
“09 September 2006,
Aku pusing kalau setiap hari harus seperti ini, selalu aja ada masalah, di mana sih tempat yang ngga akan pernah ada masalah? Dan siapa manusia yang ngga pernah dapat masalah? Tolonglah jawab pertanyaanku ini!” Ini adalah sebuah tulisan yang Teguh tulis di buku diarynya setelah sebulan dia memasuki rimbanya dunia, Jakarta lah sang ibu kota Indonesia yang telah membuat dia mengeluh, terasa berat memang buat mereka yang baru saja masuk dalam lambung Jakarta.
“21 November 2006,
Sudah terlalu banyak garam yang aku makan selama ini, tapi entah kenapa otak ku ngga bisa berfikir denga jernih, kenapa aku begitu bodoh, hingga aku mau saja di bohongi oleh orang yang sama sekali aku tidak kenal. Ya…aku sadari, mungkin itu semua terjadi karena obsesiku tuk menjadi actor layar lebar terlalu tinggi, tapi aku harap aku bisa melupakan kejadian ini, kejadian di mana aku memberikan satu buah hape dan uang sejumlah seratus ribu rupiah kepada orang yang mengaku dirinya seorang sutradara, ah..sudah sudah ngga usah di ingat lagi masalah ini.” Apa yang dia alami selama tiga bulan pertama di luar Al-Zaytun membuat dirinya merasa rindu pada almamaternya, rasa pahitlah yang dia rasakan selama tiga bulan pertama di Jakarta, usahanya untuk mewujudkan mimpinya menjadi salah satu actor milik Indonesia tidaklah semudah apa yang ada di pikirannya, Production house besar di Jakarta sudah dia datangi dan hanya dapat dia datangi, dia memang belum layak untuk masuk lebih jauh, belum satu persenpun dia merasakan kekejaman dari rimbanya dunia.
Hari ini dia ada di kantin lagi, kantin umum di Al-Zaytun, tempat yang selalu menjadi kenangan untuk setiap murid di sini, karena di sini lah tempat yang paling aman untuk mereka menemui orang yang mereka sayangi, buat mereka yang mempunyai orang tersayang tentunya, dan Teguh saat ini ada di sini, di kantin umum ini, pake baju hitam lengan panjang berkerah, dengan celana hitam bahan, rambutnya sedikit panjang tak teratur, beda banget penampilannya dengan yang dulu, rambut yang panjangnya tidak lebih dari 10cm, tapi sekarang? Mungkin lebih dari 15cm.
“Kak! Kak Teguh!” seorang cewek menyebut namanya, dia pun menoleh, dan seorang cewek yang sudah dia kenal ada di pintu kantin, dengan di sampingnya Maryam.
“Eh Dewi? Iyam? Sini duduk!”
“Nih kak, Iyam sudah Dewi bawa dari kamarnya, dia masih tidur kak jam segini coba.”
“Ih Dewi jangan bilang ke kakak coba! Kan malu.”
“Ya sudah sana, kakak! Dewi tinggal dulu ya!” cewek bernama Dewi pergi, dia adalah cewek yang selama ini selalu berkomunikasi dengan Teguh, dia juga yang selalu menampung curahan hatinya tentang Maryam, Maryam mendekat dan duduk di depan Teguh.
“Iyam sudah makan?”
“Kakak tu gimana sih? Kan Dewi tadi sudah bilang kalau Iyam baru bangun tidur, ya belum makan lah kak!”
“Ya sudah pesen makan yuk!”
“Beli mie ayam aja ya kak!” mereka pergi ke tempat mie ayam, Teguh seneng banget ketemu lagi sama Maryam, dia ngerasa damai ada di samping Maryam, bisa terlihat dari pancaran wajahnya, seperti tak ada capeknya dia ngeliat wajah polos Maryam, dia masih saja melihat wajah Maryam, mereka balik lagi ke meja makan di kantin ini.
“Iyam!”
“Iya kak?”
“Iyam kangen ngga sih sama kakak?”
“Kalau kangen kenapa? Kalau enggak kenapa?”
“Ya tega aja kalau Iyam sampai ngga kangen sama kakak, padahal kakak tu kangen banget sama Iyam, apa lagi sama manjanya Iyam, ih bikin gemes tau ngga.”
__ADS_1
“Ah yang bener?”
“Iya Yam, kakak jujur lho.”
“Wah, jangan-jangan kakak naksir sama Iyam nih kak! Bahaya tu.”
“Yam!”
“Iya apa lagi? Iyam masih di sini kak.”
“Iyam tau ngga?”
“Ya ngga tau lah kak, kan kakak belum kasih tau Iyam.”
“Kakak lagi nulis buku.”
“Terus.”
“Kakak pake nama Iyam di buku kakak, tapi kakak belum tau judul bukunya apa.”
“Apa ini bukan minta Izin namanya?”
“Oke! Iyam izinin, tapi jangan di pake buat nama orang jahat ya! Pake untuk nama orang yang baik hati, rajin bekerja dan suka memberi.” ngeliat tingkah dan setiap perkataan yang Iyam lakukan, Teguh jadi semakin terpesona, wajarlah kalau dia jatuh hati sama cewek ini, tapi sayang dia terlalu cuek, lihat saja, dia ngga perduli Teguh mau ngomong apa, selalu dia bisa menjawab, “terus kalau sudah jadi, Iyam boleh baca dan geratis, deal?”
“Oke! Deal.” Teguh mengulurkan tangan ke Maryam, tapi dia menolak berjabat tangan, dia hanya tersenyum dan kemudian tertawa.
“Kakak serius benget deh…” tidak bisa di mengerti dengan kelakuan anak satu ini, kasian Teguh, dia narik lagi tangan yang sudah di ulurkan, Maryam masih tersenyum manis di depannya, ‘ugh… pengen nyubit pipinya’ batin Teguh.
Setelah dia merasa mendapatkan apa yang dia inginkan dia pun kemabali ke Jakarta, dia sudah mengambil Ijazah untuk dia melamar kerja di Jakarta, karena dia merasa tidak mungkin dia bisa hidup di Jakarta tanpa dia bekerja.
***
Sudah begitu lama dia di Jakarta, namun dia masih juga belum bisa beradaptasi. dia juga pernah berniat untuk melanjutkan kuliah saja di Jakarta dia ingin mengambil fakultas perfilman di salah satu institut di Jakarta bernama IKJ Institut Kesenian Jakarta, namun nahas yang dia alami, begitu dia mengutarakan keinginanya itu ...
“Engga Guh! Kalau Teguh mau kuliah Teguh harus jadi dokter!” dokter! Adalah keinginan mamanya, Kasmini sangat menginginkan Teguh menjadi dokter, Kasmini belum tau prosedur untuk menjadi seorang dokter, dia juga belum tau berapa dana yang harus dia keluarkan untuk menjadi dokter.
“Ma Teguh ngga sanggup jadi dokter ma! Banyak syaratnya ma, memang Teguh bisa masuk ke fakultas kedokteran ma! Karena Teguh lulusan IPA, tapi otak Teguh sudah Teguh setting untuk memikirkan Film ma! Dunia entertainer!”
__ADS_1
“Aduh anak mama ini susah ya di bilangin! Jadi orang terkenal itu lebih susah Guh! Kalau Teguh jadi dokter kan Teguh bisa menolong banyak orang!”
“Ma! Minat Teguh cuman satu ma! Dan itu adalah Film!”
“Teguh anak mama sayaaaang!!! Mamamu ini sudah merasakan jadi orang yang terkenal Guh! Teguh tau kan akibatnya? Pasti Teguh juga merasakannya kan?”
“Teguh bukan ingin terkenal ma! Teguh hanya ingin berkarya di bidang yang Teguh bisa ma! Tolong lah ma! Kasih kesempatan anakmu ini!”
“Engga Guh!”
“Teguh akan buktikan ma! Teguh akan tunjukan pada mama bahwa Teguh bisa.”
“Tolonglah Guh! Jangan nekat, lebih baik Teguh ke sini, nanti mama akan carikan sekolah kedokteran yang bagus, anak mama satu-satunya harus jadi dokter.” Kasmini sama sekali tak merestui mimpi Teguh untuk berkarya di dunia entertaint, mamanya benar karena Kasmini menjadi biduan lah kemudian dia tak bisa melihat Mami yang terakhir kali dia bernafas dulu, dia di sibukkan dengan urusannya, karena dia menjadi biduan juga keluarganya berantakan, dan Teguh adalah korban dari kehancuran keluarganya dengan Sunaryo ayah kandung Teguh, namun ini sudah menjadi keputusan Teguh.
“Jikalau mama tidak bisa merestui Teguh, Teguh akan berusaha sendiri ma! Sampai kapanpun akan Teguh kejar mimpi Teguh ma! Akan Teguh buktikan pada mama sampai mama bilang ‘Ya’ pada mimpi Teguh, Teguh ingin membuktikan pada mama, bahwa anak mama yang Idiot ini bisa mewujudkan mimpinya!” Teguh pun menutup telponnya, karena mereka berdebat melalui telpon genggam.
Mungkin masa-masa ini adalah masa yang begitu menyakitkan bagi dia, bukan hanya masalah dengan mamanya, tapi masalah dengan asmaranya pun belum juga kunjung tanda-tanda keberhasilannya menemui cewek yang pas untuk dirinya, apa mungkin dia menyesal karena dia sudah tega memutuskan Yani dengan cara sepihak? Rasanya tidak! Kalau begitu kenapa dia masih terlarut dalam kepedihan ini? Bukankah Teguh Prayitno adalah seorang yang periang?
Beberapa hari yang lalu setelah dia berdebat dengan mamanya, dia juga mencoba datang ke Al-Zaytun, kali ini tujuannya bukan Maryam, tapi Zahra.
“Adik-adik sekalian, kakak ucapkan trimakasih banget ya, karena kalian sudah nyambut kedatangan kakak dengan begitu meriahnya.” Teguh langsung menuju ruang theater, disini sudah ramai anak-anak, mereka ternyata kangen dan rindu akan kehadirannya, di sini juga ada Zizah. Itu lho anak yang gendut, bawel manja. itu anaknya lagi senyum-senyum sama Teguh, tadi saja sewaktu Teguh baru sampai ke ruangan ini, dia yang nyambutnya pertama kali, kebiasaanya tak berubah sama sekali, makin gendut iya.
“Anak-anak, bagaimana kalau sebagai penutup acara kita pada hari ini KTP mengajar kalian ber theater?” Apakah Teguh masih inget materi yang dulu kak Iyas kasih ke Teguh?
“Sep, gue lupa semua tau materi theater.”
“Yang penting coba dulu Guh! Itu materi pertama yang kak Iyas berikan pada kita dulu kan?” Isep teman theater-nya dulu yang sekarang masih bertahan di Al-Zaytun menjadi mahasiswa dan mengajar theater juga mengingatkan pelajaran yang dulu mereka timba ilmunya bersama, itu memang materi paling pertama yang kak Iyas kasih ke mereka “Try” atau “Coba”, sebab dulu sewaktu Teguh, Isep, Asimo, Silvi, Arsyi dan Ika baru pertama mengenal dunia acting, mereka semua masih malu dan tak berani mencoba, tapi setelah sekali mereka mencoba, mereka semua jadi bisa. Dan sekarang Teguh akan mencoba mempraktekkan materi dari kak Iyas ini. ‘Aku harus tunjukin ke mereka semua, para junior-juniorku kalau aku, Teguh Prayitno masih ada’ Batinnya dalam hati.
“Baik lah adik-adik, sekarang mari kita berdiri semua!...” ‘aku harus PD dong! Iya ngga?’ batinnya lagi, awalnya dia memang grogi juga, bayangin aja, sudah lama banget dia tidak ngajar, tapi akhirnya selesai juga acara ini, inilah waktu yang dia tunggu-tunggu, saatnya menemui Zahra.
Dia pun pergi ke kantin umum seperti biasanya dia dulu bila ada waktu luang pasti kantin umum yang dia tuju, dia memang sengaja datang ke Al-Zaytun tanpa mengabari Zahra.
Sungguh bagaikan petir dibawah matahari menghampiri isi hatinya, dia melihat Zahra sedang duduk berdua berhadapan di salah satu sudut kantin, awalnya dia tak percaya, namun dia kemudian bertanya pada salah satu teman Zahra yang dia kenal yang dia temui di kantin, dan ternyata benar dia adalah cowok Zahra yang sedang bersama Zahra, kekecewaannya ini membuat dia pulang tanpa hasil hanya menambah lara di jiwanya saja.
“Sudahlah lupakan saja! Zahra bukan tujuan pencarianku. Perjalanan yang harus aku tempuh masih jauh, masih panjang!” Dia mencoba menasehati dirinya sendiri.
***
__ADS_1