
September 2009
Teguh habis kerja berat, dia hadang Akok di pertigaan jalan di samping kongsi baru ketika istirahat jam tiga sore, ini cerita ketika dia minta izin mau pulang kampung.
“Bos!” tangannya melambai ke arah Akok naik motor, tanpa ragu dia langsung berbicara “ini bos! Saya mau minta izin pulang kampung.”
“Baru berapa hari kamu di sini…”
“Ini bos! Mama yang ajak saya balik, di rumah sedang ada masalah!” memang benar Kamisah adiknya Kasmini kembali terbentur masalah, kali ini masalahnya adalah dengan suaminya, Wagio tertangkap warga sedang berselingkuh dengan perempuan lain, dan sekarang Kamisah sedang menuntut cerai pada Wagio, sebenarnya Teguh sudah angkat tangan dan tidak mau lagi berurusan sama Kamisah, tapi Mamanyalah yang sudah seperti malaikat, dia seperti tak pernah tau masa lalu, sudah berapa kali Kamisah dan Kasmini bertengkar, namun bila satu di antaranya membutuhkan pasti mereka lupa akan perbedaan, itulah sisi lain dari Kasmini.
“Balik terus?”
“Kesini lagi lah bos!” Akok sedikit berfikir, mungkin dia sedang mempertimbangkan keputusannya kali, tapi kemudian.
“Jangan lama-lama ya!” satu kalimat itu sungguh membuat dia senang, dan satu kalimat itu juga sudah meredakan ketegangan di dadanya, akhirnya dia bisa lihat Indonesia lagi, apa yang akan dia lakukan nanti begitu dia sampai di tanah airnya?
Pertama dia mau mencoba mengirimkan buku yang selama ini sudah dia tulis, yaitu “Pengembara Cinta” Bener banget, Pengembara Cinta sudah dia tulis di dalam laptop, karena dia sudah punya laptop semenjak bulan tiga tahun ini, tinggal mengeprin dan mengirimkannya ke sebuah penerbit, dia tak tau apa kah buku ini akan di terbitkan oleh penerbit atau akan di kembalikan ke alamatnya, yang terpenting dia kirim dulu buku ini.
__ADS_1
Ke dua, dia mau mencoba menepati janjinya pada Mimi, karena dulu dia pernah bilang ke Mimi kalau tahun depan dia akan datang padanya sekali lagi, walaupun tujuannya ke dia tidak lagi seperti dulu, Teguh sekedar ingin Mimi tau kalau dia tidak ingkar janji.
Ke tiga, dia mau menemui Fitri, seorang gadis kampung yang selama ini menjadi gadis istimewa buat dia, dia sudah memutuskan untuk setia pada satu wanita, dia memang kepikiran Fitri terus, walau pun dia sadar kalau dia masih kecil, dia masih bau kencur, Fitri aja sekarang baru kelas dua SMP, tapi rindunya selama ini hanya kepadanya, bulan enam kemarin Teguh kirim dia sebuah hape, tak ada rencana sebenarnya untuk kasih dia hape, tapi karena dia sering merasa kecewa, setiap kali dia hubungi nomer hape yang dia kasih ke Teguh dulu, selalu saja kalau bukan ayahnya, pasti abangnya yang angkat, terkadang anaknya tidak bareng sama yang pegang hape, yang terakhir malah hape itu di bawa sama omnya yang namanya Iwan yang juga sahabat Teguh dari kecil ke Jakarta, kan dia kecewa banget, ya sudah diam-diam dia beli hape, tidak mahal sih, hanya saja bisa lah untuk telpon, Kasmini tidak tau ini, dia titipkan pada Amang, temennya yang paling tinggi di orchid, awalnya temen-temannya bilang katanya dia rumahnya jauh dari kampungnya, takut kalau tidak sampai, tapi dia percaya sama Amang, karena dia emang deket sama Amang, dia orang yang jujur, dan memang dia orang yang amanah.
“Kak!” Teguh tidak salam, karena Aping emang bukan muslim, dia ada dirumah, anaknya juga Tina namanya, dia yang dulu ikut jemput rombongan Teguh di pelabuhan kukup, sudah gede sekarang.
“Iya Guh!”
“Mau ambil passport, besok pagi saya balik indon kak!”
“Ya dah boleh kak.”
“Mau berapa bulan cuti?”
“Satu bulan saja kak.”
“Gajih mau di ambil?”
__ADS_1
“Tak payah lah kak!”
“O iya nanti ke mari lagi bawa orang buat jaminan ya!”
“Jaminan? Maksudnya?”
“Iya jaminan kamu akan balik sini lagi, kalau kamu tak balik nanti aku cari dia.”
“O…” rupanya dia tidak percaya sama Teguh, dan memang seharusnya dia begitu. Sebab emang tidak sedikit karyawan yang seperti itu, dia bilang mau balik kampung, tapi nyatanya dia tidak ke sini lagi, bukan cuman itu, sebenarnya dia tidak balik kampung, tapi dia pindah tauke, cari kerja yang lebih banyak gajihnya, bagi orang yang sudah biasa merantau ke Malaysia, gajih di orchid ini adalah gajih yang jauh dari banyak, malah ini termasuk gajih yang kecil, ada pekerjaan yang dalam satu hari bisa lima puluh ringgit, bahkan ada yang lebih dari seratus ringgit, dan pekerjaan itu bukan pekerjaan yang berat, juga bukan pekerjaan yang dilarang, itu pekerjaan yang legal, tapi lupakan tentang gajih besar dulu ya, karena resikonya jauh di atas menjadi karyawan di orchid, di sini, nyaman, ada air yang utama, ada listrik yang ke dua, dan tidur di atas kasur yang ke tiga, juga tidur di bawah seng yang terakhir, kalau mau gajih besar tu mereka harus selalu waspada, air harus di cari, binatang buas selalu mengancam, bisa tidur nyenyak aja sudah untung, karena biasanya pekerjaan itu ada di tengah hutan, seperti potong buah sawit, Nderes pohon karet, kerja bangunan,
Sekarang dia mau balik lagi ke kongsi, nanti sore dia mau bawa kang Yatno untuk jaminannya. Selama ini dia tinggal satu rumah dengan Yatno.
“Tenang aja kak! Kalau dia ngga balik lagi ke sini, saya siap ganti permitnya! tapi saya juga yakin kak, kalau dia pasti akan ke sini lagi.” Ini kang Yatno, dia emang care banget sama Teguh, walaupun tidak ada ikatan darah sama sekali sama Teguh, dia sudah seperti abangnya sendiri, ya walaupun dia sadar, sebenarnya dia selalu merepotkannya, tau kenapa dia ngerasa begitu? Pertama, Teguh ngga bisa masak, ke dua, Yatno terus yang masak, ke tiga, kerja dia lebih extra dari Teguh, bayangin aja, jam tujuh pagi, dia brangkat kerja, pulang jam lima sore, habis itu, dia berangkat lagi, kerja di tempat cacingan, maksudnya nangkep cacing, jam lima setengah sore, balik jam delapan, kadang sampai jam Sembilan setengah malam, masaknya kapan donk? Jam dua belas siang, seharusnya ini waktu buat istirahat, tapi mau kapan lagi, emang dia hanya punya waktu itu untuk masak, dan Teguh juga ngerti, walaupun waktunya hanya satu jam saja, dia ikut bantu Yatno, ya walaupun hanya mengiris bawang, karena dia pernah sekali coba masak, masakan itu utuh sampai di tempat sampah, dari pada hal itu sering terjadi, lebih baik… you know lah! Dia baru saja tanda tangan, itu tandanya besok Teguh benar-benar akan ke Indonesia.
“Nanti malam saya datang rumah kamu ya Guh!” selesai urusan, dia sama kang Yatno pun kembali ke kongsi.
***
__ADS_1