Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 15: Perihnya Setia (4)


__ADS_3

Masih di bulan maret tahun 2010 sudah lumayan lama dia ada di Malaysia semenjak liburannya ke Indonesia, dia masih tetap mengidolakan Shireen Sungkar, entah apa namanya ini, dia seperti dekat sekali dengan artis keturunan arab ini, setiap berita tentang dia selalu di ikutinya, Teguh juga marah ketika idolanya itu di gosipkan telah membuat video mesum, dia tak percaya dan dia langsung mencari video yang telah merusak nama idolanya itu, dia lihat dan begitu dia selesai melihat film yang durasinya tak melebihi orang buang air besar, dia baru merasa lega seperti orang yang baru buang air besar, ternyata hanya video mesum yang artisnya mirip dengnnya, dia pasti tau banget tentang idolanya, dia memvonis yang dia lihat bukan lah idolanya, selain itu dia juga mengkliping semua berita tentang Shireen di dunia maya dia juga mengambil semua foto yang ada di dunia maya, dia memang sudah kedanen Shireen, itu juga membuat semua teman-temannya di kebun memanggil dirinya dengan nama idolanya “Shireen”.


Dan yang sangat membuat dia shok adalah sewaktu Shireen kecelakaan, dia mendapat berita dari Puji melelui sms.


“Mas! Mas Teguh sudah ngeliat berita tentang Shireen belum?” sepupunya itu memang tau kalau Teguh sangat mengidolakan Shireen Sungkar.


“Belum Ji, Memangnya kenapa?”


“Shireen semalam kecelakaan mas, tabrakan mobil.” ‘Astaghfirulloh hal’adzim’ dia shok habis.


“Terus gimana keadaanya Ji?”


“Dia masuk rumah sakit, sampai sekarang belum sadarkan diri.” Teguh semakin panik, dia baru saja istirahat jam sepuluh pagi, jam 12 nanti dia baru istirahat lagi, otaknya terus memikirkan Idolanya itu, dia tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya jadi lemas dan dia memang sangat tidak bersemangat untuk bekerja setelah mengetahui kabar ini, sambil menyiram pohon anggrek di kebun ini dia terus mengkhawatirkan Shireen.


“Ya Alloh! Lindungi dia! Hamba mohon ya Alloh.” Tak terasa perasaannya tak tertahan lagi dia sangat sedih, dia menangis terisak, dia pun terkejut begitu dia menyadari dia sudah menangisi orang yang tidak mengenalnya, dia pun tertawa sendiri begitu menyadari hal itu? Sekarang dia justru bertanya ‘kenapa aku menangis? Apa yang membuat aku menangis? Toh dia tak akan pernah mengenalku?’ dia terus menyiram pohon bunga yang sudah menjadi pekerjaannya setiap hari, dia pun mulai menyadari kalau dia sangat ambil perduli pada Shireen, ini bukan sekedar ngefans.


Siang harinya dia langsung menyalakan TV dan mencari berita tentang Shireen, dia tak bersedih lagi begitu dia tau Shireen baik-baik saja, setelah kejadian ini dia semakin mengukuhkan ikhrar janjinya pada Fitri yang wajahnya sedikit mirip dengan idolanya, tak ada yang tau kejadian di mana dia menangisi idolanya yang tertimpa musibah, hanya seorang Teguh Prayitno yang mengetahuinya, luar biasa!


Waktu terus bergulir tanpa mau berhenti walau hanya sejenak saja, kerinduannya semakin merasuk dalam jiwanya, tiada hari tanpa teringat sang pujaan hati.


“Aku lagi sebel nih mas!”


“Sebel kenapa?”


“Temen-temenku di rumah pada rebondingan mas, aku juga lagi minta sama Papih, tapi belum di kasih juga, terus Lilik Sisuk juga pernah janji mau ngerebondingin rambutku, tapi dia cuman ngomong doang,”


“Ngapain Fitri minta sama bapak?” Teguh mengerti apa yang harus dia lakukan, “besok kalau mamas gajian dan gajih mamas lebih, mamas kirim deh buat Fitri rebonding.”


“Ngga usah lah mas!”

__ADS_1


“Lho kenapa? Kan mamas yang mau ngasih bukan Fitri yang minta. Mamas kan sayang sama Fitri.” Fitri diam mungkin dia sedang bergembira mendengar berita ini. “Tapi Fitri, nanti kalau Fitri di rebonding, pasti Fitri bakal jadi cantik banget, nanti jadi banyak cowok yang naksir sama Fitri lho.”


“Ya biarin.” Mendengar reaksi Fitri seperti itu Teguh jadi ragu tentang rebonding, dia sangat khawatir akan kehilangan Fitri, namun dia berusaha untuk positive tingking.


 


 


Agustus 2010


Di luar dugaannya, gajian pun datang, ternyata gajian kali ini sangat tidak mencukupi, gajiannya habis hanya untuk membayar utang pulsa yang telah dia pake untuk menelpon Fitri, juga sebagian untuk mengisi pulsa Fitri di kampung, sedangkan dia di wajibkan untuk menyimpan uangnya pada mamanya, tak ada lebih gajian kali ini, padahal dia sendiri juga sedang inginkan sebuah telpon baru, dia pun dengan berat hati mengabarkan kabar ini pada Fitri.


“Fit, mamas minta maaf ya! Gajian mamas tidak lebih buat rebonding rambut Fitri.”


“Ya sudah ngga apa-apa mas!”


“Gajian depan aja ya!” tapi gajian depan sudah masuk lebaran, sedangkan Fitri ingin rebonding sebelum lebaran tiba.


Selang seminggu Teguh mencoba menghubungi Fitri lagi.


“Halo dek! Lagi apa nih.” Fitri mengangkat telphon dari Teguh tapi dia sibuk sendiri, dia di cuekin, Fitri sama sekali tak mau berbicara dengan Teguh. “Fitri, kamu lagi ngapain? Dek! Ngomong dong!” Teguh jadi emosi sendiri akhirnya dia pun memutuskan telphon kemudian berganti komunikasi dengan sms.


“Fitri kenapa sih? Kok diam aja?”


“Ngga kenapa-napa kok.”


“Tapi kenapa Fitri diam aja? Mamas salah apa?”


“Introspeksi diri dong!” Teguh bingung dengan jawaban Fitri, tapi kemudian dia pun mengerti maksud Fitri.

__ADS_1


“Rebonding ya Fit?”


“Nah tu tau.” Teguh semakin bingung, padahal sebelumnya Fitri sudah mau kalau rebondingnya bulan depan setelah Teguh gajian, Teguh jadi serba salah, dia kembali memutar otaknya mencari solusi untuk menyelesaikan masalahnya ini.


“Ok! Mamas janji, sebelum lebaran rambut Fitri sudah lurus.” dia pun akhirnya berjanji pada Fitri, itu demi Fitri seorang wanita yang sangat dia sayangi, dia teringat hutan di depan kongsinya, selama ini dia sering belajar menoreh getah karet dengan orang yang bekerja di hutan itu, dia pun bertekad untuk menoreh getah, karena dia pernah di tawarin noreh kalau dia emang mau, dan hasilnya buat dirinya sendiri.


Dua hari kemudian dia mulai menoreh getah, pulang kerja pukul 16:00 dia langsung menuju hutan tanpa dia mengenal lelah, pukul 19:00 saat magrib tiba dia kembali ke kongsi dan setengah jam kemudian dia berangkat lagi sampai pukul 22:00 malam, pulang terus langsung tidur, pukul 03:00 pagi dia bangun dan langsung menuju hutan hingga pukul 06:30, bersiap kerja di kebun bunga, pukul 12:00 tengah hari dia punya waktu istirahat satu jam, dia tidak kembali ke kongsi, tapi dia langsung menuju hutan, yang ada di fikirannya hanya Fitri, hal itu berlangsung hingga tiga hari, orang-orang di sekitarnya pun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan Teguh, dia tak bilang pada mamanya apa yang sedang terjadi dengan hatinya, dia hanya ingin menepati janjinya pada Fitri, sebelum lebaran rambutnya sudah lurus, itu yang selalu terngiang di telinganya. Dia tak pernah menghubungi Fitri selama ini, setelah dia merasa getah karet yang dia dapat sudah cukup untuk rebonding Fitri dia pun mengumpulkannya dan langsung menjualnya pada tauke getah karet, bau busuk yang di keluarkan oleh getah karet tidak dia rasakan, mata ngantuk yang semakin memerah tak dia perdulikan, tubuhnya yang semakin melemah, dan mulai hangat tak dia hiraukan, begitu uang seratus ringgit lebih sudah di tangan dia baru menghentikan aksinya yang menurut semua orang yang ada di dekatnya itu ‘gila’ satu minggu lagi akan ada orang yang pulang kampung, dia akan menitipkan uang untuk rebonding Fitri pada orang itu.


Sesampainya di kongsi, Teguh tidur dan begitu bangun, panas di tubuhnya sudah sangat tinggi, dia jatuh sakit, mamanya datang untuk melihat keadaanya, Teguh tetap tidak memberitahukan apa yang sedang terjadi dengan dirinya, Kasmini hanya mendengar berita dari orang-orang di sekitarnya tentang apa yang sudah di lakukan anak satu-satunya itu.


“Mamas ni kenapa sih?”


“Ngga ada apa-apa kok ma!”


“Kata orang-orang Mamas noreh getah di hutan depan ya?”


“Iya ma!”


“Hasilnya mana? Kok mama ngga di kasih?” Teguh bingung harus ngomong apa kali ini.


“Tapi ini buat Fitri ma!”


“Buat Fitri? Maksudnya?”


“Buat rebonding rambutnya Fitri ma!”


“Seneng banget Fitri di kasih duit buat rebonding, mamas sendiri ngga pernah ngerebondingin rambut mama, mama iri dong mas!”


“Iya deh besok habis gajian mama rebonding.”

__ADS_1


“Janji ya!”


“Iya mamas janji.” Akhirnya Kasmini tau kenapa anaknya sampai jatuh sakit, ternyata demi janji yang pernah di ucapkannya, sebenarnya dia bangga dengan anaknya itu, sebagian sifatnya menurun pada Teguh.


__ADS_2