Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 5 Memilih


__ADS_3

Pernikahan Kasmini dengan Ayob sangat berpengaruh pada pribadi Teguh. Dia juga sudah lama bisa menyisihkan nama Tri Nur Hayati, cinta monyetnya yang juga cinta pertamanya, dan yang menggantikannya adalah Susilowati Nur Azizah, namun karena sesuatu hal akhirnya dia pun berhasil kembali menghapus nama itu di hatinya. Otak Teguh terbukti juga bahwa dia memang bukan Idiot yang harus di perhatikan karena begitu menyedihkan, tapi dia adalah Idiot yang harus di perhatikan karena dia begitu istimewa, di kenaikan kelas kemarin dia pun mendapatkan rangking di kelasnya. Sungguh perubahan yang sangat luar biasa sekali, selain itu dia juga akhirnya bisa masuk di kelas jurusan IPA saat dia masuk kelas dua SMA


Teguh kelas dua SMA, Teguh adalah seorang anggota pramuka, dan dia juga seorang anggota theater. Dia sudah menetapkan untuk mendalami dunia seni, walaupun mamanya pernah memintanya untuk menjadi seorang dokter, dia merasa tidak mampu bila harus menjadi seorang dokter, ya akhirnya dia tetap memilih jalan hidupnya sendiri. Teguh mendapat tugas dari kak Iyas seorang guru theaternya untuk berkolaborasi dengan anggota sastra untuk sebuah puisi. Di sastra itu ada lima anggota cewek, mereka adalah Ises kls dua, Phini kls dua, Yuni kls dua, Aisyah kls dua juga, Ayunda kls dua, dan Azka dia kls satu sendiri, cowoknya cuman satu, Firman aja, dari kesemuanya yang Teguh kenal cuman satu, yaitu Firman. Ceweknya juga satu, Yuni, cewek berdarah Bali yang tomboy, yang lain baru bermuajahah, atau bertatap muka. Dalam waktu seminggu, yaitu masa berlatih, Teguh dapat merampas tiga perhatian cewek sastra, Azka, Ises, dan Phini, gila kan tu anak? Latihan selesai penampilan pun sudah berlalu, mereka kembali ke alamnya masing-masing, yang kelas satu, kembali ke kelas satu, yang kelas dua juga begitu, mereka kembali menjadi pelajar yang setiap saat harus berhadapan dengan seorang guru dan setumpuk buku, tapi di luar alamnya mereka sudah akrab dengan Teguh, Teguh mulai tertarik pada pesona wajah Azka yang sedikit manja, Teguh pun mulai mengorek data diri sang pujangga, Azka Daulia belum sempurna informasinya, Phini selalu memberi signal karena dia selalu mencari perhatiannya, Teguh tak sia-siakan kesempatan, tak lama kemudian Ises mulai curhat kepadanya tentang cowoknya yang selama ini selalu cuek sama dia, Teguh pun membuka lebar dadanya untuk Ises bersandar. Tiga cewek, dalam satu masa? sudah gitu Teguh jadi TTM tiga cewek, hatinya mulai bimbang, Teguh mulai memerlukan teman untuk bersandar, dialah Tri Arsyilah Hanif yang mampu memberi komentar, “Gila lu ya Guh? Tiga cewek sekaligus?”


“Ngga tau ni Ar, tapi Ar, mereka mempunyai kelebihan masing-masing.”


“Inget Guh, ini kan pertama lu mau cari cewek, jangan sampai lu nyesel kemudian, karena penyesalan di belakang itu ngga berguna.” Sepertinya Arsyi mencoba mengingatkan Teguh dengan kata-kata mutiara yang dia contek dari buku, entah apa judul buku itu.


“Iya Arsyi, gue ngerti kok”


“Lebih baik lu tunggu sebulan atau dua bulan dulu Guh! Biar keliatan aslinya mereka, karena pandangan pertama itu tidak selalu bener, bisa menjerumuskan kita.”


Teguh mulai bingung, tapi, ada yang lebih dahsyat lagi, Teguh kan emang suka main bola sepak, nah pada suatu hari Teguh ngeliat di lapangan bola ada seorang pemain bola, tapi dia bukan Ronaldowati, dia ngga botak, sudah tentu itu cewek lagi main bola, waktu sedang istirahat di sapanyalah sang cewek.


“Hai… ngga capek apa main bola?” cewek itu cuek bebek, tapi kemudian dia tersenyum, ser…perasaan Teguh berdesir. “Boleh tau nama kamu ngga?” gila Teguh to the point abiz, tapi ceweknya terus gimana ya? Ya cewek itu langsung kabur, tapi cewek itu masih tersenyum, membuat Teguh juga ikut tersenyum lebar. Teguh pantang menyerah, di dekatilah pemain bola wanita yang lain.


“Eh dek, itu cewek yang pake kaos kuning nomer sembilan siapa namanya ya?”


“O…dia Lejarti kak, kelas Ic.”


“O…Lejarti ya, makasih ya dek!” hebat si Teguh, sekarang Teguh sedang memasang strategi.


Lapangan sudah sepi si Lejarti hendak pulang ke asrama Nisa’(perempuan),  nah sekaranglah saatnya Teguh beraksi.


“Boleh gue duduk di sini?”


“Duduk aja!” Teguh pasti seneng banget lah, tapi begitu Teguh duduk, e…Lejarti malah bangun.


“Lho kok kamu bangun?”


“Ya iyalah gue kan mau pulang.”


“Ooo…? Boleh gue anterin?”


“Aku bisa kok pulang sendiri, asramnya kan deket dari sini.”


“Ayolah mba Lee!” Teguh mencoba merayu Lejarti.


“Apa? Mba Lee? Emang kamu tau namaku?”


“Ya iya lah Lejarti, baguskan nama kamu yang baru? Mba Lee.” Sejenak Lejarti terdiam tapi kemudian…


“Baiklah, kamu menang kali ini, yuk pulang!” gila tak bisa di percaya, Teguh bisa ngerayu Lejarti, berarti sekarang Empat dong?


Masih ada satu lagi, Teguh kan juga anggota pramuka, Teguh sedang bertugas mengikat tongkat-tongkat tuk di jadikan gapura, nah ketika mengikat tongkat itu, dia sedang sendiri, tiba-tiba…


“Aku boleh ikut mengikat ngga?” Teguh terkejut, ‘siapa cewek ini?’ Pikirnya, tapi namanya juga Teguh Prayitno.


“Oh…boleh! Bisa ngga?”


“Mangkanya ajarin dong Guh!”


“Lho kok kamu tau namaku?”


“Siapa yang ngga kenal Teguh gitu.” tanpa sepengetahuan cewek itu, Teguh memperhatikan Wajah cewek itu, cantik, imut, manja.


“Emang kamu tau dari mana namaku Teguh?”


“Kamu kan sering manggung di pentas, ya…aku tau lah nama kamu.”


“Jadi waktu aku di atas panggung, aku sebutin ‘oi namaku Teguh Prayitno’ gitu ya?”


“Ya enggak lah Teguh.”


“Terus?” Teguh terus memancing cewek itu berbicara, sedang dia malah asyik terus memandangi Wajahnya yang begitu manis manja, mau di taruh di mana aja ni cewek pasti bakal banyak semut yang mendekatinya, kan dia manis.


“Ya, aku tanya sama temen, ‘siapa tu yang lagi ada di panggung?’ gitu.”


“Wah ternyata selama ini aku sudah di perhatikan sama cewek secantik kamu toh?”


“Idih, GR deh.”


“Terus cara aku tau nama kamu gimana?”


“Ya…tanya aja sama temen kamu, siapa sih yang ngga kenal aku, Intan Sari Indah Sundari Tamrin cute gitu loh.”


“Wah susah juga ya? Namanya ngga beda sama kreta api sawunggalih utama, panjang!”


“Udah ya! Aku mau kabur, jangan bilang pelatih ya, aku BT’ di sini.”


Intan Sari Indah Sundari Tamrin, gila ngga tu anak, lima cewek! Tapi status mereka belum ada yang jelas. Lagi-lagi Teguh lari ke Arsyi, tapi Arsyi kali ini hanya bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Ampun Guh! gue ngga ikut Campur ye.”


“Mereka bikin gue bingung, pusing gue Ar, gue butuh solusi Arsyi!”


“Lebih baik lu segera ke Psikiater deh Guh! Kalau ngga, gue anterin lu ke rumah sakit jiwa ya!”


Emang bener kali ya si Arsyi tu, Teguh emang sudah gila kali ya? naksir cewek kok sampe lima orang? Apa ini bisa di bilang Playboy? tapi Teguh sendiri tak mau di bilang Playboy, katanya Playboy tu jahat, dia hanya mempermainkan perasaan cewek, kalau dia tidak, dia akan mencari sebanyak-banyaknya cewek, tapi yang akan berhak mendapat cinta sejatinya hanya satu. Siapa dia? ya dia yang sekarang sedang di cari Teguh. Apa bedanya sama Playboy dong? Kalau Playboy mengumbar pesona, memikat cewek yang dia suka dengan segala cara, lalu dia macarin cewek itu, dia bilang dia mencintai cewek itu, tapi nyatanya setelah segalanya di dapatkannya sang cewek di tinggalin begitu saja. Kalau Teguh sebaliknya, dia akan mencoba melindungi, membuat sang cewek yang dia suka tetap tersenyum, dan mencoba mencari sisi baik sang cewek, kalau tidak ada baiknya ya dia tinggalin, atau emang sang cewek tak suka sama dia lebih baik dia yang mundur. Perfack! Teguh emang pantas di bilang Si Idiot. dia sungguh berbeda dengan kebanyakan orang di bumi ini.


Tidak di sangka Teguh mendapatkan seorang teman cewek lagi, Sewaktu Teguh lagi santai di teras rumah di rumah bapaknya sewaktu dia baru kembali dari kampungnya, karena semenjak Mamanya jadi orang Malaysia dia membagi liburannya sebagian dia habiskan di rumah bapaknya, sambil membaca scenario sekedar untuk berlatih, lewatlah sesosok cewek di depan pagar rumahnya, Adik tiri Teguh memanggilnya.


“Teh Yani! Mampir teh!” ‘Siapa tu cewek?’ Teguh bertanya dalam hati, Yani pun mampir, tapi Teguh masih terus sibuk dengan scenarionya.


“Gi latian ya Guh?” Teguh langsung ninggalin scenarionya dan merespon Yani.


“Lu kenal nama gue?”


“Siapa sih yang ngga kenal nama kamu? Teguh Prayitno.”


“Ah elu bisa aja.” Dari sini lah Teguh dan Yani mulai saling mengenal, Teguh nganggep Yani adalah sahabat, karena Teguh sekarang sedang memikirkan lima cewek yang berbeda. Teguh cuek sama Yani, tapi Yani terus berusaha mendekati Teguh.


Sepertinya perlu pembahasan satu per satu lima cewek yang sedang mengacak-acak isi hati Teguh, mulailah pembahasan ini dari:


Pertama Azka Daulia. Teguh naksir berat sama dia, tapi setelah dia tau siapa Bapaknya, Teguh langsung mengibarkan bendera putih, tandanya Teguh menyerah, karena ternyata Azka adalah putri dari eksponen (istilah pengurus Sekolahan yang Teguh tinggal sekarang Al-Zaytun). dan masih ada empat lagi.


Kedua Phini widayanti. Yang ini, sedikit menakutkan, hampir terjadi pertumpahan darah. Waktu itu anak Theater mau kolaborasi lagi sama anak sastra. Teguh sudah akrab abiz, Teguh dan Phini. Phini pake topi, nah karena Teguh tu anaknya sok usil, di ambilnya lah topi yang sedang di pake Phini secara gerilya, alias tidak di ketahui oleh sang pemakai, Phini terkejut dan langsung mengejarnya,


“Teguh! Balikin topi gue!” Teguh terus berlari sambil ngledek.


“Ayo ambil kalo bisa!” Phini masih mengejarnya.


“Teguh balikin topi gue!” Phini sepertinya mulai emosi, tapi Teguh cuek aja, karena Teguh mengira Phini cuman becanda, ternyata Phini emang marah beneran. Sekarang giliran Teguh yang berusaha mendekati Phini.


“Pini pidi pici, kami datang, kami berjuang, kami menang.” Ternyata usaha Teguh di mentahin sama Phini, usaha Teguh tak guna.


“…” kasian deh Teguh, yah…Teguhnya jadi serba salah, dia kasih aja topi yang sudah dia rebut secara gerilya itu pada Phini. Tapi Phini masih seperti itu, dan yang lebih kejamnya, sampai tiga hari Phini sama sekali tidak mau tersenyum padanya. dia sudah tak tau lagi bagaimana caranya untuk dapat perhatian lagi dari Phini.


Ternyata lebih kejam dari apa yang Teguh bayangkan, dua puluh hari usahanya di mentahkan oleh Phini, layaknya seorang striker sepak bola yang menendang bola ke arah gawang, bola menuju tepat pada sasaran untuk terjadinya gool, tapi lagi-lagi di mentahkan oleh sang kipper, dan hanya menghasilkan tendangan penjuru. Weleh dah klop abiz ya?


Akhirnya dia punya ide, bagaimana kalau dia kirimkan makanan kesukaannya pada hari ulang tahun Teguh yang ke sembilan belas lengkap dengan permohonan maaf, kalau di sepak bola mungkin sama dengan diving agar mendapat penalty, tapi ternyata apa? besok malamnya, dua orang kakak kelas menghampiri kamar di asramanya, Teguh baru balik dari pelajaran malam kurikulum di Al-Zaytun yaitu muhadhoroh, sebuah pelajaran berpidato dan berdiskusi, malam ini adalah malam jum’at, di depan kamarnya sendiri Teguh di introgasi, dua orang kakak kelasnya itu ternyata idolanya di Al-Zaytun, keduanya adalah striker dalam club sepak bola student united, Yakub dan Muji.


“Sorry, apa elu yang namanya Teguh?”


“Boleh kita bicara sebentar?” Teguh sedikit curiga dengan nada suaranya, datar, seperti menahan emosi.


“Ya…tentu, dimana? Jangan jauh-jauh, di sini aja!” Muji membawa Teguh ke tangga asrama dengan paksa. “Lho apa maksudnya nih?” sekarang Teguh sedang berhadapan dengan dua orang kakak kelasnya, yang keduanya adalah idolanya, tapi apa maksud mereka memperlakukan Teguh dengan kasar?


“Lu kenal Phini?” Teguh terkejut mendengar Muji menyebut nama cewek yang sampai sekarang masih marah sama dia.


“Phini? Ya, gue kenal dia, kenapa?”


“Dia ngucapin met ulang tahun buat elu, dan makasih makanannya.” Muji masih keliatan menahan emosi. Tapi sepertinya emosi itu sudah tak bisa di tahan lagi, di pegangnya leher Teguh dengan kasar, “Lu apain Phini selama ini?”


“Apa maksud elu kak?” Teguh menahan tangan Muji sekuat dia bisa, agar dia bisa bicara, sambil dia ikut emosi.


“Ngapain lu rampas topi yang sedang di pake Phini?” sekarang dia sudah tau titik permasalahannya.


“Lepasin kak!” Teguh mencoba merayu Muji dengan halus, tapi itu tak mempan, “Aku bilang lepasin!!!” kali ini dia memerintah Muji dengan cara kasar, di dorongnya tubuh Muji yang ngga jauh beda dengan postur tubuhnya. “Aku ngga pernah ngerasa ngerampas topi dari Phini.” Teguh masih emosi, tapi dia masih bisa mengontrol diri. “Dari mana lu tau ini? Emang lu siapanya?”


“Gue nganggep dia seperti adek gue.”


“O…ceritanya dia ngadu lah sama kakaknya.”


“Nah lu siapanya?”


“Lho kok nanya gue? Lu tanya lah sama adek lu itu, tapi yang jelas gue baru kenal dia, dan sekarang gue sudah kenal banget sama dia, bukan dia saja, tapi kakaknya juga.”


“Dia ngga suka cara elu ngerampas topinya…”


“Sekali lagi gue bilang sama elu kak, gue ngga ngerampas topinya!” Teguh memotong kalimat Muji dengan cepat sambil dia menudingkan jarinya ke wajah Muji.


“Terus apa dong ngambil topi yang sedang di pake secara diam-diam?”


“Ya gue cuman bercanda, layaknya seorang temen.”


“Elu suka sama Phini?” Teguh terkejut lagi dengan pertanyaan ini, dia perlu berfikir dulu sebelum menjawab.


“Suka? gue baru kenal sama dia kak, semestinya gue harus tau dulu dong siapa dia.”


“Terus kenapa lu deketin dia?”


“Eh kak, kalo elu sendiri, ngga ada masalah tiba-tiba ada orang marah sama elu, sedangkan yang marah itu temen baru yang baru beberapa hari elu kenal, apa yang akan elu perbuat? Pasti elu lakukan apa yang sudah gue lakukan kan? Oke, kalau emang gue salah, gue minta maaf.” Muji langsung diam, sedangkan Yakub masih tetep diam di samping Muji, persis seperti kambing congek, “Puas lu?! Sorry gue masih ada kerjaan yang jauh lebih penting dari pada ngelayanin kalian di sini.” Teguh pergi ninggalin idolanya dengan menabrakan dua bahunya di antara dua orang itu. Mungkin kalo di ibarat kan lagi dalam sepak bola, si striker yang tadi diving kena batunya, dia di keluarin dari lapangan, dan dia di kartu merah. Dua orang sudah tersaring, sekarang siapa lagi? Melangkah ke cewek berikutnya, Kalau yang ini sangat sederhana.

__ADS_1


Ketiga Ises Trisnawati. Teguh naksir pada kedewasaannya, Ises percaya banget sama dia, kepercayaanya hanya untuk urusan curhat tapi Teguh malah mengartikannya dengan lain pengertian. Setelah Teguh memberi saran pada Ises, memberi pendapat yang brilliant, dan Ises menjalankannya, ya walaupun dengan cowoknya bisa putus, tapi ternyata, Ises langsung mendapat penggantinya, ya jelas bukan Teguh lah. Hanya saja Teguh merasa kecewa, tapi di dalam hati Teguh tak ada rasa menyesal, toh apa yang sudah Teguh berikan pada Ises berbentuk pendapat benar adanya, bahwa setiap lelaki hanya membutuhkan kejujuran dari hati seorang wanita yang di cintainya, sepertinya sama Ises tak ada cerita, Ceritanya hanya Ises jadi temen baik Teguh.


Tinggal dua, sekarang lah grand final yang sangat menegangkan.


Keempat Lejarti Senyum dan usilnya lah yang sudah ngerebut perhatian Teguh, waktu itu kan akhirnya Teguh dapat kesempatan jalan bareng sama mba Lee untuk pertama kali, sebenernya dia sudah rada curiga dengan logat mba Lee, senyumnya selalu ngebuat jantungnya berdebar kencang.


“Sudah lama mba Lee ikut bola?”


“Jangan panggil aku mba dong Guh!”


“Ya sudah, sudah lama Lee ikut bola?”


“Kalau panggil aku Lejarti susah ya Guh?”


“Ngga sih, pengen aja kasih nama kamu.” Repot amat sih banyak protesnya. Lagian juga sih, orang punya nama kok di kasih nama lagi, kalo bapak ibunya tau bisa di labrak lho.


“Aku sudah agak lama juga sih ikut bola. Kalau kamu, siapa nama kamu?”


“Teguh! Kalau panjangnya Teguh Prayitno.”


“Beneran namanya tuh? Bagus juga sih!”


“Ya beneran lah, ini nama dari mamaku lho, bagus kan?”


“Perasaan aku pernah lihat kamu deh, tapi di mana ya? Kalau ngga salah kamu kan yang pensi kemaren bermain drama berperan jadi cowok yang terpaksa memilih cewek yang sebenarnya ngga kamu cinta, setelah itu cewek yang kamu cintai menyesal. Kalau ngga salah juga yang judulnya ‘Aku Bukan Untukmu’ lagunya Rossa kan?”


“Wah…ternyata kamu hebat ya mba, eh maksud aku Lejarti, ternyata kamu selama ini perhatian ya sama aku.”


“Aku kan ngefans banget sama kamu.”


“Ah yang bener?” Teguh jadi salting deh, “ Kalau emang benar, sekarang juga kamu minta sesuatu sama aku, apa aja, aku pasti bakal mengabulkan permintaanmu.”


“Bener nih Guh?”


“Kok Guh sih? Emang kamu kelas berapa?”


“Kelas satu, iya deh kak Teguh, kalau begitu aku mau coklat silverquin .”


“Itu saja? Ngga ada yang lain? Kalau gitu hari rabu minggu ini kita ketemu, bagaimana?” Lejarti masih mikir.


“Oke deh kak. Makasih ya!” Lejarti merasa senang, tapi sepertinya ada sesuatu yang di rahasiakan dari Teguh.


Hari Rabu, Bukan sekedar hari Rabu saja, tapi sekarang adalah hari Ulang Tahun Teguh yang ke 19.


“Mana coklatnya?”


“Ada, tenang aja, tapi ada syaratnya.” Lejarti kaget, tapi tidak sampe jantungan kok, cuman matanya sedikit jadi melotot, “Kamu mau kan?” Lejarti sudah mulai menduga-duga.


“Nih coklat pesenanmu, sekarang syaratnya, kamu harus…” sekarang Lejarti sedang tegang ‘jangan-jangan aku di tembak nih?’ pikirnya, kemudian Teguh melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti.


“…kamu harus ucapin selamat ulang tahun padaku, karena hari ini aku ulang tahun!” Teguh mengulurkan tiga bungkus coklat, dan Lejarti menerimanya, sekarang Teguh masih menunggu ucapan met ultah dari Lejarti, lama Teguh nunggu, tapi Lejarti masih diam.


“Kalau kamu ngga mau ngomong sekarang juga ngga apa-apa kok, besok jum’at malam kan ada pertandingan bola kamu datang ntar ya!, dan kamu ucapin met ultah buat aku, gemana?”


“Iya deh besok aku datang aja ke stadion, tapi aku ngga janji ya!” ini juga bisa di bilang emang Teguh itu Idiot, bagaimana tidak, dia ulang tahun hari ini tapi orang lain boleh ngucapinnya dua hari lagi. Aneh bin ajaib.


“Ya sudah sampai jumpa jum’at malam ya, aku tunggu lho.” Sekarang Teguh ninggalin Lejarti, terlihat jelas di raut wajah Lejarti, dia seperti baru keluar dari sarang harimau. Teguh emang berharap banget sama Lejarti secara yang lain sudah gagal dia dapat.


Sekarang sudah malam jum’at nih, sekian banyak penonton yang datang tak satupun yang wajahnya seperti Lejarti, tapi Teguh masih tetep nunggu kedatangannya.


“Teguh Prayitno, lu sedang apa? Yuk naik ke tribun, dah mau mulai tuh bolanya!”


“Iya bentar lagi Ar!” Teguh masih mondar-mandir di di bawah dom tribun. “Kok Lejarti belum datang juga ya Ar?”


“Lupa kali Guh, pasti dia datanglah, Kan dia dah janji.”


“Dia bilang ngga janji Ar.”


“Kalau begitu kenapa Lu masih nunggu dia? sudah yuk naik ah!”


“Bentar lagi deh Ar!” ternyata yang datang dua teman Lejarti.


“Kak Teguh nunggu Lejarti ya? Kata Lejarti met ultah, sorry dia ngga bisa datang, dia demam, sorry banget katanya.”


“Ya makasih ya!”


“Tu kan apa gue bilang?”


“Lu ngga bilang apa-apa kok?” Teguh akhirnya naik ke tribun, sedangkan Arsyi ngikutin dia di belakangnya sambil terus tertawa. Sebenarnya Teguh sudah menduga, Teguh bahkan sudah yakin sekali kalau Lejarti berbohong. Tapi Teguh bukanlah tipe cowok yang mudah menyesal.


***

__ADS_1


__ADS_2