Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 18: Sebongkah Karang


__ADS_3

July 2012


Waktu berlalu begitu cepat melaju bagai kan pesawat tempur, kehampaan tanpa cinta pun terlewati tanpa ada lagi yang mampu membuat goresan pada hati Teguh Prayitno, segala apa yang dia lakukan tanpa sebuah perencanaan lagi, dia sadar bahwa hanya rencanaNya lah semua akan berjalan sesuai yang di rencanakan, langit masih biru, laut masih bergelombang, gunung masih terus mengeluarkan asap tebal, itu tanda bahwa bumi masih akan terus berputar, bermakna juga hidupnya masih akan berlanjut,


Seperti air sungai yang pasti kan menuju kelaut, dalam kehampaannya itulah kemudian hadir seorang dara nan cantik, seorang perempuan bernama Icha Elisa, perempuan yang mengharapkan cinta darinya, maka tanpa suatu perencanaan yang seharusnya di lakukannya dia menerima dengan begitu saja, meski dia tak punya rasa cinta untuknya namun dia ingat satu pepatah jawa yang berbunyi, “Tresno niku jalaran soko kulino” yang berarti cinta itu di sebab kan karena kebiasaan, pepatah ini bermakna juga bahwa tidak akan pernah ada cinta bila tak pernah bersua, itu sama juga artinya pepatah ini tidak berlaku untuk cintanya pada seorang Shireen Sungkar, juga cintanya pada seorang Attin, kalau di telusuri, semua cinta yang pernah di alami oleh Teguh tak ada yang sesuai dengan pepatah ini, semua berlawanan, lalu mana yang sesungguhnya benar? Kini dia ingin membuktikan bahwa pepatah itu benar dengan cara menjalani hubungan dengan Icha, tanpa satu perasaan apapun, ya mungkin ada sedikit perhatian padannya, apakah perhatian bisa di artikan cinta? gejolak dalam hati memang menolak apa yang di lakukannya, namun dia hanya ingin membuktikannya saja.


Hubungan itu berjalan beberapa hari, dan memang benar, perhatiannya pada Icha mulai bertambah, ke khawatiran akan semua tentang Icha mulai tertanam, namun ada yang mengganjal, dia tidak mempunyai cemburu pada setiap lelaki yang dekat ataupun pada lelaki yang dulu pernah menjadi pacarnya, begitu banyak lelaki yang sering di ceritakan Icha pada dirinya, dia tak punya cemburu, justru Icha marah bila Teguh membandingkannya dengan orang lain, terutama dengan orang yang pernah di cintainya, yang sampai saat ini masih ada dalam hatinya, mungkin mustahil baginya untuk membuang semua perasaan itu, dia hanya bisa membelenggu perasaan itu dia menyegel belenggu itu untuk tidak keluar lagi ke permukaan. Dia masih focus pada seorang Icha, rencana mulai dia kenal lagi, masa depan yang cerah tergambar dengan jelas di benaknya, hidup dengan orang yang tak dia cintai, mempunyai sebuah istana kecil di atas bumi, betapa indah rencana yang dia bentuk dalam minda otaknya.


“Hallo ma!” Kasmini, mamanya lah yang pertama di kabarinya tentang masa depannya itu.


“Ya mas? Ada apa?”


“Ngga, kepengen curhat aja ma!”


“Curhat tentang apa lagi nih?”


“Mamas punya rencana untuk kasih mama menantu.”


“Menantu? Hah, bagus lah kalau anak mama sudah berfikir ke arah itu, lalu siapa dan orang mana yang Mamas tawarkan pada mama?”


“Masih orang kampung kita juga ma!”


“Kalau begitu kasih mama nomer telpon calon menantu mama itu, mama mau tanya keseriusannya, mama ngga yakin dia mau terima anak mama yang jelek ini.”

__ADS_1


“Ya boleh, tapi mamanya juga di Malaysia ma, mama mau langsung komunikasi aja sama calon besan mama?”


“Hah boleh juga, tapi apa mamas sudah yakin dengan rencana mamas ini”


“Seratus persen ma.”


“Mama ngga mau kalau mamas hanya akan di permainkan olehnya, seperti perempuan yang sebelumnya.”


“Iya ma mamas sudah yakin.”


“Kalau begitu sekarang juga mamas kirimkan nomer telpon calon mertua mamas itu, mama mau membuat rencana juga sama calon mertua anak mama ini.” Sedikit kegembiraan terbentuk lagi dalam hati Teguh, tak akan ada yang tau apa yang akan terjadi di keesokan hari setelah hari ini. Komunikasi via Telpon terus berlanjut dengan Icha yang sudah ada di Jakarta, komitmen sudah di terima oleh Icha yang baru berusia 16tahun, mereka jadi saling tukar suasana, saat Icha gundah atau bermasalah, Teguh ikut merasakannya, tapi yang pasti Teguh tidak pernah lagi bertemu dengan kegundahan, dia hanya bertemankan kegembiraan, meski saat ini dia belum bisa memberikan hatinya untuk Icha, tapi dia mulai yakin kalau pepatah jawa itu bisa dia buktikan, bahwa dia akan bisa mencintai Icha dengan benar-benar cinta.


Hingga suatu saat Icha menceritakan tentang Ayahnya yang tidak siap bila Icha harus menikah muda, mulai lah kegundahan di hatinya hadir kembali.


“Ya mau lah mas, Aku kan sudah memegang komitmenku, aku cinta sama kamu.”


“Kalau begitu perjuangkan! Apa perlu aku datang ke rumah kamu dan langsung membicarakan hubungan kita dengan ayahmu?”


“Jangan dulu lah mas!”


“Kanapa? Sekarang ataupun besok kan sama saja, aku ngelamar kamu juga?”


“Ayahku sih pasti akan menerima lamaran Mas Teguh kalau suatu saat nanti Mamas ngelamar aku, tapi dia ngga mau kalau Icha menikah muda.”

__ADS_1


“Kalau begitu pegang komitmenmu, aku akan menunggu kamu!”


“Iya mas aku akan mencobanya.”


“Tapi Cha, kalau boleh tau, apa yang membuat Ayahmu ragu sama aku?”


“Dia tau kalau Mas Teguh udah pernah ngelamar teman Icha?”


“Teman yang mana? Itu gossip Cha.”


“Iya Icha tau itu, masalahnya kan Ayah punya teman banyak, jadi dia tau dari teman-temannya.”


“Mungkin yang di maksud Ayahmu itu Fitri, tapi kan aku belum sempat melamarnya, dia sudah berpaling dariku semenjak aku masih di Malaysia dulu.” Nama perempuan yang pernah membuat hatinya tercabik menjadi beribu keping itu pun tersebutkan di dalam komunikasinya dengan Icha, yang saat ini dia sedang berusaha menanamkan cinta padanya.


Komunikasinya dengan Icha mulai terhambat, nomer telpon yang dia hubungi aktif tapi tak ada jawaban dari sang pemilik telpon, kembali kegundahan menemani dirinya dengan setia.


Sedangkan Kasmini, mama dari Teguh sudah menghubungi mamanya Icha di Kuala lumpur ibu kota Negara Malaysia, mereka sudah merencanakan lebaran ini akan mengadakan pertemuan sekaligus lamaran Teguh pada Icha, namun setelah semua itu terjadi.


“Aku tau ini keputusan berat Mas, tapi aku harus memutuskannya, aku masih terlalu dini untuk menjadi seorang istri untuk mas Teguh.” Sebuah sms yang sangat membuat jantung Teguh berdegup melaju begitu kencang, hingga menusuk jauh ke dalam serasa jantung itu sudah lelah tuk memompa darah demi keperluan tubuhnya.


“beribu kali maaf aku ucapkan, aku tau mas Teguh pasti tidak akan pernah memaafkan Icha, tapi sekali lagi Icha minta maaf sama mas Teguh, Icha tidak bisa pegang komitmen, Icha mundur mas!” tanpa Teguh ketahui alasan apa yang menjadi pegangan Icha, hingga tiba-tiba dia memutuskan untuk berhenti dan mundur dari perjuangannya. Teguh masih belum bisa membalas sms dari Icha yang sudah lebih dari lima sms yang bertuliskan kemundurannya.


***

__ADS_1


__ADS_2