengan adiknya yang satu itu namun kemudian problema pun ia alami sendiri, suaminya yang sudah menikahinya selama 11tahun mengalami perubahan, sikapnya pada Kasmini tidak lagi seperti saat mereka bertemu, hal itu membuat Kasmini mencari bahu untuk menyandarkan diri, dalam artian curhat, tentu bukan pada anaknya juga bukan pada Byunge, bukan sifatnya yang membagi penderitaan dengan orang yang di cintainya. Ia berusaha terus menjalani hidupnya tanpa membebani pikiran anak dan ibu kandungnya.


Tiga bulan setelah menghilangnya kabar Kamisah, tiba-tiba saja Kamisah datang kembali dengan berita yang sangat mengejutkan hati sang kakak. Kamisah datang ke restauran Kasmini ia bersimpuh di hadapan kakaknya dan meminta ampun.


“Yu! Aku minta ampun atas apa yang sudah aku lakukan padamu.” Sambil ia menangis dan meratap, hati Kasmini pun luluh namun pertanyaan masih menggunung di benaknya.


“Iya de! Yayu sudah memaafkanmu, tapi apa yang terjadi denganmu de?”


“Aku...” Kamisah ragu untuk memberi kabar yang sebenarnya sedang di landa dirinya, “Aku sedang hamil Yu!”


“Astagfirulloh hal’adzim!!!” hati Kasmini hancur lebur “apa yang sudah kamu lakukan de? Pasti dengan Tugimin kan?”


“Iya Yu, tapi aku tidak hamil di luar nikah Yu!”


“Maksud kamu apa? Kamu sudah menikah dengan Tugimin?” Kamisah masih menangis dan mengangguk perlahan.


“Aku mencintainya Yu!”


“Sudah gila kamu ya de? Setan apa yang menempel di hatimu de? Kamu itu sudah bersuami, dan sekarang kamu menikah lagi? Dan sudah hamil?” Kasmini tak dapat berbuat apapun mendengar kabar ini, badai sedang menerpa rumah tangganya, dan kini ****** beliung hadir dengan ulah adik bungsunya.


Hati Kasmini memang sangat kuat, dan Fisiknya tidak lagi sekuat hatinya, beberapa hari setelah kedatangan adiknya, ia harus di infus dan masuk UGD karna tubuhnya tiba-tiba terjatuh saat ia melayani orang-orang di restaurannya, tiga hari ia pun harus di okname, ia tak sadarkan diri, di kampung tak ada yang tau apa yang terjadi dengan dirinya, Teguh maupun Byunge masih tenang saja di Jetis. Ayob suami Kasmini terus menjaganya sepajang tiga hari. Menurut keterangan dari dokter, tidak ada penyakit yang serius yang di temukan pada Kasmini, hanya saja tekanan darahnya turun drastis, dokter hanya berkomentar.


“Ibu Amy! Jangan terlalu banyak fikir, Ibu sebaiknya cerita pada orang lain bila ada persoalan.”


“Terimakasih Dokter, akhir-akhir ni memang saya tengah banyak berfikir, tapi apa yang saya pikirkan tak ada akhirnya, tak ada solusinya dok!”


“Hehehe...” Dokter tertawa geli dengan pernyataan Kasmini. “Mana ada sebuah persoalan yang tak ada solusinya? Bahkan di dalam al-Qur’an pun sudah tertulis bu, bahwa tak akan seseorang di bebani melebihi dari kekuatan atau kemampuannya.”


“Iya dok Terima kasih.”


“Ibu bisa pulang hari ini juga, tapi pesan saya, jangan memikul beban pikiran sendiri.” Kasmini pun bersiap untuk kembali ke rumahnya dengan di dampingi suami tercintannya.


Setelah Kasmini merasa sudah sembuh barulah ia berani bercerita apa yang sudah menimpa keluarganya, dirinya, dan adiknya. Satu persatu ia ceritakan dengan perlahan pada anaknya yang sudah sangat dia kenal. Perlu keberanian yang lebih untuk menyampaikan semua kabar ini pada seorang Teguh Prayitno. Yang pertama tentu kejadian dia jatuh di restaurannya, itu tidak membuat Teguh terkejut, karna Teguh fikir yang penting sekarang mamanya sudah sembuh, di lain hari Kasmini berani bercerita tentang adiknya.


“Masya Alloh Ma! Apa Mamas bilang, kejadian juga kan?” Teguh sangat lah marah saat itu namun dia hanya bisa marah. Di lain hari lagi baru lah dia berani bercerita tentang kisah asmaranya.


“Mama minta maaf Mas! Mama ngga bisa menepati janji mama sama Mamas.” Kasmini bercerita sambil menangis, “Pendapat mamas bagaimana? Mama sudah ngga kuat hidup dengan Ayob, dia sudah sangat berbeda sekarang, dia sudah berani main tangan, dia bersikap kasar pada mama, dan sekarang mama menemukan seorang lelaki yang bisa mengerti mama.” Teguh lemas, dia tak tau harus berpendapat apa pada kisah cinta mamanya ini.


“Ya seperti yang mama pernah bilang dulu, cinta itu bagaikan rumput ma, dia tumbuh se-enek wudelnya sendiri, di mana dia mau tumbuh ya dia tumbuh.”

__ADS_1


“Tapi hubungan mama denga orang itu belum terlalu Mas, mama masih bisa mengontrol diri mama.”


“Ya Alhamdulillah! Kalau cinta itu adalah rumput, kita harus bisa tau mana yang harus di racun, di cabut kemudian di bakar, atau membiarkannya tumbuh subur dan menjadi pemandangan yang indah.”


Sedikit problema yang menimpa kisah asmara mamanya menjadi dia semakin takut untuk membuat cerita cintanya dengan Icha, namun kemudian ia meyakinkan dirinya bahwa keputusannya tidak akan membuat dia menderita kelak.


***


25 Februari 2013


Tiga hari lagi di kampung jetis akan di adakan pemilihan kepala desa, baru kali ini Teguh akan mengikuti momen seperti ini, dan baru kali ini juga Teguh di percaya untuk menjadi kader salah satu calon Kepala desa, sebenarnya dia paling tidak suka dengan dunia politik, maka dari itulah kita tidak akan membahas tentang politik, tapi kita akan membahas bagaimana hubungan Teguh dengan Icha Elisa, seorang gadis yang sudah sangat dia cintai, yang dia yakin bahwa Icha lah yang akan memenuhi janjinya, bahwa Icha lah yang akan menjadi ending dari kisah novel ini. Namun apa yang sedang terjadi di malam ini?


Sebuah hendpon samsung milik Teguh berbunyi, dan itu dari nomer Icha, itulah yang sedang dia tunggu, dia ingin segera menceritakan semua yang terjadi di hari ini.


“Halo yank!” itu sapaan Teguh untuk yang tersayang.


“Halo! Mas teguh ya!” ternyata dari sebrang sana bukan lah suara yang sedang ia nanti.


“Iya benar ini Teguh.”


“Ini temennya Icha, bagaimana ini mas, Icha dari tadi sore belum balik.”


“O...” Teguh sempat terkejut namun dia mencoba untuk relaks, “memangnya dia pergi kemana?”


“Ngga tau mas, tadi sore dia di jemput sama temennya naik mobil, temennya cowok.” Gejolak cemburu membahana seisi hati Teguh namun dia masih berusaha mengontrol diri, itu karna Teguh sudah tidak percaya dengan cerita teman Icha.


“Ya udah ntar kalo Icha dah sampai suruh nelpon ke sini ya!”


Tanda tanya besar terbentuk di minda otak Teguh, tapi Teguh memutuskan utuk tidak mempercayai cerita teman Icha itu. Selang beberapa menit Icha pun menelpon Teguh lagi.


“Halo Yank.” Ini benar suara Icha.


“Iya yank!”


“Tadi temen Icha telpon ya?”


“Iya.”


“Ngomong apa dia?”


“Ngga tau, dia ngomong kayak orang gila, ngga jelas gitu deh.”


“Icha capek banget nih, Icha mau bobo.”


“Ya kalau begitu Icha istirahat ya! Jaga kesehatan Icha.” Setelah megucap salam telpon pun di putus, rasa dongkol di dada Teguh masih ada dia tergugah untuk mengirim sms yang menegaskan bahwa dia tidak percaya dengan cerita teman Icha.


Kesalahan Teguh pun harus terjadi, sepertinya Icha tidak terima dengan isi sms yang Teguh kirim untuk dia. Icha marah.


“Maksud Mamas apa sms nyolot gitu?”


“Mamas cuman kasih tau Icha kalau mamas itu ga percaya sama cerita teman Icha.” Keduanya pun beradu argumen. Teguh merasa emosinya udah keluar, dia tidak akan mau berantem dengan Icha, akhirnya ia pun dengan masih di kuasai oleh emosi, ia memutuskan telpon kemudian mengirim sms.

__ADS_1


“Mamas ga mau berantem sama Icha, karna mamas sayang sama Icha, mamas lebih percaya sama Icha.” Isi sms itu tidak membuat Icha meredakan marahnya, justru semakin dia membumbung emosinya.


Setiap hari Teguh berusaha mendekati Icha lagi, ia sadar dia salah karna memutus telpon, dia setiap malam menelpon Icha namun tak bisa terhubung, dia pun menulis sms, hingga satu minggu Teguh ngga punya cara lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Inisiatif terakhir adalah menanyakan kabar Icha pada mamanya yang sudah kembali dari Malaysia.


“Halo ma! Apa kabar?”


“Kabar baik, ini Teguh ya!”


“Iya ma!”


“Eh Teguh ada apa sih dengan Icha?” Teguh terkejut ‘apa mungkin Icha sudah cerita tentang pertengkaran ini.’ Batin Teguh.


“Ngga kok ma! Ngga ada apa-apa.”


“Udah deh Teguh ngaku aja, mama tau kalau kalian lagi ngga beres.” Teguh pun tak dapat berbuat apa-apa, akhirnya dia pun bercerita apa adanya pada mamanya Icha.


“Teguh mohon ma! Jangan marahin Icha.”


“Enggak Guh! Mama ngga akan marahin Icha.” Teguh tau persis kalau Mamanya Icha itu sangat tegas pada Icha, kalau sampai mamanya Icha memarahinya, pasti masalah Teguh dan Icha akan semakin meruncing.


Dan benar mamanya Icha pun ingkar janji, Icha di marahin habis-habisan sampai Icha menangis.


Sekarang keadaan hubungan mereka berdua berada di ambang kehancuran, Teguh mendapat informasi dari Teman FB yang juga teman sekerja Icha, bahwa selama ini Icha selalu telponan dengan mantan pacarnya. Itu mambuat hati Teguh rasanya ingin meledak. Tapi dia berhasil untuk menahan amarahnya, dia tak percaya dengan berita itu, dia masih percaya pada Icha. Tekadnya untuk mempertahankan Icha masih kokoh.


Dan hari ini tanggal 7 bulan maret tahun 2013, Icha menelponnya saat dia masih tertidur, lekas dia mengangkat telpon itu.


“Halo yank!” rasa bahagia di dada mengembang dengan sangat cepat.


“Ada yang mau mamas bicarakan dengan Icha?”


“...” Teguh bingung dengan satu pertanyaan itu.


“Kalau ada sekarang cepet katakan!” nada bicara Icha seperti sambil menahan tangis.


“Mamas sayang sama Icha...”


“Begitu cara Mamas menyayangi Icha? Membuat Icha di marahin sama mama? Mamas ngga pernah tau sih seperti apa kalau mama marah, apa mau lihat mama marahin Icha?”


“...” Teguh masih belum bisa ngomong apa-apa.


“Udah kan ngga ada yang mau di bicarain lagi?”


“...” Belum sempat Teguh berbicara Icha sudah menabraknya lagi.


“Udah lah mulai sekarang Icha ngga mau ngomong lagi sama Mamas, Icha ngga mau lagi kenal sama Mamas.” Udah hanphon pun berbunyi “tut-tut-tut” tanda sudah di putus dari sebrang.


Ngga ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, kecuali dia harus ke jakarta, walau bagaimanapun nantinya, Mamanya Teguh akhir bulan ini akan datang ke rumah Icha, dia ngga mau lagi membuat kecewa mamanya, karna itu juga termasuk janji Teguh pada dirinya sendiri, dia memendam permasalahan ini sendiri, tak ada yang tau permasalahan mereka, kecuali ya mereka berdua.


Teguh sudah tidak punya alasan lagi untuk melepas Icha, karna awalnya dia pun tak tau dari mana dan kenapa dia bisa jatuh hati pada Icha, awalnya dia hanya ingin membuktikan sebuah pepatah jawa. Dan akhirnya dia pun membuktikannya.


“Tresno niku jalaran soko kulino”

__ADS_1


***


__ADS_2