
Selang beberapa bulan kemudian Kasmini memutuskan untuk kembali pergi ke negri jiran, mungkin karena pendapatan yang tidak sesuai dengan pengeluaran, tidak di sangkanya perjalanan menuju Malaysia akan terhambat, dia tertangkap oleh polisi Malaysia dan di buang ke Indonesia, akhirnya dia nyangkut di sebuah pulau di Riau, dia pun bekerja di sana, karena walau bagaimanapun dia harus mencari nafkah untuk Ibunya juga anak satu-satunya, perjuangan yang sangat luar biasa, di sana lah kemudian untuk melindungi dirinya, dia menemukan seorang lelaki jejaka yang mau menikahinya, si lelaki itu bernama Slamet Riyadi, entah apa yang tersirat di wajah Mama kandung Teguh itu, di mana pun tempatnya selalu saja menjadi primadona, mereka pun menikah dan bersama-sama bekerja di Pulau Sambu yang bertempat di propinsi Riau.
Sedangkan Teguh baru masuk sekolah dasar pada umurnya yang ke tujuh. Saat ini kedua orang tua Kasmini, Mad Gasmin dan Lasinah sudah bersatu lagi, dan penyebab mereka bersatu adalah hasil bujukan dari Kasmini sebelum dia pergi untuk yang ke dua kalinya ke Malaysia yang kemudian dia bekerja di Riau.
Juny 1993
Mad Gasmin lah yang mendaftarkan Teguh sekolah di sekolah dasar tepatnya di SDN Jetis 04, saat inilah di mulainya Teguh di didik oleh kakek dan juga neneknya yang bersatu kembali setelah sekian lama mereka berpisah, kakeknya lebih banyak mendidik Teguh tentang budi pekerti, etika dalam kehidupan bermasyarakat, tentang kejujuran dan harga diri, Mad Gasmin pun sering menceritakan pengalaman hidupnya pada sang cucu, tentang kegagalannya menjaga kepercayaan orang lain terhadapnya. dia mengajarkan pada sang cucu segalanya, dia juga berpesan pada sang cucu untuk mencari tongkat, dalam artian manusia harus memiliki Prinsip, karena bila manusia mempunyai prinsip dan menjaganya, maka kelak prinsip itu yang akan menyelamatkan manusia itu sendiri. Namun sayangnya Teguh masih terlalu dini untuk menyerap nasehat dari sang kakek. Teguh tumbuh begitu berbeda dengan teman sebayanya, kecerdasannya pun jauh lebih baik dari kebanyakan temannya, namun sayang tubuhnya juga berbeda, dia terlihat jauh lebih lemah dari teman sebayanya, benar yang di katakan Paerah tujuh tahun lalu, anak dari Kasmini ini tumbuh klemar-klemer. Kasmini pun menyadarinya, namun bila ingat bagaimana perjuangannya saat dia mengandung Teguh, dia teringat juga dengan kata-kata dari Uwa’nya, bahwa kelak anaknya akan menjadi kebanggaannya.
***
Seklompok anak kecil, mereka semua memakai seragam merah putih, usianya sekitar delapan tahun, lima anak kecil itu sedang berada di atas sebuah kapal kempompong di sebuah pelabuhan, mereka melompat-lompat dari atas kapal satu ke kapal yang lain, yang terbuat dari kayu itu, sampai di kapal yang terjauh sebuah kapal yang siap pergi dari pelabuhan dan sudah di padati dengan penumpang, seklompok anak kecil itu nekat melompat ke atas atap kapal yang sudah berjalan itu, tinggal satu anak yang belum melompat.
“Ayo Guh! Lompat saja!” anak yang terakhir itu tidak mengikuti ajakan teman-temannya, dia hanya melihat teman-temannya pergi naik kapal.
__ADS_1
“Pengecut kamu Guh!...” seorang teman yang lain berteriak dari atas atap kapal, anak kecil yang tertinggal itu tidak memperdulikan teman-temannya lagi, dia kembali melompat-lompat dari atas atap kapal satu ke atas atap kapal yang lain, sampai di pelabuhan kapalnya jauh, dia pun mempunyai inisiatif untuk menarik tali tambang yang terikat di pelabuhan, kapal pun mendekat ke pelabuhan, tapi ternyata air laut sekarang sedang kuat, si anak kecil itu melepaskan tali dan siap melompat ke pelabuhan, dia pun tanpa ragu langsung melompat, tapi begitu dia melompat, kapal yang dia naiki itu mundur lagi karena tertabrak air laut yang kuat, dia pun terbang di udara, dan begitu mendarat dia masuk ke dalam air laut yang kuat.
“Byur…” dia pun berusaha untuk berenang, tapi sepertinya dia tak bisa berenang, dia terus berusaha, tapi tetap saja dia tak bisa terapung. Seseorang berlari dari jauh, dia terus menuju di mana seorang anak kecil masuk air laut, sedangkan si anak kecil itu masih berjuang mengapungkan dirinya, tangannya terus berusaha menggapai apa saja yang bisa menyelamatkannya, tapi sepertinya usahanya sia-sia karena dia masih saja tenggelam. Sesampainya si pemuda setengah baya di pelabuhan, yang tadi berlari dari jauh karena melihat seorang anak kecil terjatuh ke air, dia langsung memasukkan tangannya ke dalam air tak lama kemudian dia mengangkat lagi tangannya, dan kepala seorang anak kecil ada di tangannya, dia menjambak rambut si anak kecil dengan kuat dan mengangkatnya ke atas pelabuhan.
“Sudah gila kamu ya?!” maki si pemuda penyelamat anak kecil pada anak kecil yang baru di selamatkannya, si anak kecil itu pun hanya terdiam, pemuda itu melepaskan rambutnya dan anak kecil itu pun kemudian duduk lemas di atas pelabuhan. dia lepas kan tas sekolah yang ada tulisan namanya “TEGUH” semua memakai huruf besar, berwarna merah, si pemuda lalu pergi dengan sedikit menahan emosi, dia mungkin akan lebih emosi jika si anak kecil tidak dapat dia selamatkan, tidak banyak yang perduli dengan si anak kecil, dia pun kemudian melepas baju putihnya, dengan reflex dia memeras bajunya yang basah, seorang anak perempuan kecil, mendekat kapadanya.
“Kamu kenapa Teguh?”
“Aku…” dia sedikit gemetar menjawab pertanyaan dari anak perempuan yang sebaya dengannya, dia tak berbeda sama sekali dengan anak di bawah normal, mungkin itu efek dari rasa takut yang mendalam dari dirinya, “Idiot” mungkin pantas di katakan pada dirinya dengan ekspresi wajahnya saat ini, pandangan kosong, wajah pucat pasi seperti tak ada charisma sama sekali dari dirinya “Aku jatuh dari kapal itu Irma! Aku takut!” seorang lelaki tergesa-gesa menemuai anak-anak kecil di pelabuhan.
“Kamu kenapa Teguh? Irma, Teguh kenapa Irma?”
“Bener itu Teguh?” Teguh mengangguk saja, karena dia sudah tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata. “pasti kamu ikut-ikut temen kamu itu kan? Sebentar lagi kan kepompong sekolah datang, kenapa sih kamu ngga bisa sabar sebentar saja Guh! Apa kata mama kamu nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu! Kamu di titipkan sama saya Guh! Mama kamu sedang kerja tau ngga sih kamu!”
“Aku minta maaf paman! Aku mengaku salah!” Teguh menunduk, tapi dia tidak menangis, Irma masih di sampingnya, Irma membantu Teguh berdiri begitu Kepompong sekolah sampai, mereka semua masuk ke dalam kepompong sekolah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Teguh.
“Sakit ma!” itu lah pertama kali Teguh mendapat tamparan dari mamanya, dia pun menangis tersedu.
“Mau di ulangi lagi tidak!”
“Tidak ma! Ampun! Sakit ma!” Teguh semakin menangis, Kasmini pun langsung memeluk anak satu-satunya itu dengan erat.
“Mama lebih akan merasa sakit kalau sampai ke hilangan kamu nak! Mama sayang banget sama Teguh! Kamu jangan nakal lagi ya!” Kasmini menangis sambil menggendong Teguh ke dalam rumahnya yang terbuat dari kayu dan di panggung. Slamet Riyadi suami Kasmini masih tidur di kamarnya, Kasmini memandikan anaknya dan kemudian menyuruhnya makan.
Kasmini menjemput Teguh setahun kemudian setelah dia merasa ada rejeki di Pulau Sambu, saat itu Teguh baru setengah tahun masuk sekolah SD, Kamisah juga ikut bersamanya, Kasmini merasa mempunyai hutang budi pada adik bungsunya itu makanya dia ingin membantu adiknya, selain itu Kamisah juga ternyata sedang patah hati ketika Kasmini mengajaknya ke pulau sambu, jadi dia langsung menerima ajakan kakak pertamanya itu, Kamisah baru di putuskan sang kekasih, pacar pertamanya yang bernama Tugimin.
Dan sekarang Kamisah sudah menikah dengan Wagiyo lelaki asal Jambi yang orang tuanya asli orang Kroya, sebenarnya Kasmini sudah melarang atau tidak merestui pernikahan mereka, namun karena keduanya sudah saling mencintai, mamanya Teguh itu pun tidak bisa berbuat banyak, dan Teguh setelah tragedi terjatuh ke dalam laut sekarang dia sakit, badanya panas belum juga turun.
“Ma! Teguh mau pulang!” Teguh selalu merengek pada mamanya ingin pulang.
__ADS_1
“Iya besok kita pulang Guh! Mama sudah pesan tiket buat kita pulang, makanya Teguh lekas sembuh ya! Nanti kalau Teguh sembuh, kita pulang.” Kasmini pun akhirnya menuruti kemauan anak tersayangnya, Kamisah tidak mau pulang, Kasmini pun pulang tanpa membawa adik bungsunya.
***