
Dengan menjadi perantara Teguh punya usaha mencucikan baju teman-teman sekolahnya, dia yang mengumpulkan baju itu dan bapaknya yang mencuci, itu menjadi pendapatan untuk Teguh yang tak pernah meminta uang pada bapaknya, hasil dari cucian itu pun di bagi dua, buat ibu tirinya dan buat dia sendiri, terkadang ibu tirinya tidak terima dengan pembagian itu karena terkadang semua uang yang di dapatnya dia gunakan untuk keperluan sekolahnya, juga untuk iuran Theater, pertengkaran dengan ibu tirinya pun tak terelakkan, namun masih beruntung karena Sunar, bapak Teguh adalah orang yang sangat sabar, dia selalu melerai dua orang yang dia sayang itu.
Dan kali ini Teguh sedang duduk di kantin umum dengan seorang cewek yang dia kenal.
“Kak!”
“Iya Iyam!” dia lah Maryam.
“Kalau setiap hari kakak traktir Iyam, nanti kakak bisa bangkrut lho.”
“Kok Iyam ngomong gitu sih?” Teguh memakai kemeja berlengan panjang orange, celana bahan berwarna hitam, ga nyambung banget, dan di depannya, Maryam pake krudung putih, baju warna merah dan rok panjang berwarna putih, cocok banget, kayak bendera Indonesia merah putih, “tapi kan kakak ngga setiap hari traktir Iyam, cuman hari jum’at aja, setelah sholat jum’at, jadi kakak ngga akan bangkrut.” di kantin ini mereka tidak berdua saja masih banyak murid lain di kantin umum ini, mereka berpakaian rapih-rapih karena mereka baru pulang dari masjid.
“Maryam!”
“Masya Alloh Zizah!!!! Iyam ada di sini Zah! Iyam ada di kantin! Bukan di hutan.” Tiba-tiba Zizah nyamperin mereka berdua dengan mengejutkan Maryam, si gendut itu memang anaknya ceria, sekarang aja dia masih tersenyum setelah puas membuat Maryam terlonjak dari kursi yang di dudukinya.
“Makasih ya kak, mie ayamnya, kak, Iyam kan ngga suka sama mie ayam, kok dia di traktir mie ayam juga sih?”
“Ye… kata siapa Iyam ngga suka Mie ayam? Iyam tu ngga suka sama sambelnya aja.”
“Terus kenapa belum di makan tu mie ayamnya?”
“Tungguin kamu biar makannya bareng sama kamu, ntar kan habisnya bareng.”
“Udah ah… jangan ribut terus, kapan mau makannya? Yuk kita makan!” Teguh mencoba melerai mereka, dan mereka pun diam, mereka mulai focus pada mie ayam mereka. “O iya Yam, bagaimana kabar Rahmat?”
“Rahmat? Ngga tau kak, dua hari ini kita ngga ketemuan.”
“Kenapa emang?”
“Ngga tau kak.” Zizah gendut masih asyik dengan mie ayamnya, sedang Iyam masih main-main dengan mangkuk yang berisi mie ayam.
***
Sekarang bukan hari jum’at juga tidak di kantin, Teguh dan Maryam berada di antara dua gedung besar Asrama Rijal dan Asrama Nisa’, Maryam duduk di sebuah beton tepi jalan, Teguh berada tepat di sampingnya.
“Iyam bingung kak!”
“Kalau menurut kakak, Iyam salah kalau tiba-tiba Iyam minta putus lagi dari Rahmat, ngga logis tau, secara kemarin Iyam terima dia dengan suka rela, sekarang Iyam putusin dengan sepihak.”
__ADS_1
“Terus Iyam harus gimana?”
“Kakak dukung semua keputusan Iyam, tapi dengan satu syarat.”
“Syarat?”
“Iyam tau kan, Rahmat itu temen kakak, walaupun sekarang kakak kelas tiga SMA dan dia tiga SMP seperti Iyam, tapi dia temen main kakak, kakak ngga rela kalau dia di sakiti sama cewek, apa lagi itu Iyam.”
“Jadi? Iyam harus gimana?”
“Iyam buat satu alasan yang logis, yang mungkin Rahmat bisa teriama keputusan Iyam, dengan begitu Iyam ngga bohong sama Rahmat, karena kakak ngga suka cewek pembohong. Oke?”
“Alasan?” Iyam pun mulai memutar otaknya, dia mencari alasan. “Iyam tau kak, bagaimana kalau Iyam pake alasan kalau Iyam belum boleh pacaran sama mama juga bapa?” Teguh yang ada di samping Iyam, diam sejenak.
“Boleh juga, kalau kakak jadi Rahmat, kakak pasti akan terima alasan itu Yam, tapi itu ada unsur bohongnya Yam.”
“Ngga juga kak, emang Iyam belum boleh pacaran sama mama.”
“Oke, kalau begitu kakak terima. Kapan Iyam mau nemuin Rahmat?”
“Iyam ngga berani nemuin dia kak, Iyam mau tulis surat aja.”
“Kalau begitu sukses ya! Kakak mau balik ke kamar dulu, bentar lagi sholat ‘asar.”
“Gue masih punya harapan.” Teguh marasa senang, “Iyam! Kenapa sih kamu belum bisa juga ngerasain perasaan gue ini?” sepertinya dia memang suka sama Maryam, dia memang ada rasa sama cewek bernama Maryam Thowilah ini. Bener-bener sesuatu yang susah di mengerti.
Dia ada di atas gedung, bukan atas gedung tapi Teguh ada di dalam gedung asrama, dia sedang berjalan di selasar, atau koridor asrama, ada banyak pintu-pintu, dan di atas pintu itu ada nomer kamarnya, dia berhenti di salah satu kamar yang bernomer 505, kemudian dia masuk tanpa mengetuk pintu, begitu dia membuka pintu itu, di dalam kamar ada banyak anak muda, jauh lebih muda darinya, Teguh lihat seorang pemuda yang sedikit kurus, emang dia kurus, bukan sedikit lagi, dia sedang membaca selembar surat, Teguh tau itu pasti surat dari Maryam, dia pun mendekat ke Rahmat cowok yang baru saja di putusin secara sepihak oleh Maryam.
“Eh, Teguh, kabar buruk nih Guh!”
“Ah? Kabar buruk? Maksud elu apa Mat?” Teguh pura-pura tidak tau, apa ini bisa di bilang jahat?
“Iyam mutusin gue lagi Guh! Nih suratnya, lu mau baca?”
“Engga lah, emang dia ngomong apa?”
“Alasanya ngga masuk akal Guh! Masa dia ngga boleh pacaran sama mamanya, kenapa ngga dari dulu dia bilang ke gue?” Teguh kelihatan seperti kebingungan, dia tak bisa ngomong apa-apa, “Nih gue mau bales suratnya, gue kasih dia lagunya Ungu, yang judulnya ‘jika itu yang terbaik’ cocok banget lagunya Guh.” Teguh tak tau apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tau Rahmat pasti sedang kecewa banget sekarang ini, belum seminggu dia jadian lagi sama Maryam, kalau saja Teguh yang jadi dia, pasti dia juga kecewa, tapi Teguh bukan dia, lain banget sama Teguh yang sekarang masih duduk di sebelah Rahmat, dia kelihatannya tidak sedih, dia kelihatan senang, tapi tidak mungkin kesenangannya itu akan di tunjukan ke Rahmat.
***
__ADS_1
Sepuluh orang sedang bermain bola di jalan beton di samping gedung, tapi gedung ini lain dari gedung asrama, pepohonan juga ada di tepian jalan beton ini, rindang, mereka riang semua, mereka berteriak-teriak, di antara mereka ada Teguh, dan ada juga Rahmat, Teguh terjatuh, dia lemas dan tak mau mengejar bola lagi, sepertinya dia sudah kelelahan, dia duduk di beton tepian jalan, membenarkan tali sepatu yang lepas, serombongan cewek datang dari jauh, mereka berhenti bermain bola begitu menyadari kehadiran cewek-cewek.
“KTP!” sepertinya di antara cewek itu ada yang menyebut nama beken Teguh, dia pun menoleh, seorang cewek yang sudah dia kenal melambaikan tangan memintanya mendekatinya, bukan lain dia adalah Maryam, dia jadi tak enak hati sama Rahmat, semua temen-temennya melihat Teguh dengan canggung, tapi dia mencoba cuek, dia bangkit dan mendekat ke Maryam.
“Ada apa Yam?”
“Temenin Iyam yuk kak! Sebentar aja.”
“Iya deh.” tanpa ragu Teguh menerima tawaran Maryam, karena memang itu yang di harapkannya, “Mat! Gue jalan dulu ya!” dia pamitan sama Rahmat dengan sedikit canggung karena perasaan tidak enak. “semuanya, gue pergi dulu ya!” temen-temen Maryam sudah jalan dulu di depan, Teguh jalan berdua sama Maryam di belakang mereka.
“Kak! Iyam sudah kasih surat buat Rahmat kemaren hari rabu.”
“Iya, kakak sudah tau, Rahmat sudah kasih tau kakak, dia kecewa banget tau Yam!” sekilas Teguh menoleh ke belakang melihat Rahmat dari jauh, dia memandang Teguh dengan kesal, bagimana tidak, Maryam kan mantan ceweknya, dan dia jalan berdua sama Teguh, temannya sendiri.
“Menurut kakak gemana?”
“Gemana apanya Yam? Iyam mau balikan lagi sama Rahmat?”
“Ih… ngga mau lah kak, bukan itu kak, gemana sekarang?”
“Iya, bagaimana apanya, yang mana yang Iyam maksud?”
“Ada cowok lain lagi yang ngejar-ngejar Iyam.”
“Wah… lebih baik Iyam jauhi cowok dulu deh! Itu demi kebaikan cowok-cowok yang dekat dengan Iyam!”
“Lho kenapa? Kakak coba mengatur Iyam.”
“Bukan begitu Yam! Kan kakak sudah bilang, demi kebaikan cowok-cowok lain, kakak kenal Rahmat, dia itu masih suka sama Iyam, Iyam masih inget alasan Iyam mutisin dia?”
“Karena ngga boleh pacaran sama mama.”
“Nah tu Iyam masih ingat, jadi Rahmat tu masih menunggu Iyam balik lagi sama dia, sesiapa yang berani ngedeketin Iyam, dia harus bener-bener extra hati-hati. Iyam ngga ngeliat bagaimana Rahmat ngeliat kakak jalan sama Iyam?”
“O jadi begitu? Itu artinya urusan Iyam belum kelar sama Rahmat.”
“Pinter banget Iyam, sekarang tugas Iyam beresin urusan Iyam dengan Rahmat, kakak lihat dari jauh aja ya! O iya Iyam tau ngga kenapa banyak cowok yang ngejar Iyam?”
“Kenapa kak?”
__ADS_1
“Karena Iyam begitu mudah untuk di sayangi.” Teguh keluarkan kata-kata terakhir dengan begitu lembut, itu membuat Maryam sedikit tersipu malu, kenapa dia tak jujur aja sih sama Iyam, coba kalau Teguh berani bilang ‘I Love You’ gitu, dia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan lagi pacaran, dia akan mencari orang yang benar-benar mau menjadi pasangan hidupnya, apa bila itu sudah menjadi keputusannya sama saja itu artinya dia tidak mungkin mencari cewek yang masih sekolah di Al-Zaytun, tapi alangkah baiknya jika dia jujur dengan perasaannya sendiri?
***