
Kehancuran yang ke sekian kalinya bagi seorang Teguh Prayitno dalam perjalanannya memburu sejati, entah di mana sejati bersarang dalam dunia ini, dia masih akan terus mencarinya.
“Icha ngga salah, itu adalah keputusan yang Icha ambil, sebelumnya kan aku sudah bertanya kalau sekedar pacaran aku ngga bisa, kalau mau menikah, aku akan mencoba, tapi kalau Icha mundur, ya sudah! Dari pada Icha menyesal kemudian, aku kan orang miskin, orang jelek, selain itu aku juga orang yang sudah tua, bukan Icha aja kok yang bilang hal itu.”
“Tapi kan aku ngga pernah bilang semua itu sama mas Teguh.”
“Ya sudah lah, ngga perlu di bahas lagi, ini sudah menjadi keputusan Icha, aku ngga akan menyesalinya, ini semua sudah menjadi takdirku, inilah suratanku, aku pasti akan menerimanya dengan suka rela.”
Ada Sesuatu yang terlupakan oleh Teguh ketika dia di buat bahagia dengan kehadiran Icha, Laptop, dialah teman setia yang tak pernah menyakitinya, dan selalu menemani setiap kesepian menghampirinya, dia pun kembali memainkan jemarinya untuk kembali mengetik keybord yang ada di laptopnya, kembali dia mengadu padanya tentang perburuan sejatinya, dia tak pernah menyangka bila perjalanan pencariannya masih belum menemukan pelabuhan, yang awalnya dia kira pelabuhan ternyata hanya lah sebongkah karang yang menghilang begitu air laut pasang, dan andai suatu saat akan terlihat kembali, dia tak akan pernah lagi perduli.
Ia masih focus pada curhatnya, dia tulis semua yang telah dia alami selama ini, dia teruskan novel yang pernah dia tulis, sebuah novel yang sudah berulang kali dia kirimkan ke penerbit besar di Jakarta, namun berulang kali juga novel itu sampai di alamat rumahnya, sepertinya dia belum jera dengan pengalamannya mengirim naskah pada penerbit, dia kini bertekad untuk mengedit novel itu untuk yang ke sekian kalinya dan akan dia kirim lagi.
Namun ketika dia sedang asyik mengetik tiba-tiba saja laptop mati. Dia pun hanya terkejut seperti layaknya terkena aliran listrik berkekuatan 5watt. Mungkin itu karena effek dari seringnya dia tersambar petir. Bagi Teguh Prayitno tersambar petir itu sudah biasa, keputusan Icha untuk mundur dari komitmen yang dia pegang pun termasuk dalam kategori petir, namun itu tidak lah sebesar petir saat dia melihat Fitri naik motor dengan lelaki lain dulu.
Ia juga sudah tau kalau hal ini pasti akan terjadi, laptopnya memang sudah tua, sampai saat ini dia sudah bertemankan laptop selama 3tahun, karena dia sudah tau, maka dari itu lah setiap dia berhenti mengetik, dia picit tombol ctrl+s itu untuk mengantisipasi laptop hang. Hal itu pun terjadi, kemungkinan bila laptopnya sudah bener lagi, hanya satu kalimat yang tidak tersimpan.
Kali ini Wagiman lah tujuannya, mungkin dia bisa membantu memulihkan laptopnya, tidak sampai 20menit dia pun sampai rumah Wagiman yang ada di kota Sumpyuh. Wagiman langsung menangani laptopnya, akan tetapi…
“Kayaknya ini harus di install ulang bro!”
“Kamu punya shoftwearnya kan?”
“Punya sih, tapi data-data kamu gimana?”
__ADS_1
“Data-dataku yang penting udah aku simpan di hardis eksternal kok.” Saat ini untuknya data yang tepenting adalah naskah-naskah novelnya.
“Berarti bisa langsung di install nih, beneran udah ngga ada data yang penting lagi?”
Wagiman pun langsung meng-install laptopnya, saat install sudah di lakukan baru dia teringat dengan data-data yang lain, seperti foto-foto saat dia masih di Malaysia dan video tentang pertama kali dia masuk hutan di Orchid dulu, kliping berita Shireen Sungkar beserta foto dan videonya, gambar Fitri, memang Laptopnya mungkin harus di bersihkan seperti jiwa pemiliknya yang masih kena virus asmara.
“Lha katanya sudah ngga ada yang penting lagi? Udah aku bersihin Guh! Udah ngga bisa di balikin lagi.” Teguh pun ngga bisa berbuat apa-apa, dia menerima saja apa yang harus dia terima, kali ini laptopnya akan benar-benar baru, kenangan masa lalu semua hilang, itu mungkin yang seharusnya dia lakukan, menghapus semua masa lalunya, dan dia harus kembali membuka lembaran baru. Hal ini juga membuat dirinya ingin melupakan tentang novel, dia putus asa dengan perjuangannya untuk menerbitkan bukunya itu.
Begitu laptop kembali bisa dia pergunakan, dia tak lagi sering menulis, namun data-datanya tentang buku itu masih tersimpan rapi dalam salah satu sudut hardis eksternalnya, kali ini dia lebih sering menggarap pekerjaan yang menghasil kan rupiah, meng ufdreg foto dan mngeditnya untuk siapa saja yang menginginkan jasanya. dia jadi mempunyai rencana lain, yaitu membuat counter di depan rumahnya.
Sebelumnya dia sudah mengabarkan berita duka tentang mundurnya Icha pada Kasmini.
“Kok bisa mas?”
“Kenapa enggak ma?”
“Batalin aja ma! Repot amat.”
“Malang sekali nasib anak mama satu-satunya ini. Sekarang mamas punya rencana apa?”
“Mamas mau buat counter aja ma di depan rumah.”
“Ya udah buat aja, kira-kira habisnya berapa tu mas?”
__ADS_1
“Ngga tau lah ma, orang belum di buat.”
Tanpa sebuah perencanaan yang mateng dia pun mulai membeli material untuk pembangunan counternya. Beberapa hari dalam rencananya membuat counter dia mempunyai inisiatif untuk menjalin hubungan yang baik-baik saja dengan mamanya Icha.
“Teguh minta maaf ma! Karena udah ngga bisa memperjuangkan hubunganku dengan Icha.”
“Maksudnya apa Guh? Mama ngga ngerti.”
“Hubunganku dengan Icha sudah berakhir.”
“Alasannya apa? Kan mama kamu sama aku sudah sepakat lebaran besok mau lamaran.”
“Tapi Icha sendiri yang memutuskan untuk mundur, aku ngga mungkin memaksakannya, mungkin itu yang terbaik untuknya ma!”
“Ngga bisa begitu dong Guh? Emang itu anak, perlu di kasih pelajaran nih.”
“Mama ngga usah marahin dia, dia membuat keputusan pasti beralasan lah ma.”
“Iya tapi alasannya apa?”
“Aku ngga tau alasannya apa ma, dia ngga bilang apa-apa sama aku.”
“Biar mama yang tanya ke dia.”
__ADS_1
Ternyata setelah mamanya Icha menanyakannya, Teguh sedikit terkejut, alasannya sungguh tidak masuk akal pikiran. Katanya dia takut kalau nanti mereka menikah, dia akan menyesal karena dia dengar kabar kalau Teguh masih mengharapkan Fitri, terus selain itu banyak perempuan yang menginginkannya. Kabar inilah pertama kali yang membuat dia tertawa terpingkal-pingkal, baginya itu sangatlah lucu siapalah dia sampai menjadi rebutan para perempuan, tapi dia sedikit marah juga saat dia tau alasan yang lain, yaitu karena dia masih berharap pada Fitri, dalam hatinya yang terdalam, nama Fitri masih ada, tapi mustahil baginya untuk menerimanya kembali walaupun seandainya suatu saat nanti dia akan kembali. Butuh waktu berabad-abad untuk kembali memunculkan nama Fitri di permukaan hatinya.
***