
Setidaknya dia sudah punya alasan kuat untuk mempertahankan dirinya supaya bisa lebih lama tinggal di Jakarta, karena Kasmini sudah bilang, bahwa dia dalam waktu dekat ini akan di buat kan permit, atau visa, kalau visanya turun, itu artinya dia akan segera menetap di Malaysia, setidaknya satu tahun dia tidak bisa ke Indonesia, dan itu sama juga artinya dia akan jadi bunga bangsa, sama juga dengan TKI, alias tenaga kerja Indonesia, si pahlawan devisa, hebat jadi pahlawan. ‘Itu aku pikirkan nanti lagi, yang penting sekarang aku harus focus pada misiku’ misinya adalah mempertahankan diri tetap di Jakarta, lupakan tentang visa, permit, atau apalah ***** mbengek yang bisa mengusik keberadaannya di Jakarta ini, yang pentingkan sekarang dia ada di Jakarta, sekarang apa yang harus dia lakukan? Sekarang dia mau balik aja ke kontrakan Maman, siapkan diri besok mulai kerja, stamina harus terjaga, tapi kelau dia balik ke rumah kontrakan Maman, mau ngapain? Toh Maman juga lagi kerja, Akhirnya ITC fatmawati adalah tujuan berikutnya, kali ini dia akan menemui orang yang pernah dia cintai dengan cinta yang sungguh luar biasa, Ayu lah orangnya.
Tentang Ayu sudah habis, dia sudah bisa melupakan Ayu seperti cewek-cewek lain yang pernah singgah di hatinya, kemarin setelah bertemu dengan Ayu, dia sudah tidak merasakan sesuatu yang dulu pernah dia rasakan, mungkin karena kali ini Ayu sudah resmi menjadi istri Danang, cowok yang selalu di sanjung oleh Ayu di depan Teguh, Ayu juga sudah mengembalikan buku novel tulisan tangannya, dan dia hanya bilang.
“Bagus kok novelnya mas! Menyentuh banget, itu novel tentang Mas Teguh ya?” dan Teguh tidak menjawab, “Ayu minta maaf kalau ternyata selama ini Ayu sudah menyakiti hati Teguh.” Teguh masih diam tapi kali ini dia tersenyum, dia pun merasa puas karena dia berhasil menyampaikan apa yang dia rasakan lewat tulisan tangannya, bukan surat tapi novel. Baginya cukup Ayu yang membaca karyanya yang satu ini, karena karyanya yang satu ini memang dia dedikasikan untuk seorang Tri Ratna Astuti Hartayu.
***
Sekarang dia mau kerja lagi, dia habis makan siang, kenyang, habis makan nasi bungkus lauknya telur, sudah hampir satu bulan dia jadi OB di kantor wadas, setelah dirasanya ternyata enak juga jadi OB, banyak tip nya, masalah makan juga sudah terjamin, ini aja nasi bungkus yang baru dia makan tidak beli pake duitnya sendiri, jadi tadi tu si Risman, salah satu karyawan wadas nyuruh dia beli nasi bungkus, ceritanya begini.
“Guh! nasi satu, sayurnya orek aja, lauknya ikan bawal, kamu terserah pake apa, sama es teh dua, buat kamu satu.” Si Risman kasih duit Teguh Rp15.000,00 buat beli semua pesanan Risman Rp6.500,00, es Rp2.000,00 masih Rp6.500,00 dia cukup nasi sayur daun singkong dan telur bulat satu, Rp4.500,00 masih lebih seribu, dia mau kembalikan tu lebih duitnya.
“Nih masih lebih seribu,…” belum selesai dia ngomong, si Risman sudah motong.
“Buat elu aja Guh!” terus dia senyum sama Teguh, begitu, jadi hari ini dia dapat makan siang geratisan, tapi tidak setiap hari, kadang sama sekali tidak dapat tip, kadang dapat lebih dari Rp40.000,00 lumayan juga, jadi aslinya pendapatannya lebih banyak dari karyawan wadas, tapi ya gitu deh, dia jual harga dirinya, dia harus mau di suruh ini, di suruh itu, walau begitu dia tetap mencoba menjadi orang baik, jadi orang yang jujur, kemarin dia juga dapat pelajaran kusus dari Zulfa, seniornya, kemaren dia kan habis belikan pak Wily rujak, salah seorang karyawan wadas juga, karena dia belinya lima ribu, ya dia bilang sama pak Wily harganya segitu, begitu dia ketemu sama Zulfa, dia nanya.
“Habis beli apa Guh?”
“Rujak, buat pak Wily.”
“Berapa harganya?”
“Lima ribu.”
“Lu bilang ke pak Wily berapa?”
“Ya lima ribu lah.”
“Bodoh lu Guh!” kaget kan? kok si Zulfa bilang Teguh bodoh? “Harusnya lu jangan terlalu jujur Guh! lu sudah rendahin harga diri elu, lu harus tukar harga diri lu dengan duit mereka, seharusnya lu bilang ke pak Wily harga rujak itu 6 atau 7ribu lah, kan lumayan.” Kenapa Zulfa ngajarin dia untuk bohong? Tidak mempan! dia akan tetap jadi orang yang jujur,
Lupakan aja tentang cerita di atas, sambung cerita tentang seorang perempuan yang Teguh kagumi, dia tak tau apa perasaan ini, masih ingat dengan seorang cewek yang tubuhnya sedikit gemuk, berkacamata, pipinya tembem, dan jidadnya tertutup phoni? Namanya Lasmi, di panggil sama teman-temannya dengan nama Mimi? Ya, kepadanya lah saat ini Teguh sedang terkagum-kagum, orangnya polos, kepribadiannya juga oke, dia rajin ibadah, kalem, ramah, tidak sombong, pokoknya hampir masuk kategori cewek solehah, itu baru penilaiannya, setelah hampir sebulan dia mengenalnya, lain bila baru kenal, jangan harap kalau baru ketemu sama dia, dia tidak bakal menyapa, ya kecuali sudah kenalan dulu dengan dia secara baik-baik, setelah kenalan, coba tanya ke dia kapan dia lahir dan di mana, tidak bakal dapetin jawabannya, seperti Teguh juga sampai sekarang tidak tau tanggal kelahirannya, yang dia tau dia lahir di jogja pada tahun 1988, sampai sekarang juga dia belum bisa jujur padanya tentang perasaannya sama dia, tapi bukan berarti selama ini Teguh bohong sama dia kan, entah akan sampai kapan keadaan ini akan seperti ini.
***
__ADS_1
“Racuuuun…racuuuun…hilang akal sehatku, hilang akal sehatku, hilang akal sehatku memang kau racuuuun…” hapenya bunyi, sekarang dia lagi santai, ini hari sabtu kantor juga tutup, jadi hari ini dia tidak kerja, dia lagi santai aja di lantai dua losmen, lihat Jakarta dari atas memang indah, dia sudah tidak tinggal lagi dengan Maman dan keluarnya di kontrakan kucel itu, dia sudah tinggal di losmen kantor yang ada di lantai teratas kantor ini sejak awal Romadhon tahun ini dan sekarang sudah dua minggu dia berpuasa setiap hari, tapi dia harus angkat telpon ini, dari mamanya, karena ternyata di layar hapenya tidak tertulis nama siapa-siapa, hanya tertulis ‘nomer pribadi’ itu artinya ini dari Malaysia,
“Halo ma?”
“Halo sayang? Lagi apa nih?”
“Santai aja di lantai atas losmen, ada apa ma?”
“Ini yang, visa kamu sudah turun, jadi kamu siap-siap ya!”
“Ke Malaysia? Kok mendadak sih ma? Bisa di undur kan? Besok aja ma lepas lebaran!”
“Ngga bisa mas, visa kamu itu sudah turun, jadi harus langsung ke sini.”
“Tapi ma, sebentar lagi lebaran ma, ke Malaysianya besok aja habis lebaran!” ‘duh gimana nih?’ dia jadi panik atas kabar yang sangat mendadak, ‘dua minggu lagi lebaran, masa aku lebaran di Malaysia sih? Aku kepengen lebaran di jawa nih.’ karena selama ini dia memang tidak pernah berlebaran di jawa, setidaknya sudah tiga tahun ini, dan sekarang dia juga belum tau seperti apa lebaran di tahun ini apakah akan di Malaysia lagi atau di kampung sesuai rencananya, Kasmini masih terus membujuknya supaya cepat siap-siap ke Malaysia.
“Sama aja Guh, lebaran di mana aja, kalau di sini kan malah bagus, bisa lebaran sama mama lagi.” Kasmini tidak tau apa yang sedang dia rasakan sekarang, dia sekarang sedang jatuh cinta, dia lagi jatuh cinta sama Mimi, dia putus asa dia tak bisa berbuat apa-apa lagi, kalau dia harus ke Malaysia lagi ya dia harus pergi, tapi bagaimana dengan perasaannya, yang sedang kasmaran ini?
“Okelah kalau begitu, sekarang aku harus minta bantuan pada Ida, dia yang selama ini telah banyak membantu aku, dari semenjak aku baru sampai di Jakarta, hingga sekarang ini, bahkan aku berani curhat tentang Mimi pun cuman dengannya.” Inilah langkah awal yang Teguh lakukan.
Sekarang dia masih di sini, masih di lantai atas, dia sedang menunggu adzan magrib berkumandang, tadi dia ke bawah mengambil sebotol fanta, handphon di tangannya mulai dia oprasikan lagi, dia mencari sebuah nama, Ida, kini sebuah nama sudah dia temui, dia memulai menekan satu persatu huruf di dalam handphon.
‘Da gue bingung nih! Dalam minggu ini gue akan ke Malaysia lagi, menurut elu gimana?’ selesai menulis kata-kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat yang tidak terlalu panjang, dia pun mengirimkan pada nomer yang bernama Ida. Terkirim, dia letakkan botol minuman yang masih utuh itu tepat di samping dia duduk, perlahan dia menyapukan jemari tangannya di antara rambutnya yang sedikit pendek. dia coba menarik nafas yang panjang dan kemudian dia hempaskan nafas dengan nada amarah, seakan dia marah pada ke adaan ini, dan memang dia sedang marah dengan keadaan ini. Begitu dia berhasil menanam benih cinta lagi dalam hatinya, dia tidak akan memanennya, karena keadaan yang kembali tidak mendukungnya
“Allohu akbar-allohu akbar…” alhamdulillah akhirnya magrib telah tiba, dia tak menghiraukan kumandang adzan yang sedang berkumadang di masjid dekat losmen ini, tapi kemudian dia ambil kembali botol minuman yang masih belum dia minum itu yang berada di sampingnya, dia sedut sebuah sedotan di mulut botol, handphonnya berbunyi, itu nada sms, dia kembali mengoprasikan handphonnya, dia buka sms, dan membacanya.
‘Kalau lu harus pergi ya pergi aja, tapi inget Guh, lu datang baik-baik pergi juga harus dengan baik-baik!’
‘Hari senin besok gue resign, terus gimana dengan Mimi?’
‘Kalau lu suka beneran sama dia ya kamu tembak dia lah!’ itu balasan sms dari Ida, dia kembali berfikir, dan kembali memutar otak... ternyata pikiran Ida sama dengannya.
‘Baiklah kalau begitu besok sore kita buka bersama ya Da, tolong lu ajak Mimi, gue mau nembak dia’
__ADS_1
‘Nah begitu kan baru cowok gentlemen, memiliki sebuah keberanian, masalah dia terima atau tidak itu masalah ke dua, oke kita ketemu dimana?’
‘Moll blok M’
‘Ok!’
Kesepakatan sudah di buat kini adzan sudah selesai berkumandang, dia segera ke ruang makan di sana sudah tersedia makanan untuk berbuka puasa, dia sudah membeli bubur kacang ijo dan buah timun suri segar yang sudah dia buat menjadi santapan nikmat saat berbuka puasa. Sedih memang yang sedang di rasakannya, kenapa keadaan seperti ini harus dia alami, „ampun dah aku ini, aku harus bersyukur kalau ternyata aku masih bisa jatuh cinta lagi,‟ tapi kalau di pikir lagi ya, cintanya pada Mimi itu aneh, terkadang dia rindu sama Mimi, tapi terkadang dia tak perduli sama sekali dengannya.
Akhirnya Teguh kenyang, sekarang saatnya dia kunjungi masjid yang tadi sudah mengingatkannya untuk berbuka puasa dengan kumandang adzan. Sekarang waktunya sholat magrib, nanti sholat „isya setelah magrib, ya tidak langsung lah, tunggu beberapa saat, nah lepas sholat ‘isya di lanjut sholat taraweh, lepas sholat taraweh ngapain? yang punya cewek langsung mojok sama ceweknya di pojokan masjid, yang tidak punya cewek kayak Teguh ini ya langsung balik ke losmen, dan tidur, kalau belum ngantuk main computer di kantor, kan kantornya deket dengan losmen, tidak nonton? Mungkin dia males, jam segini nonton TV palingan isinya sinetron aja! Ntar sekitar jam sepuluhan, pasti banyak film layar lebar, tapi sekarang sepertinya dia mau balik aja, dia lagi males ke kantor, dia juga lagi tidak ada mood buat nulis, biasanya dia tu kalau ke depan computer ya iseng buat cerita, sekarang dia juga sudah berhasil menyelesaikan sebuah cerita judulnya ‘Sayap Pegazus’ ceritanya fiktif banget, ide itu datang dari Rian vokalis Pegazuz Band, dia meminta pada Teguh untuk menuliskan buku tentang perjalanan bandnya yang penuh lika-liku, tapi sepertinya dia kebingungan saat Rian meminta untuk melibatkan semua personil band, kalau di tulis apa adanya dia yakin tidak akan menarik, maka dari itu lah kemudian dia membuat buku itu menjadi sebuah buku novel super fiktif, bagaimana tidak, buku ini mengisahkan tentang sebuah kota yang hilang beratus-ratus tahun lalu semenjak zaman kerajaan.
“Assalamu’alaikum!” dia kasih salam pada semua orang yang ada di rumah losmen ini.
“Wa’alaikum salam.” Tapi ternyata di rumah yang ada cuman pak Aji, sebenarnya dia punya rumah sendiri, tapi tempatnya jauh, jadi dia nginep di losmen ini, kadang dua minggu sekali dia pulang ke rumah, sekarang dia lagi tidak pulang, “Kok kamu baru balik Guh? yang lain mana?”
“Lagi pada mojok pak, biasa sama pasangan mereka masing-masing.”
“Kamu ngga mojok Guh?”
“Mau mojok sama siapa? sama kunti?”
“Hahahah…” pak Aji langsung tertawa lepas. Dia memang salah satu penonton setia TV di losmen ini, sekarang aja dia sedang nonton TV, biasanya sih acara sinetron, Teguh langsung menuju ke kamar. Sepertinya sinetronnya sudah mulai lagi, dan Teguh tertarik untuk bergabung dengan pak Aji.
“Sinetron ya pak?”
“Iya nih Guh, seru banget, ini episode terakhir lho.”, semangat banget tuh pak Aji nontonya, Teguh pun ikut nonton.
“Kasian si Fitri Guh, padahal dia baru cek urine, dan dia hamil, eh malah suaminya si Farel masuk penjara.” Ini adalah sinetron Cinta Fitri seasion 2, dia sebenarnya suka menonton sinetron ini, sebab utamanya adalah karena pemeran perempuan utamanya Shireen Sungkar, dia sudah terlalu ngefans pada cewek keturunan arab itu, memang dia tidak pernah ngikutin jalan ceritanya sinetron ini, karena selama dia di Wadas dia selalu asyik dengan komputer, setiap hari setiap malam dia hanya menulis dan menulis, hobinya sudah seperti membuat dia kecanduan, di tambah lagi dunia Maya.
“Emang judul sinetron ini apa pak?” sepertinya dia pura-pura tidak tau.
“Cinta Fitri Guh, kamu mau nonton juga?” dia langsung duduk di samping kursi yang sudah di duduki oleh pak Aji, dia langsung focus pada TV 21intci di depannya, terlihat di dalam TV seorang cewek lugu yang sedang bergembira, karena akhirnya dia bisa hamil juga, tak lain cewek itu adalah Fitri yang di perankan oleh Shireen Sungkar. Dia memang sudah menjadi cewek idolanya selama ini, senyumnya manis, rambutnya lurus panjang sebahu, satu lagi yang Teguh seneng banget dari dia itu adalah phoni di jidadnya, hampir menutup matanya, justru phoni segitu itu yang pas banget buat selera Teguh, dia itu memang seneng banget dengan cewek yang memiliki phoni di jidadnya, tapi Shireen itu bukan hanya phoninya yang dia suka, dia suka semua dari diri Shireen.
***
__ADS_1