Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 11: Inspirasi (5)


__ADS_3

Sedikit demi sedikit dia mencoba tuk menjauh dari Ayu, dia sekarang punya sepeda ontel, jadi kalau berangkat kerja naik sepeda, ngeri juga naik sepeda di jalan raya, tadi aja waktu dia berangkat kerja tangannya kecantol sama setang motor, untung aja dia tidak roboh, kalau roboh? habis lah dia di lindes mobil, tapi dia bawa enjoy aja.


Dia tadi ngeliat ada cewek cleaning service, cakep anaknya, putih, rambutnya pendek, tiba-tiba saja cewek itu lewat, Teguh pun kembali memperhatikannya, dia belum tau namanya siapa, dia kan kerja di sini belum lama-lama amat, kira-kira dia bisa tidak ya jadi pengganti Ayu? Entahlah, yang jelas setiap kali dia inget Ayu, dalam dadanya ada yang menyayatnya, tapi dia harus ngelupain Ayu! kenapa dia selalu saja harus melupakan manusia yang sedang dia cintai, semuanya, dari mulai cinta monyetnya pada Tusmiati, terus datang Kuwat menggantikannya, lalu datang Intan dengan senyum manisnya, tiba-tiba datang Yani merebutnya dari Intan, Yani dia putusin, Zahra dan Maryam kasih harapan ke dia, harapan tak kesampaian dia merana, lalu masih mencari cinta datang menghibur si Titi, lalu Vina datang tak di undang, terakhir kini hadirlah Astuti Tri Ratna Hartayu, dengan kesempurnaan yang sempurna, yang belum pernah dia alami sebelumnya, terpesona pada pandangan pertama.


“Hallo ma!” sudah lama dia tak pernah menghubungi Kasmini mamanya, semalam lah pertama kalinya dia menghubungi mamanya, dan sekarang dia juga ingin kembali mendengar suaranya.


“Ya hallo! Apa hal mas?”


“Saje…”


“Eh mas! Mamas ada kawan anaknya pak RT tak?” Teguh tidak mengerti apa yang di maksud mamanya, semenjak Afiq lahir Kasmini jadi terbiasa memanggil anaknya dengan sebutan ‘mamas’


“Anaknya pak RT mana?” tapi kemudian dia ingat, si Beti kan anaknya pak RT di kampungnya, “O…Beti ya ma? Ada.”

__ADS_1


“Mamas suka ke?” Teguh pun kali ini lebih terkejut.


“Apaan sih mama? Kita emang suka telpon-telponan, kita cuman curhat-curhatan kok, kita cuman teman.”


“O…ingat kan mamas suka, mama pun suka, sebab mamanya Beti tu kawan mama, dia yang tau kisah tentang mama, masa dulu buat pergi ke Jakarta, mama tengah mengandung Teguh, dia jual ayam dua ekor buat mama pergi ke Jakarta, dia tau hal itu Guh.” Dia lah Paerah sahabat terbaiknya dulu, dan Beti adalah anaknya.


“Mama tau dari mana? Kalau mamas punya kawan Beti?”


“Udah ya ma! Teguh mau kerja lagi nih.” begini kerjaan Teguh tiap hari, naik turun lift sampai bosen.


***


Oh cinta…oh jiwa…oh yang kuasa. Males banget dia mau bengun hari ini, serasa dia tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, mungkin sekarang sudah jam sebelas siang, dia bener-bener males, dia males, males dan males, buat apa dia bangun, kalau setelah bangun dia hanya akan merenung? Kamera Teguh kan lagi di pinjam sama Ayu, kemaren pagi waktu dia mau berangkat ke Glodog, dia di datangi Ayu sama kakaknya, Ayu kan kemaren juga ada acara, yaitu ngerayain pernikahan kakaknya, pasti kemaren bagi Ayu adalah hari yang penuh kebahagiaan penuh canda tawa, dan Teguh? dia adalah manusia tersedih di dunia, sungguh bagaikan langit dan bumi, bagaikan juga Ayu dan Teguh, yang akan selalu berbeda, mungkin selamanya mereka takkan sama, tak akan pernah sama, Teguh kemaren habis dari tempat ‘audisi selangkah menjadi bintang layar lebar 2008 bersama Rudi Soejarwo’ yang bertempat di mega glodog kemayoran, tapi ternyata dia juga gagal mewujudkan mimpinya. Setelah itu dia kembali mengingat manusia yang selama ini terus mengganggu hidupnya, mengusik fikirannya dan terus membayangi langkah-langkahnya dialah Ayu.

__ADS_1


“Andaikan aku bisa ungkapkan perasaanku sama kamu Yu, tapi itu ngga mungkin, sudah begitu banyak lelaki yang mengatakan bahwa dia suka sama kamu Yu, dan begitu banyak lelaki yang masih menunggu kata putusmu Yu. Dan di antara mereka terdapat aku Yu, aku manusia tak berdaya ini, aku ngga, aku ngga sanggup tuk mengatakan bahwa aku adalah lelaki yang paling untukmu, aku ngga sanggup tuk katakan bahwa aku adalah lelaki yang paling mencintaimu, aku juga ngga mampu tuk katakan bahwa aku adalah lelaki yang sempurna untukmu, karena mereka yang mencintaimu, mereka yang menyayangimu, mereka yang rela berkorban untukmu, pasti akan mengatakan satu kalimat yang sama, satu harapan yang sama, dan yang mampu aku katakan adalah aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku bahagia bila aku melihat senyum manis merona di wajahmu, aku ngga mau melihat air mata menetes di pipimu, aku ngga bisa lupa akan manisnya wajahmu, betapa sucinya hatimu, betapa sholeh pendirianmu, dan aku takut tuk memilikimu, aku tak pantas untukmu, aku yang hina ini tak akan bisa bahagia kan dirimu, karena aku hanyalah seorang pengembara cinta, sang pencari sejati, entah kapan aku bisa berlabuh dan menetap di satu darmaga cinta yang sejati.” Inilah ungkapan hati Teguh yang dia goreskan dalam buku novelnya yang berjudul ‘Pengembara Cinta’ sebuah buku yang terinspirasi dari seorang Ayu yang sangat dia cintai saat ini tentunya, dia berencana akan memberikan buku itu pada Ayu bila sudah selesai nanti, dan ini adalah bentuk cintanya untuk Ayu, kisah tentang perjalannya menemukan Ayu.


Dia sekarang mau ketemu sama Ayu, mungkin kameranya sudah selesai, tapi entar habis dia sholat dhuhur. Dia mau mandi dulu, wudlu, sholat, baru lah dia ke ITC.


Kalau sudah rapih begini kan mau ngapa-ngapa juga pede, sekarang dia mau telpon mamanya, dia mau bilang ke mamanya kalau dia siap terbang ke Malaysia kapan saja, tapi dia takut mau ngomongnya, akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dia pun beraniin, biasa, dia cari nama mamanya di hapenya, „mama‟ langsung dia telpon.


“Hallo ma? Mamas sudah siap ke Malaysia, mamas sudah berubah pikiran.”


“Ya…baguslah kalau begitu…” sepertinya harus di sensor sedikit, aslinya Kasmini tu banyak ngomong, tapi dia ngomongin yang Kasmini pernah ngomong ke anaknya dulu, dia sudah siap berangkat ke ITC, dia pengen ketemu Ayu, itu tujuan utamanya, dan memang selama ini setiap dia ke ITC, tujuan utamanya adalah Ayu, tak ada tujuan lain, paling kalau tidak nyetak foto, ngapain kek buat alasan agar dia bisa ngeliat wajah manis Ayu, biasa, dia bawa sepeda ontelnya, dia santai aja, untuk melipur sedikit kesedihan yang menimpa dirinya dia pun teringat kenangan indah bersama Ayu hari senin yang lalu, kenangan terindah yang sudah dia abadikan dalam novel yang sudah dia tulis dengan tangannya sendiri.


“Aku nonton Ayat-ayat cinta bareng Ayu tau, tau ngga, saat itu adalah saat paling romantis, saat paling istimewa, paling special banget, ngga ada hari seindah hari itu, aku sama Ayu ngga ada jarak, aku sama Ayu duduk berdampingan, aku di samping Ayu dan Ayu di sampingku, sudah kaya raja dan permaisurinya, kayak sepasang pengantin yang sedang berbahagia, tapi yang di sayangkan adalah aku ngga bisa menyentuh Ayu sama sekali, aku cuman bisa ngeliat Ayu, ngeliat Ayu dengan begitu dekat, tapi walau bagaimana pun aku tetap bersyukur karena bisa sangat dekat dengannya. Dan yang ngebuat aku seneng aku bisa nonton ke bioskop bareng dia, itu adalah pertama kali aku nonton di bioskop, walaupun ngga berdua, alias rame-rame, awalnya aku kecewa juga tau, sebab, Ayu nya jauh dariku, tapi ternyata Ayu salah duduk, Ayu duduk di tempat yang salah, lha, ni gimana sih? Cerita kok di bolak-balik? Kalau telur dadar sih malah bagus, ngga gosong, nih mau cerita atau gimana sih? Iya…iya…nih aku serius lagi, sampai mana tadi? Iya ternyata yang di duduki Ayu bukan kursinya, dan kursinya adalah kursi yang ada di samping kiriku, bingung ya? ya sudah lah ngga usah di pikirin, yang penting Ayu ada di sampingku akhirnya, aku tau Ayu pasti ngga ngerasa apa-apa duduk di sampingku saat itu, tapi yang aku rasakan serasa darah ini mengalir begitu deras, jantung yang aku punya cuman satu ini serasa bergerak meronta begitu kuat, dan yang dapat merasakan semua itu hanya aku, aku yang saat itu sedang ada di samping seorang wanita yang aku puja, sangat aku cintai, yang aku ketahui dia sudah menjadi milik orang lain, yang sudah tentu Ayu sangat mencintainya, sakit hatiku, kalau inget saat itu tapi aku mencoba untuk meng ikhlaskan semua ini, ini lah yang harus aku terima. Inilah suratan takdir yang harus aku lalui, kamu mendukungku kan? kamu tetap jadi my brother kan? Walaupun aku ngga dapat memiliki cinta sejatiku ini? toh kalau memang Ayu adalah jodohku, dia pasti ngga akan ke mana ya, sungguh beruntung si Danang yang sudah menjadi orang nomer satunya, dan sangatlah merugi orang-orang yang sudah menjadi mantannya, mungkin kah aku bakal menjadi orang yang merugi karena telah memutuskan tuk mengangkat bendera putih tanda menyerah. Aku ngga mau menjadi orang yang di benci sama Ayu, seperti orang-orang yang pernah aku cintai, aku sayangi membenciku. Sudahlah, sekarang lebih baik aku berusaha tuk meng ikhlaskan Ayu, biar lah dia bahagia dengan orang yang dia cintai, bersama orang yang menjadi pilihannya, aku ikhlas, aku sudah siap menerima semua ini.”


***

__ADS_1


__ADS_2