Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 11: Inspirasi (6)


__ADS_3

23 April 2008


Semua sudah selesai, ini sudah menjadi keputusannya, dia harus pergi, dia harus pergi jauh dari Ayu, ini satu-satunya jalan tuk bisa meng ikhlaskan Ayu untuk Danang, setidaknya dia sudah bisa nunjukin padanya bahwa dia sayang sama Ayu, perhatian sama Ayu, dia pun merasa Ayu sudah tau kalau dia selama ini memang suka, cinta sama Ayu, dia yakin Ayu tau itu, kemaren dia kasih kado ulang tahun buat Teguh, berbentuk jam tangan, itu sudah menandakan bahwa Ayu sudah mengenalnya, tapi sayang, dia tidak bisa ngasih kado buat Ayu, karena kado yang seharusnya selesai pada hari ulang tahunnya terjadi kemunduran, sekarang buku itu sudah selesai dan besok dia akan mengantarkannya ke Ayu. tapi dia sudah gantikan, dia sudah kasih Ayu kue ulang tahun brownies, bukan dia mau mengunggkit-ungkit sesuatu yang sudah dia kasih kan ke orang lain, tapi dia hanya ingin sekedar kasih tau, kalau dia sudah berbuat itu untuk Ayu yang sangat dia puja, dia juga dapat kado istimewa dari Kasmini mamanya, pada tanggal dua puluh satu pukul nol nol nol nol, dia bisa duduk di antara dua orang yang sangat dia cintai lebih dari segala yang pernah dia cintai, dan tentu mereka mencintainya, yaitu mama dan byunge.


Dia mau tidur, besok dia mau anterin kado sebuah novel ciptaannya buat Ayu, dia harap Ayu akan senang menerimanya walaupun dia telat satu minggu ngasihnya, yang penting dia bisa kasih tau kalau dia sangat mencintainya, apa pun kan dia korbankan, hanya demi melihat senyum manisnya, itu sudah cukup bagi Teguh, ngebuat dia tetap tersenyum, meskipun dalam dadanya menjerit meronta memprotes semua yang sudah dia perbuat pada Ayu, Ayu bukan siapa-siapa, tapi dia sangat mencintainya, biarlah menjadi rahasia, segala yang tak harus di ketahui Ayu, biarlah tetap tidak Ayu ketahui, cukup Ayu tau dia mencintainya, lebih dalam dari samudra, lebih tinggi dari gunung, lebih luas dari langit, dan kini dia akui siapa dirinya.

__ADS_1


Matahari menyingsing di ufuk timur perlahan naik terus menemani Teguh yang sedang bergejolak di dalam dadanya, dia sekarang jalan menuju ITC Fatmawati, dia tidak kuat, dia pun harus menangis, sebenarnya tidaklah pantes, masa’ cowok nangis? Gimana ngga nangis? dia harus berpisah dengan orang yang sangat dia cintai, dan orang yang dia cintai belum tau kalau dia cinta padanya, mangkanya dia sekarang lagi jalan menemui orang itu, maksudnya dia lagi ke tempatnya, naik sepeda ontel, bukanya jalan kaki, dia kesana adalah untuk memberikan buku yang di buatnya sendiri, buku ini adalah kisah tentang perjalanan menemui orang yang dia cintai, semuanya, tanpa terkecuali, dan sore ini dia cabut dari Jakarta, dia mau menuju ke Malaysia, ini keputusannya, dan untuk ke sekian kalinya dia naik sepeda ontelnya, dia ke ITC untuk menemui Ayu, aslinya dia emang cengeng, dia cowok tapi dia cengeng, dia suka nangis, kayak cewek aja, tapi ini lah dia, dia tak tau entar kalau dia ketemu sama Ayu, Ayu tak tau kalau suara jeritan dalam dadanya lebih keras dari pada isak tangisnya ini, tapi dia emang tidak mau Ayu tau itu.


Dengan langkah gontai dia keluar dari gedung ini, dia baru bisa nangis waktu dia mulai menginjak tangga turun gedung ITC, tapi syukurlah dia tidak nangis di depan Ayu, walaupun sudah ada setetes air yang turun memaksa keluar.


“Sekarang lebih baik aku jalan pulang ngga usah tengok belakang, aku ngga usah lihat ITC lagi, mulai sekarang aku adalah Teguh Prayitno, ya…Teguh Prayitno yang baru, bener-bener baru, aku ngga mau lagi bersedih, aku kan berjuang tuk menjadi Teguh Prayitno yang ceria, yang selalu menghibur manusia yang sedang berduka,” Titi sudah tidak marah lagi, kemaren Teguh hubungi dia di kampung, dia sudah mau ngobrol dan bercanda lagi sama dia, Zahra juga begitu, dia sudah ngga marah sama Teguh, dia emang sudah nganggep Teguh tu seperti abangnya sendiri, Teguh aja yang salah pengertian, ya syukurlah kalau begitu, Yani sudah aman, dia sudah menjadi seorang istri, Intan, Kuwat, Tusmiati, entah mereka ada di mana, tapi yang pasti mereka tidak marah sama Teguh, tinggal si Vina yang masih takut ketemu dengannya, Maryam masih di Al-Zaytun, sekarang dia harus hapus air mata nya, Teguh! Kembalilah tersenyum!

__ADS_1


Seminggu setelah Ayu menerima novel yang Teguh tulis dengan tangannya sendiri, di kediaman Ayu berlangsung akad nikah, Ayu di nikahi oleh seorang Danang, calon dokter yang sangat Ayu cintai. Sebelum berlangsung pernikahan Ayu kembali melihat buku pemberian Teguh dan sedikit tersenyum, dia hanya bisa berbuat itu setelah membaca habis coretan-coretan tangan Teguh, kini dia sudah mengetahui segalanya tentang Teguh, seorang lelaki yang sangat memujanya.


“Baru kali ini aku bertemu dengan orang asing dan dia jatuh cinta padaku dengan begitu tulus, sungguh beruntung wanita yang akan mendapingi sisah hidupnya, maafkan aku Teguh, kamu terlambat memberi tahuku tentang perasaanmu padaku.” dia meletakan buku itu kembali di dalam lemari di bawah tumpukan baju yang biasa dia kenakan, entah karna dia ingin menjaga buku itu, atau supaya Danang tak tau tentang buku itu, tak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya,


“Terimakasih karena kamu mau mencintaiku!” dia pun meninggalkan kamarnya dan menemui orang-orang yang sudah menunggu kedatangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2