
Berawal dari hari ini, dari saat Teguh masih menjadi Pahlawan Devisa Negara, Desember 2008, baru beberapa bulan sampai di Malaysia, sebuah impian yang sudah lama dia impikan, sebuah mimpi yang dia yakin bisa mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan, meski banyak orang bilang bahwa mimpi adalah bunga tidur, memang benar mimpi itu bunga tudur, tapi bagi dia, bagi seorang Teguh Prayitno, mimpi atau impian, adalah yang hari ini adalah khayalan yang besok adalah kenyataan, itulah teori yang dia terapkan dalam memotivasi dirinya untuk tidak lelah menggapai mimpinya.
Masih di Malaysia, dia masih menjadi seorang TKI, seorang bunga bangsa, seorang pahlawan devisa, dia sudah sampai di kawasan, sebuah cangkul sudah dia pegang dia sudah siap untuk mencangkul, bosnya masih di sana, dia masih terus mengawasi mereka semua, sesuatu yang sangat menyebalkan, kerja berat di liatin terus sama bos, sepertinya dia tu tidak percaya benget sama mereka, padahal memang dia harusnya tidak percaya sama mereka, wong kalau dia pergi mereka kerjanya langsung ‘ngula’ masih inget kata itu? ‘ngumpet lari tak kerja’ coba kalau mereka tidak di tungguin, tentu mereka merasa mempunyai tanggung jawab, dan mereka pasti akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan mereka, tapi ya sudahlah, sepertinya bos mereka itu sudah mau pergi, mungkin bosan ngeliat mereka setiap hari, dia sudah ‘metingkring’ di atas motornya, sebentar lagi pasti motornya akan bunyi dan pergi meninggalkan mereka yang sekarang sedang kecapean. Mana tadi pagi obat bau, langsung aja tanpa ragu dia keluarkan hapenya yang bermerek Samsung, dia langsung aktifkan kamera video dan dia arahkan ke semua karyawan yang ada di sini. Ada yang menolak di rekam, ada juga yang ke girangan dia malah joget-joget sambil nyanyi-nyanyi ‘aserehe ha rehe’ masih inget lagu itu kan? Nah yang sekarang lagi nyanyi lagu itu sambil joget seperti di video clipnya adalah Amang, nampangnya Panjang, tau tidak kenapa nama panggilannya Panjang? Karena badannya panjang, di kawasan ini maksudnya di Orchid ini orang paling tinggi ya dia itu, badannya lumayan besar tapi ya dia tidak pernah fitness sih, jadi ya tidak kayak Salim deh, dia orangnya polos banget, dari wajahnya bisa di tebak kalau dia orang yang jujur, walaupun dia juga suka ngula seperti yang lain, ngula itu tidak menandakan mereka orang jujur apa bukan, tapi itu tanda bahwa mereka juga manusia, apa maksudanya nih? Begini, bohong kalau sebagai manusia tidak pernah dendam, tidak pernah iri, tidak pernah mengeluh. Terus apa hubungannya dengan ngula? Salah pertanyaannya, harusnya kenapa meraka ngula? Mungkin belum pernah di ceritakan sebelumnya, di sini tenaga lelaki dan perempuan tu sama, satu, yeng ke dua, seperti yang di cerita tadi, mereka kerja selalu di awasi sama mandor mereka itu, mereka tidak ada kebebasan sama sekali, bahkan untuk bernafas pun di jatah, itu istilah kasarnya, mereka sudah seperti pekerja rodi, jadi apa salah kalau mereka ngula begitu dia tak ada di sini? Ya sudah pasti sudah pada paham dengan posisi pekerja orchid, tapi walau begitu mereka tetap punya hati, mereka tetap macul walaupun mereka maculnya tidak sesemangat waktu ada Akok di samping mereka, sesekali mereka tertawa lepas, dan sesekali juga mereka membuat sesuatu yang bikin teman tertawa, ya sekedar menghibur diri, seperti Teguh sekarang yang sedang merekam mereka semua.
“Langsung kirimin ke jawa aja Guh! Ntar kan yang di jawa langsung tidak ada yang mau masuk sini lagi.”
“Iya ya kang! Di buat VCD aja ntar di jual, pasti laku ya?” Kang Lasiman memberikan pendapatnya, dan Teguh mencoba meresponnya, si Deglag baru datang, dia baru habis menyemprot bunga di belakang office, tanpa ragu dia mengambil sebuah cangkul, karena cangkulnya memang tinggal satu, jadi ya dia tidak bisa memilih, hape di tangan Teguh masih terus mengabadikan kejadian saat ini.
“Baru habis Glag?”
“Sialan banget Akok lah Guh.”
“Emangnya kenapa?”
“Belum habis sudah di suruh ke sini, terus gue di ganti sama perempuan.”
“Ya bagus dong Glag, obat bau ini.”
“Bagus gimana? Mendingan taruh obat lah Guh, dari pada macul? Mana gajihnya sama dengan perempuan, tapi kerjanya lebih berat lelaki, tidak adil ini Guh namanya.”
“Semua juga tau itu Glag, tidak usah ngegas sama mereka donk! mereka itu senasib.” Deglag masih terus aja marah-marah, dia hentikan mengoprasikan hapenya, apa yang di lakukan Deglag? dia membanting cangkulnya dengan emosi, terus dia buka baju lengan pendeknya, wah emang dia tu ya, tidak punya rasa panas kali ya dia tu, Teguh aja yang pakai baju lengan panjang dan topi lebar aja masih terasa panas, eh dia malah tidak pake baju, tidak pake topi juga, tapi habis dia lepas bajunya dia ambil lagi cangkul yang dia banting tadi, dia langsung serius mencangkul, Teguh juga ikut serius, dia nyangkul tepat di samping Teguh, jadi ya mereka jadi pengen terus ngobrol, nalar Deglag tajam walaupun tampang Deglag seperti kurang cerdas, Teguh coba cek nalarnya, dia mau buat satu kaliamat dan dia akan mulai mengobrol dengan Deglag.
“Glag?”
__ADS_1
“Apa?”
“Lu tamat sekolah SD ya?”
“Iya kenapa?”
“Lu tidak ingin melanjut kan sekolah?” si Deglag berhenti mencangkul, mau apa dia?
“Lu gimana sih Guh? Gue kan sekarang ada di Malaysia? Gue sudah jadi TKI, mana mungkin sih gue mau sekolah lagi.”
“Ya barang kali aja gue kan cuman nanya ‘lu kepengin sekolah lagi apa enggak?’ sudah itu aja kok, emangnya lu ngga punya cita-cita?”
“Ngga.”
“Sama sekali? Setiap orang pasti punya cita-cita lah Glag, punya impian, seperti gue juga punya cita-cita, gue punya impian.”
“Masya Alloh Glag? Lu tidak tau cita-cita?”
“Bukan begitu Guh, gue tau cita-cita, gue juga tau impian, yang gue tanyakan tu, cita-cita itu…”
“Gue tau maksud elu Glag, sekarang lu masih inget tidak waktu kita masih TK?”
“Gue tidak TK Guh.” padahal Teguh juga tidak TK.
__ADS_1
“Kalau begitu waktu kita kelas 1 SD lah, guru kita pernah nanya ke kita kan ‘anak-anak, coba sekarang sebutkan cita-cita kalian!’ nah ada seorang anak yang menjawab ‘saya bu! Cita-citaku ingin jadi presiden’ ada lagi ‘aku ingin jadi professor’ itu dia Glag yang namanya cita-cita, masalah tercapai apa enggak itu urusan belakang, dan ini juga bisa di bilang impian.” Wah Teguh jadi guru SDnya Deglag nih, tapi dia diem aja tu, mungkin sedang mencerna semua kalimat yang baru saja Teguh sampaikan ke dia kali ya.
“Kalau begitu gue punya cita-cita dong Guh.”
“Apa cita-cita elu Glag?”
“Dari dulu gue kepengin punya handycam, entar kalau gue sudah di rumah gue pengin bisnis nyuting orang yang lagi hajatan, di rumah sana kan tiada hari tanpa kondangan, itu kan artinya setiap hari ada orang hajatan.” Teguh kaget, itu artinya dia ingin menjadi kameraman, sederhana sih, tapi tidak semua orang mempunyai impian seperti Deglag, terbuktikan, ternyata nalarnya Deglag luar biasa, hanya dari satu kalimat dia bisa langsung berfikir ke arah yang sama sekali Teguh tidak tau, kalau sudah begini Teguh harus bagaimana? Dia harus ambil langkah positive, apakah ada sesuatu yang berhubungan dengannya? Deglag mempunyai cita-cita untuk punya handycam, dia ingin menjadi kameraman, nah Teguh? dia mempunyai cita-cita untuk membuat film, dia ingin menjadi sutradara, di sini lah letak hubungan mereka, itu artinya mereka sama-sama memerlukan, sekarang Teguh mau membuka satu pembicaraan lagi dengan Deglag,, di sini bukan Teguh dan Deglag aja loh yang sedang ngobrol, Lasiman juga lagi ngobrol, tapi tentunya bukan dengan Teguh atau pun Deglag, di sini kan juga ada Dekong juga Rasno, si Cenot entah kemana dia, semenjak mereka masuk ke Orchid ini, dia tidak pernah bergabung dengan mereka lagi, dia di ajak oleh temennya untuk bekerja di pembagian taruh tai, jadi setiap pokok angrek yang ada di Orchid ini di taruh tai ayam supaya tumbuh subur, rombongan Teguh ada delapan orang tujuh lelaki dan satu perempuan, nah sedang kan Amang, yang tadi waktu dia rekam video dia nyanyi sambil joget-joget, dia sekarang sedang jongkok sambil memegang cangkulnya, dia terus mengeluh.
“Duh panasnya…” ya sudah biarain aja dia, yang lain juga aslinya sudah merasakan apa yang di rasakan oleh Amang, tapi karena yang lain bawa ngobrol, rasa panas itu perlahan tidak terasa, dan Akok memang belum kembali ke sini.
“Gue juga sebenarnya punya cita-cita yang berhubungan dengan cita-citamu Glag.”
“Maksud elu?”
“Elu kan mempunyai ke inginan untuk mempunyai handycam, yang bertugas memegang handycam dan mengoprasikannya adalah kameraman, nah gue mempunyai ke inginan membuat film, sedangkan yang membuat film itu namanya sutradara, nah, sutradara dan kameraman itu saling memerlukan, bagaimana kalau kita bergabung dan kita membuat film di orchid? kita buat cerita tentang pekerjaan kita?” Teguh berusaha berbicara dengan super serius, supaya Deglag terpengaruh, ternyata benar, Deglag langsung terdiam dan mencangkul lagi dengan serius, Teguh juga ikut mencangkul lagi, tidak lama kemudian Deglag berhenti mencangkul dan seperti sedang berfikir?
“Membuat film? Gue jadi kameraman? Dan elu jadi sutradara? Terus artisnya siapa?”
“Di Orchid ini kan karyawannya banyak Glag, kita casting aja satu persatu, atau kita ajak aja langsung orang yang kira-kira bisa main film dengan kita.”
“Haha… jangan mimpi lu Guh! Mimpi kok siang bolong?!” mimpi kok siang bolong? Dari mana dia dapat kalimat ini? “Mana mungkin mereka mau main film dengan kita, sekarang begini Guh, mereka ke sini tujuannya cuman satu, yaitu bekerja dan mencari duit sebanyak-banyaknya, sedangkan membuat film dengan mereka itu akan menghambat tujuan meraka ke sini.” Bener juga pemikiran Deglag dia harus menyangkalnya.
“Kita membuat film itu jangan bersamaan dengan pekerjaan mereka Glag, mereka syutting nanti kalau kita sudah pulang dari bekerja, atau setiap hari minggu, kan biasanya pulang cepat tuh, jam empat sudah pulang, kita manfaat kan waktu itu untuk menghibur diri, atau mereka syuttingnya ketika malam tiba, bagaimana?” Deglag diam lagi.
__ADS_1
“Sudah waktunya nih! Yuk kita pulang!” rupanya sudah jam dua belas, kang Lasiman yang paling tua di antara mereka mengomandoi mereka tuk pulang, mereka harus pulang, lumayan satu jam untuk istirahat, tapi obrolan mereka belum habis, mereka lanjut nanti aja. Sepertinya obrolan Teguh sama Deglag semakin serius aja, ‘ternyata enak ngobrol sama dia, bisa nyambung, sekali lagi aku bilang, nalarnya lumayan bagus, sayang dia sekolah cuman sampai SD saja, kalau dia masuk dunia SMP dan SMA aku yakin IQnya bakalan terasah, sebenarnya dia cardas tau’.
***