
Waktu terus berlanjut, Kasmini masih tetap menjadi Penyanyi walau sekarang dia sudah di Malaysia, di sebuah acara hajatan penduduk Malaysia dia menyanyi di Karaokean acara hajatan itu, dia pun mulai menyanyi begitu sebuah lagu milik Rita Sugiarto terlantun, tapi tiba-tiba...
“Kejap!” lagu berhenti setelah satu baris lirik lagu sudah di nyanyikan Kasmini, pengoprasi karaoke kebingungan, “soundnya belum di matikan, jadi suara penyanyi aslinya masih ada.” Kasmini juga jadi ikut bingung.
“Coba sekarang akak nyanyi lagi.” Begitu lagu kembali mengalun Kasmini pun bernyanyi lagi, lagi-lagi lagu berhenti.
“Kenape ni bang? Kejap berhenti-kejap berhenti.” Kasmini merasa tidak nyaman.
“Entah lah, ni sound tak biase cam ni lah, kejap ya! Akak jangan nyanyi dahulu.” Lagu kembali di putar, Kasmini tidak menyanyi, lagu melantun tanpa penyanyi, “nah sekarang coba nyanyi!” Kasmini pun menyanyi, dan dia terus menyanyi, sedangkan si pengoprasi sound sistem jadi bingung dan terkagum dengan suara Kasmini, begitu lagu selesai.
“Sound sistem tak rusak lah, memang suara awak tu macam penyanyi aslinye, saye minta maaf ya kak!”
“Iye lah tak ape!”
“Boleh tak saye kenalan dengan awak?” si Pengoprasi Sound sistem pun mengulurkan tangan, Kasmini masih sedikit bingung tapi kemudian dia pun menyambut tangan si pengoprasi sound sistem.
“Amy, Amy Kasmini!”
“Saye Ayob, Ayob bin Alos.” Lelaki Orang Melayu yang bernama Ayob itu pun masih salah tingkah atas kesalahanya di awal tadi, perkenalan ini menjadi awal pertemuan mereka, waktu terus bergulir Kasmini pun menjalin hubungan lebih dengan Ayob, hingga akhirnya.
“Ka! Saye mau tanya satu hal pada Ika.” Ayob sudah membuat nama sendiri untuk Kasmini.
“Iye bang? Nak tanye ape?”
“E...” di wajah Ayob masih ada keraguan. “Ika mau tak menjadi istri abang?” Kasmini terkejut bukan main, ini adalah lamaran, Kasmini perlu berfikir panjang untuk menjawab satu pertanyaan ini. “Abang dah sangat sayang pada Ika, abang tak kan sanggup lagi hidup tanpa Ika.” Kasmini jadi makin bingung.
“Ika tak salah dengar bang? Ika kan orang jelek, Ika lebih tua dari Abang, dan Ika dah punya satu anak yang dah berusia 15tahun tau.”
“Iye abang dah tau, kan Ika dah cerita dengan abang, abang akan terima semua tentang Ika, abang sungguh sayang dengan Ika, abang mau Ika jadi istri abang.” Kasmini masih belum bisa menjawab.
“Tapi bang! Ika...”
“Kalau bukan Ika yang jadi Istri abang, abang tak akan pernah mau menikah Ka! Abang hanya cinta pada Ika!” Kasmini pun kembali diam.
“Baik lah kalau itu mau abang, Ika belum menjawab pertanyaan abang, Ika kene pulang kampung dulu, Ika masih punya Ibu dan anak, Ika nak tanya kat Ibu dan Anak Ika dahulu.”
“Hah! Pulanglah! tapi ingat bile Ika tak balik lagi, abang tak nak menikah tau, bila nak pulang?”
__ADS_1
“Besok lusa.”
“Oke! Besok abang antar kat airport!”
Kasmini pun kembali ke kampung dengan pesawat yang tiketnya Ayob yang membeli, Teguh saat ini pun sedang libur tengah tahun ke tiga, jadi dia ada di rumah. Kasmini langsung bertanya pada anaknya itu setelah beberapa hari ada di rumah.
“Guh!”
“Ya ma?”
“Kalau mama jadi orang Malaysia Teguh mengizinkan ngga?”
“Maksud mama apa?”
“Ada seorang lelaki asli orang Malaysia yang melamar mama.”
“Pasti sudah tua ya ma?”
“Masih bujang Guh!”
“Hah? Ada bujang yang melamar mama?”
“Mama suka sama dia?”
“Ya suka kalau anak mama yang satu ini mengizinkannya.”
“Kenapa Teguh harus melarang ma! Kalau itu yang terbaik buat mamaku yang sangat aku cintai ini?”
“Terima kasih Teguh sayang!” izin dari anaknya pun sudah dia dapat.
Di Malaysia Ayob menghadap orang tuanya untuk mengabarkan pada mereka bahwa dia sudah melamar seorang janda asal Indonesia.
“Kenapa harus orang dari Indonesia Yob? Tak ada ke gadis melayu yang dapat awak cintai?”
“Tak ada yah! Kalau Ayob harus menikah itu dengan Ika, kalau tak boleh menikah dengan dia, maka Ayob tak akan menikah.”
“Oke lah dari Indon, tapi tak ada ke yang masih Dara?”
__ADS_1
“Tak ade Mak! Kalau bukan Ika tak ade! Dah sekarang Ayah dan Emak jawab je lah! Ayob kena tak menikah dengan Ika!” kedua orang tuanya masih diam.
“Ya dah kalau itu dah kehendak Ayob! Ayah Emak tak boleh melarang Ayob! Janji Ayob boleh bahagia dengan Ika!” kedua orang tua Ayob pun merestuinya.
Kasmini pun segera mengurus surat-surat untuk syarat pernikahannya di Malaysia, Teguh kembali ke Al-Zaytun, dan Kasmini kembali ke Malaysia.
08 April 2003
Ayob bin Alos menikahi Kasmini binti Mad Gasmin, saat ijab qobul Kasmini terus menangis, dia menangis bahagia juga bersedih karena sanak saudaranya tak ada yang menghadirinya, Kamisah beberapa bulan lalu tertangkap polisi dan di pulangkan ke Indonesia, sedangkan Kesrag, dia juga tidak bisa hadir karena hubungannya dengan Kesrag sedang tidak beres.
“Saye terima nikah dan maskawinnya Kasmini binti Mad Gasmin dengan mas kawin seribu lima ratus ringgit Malaysia di bayar tunai.” Ayob telah membaca akad nikah.
“Syah para saksi?”
“Syah!” serentak saksi perkawinan yang hadir mengucap satu kata, mulai saat inilah Kasmini resmi menjadi istri dari Ayob Bin Alos.
Di awal hari-hari Kasmini menjalani hidup sebagai istri Ayob bukan kebahagiaan yang dia rasa, melainkan kesedihan karena sanak saudara Ayob yang ada enam masih belum juga bisa menerimanya, empat adik Ayob semua belum menikah, Ayob sendiri adalah anak kedua, kakak pertamanya perempuan sudah menikah, adiknya persis perempuan pun sudah menikah, dan adik bungsunya juga perempuan masih sekolah dan seumuran Teguh.
Di rumah saat Ayob pergi kerja, semua pekerjaan rumah Kasmini yang mengerjakan, dari cuci piring menyapu halaman rumah dan berbagai macam pekerjaan rumah Kasmini yang melakukannya.
Di bawah pohon duren di belakang rumah orang tua Ayob, Kasmini duduk dan sedang menangis terisak, dia teringat pada anaknya, dia pun ingat janjinya pada anaknya bahwa ini adalah perkawinannya yang terakhir, sepahit apapun akan dia pertahankan, dia masih terus menangis terisak sambil kembali menyapu halaman rumah belakang mertuanya, semua saudara Ayob ada di ruang tamu, mereka tak pernah menganggap Kasmini ada di rumah itu, tetangga sebelah mertuanya melihat apa yang di lakukan Kasmini, dia juga selalu melihat Kasmini setiap kali dia duduk di bawah pohon duren dan menangis.
Saat Ayob sedang duduk santai di sebuah kedai, tetangga mertua Kasmini yang seorang istri dari imam di masjid kampung ini pun menghampiri Ayob, tanpa ragu dia pun melaporkan apa yang telah di lakukan saudara-saudaranya pada Istrinya.
“Yob! Awak tu nak jadikan Ika sebagai Istri atau sebagai pembantu?”
“Ya Istri lah Ma cik!”
“Terus kenape saudara-saudara awak perlakukan Ika macam tu?”
“Maksud ma cik ape?”
“Lebih baik awak tanye kan saje pada Ika! Ma cik takut Ayob tak percaye dengan ma cik.” Ayob masih bingung dengan laporan dari tetangga orang tuanya itu, Ayob pun menemui Kasmini begitu sampai di rumah. Kasmini pun membenarkan si tetangga, dia ceritakan semua apa yang telah dia alami selama ada di rumah mertuanya.
Ayob berang pada semua saudaranya, malam itu juga dia pergi dari rumah dan mencari rumah sewa, pertengkaran argumen pun terjadi malam ini tanpa bisa di elakkan, Ayah dan Ibu Ayob tidak mau Ayob keluar dari rumah, namun Ayob memaksa dan membela Kasmini istrinya.
Di rumah baru itu Kasmini pun merasa lebih bahagia, bulan Mei Kasmini membawa Ayob pulang ke kampungnya, mereka mampir ke Al-Zaytun untuk menemui anaknya, tapi ternyata Teguh sedang ujian akhir nasional untuk SMPnya, Teguh terlihat begitu bahagia melihat Ibunya, mamanya bahagia, dia sudah tak mau lagi mengingat masa lalu yang bagi dia sangat lah menyakitkan, Teguh merasakan ke adilan sang kuasa, tak selamanya manusia akan hidup dalam penderitaan dan kepedihan.
__ADS_1
***