Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 16: Menggapai Mimpi (4)


__ADS_3

Hari ini tak ada yang istimewa, dia baru aja pulang kerja, sekarang jam lima sore waktu Malaysia, sama sekali, blank di otaknya, tidak ada ide apapun, bt’ abiz deh, ini di sebab kan karena semua rancangan yang dia sudah susun sedemikian rupa tidak ada yang terlaksana, memang bener kata orang, tidak akan ada rencana yang berjalan dengan lancar seratus persen, dan dia baru saja membuktikannya, kalau dia inget dengan masalah ini dia jadi sedih, jadi begini, mungkin sudah sebulan yang lalu dia berani mengutarakan rancangannya untuk membuat sebuah film di mushola, yang seminggu berikutnya naskah sekenariao film berjudul “Mimpi Kok Siang Bolong” pun selesai dia tulis, bahkan dia print juga naskah itu, lalu dia serahkan pada pak Yogi, pak Yogi pun membawa naskah dia itu untuk di pelajari, pertama dia bangga pada diri Teguh, karena pak Yogi juga berulang kali memuji karya tulisnya itu.


“Hebat juga kamu ya Guh, setau saya, inti dalam naskah ini adalah seorang pemuda karyawan sebuah kebun, yang ingin membuat sebuah film, tapi kamu memang berbakat Guh, kamu bisa melebarkan konflik di dalam cerita ini, kamu bisa membumbui dengan kisah asmara juga, memang saya kasih jempol buat kamu Guh.” melayang dia di puji begitu tinggi oleh pak Yogi, tapi ini belum selesai.


“Ini yang jadi Bang Yon dan Kak Risma siapa? Mereka memang suami istri kan?” cerdas emang pak Yogi, dia bisa langsung menebaknya, “bagus itu, kalau tidak suami istri bisa bahaya tu Guh, tapi untuk adegan ini Guh!” Pak Yogi menunjuk tulisan-tulisannya, dan dia langsung memahami maksud pak Yogi, “ini sangat bahaya Guh! Ini bisa mengarah ke musrik…” sampai di sini lah cerita tentang tanggapan pak Yogi pada naskah yang di pelajarinya, dia bilang pak Yogi benar, kalau di lihat dari kacamata islam, memang begitu, tapi dia membuat sekenario ini berdasarkan apa yang dia lihat di kawasan ini, bukan musholanya, dan memang salah dia kalau dia kaitkan social dengan agama, dan memang tidak bisa di samakan kan? intinya pak Yogi sampai sekarang tidak kasih pinjam dia handycam yang di janjikannya pada Teguh, tapi dia tak mau menyalahkannya, dia tau siapa pak Yogi, seorang pelajar, pasti dia sibuk banget, dan dia juga tau otaknya juga sama besarnya dengan otak yang dia miliki, apa yang di rasakan pak Yogi bisa dia rasakan, tapi dia yakin, apa yang dia rasakan sekarang tidak akan pernah di sarakan oleh pak Yogi. Sungguh sengsara.


Satu bulan sudah dia lewati dengan hanya kerja dan kerja, dia sudah lupa dengan obsesinya, dia sekarang sedang focus dengan pekerjaannya, Terus laptopnya buat apa dong? Laptopnya tidak ada hubungannya dengan obsesinya tuk jadi sutradara dan membuat film, kalau obsesinya baru berhubungan dengan laptop, laptopnya ya tetep dia oprasikan sebagaimana dia beroprasi, sekarang kan dia sudah punya modem, jadi laptopnya lebih sering untuk internetan, seperti niat awalnya, dia belajar perfilman lewat internet, banyak pelajaran yang sudah dia dapat dari dalam internet, dari sini lah kemudian dia buat sebuah alamat facebook, mudah-mudahan dengan alamat facebook ini dia bisa kembali membuka harapannya tuk menggapai mimpinya.


Ada kabar baik datang dari Eko, ketua geng tai, dia sudah beli handycam, kabar yang sangat mengejut kan sebenarnya, tak di sangka kalau dia bakal beli handycam, ini membuat Teguh kembali optimis untuk kembali membuat filmnya ini, „Mimpi kok Siang Bolong‟ akan segera menjadi kenyataan, dia pun kembali mengeluarkan sekenario filmnya itu yang sudah satu bulan berada di dasar lemari. Rencana berikutnya adalah menghubungi pemain-pemainnya yang sudah dia data dulu, Deglag, Rasno, Cenot, Oma, kalau Eko sih kayaknya tidak perlu di hubungi, kan dia yang punya handycam, terus Kang Yono dan istrinya, satu lagi yang sangat penting Yuna, peran antagonis di filmnya ini. Semuanya harus dia rancang lagi, rasanya tidak perlu dari enol, cukup lanjutkan apa yang sudah ada dulu.


***


Pupus semua harapan yang selama ini Teguh bangun, dia sudah lupa, karena Eko aja sekarang sudah di kampung, dia pulang kampung, awal bulan Ramadan ini, dengan kakaknya sekali, dan sudah tentu dengan handycamnya juga, sekenarionya? dia taruh lagi di tempat dulu dia keluarkan, yaitu di dasar lemarinya, sampai setahun kemudian saat Teguh mempunyai semuanya, baik itu Laptop maupun handycam, dia merencanakan untuk kembali mewujudkan impiannya membuat film di kampungnya, jetis.


Tiga pemuda, Teguh, Fery, dan Manto, mereka merencanakan sesuatu, apa yang mereka lakukan? Teguh mencetak sebuah sekenario yang telah dia buat, sekenario film, karena banyak kendala, akhirnya Sekenario ini terbengkalai, sekarang Fery dan Manto sering main kerumah Teguh, karena itu lah mereka jadi tau tentang Teguh hingga mendalam, mereka tau kalau Teguh suka menulis cerita, dia juga suka membuat film dukumenter, yang sebenarnya cita-citanya adalah membuat film bioskop, banyak sekenario yang sudah di persiapkan Teguh untuk membuat impiannya tercapai, tapi sekenaro yang dia cetak ini adalah sebuah sekenario film Indie, Manto di sini adalah orang yang memegang kamera, atau cameramen, Fery menjadi pemeran utamanya yaitu Nagun, dan Teguh menjadi sutradaranya merangkap menjadi Antagonis dalam film ini yaitu Ekong, yang akhirnya antara Nagun dan Ekong menjadi sahabat baik, sekarang tujuan mereka adalah mencari pemain, karena usul dari Fery lah kemudian muncul gagasan ini, yaitu membuat film, berita Teguh mau membuat film menyebar dengan begitu cepat, tapi mereka belum berbuat apa-apa, akhirnya mereka sepakat untuk mendatangi orang-orang yang dulu waktu di Malaysia memerankan peran di sekenario ini, dia ke desa Gubugan, ke Karang Pakis, juga ke desa Mbodo, pemain pun terkumpul walaupun memerlukan waktu seminggu, hanya satu orang yang menolak untuk kembali memerankan perannya, akhirnya ini menjadi kendala mereka, mereka harus mencari penggantinya, lagi-lagi Fery yang mengusulkan seorang cewek, karena peran ini adalah peran kunci, tapi ternyata walaupun awalnya cewek tersebut setuju, karena pacar dari cewek itu melarang, ya tidak jadi, untuk itu, mereka menghentikan pencarian dan memutuskan untuk mengambil gambar yang pemainnya sudah lengkap.


Minggu pagi mereka bersiap shooting, mereka menetapkan sungai perbatasan antara cilacap dan kebumen sebagi lokasi shooting pertama, lagi-lagi salah satu pemeran ada yang tidak siap, Teguh merasa sedikit kecewa sebenarnya, tapi mereka masih ada Fery dan juga Manto yang masih mendukungnya, karena mereka butuh seorang cewek, akhinya…

__ADS_1


“Kamu aja ya Dek?” Fery menunjuk Fitri untuk menjadi pemeran utama wanita, karena mereka sudah bersiap untuk menuju ke lokasi shooting, saat itu Teguh sudah ada konflik dengan Fitri.


“Ih ngga mau lah, aku malu…” Fitri menolak dengan tertawa lebar, Manto atau pun Family Fitri yang lain tak ada yang tau setatus mereka, status Teguh dan Fitri. Tapi Teguh tak perduli dengan statusnya, sekarang dia hanya ingin focus pada impiannya, walaupun sebenarnya tujuan Fery mengusulkan rencana ini agar liliknya itu bisa pendekatan lagi sama Fitri, namun ada positive-nya juga rencana Fery ini.


Mereka, rombongan Teguh sudah sampai di tepi sungai perbatasan, mereka langsung menuju lokasi, terlihat indah semua yang ada di sana, pegunungan yang terlihat hijau, perahu yang berlalu lalang baru kembali dari laut, ada juga yang baru mau ke laut, Teguh pun mulai mengarahkan semua krew kecilnya, begini-begini, begitu-begitu, semua menuruti arahannya kecuali seorang Fitri, yang masih saja menolak untuk memerankan perannya, ini membuat Teguh putus asa lagi, dia pun menyerahkan Fitri pada Fery.


“Maunya kamu apa sih Dek? Apa kita mau cari lokasi lain?”


“Di sini rame sih, aku kan malu.”


“Berarti kalau ke lokasi lain kamu mau? Kalau begitu, Lik! Ayo kita ke bedahan Karang Pakis!” mereka pun langsung bergegas menuju lokasi yang Fery maksud, Manto naik motor Fery, dan Fitri naik motor Teguh, Fery dan Manto di depan, Teguh dan Fitri mengikuti mereka dari belakang,


Sampai di lokasi, komentar Teguh dengan lokasi yang baru ini cukup bagus, walaupun tidak sebagus lokasi pertama, mereka pun mulai menyiapkan semuanya, 90menit pun berlalu, take di ulang beberapa kali, itu tidak penting bagi mereka, yang penting shooting selesai.


Pada hari berikutnya, teguh berniat untuk kembali melanjutkan shootingnya, dia menemui semua krew maupun pemainnya, dia datang ke rumah Rasno, karena memang lokasi shootingnya di rumah Rasno, shooting berjalan lancar sesuai rencana, melangkah ke lokasi lain, sekarang giliran take Deglag, tapi cuaca sangat panas, dan lokasi shooting di luar dan tempat yang ramai orang, itu artinya kemungkinan penonton tak di undang juga akan banyak, Teguh memutuskan untuk istirahat dulu, tapi tiba-tiba saja Deglag memutuskan untuk mundur dari shooting ini.


“Guh! Sorry banget deh! gua belum siap terkenal, gua ngga sanggup, gua mundur, sorry banget ya Guh!”

__ADS_1


“Tapi kita sudah di tengah jalan Glag.”


“Iya gua tau itu Guh, tapi gua belum siap, gua masih malu Guh,”


“Yasudah, gua ngga mau maksa elu.” Deglag dan Rasno pun pergi, kecewa, semua krew dan pemain yang lain jadi kecewa, sungguh pukulan yang luar biasa, Yono, yang mempunyai peran kunci di film ini, dia benar-bener merasa kecewa dengan kabar mundurnya Deglag.


“Kok bisa Guh! Mungkin perlu aku datangi dia dulu Guh!”


“Ngga perlu kang! Biarin aja, kita cari pemain lain lagi aja.”


“Tapi Guh kita sudah di tengah jalan…”


“Udah ngga apa-apa kang, kita kan ngga ngebayar dia, kita hanya menuntut kerelaannya aja.”


“Iya juga sih…” perlahan runtuhlah semangat untuk menemui Deglag.


Semangat untuk membuat film masih membara di jiwa Teguh, namun apa lah daya dia harus menerima bahwa menggapai mimpi tidak cukup hanya dengan waktu yang singkat, dia harus rela berkorban waktu, tapi kalau bicara berkorban waktu, Teguh sudah berkorban begitu banyak waktu, karena dia sebenarnya sudah terobsesi menjadi sutradara semenjak dia masih di kelas II SMA, itu artinya dia sudah menghabiskan waktu selama 8tahun, dalam waktu 8tahun itu dia sudah melakukan banyak hal, dari yang ikut casting-casting ke Productin House besar, sampai ikut audisi pencarian bakat Actor dan Actris pendatang baru, menjadi clining servis, whaiter restauran, Office boy, memang sih itu ngga berhubungan dengan obsesinya menjadi Sutradara, tapi itu berhubungan dengan kelangsungan hidup di Jakarta, karena dia butuh makan.

__ADS_1


***


__ADS_2