Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 12 Keberanian


__ADS_3

Dia hanya sebulan lagi di Malaysia, kali ini alasannya bukan karena tidak betah, tapi karena Byunge sudah tidak kerasan, maka dari itu Teguh pun harus kembali mengawal Byunge tercintanya kembali ke desa Jetis, begitu tugasnya selesai, dia pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta, di mana di sana impiannya ada, tapi sepertinya kali ini tujuannya juga berbeda dengan tujuannya yang dulu-dulu, di benaknya kini yang terpenting bagaimana caranya supaya Mamanya tidak memaksanya untuk kembali ke Malaysia, entahlah, walaupun kini Kasmini sudah mengasuh Afiq, anak dari Kamisah dan Misam, tapi dia masih juga berharap anak satu-satunya itu ada di sampingnya, mungkin itulah naluri seorang ibu sejati, rasa cinta dan sayangnya tak akan terbanding pada siapapun, dan entah mengapa Teguh seperti lebih mementingkan dirinya sendiri, dan mungkin juga itu lah sikap setiap anak yang di besarkan jauh dari orang tuanya, tapi mereka berdua tak ada yang salah, keadaan lah yang memaksa semua itu terjadi.


Juny 2008


Kini hari pertama Teguh kembali berada di Jakarta, tujuannya yang utama adalah mencari kerja, dia harus bekerja apapun itu.


“Eh mas Teguh ya? kapan datang mas?” dia adalah cewek yang namanya Ida, dia mau ambil air wudlu, Teguh sudah sangat mengenalnya, karena rumahnya persis ada di depan sumur kontrakan, mungkin setiap hari mereka saling bertemu.


“Iya nih Da! lu mau apa?”


“Mau apa gimana? Ya mau wudlu lah, masak gue ke sumur mau beli nasi goreng? Ah elu mas.”


“O…” Teguh memang sedang tidak berkonsentrasi, dia masih berfikir bagaimana caranya mencari kerja yang mungkin bisa menolongnya.


“Gue dulu ya mas!”


“Apanya Da?”


“Kok apanya sih? Ya wudlunya lah, kok lu jadi aneh gitu sih mas!”


“Ah masa? Gue jadi aneh ya? Da? Memang di sini kalau mau sholat ke mana?”


“Ya ke masjid lah, kalau ngga mau ke masjid, di mushola juga boleh, tu mosholanya di ujung jalan itu, persis di ujungnya, bukannya mas Teguh sudah biasa sholat di mushola itu? Gi mana sih?” sudah kayak orang amnesia aja Teguh, tapi dia tidak amnesia, dia hanya tidak berkonsentrasi. dengan tidak sadar tangannya menggaruk kepalanya sendiri, selesai sudah Ida mengambil air wudlu, dia kemudian berdo’a, selesai berdo’a, dia bicara lagi sama Teguh.


“Mas Teguh, ke sini mau cari kerja ya? kalau mau cari kerja di kantor Ida ada lowongan OB, itu kalau mas Teguh mau.”


“OB? Iya deh nanti gue bicarain sama Lilik gue, di kantor elu ya? berarti setiap hari ketemu sama elu donk?


“Ya iya lah mas! Ntar lu bakal bosen ngeliat kecantikan gue, hehehe… bercanda mas!” dia pergi ke rumah di depan sumur di tepi jalan gang kecil ini, habis itu Teguh ambil air wudlu dan kemudian ke mushola yang di tunjukan oleh Ida, yang sebenarnya dia juga tau. dia langung masuk ke mushola itu, ruangannya sangat kecil, cukup untuk satu imam dan empat makmum satu shof saja, ‘masih seperti dulu, ngga ada yang berubah’ pikirnya sambil masih terus mengamati ruangan super kecil itu, dia mau sholat maghrib.


Selesai sholat dia langsung menuju kamar kontrakan Maman, ternyata Maman sudah ada di kamar, mereka semua sedang menyiapkan untuk makan malam.


“Teguh masuk sini! Kita makan sama-sama, tapi ya lauknya apa adanya ya! ini kan bukan Malaysia.”


“Iya Lik.” dia ambil nasi secukupnya, dan dia ambil lauk juga secukupnya, langsung melahap makanan itu dengan penuh kenikmatan, akhirnya dia mengalami lagi kondisi seperti saat ini, padahal bila dia ada di rumah mamanya, dia sudah seperti seorang pangeran, segala bentuk lauk ada di sana, tinggal pilih, itulah resikonya atas apa yang sudah dia pilih tuk bekerja di Jakarta, lepas makan dia pun mulai ngomongin tawaran kerja dari Ida.


“Lik!”


“Ya kenapa Guh?” dia mulai membuka pembicaraan begitu nasi di piringnya habis tak tersisa.


“Tadi aku ketemu sama Ida di sumur, dia nawarin aku kerja lik, katanya di kantor tempat dia kerja ada lowongan OB, menurut Lik Maman gimana?”

__ADS_1


“OB?” Maman sedikit berfikir. “Kayaknya ngga jelek-jelek amat, kalau kamu mau, ya ambil aja, dari pada nungguin aku cari kerja buat kamu, nanti kelamaan, ya sudah bilang aja mau sama Ida.” Dukungan sudah di dapat dari Maman, kalau begitu sekarang dia harus temuin Ida. dia keluar dari kamar yang sumpek itu menuju ke rumah yang tadi di masuki oleh Ida.


“Permisi…” dia coba menyapa orang yang ada di dalam rumah itu, rumah Ida adalah rumah plus warung, di dalam rumah ini ada banyak berbagai dagangan, jajan anak kecil juga banyak, dari dalam rumah itu keluar seorang perempuan, tapi dia bukan Ida, dia adalah Kiki adiknya Ida,


“Eh mas Teguh? Ada apa mas?”


“Idanya ada Ki?”


“Ada, sebentar ya mas, Kiki panggilin dulu, Ida! Di cariin mas Teguh nih!”


“Iya sebentar!”


“Sebentar ya mas!” Kiki masuk ke dalam dan berpapasan sama Ida, kedua kakak adik itu sangat berbeda dari bodynya Kiki sedikit lebih besar dari Ida, tapi dari wajahnya, memang Ida terlihat dan cocok menjadi kakaknya.


“Iya mas? sudah di pertimbangkan?”


“Udah Da! Kata Lik Maman gue boleh.”


“Oke kalau begitu besok siap-siap ya jam delapan kita berangkat!”


“Besok Da? Kok cepet banget sih? Berkas-berkas gue kan masih original semua, belum ada yang di photo copy.”


“Tenang aja besok bawa aja semuanya, biar gue photo copy in di kantor, lu masih punya KTP kan?”


“Ya iya lah mas, gue kan temen elu, o iya mas, bokap gue nanya tuh, katanya sudah jadi pa belum filmnya?”


“Film? Film apa?” inilah efek dari obsesi Teguh, dia memang sudah bercerita pada banyak orang tentang mimpinya, dan mimpi itulah yang sampai saat ini masih dia pendam, tapi dia hanya bisa tersenyum mengomentari pertanyaan Ida.


“Bukannya dulu sebelum lu pergi dan pamitan sama kita, elu mau ngebuat film?”


“Belum Da!” dia kembali nyengir dan berlalu.


“Kalau sudah lu kasih tau gue ya! gue juga pengen ngeliat karya elu.” Selesai urusan dia langsung menuju kamar kontrakan super kucel milik Maman dan istrinya plus dua anaknya, Ida langsung masuk lagi ke dalam rumahnya.


Rambut yang dia punya pas-pasan itu dia sisir biar rapih, kok pas-pasan sih? Ya kan rambutnya tidak gondrong, juga tidak botak, kan itu sama aja pas-pasan, sebentar lagi dia mau ke kantornya Ida, sudah jam tujuh, dia sudah mandi, sudah wangi, sudah rapih, pake kemeja putih pake dasi hitam, tapi dia tidak pake jas, ‘kalau di tambah jas, aku pasti sudah kayak bos besar.’ Khayalnya sambil tersenyum menertawakan pikirannya sendiri, ‘coba aku pinjem jas Lik Maman yang biasa di pake, di mana ya naruh jasnya? Di lemari kali ya?’ masih aja dia asyik mencari jas milik Maman, dia coba buka lemari, yang lemari itu jauh lebih pendek darinya, jadi dia nyari jasnya nunduk, tapi ternyata tidak ada, ‘kok ga ada sih? sudah aku cari kemana-mana, ah mungkin di belakang pintu, kan belakang pintu itu ada gantungan baju’ dia tutup lagi lemari, dan dia langsung menuju ke belakang pintu, ‘nah ni dia jas yang aku cari’ warnanya hitam, Sekarang dia pake, ‘nih lihat, aku sudah ngga beda sama bos-bos yang kerjanya cuman duduk di kursinya di kantor, tinggal suruh ini, suruh itu, kalau anak buahnya salah ya aku omelin, aku maki-maki, ‘dasar anak buah ngga berguna! Mulai saat ini gue pecat elu!’ habis itu anak buah yang salah itu merengek-rengek memohon sama aku untuk tidak di pecat, dan dia berjanji akan bekerja lebih baik lagi. Hahahaha…’ khayalannya sudah sampai mana-mana.


“Lho pak! Kok belum berangkat?”


“Ini aku Lik! Teguh.” Teguh di sangka Maman sama istrinya, ya wajar lah dia kan pake jasnya Maman.


“Kamu Guh? ngapain pake jas Lilikmu?”

__ADS_1


“Engga kok Lik, pengen nyoba aja. Cocok kan lik?”


“Guh! mas Teguh!” sepertinya itu Ida, dia lepas jas Maman, dia gantungin lagi jas itu di belakang pintu, dia langsung nemuin Ida, dan langsung jalan, sepanjang jalan dia di ajarin gimana cara ngomong sama bos, kan sebelumnya dia bakal di wawancarai, atau interview, lumayan jauh jalan ke jalan raya, sampai di jalan raya mereka naik angkutan umum, lumayan ada seprapat jam naik angkutan umum, tadi jalan kaki dari rumah juga lumayan, sekarang sudah sampai di depan kantor Ida buka pintu gerbang, rupanya kantornya tidak besar, mungkin ini cocok kalau di bilang perumahan kantor.


“Bawa siapa bu?” seorarang satpam mencoba bertanya sama Ida tentang siapa orang baru yang di bawa bersamanya.


“Anak OB baru pak! Pak Yasin jaga pagi ya? o iya ni kenalin Guh! namanya pak Yasin.” Teguh jabat tangan satpam yang postur tubuhnya tidak terlalu gede, ‘sepertinya dia itu tidak cocok jadi satpam deh,’ Teguh mulai usil dengan pikirannya, ‘dia kurus, kecil, kalau ada apa-apa gimana? Tapi ngga parlu aku perdulikan dia, aku ke sini untuk cari kerja bukan mengkritik seseorang.’


“Teguh Prayitno pak! Cukup panggil Teguh!”


“Nama saya Yasin Nur Anas, saya tau, kamu pasti mengomentari penampilan saya kan? Saya kecil, kurus, tapi walau begitu saya bisa jadi satpam lho mas.” Wah hebat ni orang bisa baca pikiran Teguh rupanya dia, tapi Teguh sepertinya tak peduli dengannya, dia langsung masuk ke dalam kantor ini. di gedung ini ada tiga lantai, dia naik tangga menuju lantai dua.


“Lu tunggu di sini dulu ya Guh! mana berkas-berkasnya?” Teguh keluarkan sebuah amplop besar yang di dalamnya sudah ada semua dokumen pribadinya, KTP, Ijazah Al-Zaytunnya, dan surat lamaran pekerjaan serta selembar riwayat hidup.


“Gue ngapain nih Da?”


“Tunggu gue di sini.” Teguh langsung duduk di sebuah bangku panjang di depan ruang kantor, di belakangnya dinding, dan di sana ada papan pengumuman, tapi dia tak perduli, sekarang dia duduk diam aja di kursi ini, terdengar suara ramai dari arah tangga, karyawan kantor ini baru pada sampai.


“Tunggu siapa mas?” seorang lelaki lumayan besar badanya nanya ke Teguh.


“Ini pak, saya… saya mau melamar pekerjaan.”


“O…sudah ketemu dengan ibu Lily? Siapa yang bawa?”


“Ida pak!”


“O ibu Ida, saya Aji, ya di tunggu ya! sebentar lagi Bu Lily sampai kok, saya masuk dulu ya!”


“Iya pak!” Lelaki itu ramah banget sama Teguh, ‘apa semua karyawan di sini seperti dia ramahnya?’ tanyanya dalam hati, tak lama kemudian seorang cewek seumuran Ida lewat di depannya, dia senyum sama Teguh, Teguh balas senyumannya.


“Da! Ida! Lu Bo’ong ya?” cewek itu langsung masuk ke ruangan di mana Ida tadi membawa amplop yang berisi berkas-berkas milik Teguh, cewek itu manis, rambutnya lurus, berkacamata, di jidadnya ada phoni, badanya sedikit gemuk, pipinya tembem, kayak bak pau, tak lama kemudian Ida keluar membawa semua berkas-berkasnya, dia juga bersama cewek yang memberi senyuman pertamanya pada Teguh dengan geratis.


“Nih Guh! yang asli masukin lagi ke tas, photo copynya aja yang di masukin ke amplop!” Teguh ikuti arahan dari Ida, “O iya Guh! nih kenalkan! Ini ibu Lasmi! Mi, ini Teguh, Teguh Prayitno” Teguh menjabat tangan Lasmi, lembut tangannya, “ sudah ngga usah kelamaan jabat tagannya Guh! dia di sini terus kok, ngga bakal ke mana-mana.” Tau aja Ida, kalau rupanya memang Teguh sengaja lama-lamain pegang tangannya, tapi kemudian mereka menuju ke lantai tiga, karena mereka naik tangga, sekarang Teguh kan ada di lantai dua, kalau naik tangga itu kan sudah pasti naik ke lantai tiga, lama lagi dia sendiri, seorang ibu-ibu naik tangga dari lantai bawah, sepertinya dia itu yang namanya Ibu Lily, tidak terlalu tua, tapi juga sudah tidak muda, dia cina, dia senyum sama Teguh, Teguh senyum juga. Ida turun lagi, sekarang dia turun dengan cewek yang lain lagi, badannya tak terlalu tinggi, rambutnya tidak panjang, di rambutnya ada penjepit rambut.


“Peh! Nih kenalin, partner elu yang baru.”


“Hai… Zulfah!”


“Teguh Prayitno!” mereka berjabatan tangan, ‘lumayan juga, dia cantik tapi kurang tinggi,’ dasar Teguh! Semua orang dia kritik,


“Selamat bekerja sama ya! jangan banyak selisih pendapat, jangan sering berantem, yang kompak.”

__ADS_1


“Ida!” seorang dari dalam ruang kantor keluar, “Temen elu di suruh masuk.”


“Tu Guh! masuk sana!” dia pun masuk ruangan dengan penuh ketegangan.


__ADS_2