Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 4: Orang Melayu (2)


__ADS_3

Sampai Teguh di rumah bapaknya, Sunar pun mengajak sang anak masuk ke rumah hanya sekedar minum air putih.


“Masuk dulu yuk minum air putih dulu, capek naik sepeda dari Al-Zaytun.”


“Ngga mau pak, aku mau ketemu sama mama!” dia tetap tidak mau masuk walau Sunar sudah memaksanya.


“Kalau gitu kamu tunggu dulu disni ya!”


“Iya!” Sunar pun masuk ke rumahnya menemui istrinya.


“Kok Teguh ngga masuk bi?” istrinya menyebut Sunar dengan Abi, itu bahasa arab yang artinya Bapak.


“Dia ngga mau mi, dia sudah ngebet mau ketemu sama mamanya.”


“Masa cuman sekedar minum aja ngga mau bi?”


“Ngga mau mi, kalau dia ngga mau ya kita ngga usah maksa.”


“Dasar anak keras kepala.”


“Sudah lah mi! Jangan buat Abi jadi tambah dongkol.” Istri Sunar langsung diam begitu mata Sunar sedikit melotot, yang aslinya Sunar adalah sipit seperti Teguh.


Setelah Sunar minum air putih, dia kembali menemui anaknya di depan rumah dan langsung menuju ke Stasiun kreta, mereka pun kemudian naik kreta tujuan kroya, mereka hampir saja ketinggalan kereta kalau mereka terlambat satu menit saja. Teguh pulang kampung dan berjumpa dengan Kasmini, mama yang paling dia sayang, mereka kembali mesra layaknya seorang anak dan ibunya, bahkan kali ini kemesraan mereka lebih kental, secara Teguh sekarang sudah tumbuh menjadi seorang lelaki yang sudah layak di sebut orang, Hari ini adalah hari terakhir puasa di tahun ini, namun Teguh tidak menjalankan puasa karena dia sudah berpuasa sebanyak 30hari, pemerintah Indonesia tidak bisa memaksa umat islam untuk menetapkan idul fitri dalam satu hari, memang bukan kesalahan pemerintah tapi juga tidak boleh menyalahkan umat islam.


Dan di hari berikutnya, Teguh tidak menyia-nyiakan waktu untuk memohon ampun pada orang yang telah melahirkanya.

__ADS_1


“Ma Teguh minta ampun ma! Teguh sudah berbuat dosa sama mama, Teguh...” dia sudah tidak dapat berbicara lagi, dia hanya bisa menangis, dia berusaha meraih kaki Kasmini kemudian mencoba menciumnya.


“Sudah lah Guh! Mama sudah memaafkan Teguh dari dulu, semenjak Teguh belum melakukan apapun,” Kasmini pun tidak kuasa untuk menahan harunya, dia ikut menangis, “Mama tidak akan pernah bisa membenci Teguh! Karena Teguh adalah jiwa mama, Teguh adalah segalanya buat mama.” Kasmini memeluk anaknya dan mencium pipi kanannya kemudian pipi kirinya kemudian keningnya, dia pun memeluk lagi tubuh Teguh sampai dia merasa puas, Kasmini seperti kembali menemukan anaknya yang lama hilang, Puji yang dari tadi mengantri pun ikut menangis, selesai sungkem pada mamanya Teguh pun kemudian sungkem pada neneknya yang biasa dia panggil Byunge.


Satu bulan penuh Teguh ada di kampung, dia merasa seperti terlahir kembali, masalah yang selama ini seperti lingkaran syaiton akhirnya menemui klimaksnya juga dan happy ending lah yang dia temui, namun perjalanannnya belum lah di mulai, kini dia harus kembali ke Al-Zaytun untuk meneruskan pendidikannya bersama dengan 1800 lebih teman satu angkatannya, dan Kasmini pun kembali untuk yang ke sekian kalinya memutuskan untuk pergi ke Malaysia, bagi dia Malaysia itu seperti tempatnya bermain, tak beda dengan anaknya, Kasmini pun merasa seperti menemukan hidup yang baru, kepergiannya kali ini tidak ada beban sama sekali, tujuannya pun jelas, dia ingin membuktikan pada anak semata wayangnya bahwa dia adalah seorang ibu yang bisa di banggakan.


***


November 2002


Teguh sedang belajar di meja belajar Asrama, malam ini adalah tiga hari sebelum dia dan semua siswa Al-Zaytun balik kampung untuk liburan tengah tahun ke dua, atau sama saja ini adalah tiga malam terakhir semester tiga, begitu nanti mereka datang lagi ke Al-Zaytun maka mereka memasuki semester empat, sekarang adalah malam terakhir Teguh belajar di semester ini, sebab besok adalah ujian semester hari yang terakhir.


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikum salam.” Seorang petugas 130 datang, mereka murid Al-Zaytun pasti mengenal 130, sebab di setiap asrama pasti ada petugas 130, ruangan 130 adalah ruangan di mana di sana murid menerima kabar dari luar Al-Zaytun, biasanya ada keluarga yang menelpon, atau yang lebih menggembirakan adalah ada tamu buat murid, biasanya yang sering menjadi tamu adalah orang tua atau keluarga dari murid, Teguh tidak pernah berharap ada orang yang menelponnya, apa lagi datang ke sini, Sunar bapaknya setiap malam sabtu selalu menemuinya untuk mengambil pakaian kotornya untuk di cuci, karena semua murid Al-Zaytun tidak di perbolehkan mencuci sendiri, murid Al-Zaytun di wajibkan untuk belajar selama 24jam, dan sekarang Teguh sendirian di ruang belajar ini, jadi dia yang menjawab salam petugas 130 ini.


“Ya saya sendiri bi!” semua guru di sini di panggil dengan sebutan Abi dan Umi.


“Ada telpon buat kamu, sekarang ke bawah ya!” ‘hah ada telpon buat aku? Siapa yang telpon?’ Sungguh Teguh tidak pernah menduganya.


“Dari siapa bi?”


“Dari ibumu, segera ya?” itu artinya Kasmini lah yang menelpon, ‘Berarti ini dari Malaysia?’ Tanpa pikir panjang Teguh langsung berlari ke luar, dia mendahului petugas 130 yang kembali ke ruanganya berjalan, sampai di 130, dia langsung angkat telpon dari mamanya.


“Halo ma!”

__ADS_1


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikum salam.” Saking senangnya Teguh dia sampai lupa mengucapkan satu kalimat sakti milik Islam, “ya ma? Ini dari Malaysia ya ma?”


“Dari kampung, Teguh apa kabar?”


“Baik ma, berarti mama sekarang di kampung?”


“Iya nih, mama sudah di rumah tiga hari yang lalu, kamu bisa balik sekarang tidak nak?”


“Memangnya kenapa ma? Teguh belum bisa balik sekarang ma! Ujian tinggal sehari besok, tiga hari lagi Teguh sampai rumah ma! Tunggu Teguh ya!” dia masih bergembira,sudah lama dia tidak pernah melihat mama, juga dengar suaranya, inilah pertama kalinya setelah setahun.


“Mama ada kabar buat Teguh, tapi Teguh yang tegar ya!” Teguh sudah curiga, kenapa mama semakin pelan suaranya, dia pun mempunyai filling yang buruk, tapi dia mencoba untuk menolak pikiran itu.


“Iya ma! Teguh pasti tegar kok! Tapi kabar apa itu?”


“Tiga hari yang lalu…” kali ini Kasmini menangis, ‘kabar apa sebenarnya yang ingin mama sampaikan padaku’ dalam fikiranya terus bertanya.


“Kok mama menangis? Memangnya ada apa sih ma?”


“Kakekmu sudah tidak ada nak!” tiba-tiba saja serasa tubuhnya tak ada lagi tulang belulang yang menopangnya untuk berdiri, dia lemas, dia terjatuh di kursi yang sebenarnya di siapkan untuknya duduk, dia belum percaya dengan kabar ini, dia merasa baru kemaren di nasehati oleh kakeknya agar dia bisa menjadi orang yang dapat di percaya, karena mencari kepercayaan itu sangat sulit, kejujuran itu adalah harta manusia yang paling mahal, dia harus menjaganya, kakeknyalah yang mendidik dia selama ini, kakeknya yang mengukir kepribadian Teguh semenjak Kasmini memutuskan untuk merantau ke Malaysia, semua tentang kakek langsung terbayang di benaknya, dia memang buruk di warga kampungnya di masa mudanya, tapi itu kan masalalu, dia selalu menjadi kepercayaan orang besar di kampungnya, dan tidak ada orang yang tidak kenal dengan kakek Mad Gasmin, dia adalah sosok yang sangat berwibawa, dia memang suka berbohong, tapi kebohongannya itu untuk menutupi aib keluarganya, dia pun suka mengajari Teguh untuk berbohong, tapi itu demi kehormatan keluarga, seperti misalkan Teguh belum makan, dan dia main ke rumah tetangga, tetangga bertanya,


“Kamu sudah makan Teguh?” maka dia harus menjawab, “Sudah” walaupun sebenarnya dia belum makan sama sekali, kakeknya menjelaskan pada Teguh,


“Itulah yang namanya ‘Perwira’ kita harus menjaga nama kita di hadapan orang ramai.” dia tau itu bohong, dan cukup dia yang tau bila dia bohong, dan kebohongan ini tidak akan merugikan orang lain, Mad Gasmin orang pendiam, dia hanya akan bicara bila ada orang yang bertanya padanya, dia tidak banyak bicara, tapi dia banyak bekerja, dia penuh tanggung jawab, dan dia bukan lah orang yeng pelit, dia orang yang sangat darmawan, dia pernah juga bilang pada cucunya itu begini,

__ADS_1


“Sapto Pandito Ratu” yang makna luasnya, sekali terucap dari mulut, dia tidak akan pernah menarik kata-katanya, dia selalu berusaha untuk tidak mengatakan janji pada siapapun, dan sekali dia berjanji maka dia harus menepatinya, pada masa mudanya dia pernah terjebak dalam suatu kejahatan, hanya karena dia sudah berucap, dan itu lah yang sampai saat ini tak dapat di lupakan oleh warga kampungnya, masih membekas di hati mereka, tapi kejahatan itu dia sudah membalasnya dengan mengabdi pada kampung sepenuh jiwa raganya, Teguh masih belum percaya kalau kakeknya sudah tiada, kenapa begitu cepat dia meninggalkannya? Padahal Teguh belum bisa mengaplikasikan semua yang dia ajarkan pada Teguh, dia berharap dia bisa mewarisi sifat baik kakeknya, amin…


***


__ADS_2