
Dan selang beberapa bulan kemudian bapaknya datang juga ke desa jetis ini. Pasti Teguh sangat marah pada bapaknya! Tidak, justru bapaknya dipeluk erat olehnya, bapaknya datang dengan seorang adik tirinya yang pertama, seorang anak perempuan yang manis, usianya baru sekitar lima tahun Anisa Nur Aini itu namanya, mungkin wajah kakak kandungnya seperti dia, tapi tidak tau juga.
“Bapak kemana saja? Teguh kangen banget sama bapak!” walaupun dia tidak nangis, tapi air matanya sudah menumpuk di retina, hanya tinggal beberapa detik lagi dia akan jatuh, dan sekarang Teguh bener-bener nangis, itu artinya Teguh emang masih punya rasa.
“Bapak minta maaf ya nak! Bapak sibuk kerja, cari duwit nak!” sosok bapak Teguh memang terlihat bukan orang yang suka berbohong, yang dia ucapkan itulah yang terjadi, “Surat dari Teguh sudah bapak baca, bapak minta maaf sekali lagi ya nak!”
Si Teguh ternyata emang mudah di rayu ya? bah kan sangat mudah! Buktinya Teguh tidak bisa marah sama Bapaknya, walau apa yang sudah terjadi dengannya, kerinduan yang sangat besar sudah meledak kini. Dan ternyata, bapak Teguh hanya sehari di rumah Teguh, tapi bapaknya meninggalkan sesuatu untuk Teguh, apa sesuatu itu? Juz’ama! tau kan apa itu juz’ama? apa pesan Bapak Teguh? Begini pesannya.
__ADS_1
“Guh! Kamu hafalkan juz’ama ini ya! tahun depan Bapak datang lagi kesini! Dan Teguh harus sudah siap” Teguh tidak ngerti apa maksud dari Bapaknya itu, yang Teguh ngerti, Bapaknya bakal datang lagi tahun depan.
***
Akhirnya Teguh Prayitno membuktikan pada semua orang bahwa dia tinggal kelas sewaktu di kelas empat bukan lah karena dia bodoh, semenjak dia naik ke kelas lima, dia sudah menyabet semua presatasi dari tiga catur wulan, dia terus saja menjadi favorit gurunya dengan menjadi rangking satu. Pembuktian itu juga membuat dia menjadi wakil di setiap lomba cerdas cermat yang di adakan di kecamatan maupun tingkat desa, kehadiran ayahnya dulu membuat semangat baru buat dirinya.
Dengan terpaksa Teguh pun harus menyakiti hati Poniem membalas suratnya dengan penolakan, seisi kelas menjadi gaduh, inilah kali pertama dia menyakiti perasaan seorang cewek, kelas lima SD.
__ADS_1
“Sebelumnya aku minta maaf Pon! Bukan maksud hati untuk menyakiti perasaanmu, tapi saat ini aku sedang kasmaran dengan seorang cewek bernama Kuwat, dia juga masih tetanggamu kan? Maafkan atas kedatangan surat yang tidak kamu inginkan ini, dari sahabatmu Teguh Prayitno” kedatangan surat inilah yang kemudian membuat Poniem tidak masuk sekolah tiga hari dengan alasan sakit. Teguh menyadari bahwa penyebab sakitnya itu pasti karena tulisan tangan yang dia tujukan pada Poniem, namun karena memang Teguh tidak mempunyai perasaan apapun padanya itu tidak menjadi beban yang menggagu dalam pikirannya, dia masih tetap menjadi pengagum kecantikan Kuwat, saat-saat yang dia tunggu setiap harinya adalah istirahat dan dia langsung keluar kelas dan menunggu sang pujaan keluar dari kelas sebelah, yaitu kelas enam atau kakak kelasnya, tapi begitu sang pujaan keluar kelas, dia tetap saja hanya bisa melihatnya, entah sampai kapan ke adaan seperti ini akan berlangsung.
Setahun kemudian, di rumah Teguh terjadi sesuatu yang sangat menghebohkan, ini antara hidup dan mati, Kasmini setelah Teguh di sunat dulu, dan beberapa hari setelah Bapak kandung Teguh datang dan pergi lagi, mamanya Teguh di tinggal kabur sama suaminya tanpa sebab yang jelas, tapi kemungkinan ada masalah besar yang sedang di alami Agus Makin, dan Kasmini jadi korban masalah itu, setelah itu Kasmini depresi, stress, dia lakukan apa yang ingin dia lakukan, tanpa dia pikirkan dulu, apa itu baik atau buruk, bagaimana pandangan orang lain, bagaimana pandangan Teguh sebagai anaknya, yang dia tau dia senang.
Kasmini punya teman lelaki, dan temanya itu dia perlakukan seperti suaminya sendiri, padahal lelaki itu bukan suaminya, tidur bareng, kemana-mana bareng, padahal lelaki itu pun sudah punya anak istri, inilah yang di katakan orang-orang ‘kumpul kebo’ tanpa dia malu, tanpa dia peduli dengan orang di sekitarnya tanpa dia ingat kalau dia masih punya seorang anak yang sangat menyayanginya, mencintainya, dia tak menyadari semua itu, ini karena cinta buta yang akan merusak akal manusia. Sungguh menyedihkan sekali, kasian si Teguh, Teguh walaupun dia masih kecil, tapi dia sudah mengerti mana kebenaran, dan mana keburukan, jadi dia tetap tidak menyukai si lelaki teman mamanya itu. Nah hari ini Teguh sedang libur sekolah, biasanya semua pakaian Teguh yang nyuci adalah mamanya, semenjak ada lelaki itu lah Teguh tidak lagi di perdulikan oleh mamanya, jadi ya pakean yang kotor semua dia cuci sendiri, karena hari ini hari libur makanya Teguh hari ini nyuci baju di sumur belakang rumahnya, tidak jauh kok dari rumahnya, dan ketika Teguh sedang mencuci, dari ruang tamu ada suara teriakan, dan Teguh mengenal suara itu, “Tolong…!! Teguuuuh! Tolong mama Guh!” Tanpa ragu Teguh berlari meninggalkan semua pakaian yang sedang dia cuci, dia menuju ke mana dia mendengar suara mamanya menjerit, begitu dia melihat mamanya di ruang tamu sedang di jambak rambutnya oleh lelaki itu, kepala Kasmini hendak di hantamkan pada tembok rumahnya, Teguh takut bukan main, karena memang dia masih sangat teramat kecil untuk melihat kejadian itu, dia langsung berlari ke belakang rumahnya, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, sedangkan mamanya masih terus menjerit meminta pertolongan, “Tolong!!!!…Teguh!!! tolongin mama Guh!!! Sakit…!” Kasmini masih terus menjerit sambil menangis, Teguh masih kebingungan di belakang rumahnya, dia masih belum tau apa yang harus di lakukannya, tidak mungkin dia bisa melawan lelaki itu, hingga akhirnya Teguh melihat sebilah parang yang biasa di gunakan untuk mencari kayu bakar atau sekedar untuk memotong-motong kayu, Teguh lekas menyambar parang itu sambil berjalan menuju ke dalam rumahnya, dengan badan menggigil, karena emosinya memuncak, tangan yang memegang parang bergetar kencang, begitu dia masuk ke ruang tamu di mana dia melihat lelaki itu menjambak rambut mamanya, dia arahkan parang yang berukuran sekitar empat puluh centi meter pada tubuh si lelaki itu, emosinya memuncak dia menggeram, sungguh menakutkan, tetapi lelaki itu jauh lebih kuat dari Teguh yang hanya seorang bocah kelas enam SD. Di tangkaplah tangan Teguh oleh lelaki itu, tubuh kecil Teguh di cengkramnya dan di rebut lah parang dari tangan Teguh, Kasmini yang sudah bebas dari tangan lelaki itu langsung merebut Teguh dari cengkramannya.
“Teguh…sudah Guh! Mama sudah tidak apa-apa.” Teguh masih geram, Teguh masih mengerang, emosinya masih belum stabil, Teguh melihat wajah mamanya, beberapa luka memar sudah menghias wajahnya, mamanya memeluk erat Teguh, “sudah Guh! Mama sudah selamat, mama tidak apa-apa!” mamanya menangis dan terus memeluk tubuh Teguh yang kecil, Teguh pun menangis. Sedangkan si lelaki itu pun diam-diam pergi dari rumahnya, para tetangga ramai berdatangan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah Teguh, tapi Kasmini terus diam, dia membisu tak dapat berbuat apa-apa, Teguh terus menangis di pelukan mamanya, Teguh sendiri merasa lega, karena tidak terjadi apa-apa pada mamanya yang sangat dia sayangi itu. Dia menyadari satu hal yang terpendam pada dirinya, dia mempunyai kekuatan dalam dirinya yang terpendam, bahkan lelaki dewasa itu pun ketakutan begitu melihat kemarahan Teguh, dia juga sadar bahwa Idiot itu bukanlah bodoh, tapi arti dari idiot itu adalah berbeda, dia menyadari bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.
__ADS_1
***