Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 15 Perihnya Setia


__ADS_3

September 2009


Teguh habis kerja berat, dia hadang Akok di pertigaan jalan di samping kongsi baru ketika istirahat jam tiga sore, ini cerita ketika dia minta izin mau pulang kampung.


“Bos!” tangannya melambai ke arah Akok naik motor, tanpa ragu dia langsung berbicara “ini bos! Saya mau minta izin pulang kampung.”


“Baru berapa hari kamu di sini…”


“Ini bos! Mama yang ajak saya balik, di rumah sedang ada masalah!” memang benar Kamisah adiknya Kasmini kembali terbentur masalah, kali ini masalahnya adalah dengan suaminya, Wagio tertangkap warga sedang berselingkuh dengan perempuan lain, dan sekarang Kamisah sedang menuntut cerai pada Wagio, sebenarnya Teguh sudah angkat tangan dan tidak mau lagi berurusan sama Kamisah, tapi Mamanyalah yang sudah seperti malaikat, dia seperti tak pernah tau masa lalu, sudah berapa kali Kamisah dan Kasmini bertengkar, namun bila satu di antaranya membutuhkan pasti mereka lupa akan perbedaan, itulah sisi lain dari Kasmini.


“Balik terus?”


“Kesini lagi lah bos!” Akok sedikit berfikir, mungkin dia sedang mempertimbangkan keputusannya kali, tapi kemudian.


“Jangan lama-lama ya!” satu kalimat itu sungguh membuat dia senang, dan satu kalimat itu juga sudah meredakan ketegangan di dadanya, akhirnya dia bisa lihat Indonesia lagi, apa yang akan dia lakukan nanti begitu dia sampai di tanah airnya?


Pertama dia mau mencoba mengirimkan buku yang selama ini sudah dia tulis, yaitu “Pengembara Cinta” Bener banget, Pengembara Cinta sudah dia tulis di dalam laptop, karena dia sudah punya laptop semenjak bulan tiga tahun ini, tinggal mengeprin dan mengirimkannya ke sebuah penerbit, dia tak tau apa kah buku ini akan di terbitkan oleh penerbit atau akan di kembalikan ke alamatnya, yang terpenting dia kirim dulu buku ini.


Ke dua, dia mau mencoba menepati janjinya pada Mimi, karena dulu dia pernah bilang ke Mimi kalau tahun depan dia akan datang padanya sekali lagi, walaupun tujuannya ke dia tidak lagi seperti dulu, Teguh sekedar ingin Mimi tau kalau dia tidak ingkar janji.


Ke tiga, dia mau menemui Fitri, seorang gadis kampung yang selama ini menjadi gadis istimewa buat dia, dia sudah memutuskan untuk setia pada satu wanita, dia memang kepikiran Fitri terus, walau pun dia sadar kalau dia masih kecil, dia masih bau kencur, Fitri aja sekarang baru kelas dua SMP, tapi rindunya selama ini hanya kepadanya, bulan enam kemarin Teguh kirim dia sebuah hape, tak ada rencana sebenarnya untuk kasih dia hape, tapi karena dia sering merasa kecewa, setiap kali dia hubungi nomer hape yang dia kasih ke Teguh dulu, selalu saja kalau bukan ayahnya, pasti abangnya yang angkat, terkadang anaknya tidak bareng sama yang pegang hape, yang terakhir malah hape itu di bawa sama omnya yang namanya Iwan yang juga sahabat Teguh dari kecil ke Jakarta, kan dia kecewa banget, ya sudah diam-diam dia beli hape, tidak mahal sih, hanya saja bisa lah untuk telpon, Kasmini tidak tau ini, dia titipkan pada Amang, temennya yang paling tinggi di orchid, awalnya temen-temannya bilang katanya dia rumahnya jauh dari kampungnya, takut kalau tidak sampai, tapi dia percaya sama Amang, karena dia emang deket sama Amang, dia orang yang jujur, dan memang dia orang yang amanah.


“Kak!” Teguh tidak salam, karena Aping emang bukan muslim, dia ada dirumah, anaknya juga Tina namanya, dia yang dulu ikut jemput rombongan Teguh di pelabuhan kukup, sudah gede sekarang.


“Iya Guh!”


“Mau ambil passport, besok pagi saya balik indon kak!”


“O… kamu balik besok ya? Kok tak cakap dulu sih? nanti sore kamu datang lagi boleh?”


“Ya dah boleh kak.”


“Mau berapa bulan cuti?”


“Satu bulan saja kak.”


“Gajih mau di ambil?”


“Tak payah lah kak!”


“O iya nanti ke mari lagi bawa orang buat jaminan ya!”


“Jaminan? Maksudnya?”


“Iya jaminan kamu akan balik sini lagi, kalau kamu tak balik nanti aku cari dia.”


“O…” rupanya dia tidak percaya sama Teguh, dan memang seharusnya dia begitu. Sebab emang tidak sedikit karyawan yang seperti itu, dia bilang mau balik kampung, tapi nyatanya dia tidak ke sini lagi, bukan cuman itu, sebenarnya dia tidak balik kampung, tapi dia pindah tauke, cari kerja yang lebih banyak gajihnya, bagi orang yang sudah biasa merantau ke Malaysia, gajih di orchid ini adalah gajih yang jauh dari banyak, malah ini termasuk gajih yang kecil, ada pekerjaan yang dalam satu hari bisa lima puluh ringgit, bahkan ada yang lebih dari seratus ringgit, dan pekerjaan itu bukan pekerjaan yang berat, juga bukan pekerjaan yang dilarang, itu pekerjaan yang legal, tapi lupakan tentang gajih besar dulu ya, karena resikonya jauh di atas menjadi karyawan di orchid, di sini, nyaman, ada air yang utama, ada listrik yang ke dua, dan tidur di atas kasur yang ke tiga, juga tidur di bawah seng yang terakhir, kalau mau gajih besar tu mereka harus selalu waspada, air harus di cari, binatang buas selalu mengancam, bisa tidur nyenyak aja sudah untung, karena biasanya pekerjaan itu ada di tengah hutan, seperti potong buah sawit, Nderes pohon karet, kerja bangunan,


Sekarang dia mau balik lagi ke kongsi, nanti sore dia mau bawa kang Yatno untuk jaminannya. Selama ini dia tinggal satu rumah dengan Yatno.


“Tenang aja kak! Kalau dia ngga balik lagi ke sini, saya siap ganti permitnya! tapi saya juga yakin kak, kalau dia pasti akan ke sini lagi.” Ini kang Yatno, dia emang care banget sama Teguh, walaupun tidak ada ikatan darah sama sekali sama Teguh, dia sudah seperti abangnya sendiri, ya walaupun dia sadar, sebenarnya dia selalu merepotkannya, tau kenapa dia ngerasa begitu? Pertama, Teguh ngga bisa masak, ke dua, Yatno terus yang masak, ke tiga, kerja dia lebih extra dari Teguh, bayangin aja, jam tujuh pagi, dia brangkat kerja, pulang jam lima sore, habis itu, dia berangkat lagi, kerja di tempat cacingan, maksudnya nangkep cacing, jam lima setengah sore, balik jam delapan, kadang sampai jam Sembilan setengah malam, masaknya kapan donk? Jam dua belas siang, seharusnya ini waktu buat istirahat, tapi mau kapan lagi, emang dia hanya punya waktu itu untuk masak, dan Teguh juga ngerti, walaupun waktunya hanya satu jam saja, dia ikut bantu Yatno, ya walaupun hanya mengiris bawang, karena dia pernah sekali coba masak, masakan itu utuh sampai di tempat sampah, dari pada hal itu sering terjadi, lebih baik… you know lah! Dia baru saja tanda tangan, itu tandanya besok Teguh benar-benar akan ke Indonesia.


“Nanti malam saya datang rumah kamu ya Guh!” selesai urusan, dia sama kang Yatno pun kembali ke kongsi.


***


Malam hari pun akhirnya sampai, tamu sedang ramai di rumahnya, kongsi maksudnya, semua anak bujangan, teman seperjuangannya, para bunga bangsa, pahlawan devisa Negara.


“Senang ya Guh! Baru satu tahun sudah pulang kampung!” sepertinya ada yang cemburu, namanya Oma, dia itu salah satu geng tai, ada rahasia umum yang Teguh tau tentang dia, tau Warti? Satu-satunya cewek di rombongan angkatan Teguh? Nah Oma tu ngefans banget sama dia tau, mungkin kayak Teguh ngefans banget sama Sar istrinya Yono, tunggu dulu, kok bisa bilang Teguh ngefans Sar? Dari pada di bilang kalau Teguh jatuh cinta sama dia? dia emang kagum sama kecantikannya kan? tapi tidak mungkin kalau dia jatuh cinta sama istri orang, dia jauh lebih tua dari Teguh, tapi sayang Yono dan istrinya tidak datang, mungkin ada halangan.


“Oke Guh! Hati-hati ya di jalan!” Oma juga yang mendahului pamitan “masih ada urusan lagi nih! Gue tunggu lu di sini ya!”

__ADS_1


“Oke gue pasti datang lagi Ma!”


“Hati-hati ya Guh!” semua orang pamit padanya, semua orang pergi, sekarang dia sendirian di kamarnya, amplop penuh di saku baju, juga celananya, dia buka amplop-amplopnya, ‘waw!!’ dia mulai menghitungnya, ada yang sepuluh ringgit, ada yang dua puluh ringgit, ada yang lima puluh ribu rupiah, nah semua sudah di buka, ‘sekarang aku mau hitung hasilnya, rupiahnya dulu, semua lima puluh ribuan, satu, dua, tiga… sepuluh, dan sebelas, itu artinya lima ratus lima puluh ribu rupiah, waw, banyak juga ya’ sekarang ringgitnya, ‘satu, dua, tiga, empat… dua lima, dua enam, dua tujuh. Oke dua tujuh kali sepuluh ringgit, sama dengan dua ratus tujuh puluh ringgit,’ lumayan belum final ini, masih akan ada yang datang.


“Assalamu’alaikum!...”


“Wa’alaikum salam! Eh Nces!” Siska, teman kampungnya, ingat Siska dia jadi inget sama Attin, padahal dia baru ngeliat Attin sekali lho, dia terus ingat sama Attin, dia juga punya rencana untuk PDKT sama Attin nanti sesampainya dia di Jetis, sampai sekarang dia belum bisa dapat nomer hapenya, dia hanya dapat nomer hape temennya di Jetis, namanya Gesta, nomer ini yang kasih adalah Ncus, entah apa yang sedang berlaku, Ncus tak mau kasih nomer hape Attin sama Teguh, tapi tidak masalah, dia coba minta sama Gesta aja nanti. “kok lambat Ces?” tau lengkapnya nick name Siska tidak? Princess, ya dia selalu pake nama Princess setiap dia kirim sms ke Siska, dulu, awal-awal Teguh kenal dia karena dia sempat deket sama Teguh, waktu dia baru-baru jadian sama Salim, dia suka curhat sama Teguh tentang cowoknya itu, ternyata Salim cemburu banget kalau ngeliat Teguh dekat sama dia, sekarang mereka sedang renggang, entah apa mereka sudah putus apa belum, setaunya, orang tua Siska tidak setuju kalau dia pacaran sama Salim, tapi buat Teguh itu tidak penting,


“Sorry banget deh Guh! Aku sibuk tadi, jadi ya baru sampe deh, nih aku cuman mau titip ini aja kok!” dia bawa sebuah bungkusan dan di dalam bungkusan itu ada beberapa pakaian, “ini ada empat helai pakaian anak kecil buat keponakan aku, dia masih kecil Guh! Aku suka anak kecil, dan ini ada uang sedikit aku masukan amplop, ini untuk nenekku ya!”


“Sudah? Itu aja? Aku buka aja ya bungkusannya? Nanti sampai di Jetis aku bungkus lagi, soalnya aku balik cuman bawa laptopku aja.”


“Ya boleh aja, bisa bungkusnya lagi kan?”


“Mangkanya ajarin dulu!” dari sekian banyak karyawan orchid, cuman dia yang maksa mau nitip ke Teguh, dan memang dia tu manja banget sama Teguh, ada banyak kesamaan antara dia dan Teguh, dia anak tunggal, Teguh juga, dia di tinggal mamanya merantau sejak kecil, Teguh juga, terus dia lahir di hari selasa wage, Teguh juga, jadi Teguh sedikit banyak tau watak dia, dan antara dia dan Teguh tidak jauh berbeda, mereka sama-sama suka membantah orang tua, keras kepala, kalau Teguh memang bisa di bilang begitu, karena memang mereka, Teguh dan mamanya jarang sependapat, selalu saja selilis pendapat, sampai bosen Kasmini menghadapinya, terkadang Kasmini terpaksa membiarkannya, dan akhirnya dia kalah. Begitu pun dengan Siska.


“Sekarang sudah bisa? Kalau begitu besok kalau sudah sampai sms aku ya! Tau rumah nenekku kan?”


“Iya tau, dari rumahku juga kelihatan kok! Kan cuman nyebrang sawah sekali.”


“Ok! Kalau begitu aku pamit dulu ya!”


“Kok cepat-cepat sih Ces!”


“Udah malam Guh! Dan ini buat kamu! Hati-hati di jalan ya Pangeranku!” dia jabat tangan Teguh dengan amplop yang berisi duit tentunya, tapi tidak ada adegan seperti di film-film, cium pipi kanan dan kiri, mereka hanya berjabat tangan, sentuhan antara telapak tangan dan telapak tangan, tapi rasanya tidak, karena ada amplop di antara tangan mereka, dia senyum lalu pergi, selepas dia pergi, Teguh langsung buka amplop yang ada di tangannya itu, seratus ribu rupiah. Lumayan, bisa buat beli tiket kreta api besok sesampainya di Jakarta, ternyata Neneknya Siska adalah ibu dari Poniem, masih ingat nama itu? Dialah yang dulu waktu Teguh kelas lima SD mengirim surat cinta untuk Teguh.


***


Perjalanan berakhir dengan lancar, dia sampai Jetis dengan selamat tanpa ada kurang sedikitpun, hanya saja tubuhnya terasa sangat capek, jadi dia belum pergi kemana-mana, sebenarnya dia sudah ingin pergi menemui orang-orang yang sangat istimewa dalam hidupnya, dia ingin segera melihat wajah Fitri, sepanjang jalan dia terus berkomunikasi lewat hape, kadang telphon, kadang sms, tapi dalam perjalanan juga dia menghubungi Sulis, ternyata Gesta adalah nama anak dari Sulis, dia itu temen dari Ncus, kalau sudah masalah dengan Ncus, sudah pasti ini tentang cewek yang sampai sekarang Teguh belum pernah bertatap muka dengannya, ya dialah Attin, Bidadari yang pernah dia lihat satu tahun yang lalu.


Jadi kan awalnya dia minta nomer Attin sama Ncus, tapi dia tidak ngasih, malah nomer Gesta ini yang dia kasihkan pada Teguh, katanya cewek ini akan membantunya untuk bertemu dengan Attin, ya sudah dia langsung hubungi nomer bernama Gesta, yang ternyata namanya Sulis, dan memang bener, Sulis cewek yang baik, dia banyak kasih tau Teguh tentang Attin, bahkan saking baiknya dia, dia kasih tau Teguh kalau ternyata Attin sudah tunangan, baik banget kan dia? Dari saat itu lah Teguh berusaha berhenti untuk memikirkan bidadarinya yang sudah bukan miliknya lagi, karena dia sudah milik orang lain, sedih dan kecewa ya wajar lah kan dia manusia, meskipun dia pun menyadari satu hal, Attin baru tunangan kalau dia mau dia bisa memperjuangkannya, tapi dia sudah memutuskan untuk tetap setia pada satu wanita.


Sekarang dia lebih focus untuk menemui Fitri, bidadari kecilnya, yang sekarang sudah besar dan sudah mengenal cinta, mudah-mudahan cintanya lah yang pertama dia kenal.


“Halo Fitri? Pa kabar nih?” dia menyapa bidadari kecilnya ini yang sekarang sudah sedikit lebih besar dari terakhir kali dia melihatnya setahun yang lalu, setelah selama sehari semalam dia berada di perjalanan. Pagi hari dia menemuinya.


“Eh mas Teguh? Kabar baik.” Dia tersenyum pada Teguh, tapi sepertinya dia masih sangat pemalu, Teguh mendekatinya dan duduk di sampingnya.


“Dek!” Teguh mulai menggodanya, dia tersenyum tapi dia tetap tidak mau lihat wajahnya.


“Apa sih mas Teguh nih! aku kan malu!” mereka berdua duduk di bale-bale warung milik mamanya Fitri, dan sekarang Fitri sedang sendiri sedang memainkan hape pemberian darinya dulu.


“Memangnya Dedek ngga kangen sama mamas ya?”


“Memangnya kalau kangen aku harus teriak-teriak gitu biar semua orang tau?”


“Ya ngga segitunya kali.” Dia juga sedikit bingung menghadapi bidadarinya ini, “jalan-jalan yuk! Ke laut!”


“Males ah! Tiap hari ke laut.”


“Ya ketempat lain aja kalau ngga mau ke laut! Dedek maunya ke mana?”


“Kemana ya? Aku juga ngga tau mas.”


Setelah beberapa menit dia berembug dengan yang paling tersayang, akhirnya dia pun jalan ke laut bertiga, yaitu dengan sepupunya, anak dari Kamisah yaitu Puji, sepanjang jalan dia berusaha menggoda Fitri, tak terasa pantai sepanjang 2km mereka lewati, di sana dia memaksa Fitri untuk naik kuda, tapi ternyata Fitri takut dengan kuda, akhirnya ya mereka kembali ke pantai di mana mereka tadi pergi.


Hari berikutnya Teguh di ajak jalan-jalan oleh Puji dan ke dua sahabat sejolinya, Martini dan Linda, bersama mereka kurang lebih 3 jam, Teguh pun mulai mengenal mereka, sedikit perhatian dia curahkan pada Linda, cewek yang sedikit pendiam, jauh berbeda dengan Martini yang sedikit lebih aktif, sepertinya dia mulai meng-istimewakan cewek sedikit gemuk ini, tidak salah kan dia? Hari berganti ke istimewaan itu semakin menjadi, tapi dia masih tetap berharap pada Fitri, dia masih berusaha untuk tetap memberikan setianya untuk yang tersayang Fitri, dia mulaih bingung kalau harus memikirkan hal ini, tapi ada posivenya juga, dia merasa terhibur karena Fitri sedikit cuek padanya akhir-akhir ini.


Waktunya untuk berlibur sudah habis, Teguh harus kembali ke Malaysia, beberapa hari di Malaysia seorang cewek dari masa lalunya kembali datang, dia adalah Maryam, dia datang melalui Facebook yang dia miliki, kebahagiaan menyelinap dalam hatinya, sementara dia pun melupakan segalanya, dia mengenang masa-masa indah sewaktu sekolah dan selalu berhadapan dengan cewek manja bernama Maryam, komunikasi berlanjut melalui hape, seperti sebuah reuni hati yang sudah lama tak pernah berjumpa, perasaan Teguh terhadap Maryam pun kembali trubus, kembali subur, dia pun mulai yakin kalau Maryam pasti juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


Namun begitu dia ingin serius dia curhat pada mamanya, sungguh nahas, perasaan itu tidak boleh lagi tumbuh, sebab Kasmini tidak merestui mereka, meskipun Teguh belum pernah mengutarakan perasaannya pada Maryam.

__ADS_1


“Sampai kapanpun mama tidak akan mau punya menantu orang sunda mas!”


“Tapi kenapa ma? Mamas bener-bener ingin serius sama Maryam ma!”


“Kalau mama bilang enggak ya enggak mas, mamas belum tau sih!”


“Tau apa ma?”


“Sudah lah Mas! Tak perlu di bahas, katanya mamas mau sama Fitri? Kalau sama Fitri mama setuju sekarang.” Teguh terkejut begitu dia tau mamanya merestui hubungannya dengan Fitri.


“Jadi mama merestui mamas dengan Fitri?”


“Iya dari pada mamas dengan orang sunda?” akhirnya kembali dia mengikrarkan janji setia pada Firti, kembali dia memupuk perasaannya untuk Fitri seorang.


Di kisah yang lain, kisah tentang Kamisah, dia sudah cerai dengan Wagio, Wagio melarikan diri ke Jambi, rumah orang tuanya dengan membawa wanita yang sudah dia hamili, Kamisah pun mengurus perceraiannya dengan jarak jauh, atau biasa orang jawa bilang ‘rapak’.


Kembali Teguh di uji kesetiannya, kali ini dari Fitri sendiri, ada kabar burung yang mengabarkan bila Teguh sudah berpacaran dengan Linda, teman sejoli Puji adik sepupunya, dan kabar itu sampai telinga Fitri.


“Selamat ya mas!” sms dari Fitri tiba-tiba datang dengan ucapan selamat, itu membuat Teguh terkejut dan penasaran.


“Maksud dedek apa? Mamas ngga ngerti.”


“Mamas kan sudah jadian ma anak karang tawang, jadi ya aku ucapin selamat.”


“Dedek tau dari siapa, itu kabar ngga bener dek!”


“Bener juga ngga apa-apa kok mas!”


“Dek! Di hati mamas ngga ada orang lain selain kamu dek!”


“Gombal!!!!”


“Dedek ngga percaya sama mamas?” Teguh jadi emosi sendiri, padahal komunikasi ini melalui sms, “oke kalau dedek ngga percaya mamas akan pulang sekarang juga!”


“Ngga perlu mas! Kalau sampai mamas pulang, aku ngga akan mau lagi kenal sama mamas! Mamas akan menjadi satu-satunya orang yang ngga kepengin aku kenal.”


“Terus bagaimana caranya supaya dedek percaya sama mamas?”


“Iya Fitri percaya sama mamas, tapi mamas ngga perlu pulang, pokoknya kalau sampai mamas pulang aku akan sangat marah sama mamas.” Baru Teguh merasa lega setelah kepercayaan Fitri dia dapatkan lagi, hal ini membuat keyakinannya akan pilihannya tidak salah, dia merasa setianya memang hanya untuk Firti, keputusannya semakin kukuh untuk tetap menunggu Fitri, walau saat ini Fitri belum pernah memperjelas hubungannya, Fitri bukan pacar Teguh, dan Teguh juga bukan kekasihnya, tapi Teguh sudah berani mengikrarkan janjinya untuk setia padanya.


Dari sisi lain Teguh masih terus mendapat cobaan untuk ikhrar janji setianya pada Fitri, Teguh memang masih komunikasi dengan Beti anak Paerah sahabat Kasmini dari kecil.


“Mas! Mama minta nomernya beti boleh?”


“Buat apa ma!”


“Ya pengen ngobrol aja barang kali kan dia mau jadi menantu mama.”


“Maksud mama apa? Katanya mama sudah merestui mamas sama Fitri?”


“Tapi mama juga merestui mamas sama Beti mas, kalau mamas mau sama Beti.”


“Ngga mungkin mamas sama Beti ma! Dia buat mamas tu seperti saudara, dia sahabat mamas.”


“Mama pernah hutang budi sama Paerah mas, alangkah baiknya jika mamas menyatukan keluarganya dengan keluarga kita mas, pasti mama akan sangat berterimakasih sama mamas kalau itu terjadi.” Teguh jadi bimbang dengan masalah satu ini, Teguh memang pernah ada rasa sama cewek bernama Beti ini, tapi itu dulu sebelum Teguh mengikhrarkan janji setia pada Fitri.


“Iya deh kalau mama mau minta nomer Beti mamas kasih, tapi mama perlu tau, dia ngga akan mau kalau di jodohkan dengan mamas.”


“Siapa tau mas, jodohkan Alloh yang ngatur.”


Selang beberapa hari kemudian Beti benar-benar di telpon oleh Kasmini, dan benar Kasmini memang menanyakan kesediaan Beti tuk jadi menantunya, namun karena Teguh juga sudah mengabarkan Beti tentang mamanya yang mau menelponnya, dia tak lagi terkejut, Beti pun tetap tidak mau di jodohkan dengan Teguh, saat itulah baru Teguh mengetahui bahwa Beti juga pernah mempunyai rasa padanya, keraguan akan ikhrar janji setia pada Fitri tergoyah walau hanya sedikit.

__ADS_1


__ADS_2