Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 14: Namanya Attin (3)


__ADS_3

Ada pintu gerbang yang terbuat dari kabel-kabel listrik, tapi pintu itu sudah terbuka, jadi Van ini tinggal masuk.


“Nah, kita sudah sampai kawasan candradimuka, sebentar lagi kita di gembleng, hahahaha…” Dasimin si kepala botak, rupanya dia sedang berusaha menghibur.


“Memangnya kita ini Gatotkaca? Kita kan karyawan orchid yang di gaji sehari delapan belas ringgit” Teguh si gendut juga ikut angkat bicara, di dalam van ini ada dua nama Teguh, tapi yang satu kurus yang satu gendut, mungkin lebih tepatnya tinggi besar, Van sudah berhenti mereka ada di tengah-tengah kebun sawit yang baru berumur beberapa bulan, sawitnya belum berbuah, ya batang pohonnya aja belum ada, yang ada baru dahan-dahannya yang berduri.


“Kita sudah sampai, sekarang kalian turun kan semua barang kalian, masuk ganti pakaian makan kemudian bersiap kerja.” Namanya Katun, dia yang membawa mereka ke sini, dia juga orang cina, dia lain dari yang lain, kelihatan lebih angkuh, sombong dan sok belagu di bandingkan dengan mandor lain, dia yang berkuasa di sini, Teguh pun ambil barang-barang di dalam bagasi dulu, ntar dia ganti baju, terus makan.


Enak banget lauknya, ayam goreng, Teguh makan dulu, temen-temannya juga lagi makan semuanya, mereka lahap banget, dan memang masakannya enak, tadi pagi dia bukannya sudah sarapan? Tapi kan sarapan mie rebus, apa yang terjadi dengan Rasno? Dia tidak makan nasi itu? Sekarang nasi dan lauk pauknya masih utuh di tangannya.


“Kenapa lu No? Kok tidak di makan?”


“Gue kenyang Guh, gue sudah makan tadi waktu mau ke sini di rumah.”


“Makan aja No, paksain, nanti kita mau kerja berat lho.” Rasno membuang nasi dan lauk yang masih utuh itu di depan Teguh, „Yah… kalau tidak mau, buat aku juga mau‟ batin Teguh menyesal, tapi nasi itu sudah di buang sama Rasno.


“Gue sudah kenyang banget Guh.”


“Ati-ati lho No, pamali buang rejeki, bisa kualat nanti lu.” Dia terusin makan yang lain sudah bersiap-siap mulai bekerja, jam sudah mendekati jam delapan pagi, selesai makan dia ikut bergabung dengan yang lain.


“Ayok cepat semuanya, kita mulai dari arah sana!” mereka pergi dengan terburu-buru, sudah seperti kerja paksa jamanya penjajahan jepang di Indonesia, rupanya di sini ada big bos, dialah yang mempunya kawasan ini, kawasan bunga, juga ternak babi di belakang kebun bunga, dialah si orang kaya itu, badanya gemuk, sudah tua, tapi dia masih berwibawa.


Mereka teruskan pekerjaan yang kemarin, Teguh langsung pegang cangkul, dia timbun semua lubang-lubang yang ada di keliling pohon sawit ini, yang sudah ada bajanya tentunya.


“Ayo cepat-capat… itu yang sana belum, yang sini juga…” si Katun masih menyuruh-nyuruh orang yang taruh baja, yang pegang cangkul sekarang tu Teguh, Bisri, Dasimin, kang Yono, Rifa‟i dan Teguh gendut, sisanya membawa beledi kosong dan membagikan baja pada sekeliling pohon sawit. Rerumputan di sini masih basah dengan embun, hawanya juga masih dingin, matahari baru akan terlihat, menurut orang-orang yang kemarin sudah ke sini katanya kalau sudah sekitar jam satu atau jam dua, di sini panas banget, itu kata mereka, dari sini kelihatan orang-orang yang sedang membagikan baja, sepertinya mereka mudah saja, mengambil beledi di trela, habis itu menuangkan isi beledi ke lubang yang ada di sekeliling pohon sawit, bagitu aja, kalau yang pegang cangkul, mereka cuman menimbun lubang yang sudah ada bajanya, tapi cepat capek, tidak usah di hayati, pasti nanti cepat selesai.


Terlihat sekali kalau Teguh sedang capek banget, di kawasan ini sudah habis bajanya, sekarang mereka mau naik ke kawasan yang berbukit, jadi kawasanya ada di atas, mereka semua naik ke atas trela yang berisi baja, nah baja ini adalah campuran antara tai ayam, kulit sawit yang busuk dan beberapa campuran lainnya, jadi ya baunya sudah tidak jelas, berasap juga, asapnya tu panas, begh… sudah tidak karuan deh, trela ada dua, yang satu masih di belakang, lagi ngambil baja, yang ini masih penuh, karena baru di isi, mereka terus manjat ke atas bukit, matahari sudah bersinar dengan sempurna, tidak ada awan sedikitpun di atas sana, tapi belum terlalu panas kok, keringat sudah membanjiri tubuh mereka.

__ADS_1


Wah parah, trelanya tidak kuat nanjak, jadi? Ya mereka turun lah, mereka jalan kaki ke atas lagi, sebagian naik trela yang satu, Teguh terpisah dari dua temennya, Dekong dan Rasno, sambil naik ke atas Teguh gendut yang sepertinya paling tua di sini mencoba berani bicara pada Katun.


“Tun, saya mau cakap sikit boleh?”


“Hah! Cakap lah!”


“Ini yang baru datang ini, budak baru, Akok salah pilih orang, jangan macam semalam tau, kita di Orchid biasa jam sepuluh pagi tu rehat, sekarang sudah dekat jam sepuluh nih.”


“Hah, iya lah, ini pun mau rehat, nanti sampai atas kita rehat minum air.”


“Bagus lah kalau begitu, bukan apa Tun, takut mereka pengsan. Kalau mereka pengsan siapa yang susah?” sambil terus berjalan Teguh gendut terus ngomong sama Mandor sawit yang bernama Katun, kanapa? Karena kemaren tu tidak ada rehat.


Akhirnya rehat juga, Teguh gabung sama Dekong dan Rasno.


“Nyesel gue Guh ikut ke sini.” Rasno sudah terus mengeluh.


“Mangkanya gue nyesel Guh, Kong? Lu tidak capek apa?”


“Jangan tanya gue No, gue sudah tidak bisa ngomong nih, eh Guh, nyangkul enak tidak sih?”


“Lu mau nyoba? Coba aja, nih cangkulnya” Teguh kasih cangkul pada Dekong sedangkan mereka sekarang masih duduk di bawah trela berlindung dari sengatan matahari yang mulai panas, Dekong menerima cangkul dengan senang hati, air mineral masih banyak berserakan di atas rumput, Teguh minum sebanyak dia bisa minum, sekarang perutnya sudah kembung, isinya cuman air, luar biasa, capek banget.


“Waktu rehat sudah habis, ayo kerja lagi! Ayo semua bangun!” mereka bangun dengan malas, tapi ya gimana lagi, mereka harus bekerja, Teguh ambil beledi yang ada di atas trela yang sudah terisi dengan baja, tidak terlalu berat, dia ambil dan dia tuangkan di sekeliling pokok sawit yang berlubang, Rasno dan Dekong pegang cangkul, rupanya kalau di rasa, lebih simple naruh bajanya, trela terus berjalan dia ngikutin di sampingnya, mengambil beledi di atas trela yang sudah berisi baja, dan mengembalikan beledi kosong ke atas trela. beledi adalah ember, jam sudah menunjukan jam setengah dua belas siang.


“Guh! Gantian ya!” ini Rasno, dia mau gantian lagi sama Teguh, dia kan tadi nyangkul, dia mau pegang beledi, di kiranya enteng kali, pegang cangkul, kalau menurut Teguh sih mendingan pegeng beledi, cuman aja kalau pegang cangkul tu tidak deket sama si Katun, mandor reseh itu, terus kalau pegang cangkul tu bisa ngumpet, jadi tidak kerja, kata orang orchid ‘ngula’ ngumpet lari dari kerja.


“Ya sudah nih beledinya! Sini cangkulnya!” Dia kasih beledi dan dia minta cangkul dari Rasno dengan cara halus, dia mah orangnya baik, je ileh segitunya kah? itu alasan ke dua, alasan pertama dia kasih beledi ke Rasno tu karena baja itu bau banget, dia tidak betah dengan baunya. tapi sepertinya kawasan ini sudah habis, mereka mau pindah kawasan lagi, pindah ke sebelah sana, di bawah kawasan ini, mereka harus turun karena kawasan ini adalah kawasan paling atas, mereka semua naik trela lagi.

__ADS_1


“Panas banget ya No, tidak kuat gue kalau begini terus.” Dekong mulai mengeluh lagi.


“Kan kemarin aku sudah bilang, di sini panas banget, jangan pada ikut! Tapi kalian tidak ada yang percaya.” Teguh gendut mengingatkan mereka.


“Ini belum seberapa Kong, nanti kalau sudah jam dua, tunggu aja nanti, gue tidak mau cerita deh, ntar di bilang nakutin elu lagi.” Bisri nimpalin Teguh gendut.


“Ntar jam dua belas kita kan makan, nah makan yang banyak!” Dasimin ikut berceramah, Teguh diem aja, ngedengerin mereka pada ngobrol,


“e…eh… trelanya doyong, eh… trelanya mau roboh” roda depan trela ini masuk ke lubang, gimana nih? Ya mereka turun semua lagi, mereka lihatin aja si supir trela mencoba melapaskan roda dari lubang, tidak terasa sudah mau jam dua belas, dan supir trela belum berhasil.


“Halo! GCBnya bawa ke bukit ya! trelanya masuk kat lubang.” Katun memanggil GCB yaitu alat berat yang sedang di pakai untuk menggali lubang di seluruh keliling pohon sawit yang ada di kawasan kebun sawit ini, “Kalian semua! Kembali ke kongsi kita makan dulu!” rehat dulu, sudah hampir jam dua belas siang, capek banget, mereka jalan menuju kongsi, yaitu bangunan seperti rumah satu-satunya di tengah kawasan kebun sawit ini, anak-anak yang lain sudah di depan, Teguh sendiri di belakang, hapenya bunyi, dari Wiwit, temen kerjanya di orchid.


“Halo! Gimana kota tinggi Guh?”


“Parah Wit, panas banget, kayak di panggang gue, nyesel gue ikut ke sini.”


“Sekarang lu lagi ngapain?”


“Jalan sendirian mau ke kongsi, gue mau makan, laper banget, capek banget, sudah pengen balik banget, pokoknya serba banget deh, ampe kebangetan semuanya.”


“Hahahaha…salah siapa ikut, eh Guh! Nih si Lasiman mau ngomong!”


“Halo Guh? Gimana di sana? Kerjanya ringan ya?”


“Ringan apanya kang? Kita sudah kayak di panggang di sini, panas banget, ya sudah lah gue mau makan nih, ntar besok lah gue ceritain kalau sudah sampai orchid.”


“O ya sudah ati-ati kerjanya ya!” dia tutup telpon dan dia masih terus berjalan menuju kongsi yang ternyata jauh.

__ADS_1


***


__ADS_2