
Oktober 2010
Lebaran sudah berlalu, suasana biasa saja tak ada yang istimewa, waktu terus berlalu masalah dengan Fitri semakin meruncing, setelah dia menepati janjinya untuk meluruskan rambut Fitri semakin banyak cowok yang naksir padanya, Fitri selalu curhat tentang cowok-cowok yang nembak dia pada Teguh, cemburu menggrogoti hatinya ingin pulang selalu menghantuinya, kerinduan semakin membara, tapi dia berusaha untuk menahannya.
Seorang tetangga di kampungnya yang mengenal Teguh juga mengenal Fitri datang di kawasan kebun bunga ini, dia adalah seorang wanita.
“Mas Teguh!”
“Iya Yu! ana apa?” saat itu Teguh dan semua karyawan baru pulang kerja, wanita bernama Sri, memanggilnya dan menyuruhnya duduk di depannya.
“Aku arep takon, tapi Njenengan aja kesuh ya!”
“Anu ana apa sih Yu?”
“Iya aku Njaluk ngapura seurunge, tapi bener ya kamu jangan marah!”
“Iya ada apa Yu! Kenapa aku harus marah?” Sri seperti ragu ingin berbicara.
“Sebenere Mas Teguh karo Fitri hubungane keprie sih?”
“Biasa aja kok, memangnya kenapa?”
“Kemarin waktu di kampung aku melihat Fitri jalan berdua dengan cowok, mesra banget mas!”
“Ah paling batir sekolaeh Yu!”
“Tapi mas!” Teguh tidak merespon Sri, dia langsung pergi begitu saja, Sri seperti ingin memberi tahukan sesuatu yang lebih serius.
Sebulan kemudian hubungan Teguh dan Fitri semakin membaik, tapi tiba-tiba saja Puji adik sepupunya anak Kamisah melaporkan hal yang sama dengan yang di laporkan Sri padanya, akhirnya dia pun menanggapi laporan itu. Hatinya bergejolak, padahal hubungannya dengan Fitri masih terlihat biasa saja, mereka masih berkomunikasi seperti biasa, dia percaya dengan laporan dari adiknya, dia pun berencana untuk pulang tanpa di ketahui Fitri, dia juga tidak bilang pada Kasmini kalau dia mau pulang, dia langsung menemui Akok, bosnya di kebun anggrek itu.
Begitu mamanya mengetahi bahwa dia sudah meminta izin pada bosnya dan di perbolehkan mamanya marah besar pada Teguh.
“Kenapa mamas tak bilang dulu sama mama? Mamas anggap mama ini apa hah?”
“Bukannya mama yang bilang kalau mamas harus mempertahankan cinta mamas?”
__ADS_1
“Tapi tidak begini caranya mas! Cari kerja itu susah mas! Kalau mamas cop mati, nanti mamas mau kerja di mana lagi?” Kasmini marah pada anaknya, memang dia pernah bilang pada Teguh bahwa cinta itu seperti Rumput, dia bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja, Kasmini menasehati Teguh saat Teguh benar-benar di ambang perpisahan dengan Fitri, saat dia ingin memutuskan untuk tidak lagi memberi setia pada Fitri, karena nasehat dari Kasmini lah kemudian dia memupuk lagi perasaannya pada Fitri, dan kini dia ingin tau kebenaran dari omongan orang-orang. Dia akan pulang bareng dengan Deglag, sahabatnya yang datang bareng denganya, karena ketika dia pamitan, Deglag ngga mau di tinggal oleh Teguh, dia mau ikut pulang.
Kasmini menghantarkan Teguh pulang danga Harun, di tengah jalan Kasmini masih terus bertengkar dengan anaknya.
“Berhenti Bah!” Kasmini sudah menangis karena setiap perkataanya selalu di sangkal Teguh, Harun masih melajukan kretanya.
“Engkau ni anak mama atau bukan sih? Kenapa mamas tak pernah mau dengar apa kata mama?” Kasmini semakin menjadi menangis sampai tersedu, “mama sayang dengan mamas, tapi mana balasannya, hanya karena Fitri, mamas berani melawan mama? Kenapa mas?” kreta berhenti dan menepi, Kasmini keluar dari kreta dan melanjutkan menangis di luar, Teguh tak dapat berbuat apa-apa, karena sekarang pasport Teguh sudah di cop mati, itu artinya dia memang harus pulang, Deglag yang ikut pulang pada Teguh hanya terdiam di samping Teguh, Rasno, Dekong dan Cenot sudah lama mendahuluinya cop mati, perlahan Harun menenangkan Kasmini yang akhirnya dia pun mau masuk dalam kreta lagi.
“Bulan depan mama akan balik kampung, mama akan melamar Fitri buat mamas.” Kasmini sudah tidak menangis lagi, tapi suaranya masih serak basah, Teguh tak tau harus bagaimana sekarang, dia merasa senang dan juga sedih, senang karena mama akan melamarkan orang yang dia cintai, sedihnya karena dia sudah membuat mamanya menangis lagi.
***
09 February 2011
Celana panjang yang terbuat dari bahan kain berwarna hitam sudah basah oleh air laut yang asin, matanya masih mencoba menahan laju air mata yang memaksa keluar, yang di fikirannya hanya ada fikiran yang negative saja, sesekali dia melihat ke arah pantai, di mana sebuah motor supra x tahun 2004 berwarna silver berdiri tersangga oleh sekandar besi, antara pria kurus itu dengan motornya berjarak sekitar 100meter, mungkin karena pria itu berpostur tubuh tinggi, jadi nampaknya kurus, ombak terus menerjang tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan, pasir di bawah telapak kakinya seperti terbawa arus air, sehingga seperti membuat lubang, sesekali dia melihat ke arah pantai lagi, dia mencari sesuatu, dan dia tidak menemukannya, matahari sudah jauh condong di ufuk barat, tubuhnya makin menggigil, sekarang bukan saja celana panjangnya yang basah, kaos berkerah bercorak doreng putih hijau pun kini ikut kebasahan, perlahan dia membalikan badanya dan mulai berjalan mendekati pantai mendekati motor supra x miliknya yang baru di beli beberapa hari ini, dia terus mencoba menghapus air mata yang terjatuh di pipinya dengan punggung tangan kanan, kemudian dengan tangan kirinya dia membuang cairan bening yang keluar dari hidungnya, dia mencuci mukanya dengan air laut, kemudian melanjutkan berjalan lagi, kini dia merasa lega, dialah Teguh Prayitno, kini dia tidak lagi di Malaysia, dia sudah kembali ke jetis, dia sedang merenungi nasibnya, dia sedang merasakan betapa perihnya setia, dia pun mulai sedikit menampakkan senyuman di raut wajahnya yang kata seseorang, dia tu jelek, tua, dan seseorang itu tidak suka sama dia, seseorag itu bernama Dian Safitri, dia adalah seseorang yang sangat dia cintai, sayangangi dan juga sangat dia harapkan menjadi istrinya suatu saat nanti,
Seminggu yang lalu dia sampai di Jetis dan dua hari yang lalu, terjadi suatu yang tidak di inginkan oleh Teguh, semua berawal dari minggu siang sehari sebelum kejadian yang tak di inginkan olehnya.
Pagi minggu yang cerah, dia datang ke rumah Dian Safitri, dia berniat baik untuk mengajak seseorang yang dia sayangi untuk jalan, tapi…
“Dek, ngga ada rencana kan? Kita jalan yuk!”
“O ya sudah ngga masalah, belajar yang rajin ya!” Teguh pun dengan sedikit kecewa pulang ke rumah, tanpa dia curiga dengan perubahan sikapnya beberapa hari ini, perubahan itu terjadi setelah Teguh memperbarui hapenya, ternyata di rumah sudah ada kakak sepupunya Ami anak wa’ Sisum, dia mengajak jalan-jalan dengan anak perempuannya yang masih berusia 8thn. Akhirnya seharian Teguh pergi dengan kakak sepupunya itu serta keponakannya. Rencananya mau ke pedalen, sebuah tempat penampungan ikan, jalannya nanjak ke pegunungan, tapi karena anak sepupunya takut, akhirnya di tengah perjalanan mereka balik arah, mereka jadinya ke pantai congot, sebuah tempat pariwisata di desa Jetis, begitu mereka masuk ke jalan menuju laut, Teguh melihat Dian Safitri ada di jok motor bebek dengan seorang cowok yang tak dia kenal, mereka sepertinya ingin ke suatu tempat, ada sesuatu yang panas di dalam dada Teguh, emosi membakar seluruh isi hatinya, amarah membuat tubuhnya gemetar, arah Fitri berlawanan dengan arah Teguh, karena Teguh memboncengkan kakak sepupunya, dan dia tak mau membuat masalah, dia pun menahan amarahnya, sampai di laut, Teguh pun menurunkan kakak dan keponaknya itu, lalu dia mencoba mencari kemana perginya Fitri dan cowok yang tak dia kenal itu, tapi sepertinya dia sudah kehilangan jejak, dia menyerah setelah dia mencari di pantai logending tak ada.
Ke esokan harinya Teguh curhat pada Manto, kakak kandung Fitri, karena dia berharap Manto bisa membantu menyelesaikan masalah ini tanpa di ketahui oleh orang lain, apa lagi ayahnya Fitri, tapi apa yang terjadi, setelah Teguh curhat pada Manto, ternyata Manto melaporkan semua ini pada ayahnya, malam itu juga Fitri di marahi oleh ayahnya, dan Fitri menjadikan Teguh kambing hitam, dia menyalahkan Teguh atas apa yang di alaminya, Teguh tak dapat berbuat apa-apa.
Dua malam yang lalu, Teguh memaksakan diri untuk meminta kepastian hubungan mereka pada Fitri, habis main bola di lapangan dekat laut, dia sengaja mampir ke rumah Fitri, karena Teguh belum punya motor, habis magrib dia pun pamit, bukan pada Fitri, tapi pada Ayahnya, karena Fitri sama sekali tidak mau ketemu sama Teguh, Ayahnya pun menyuruh Fitri untuk mengahantarkan Teguh. Dengan terpaksa Fitri menghantarkan Teguh, sampai di depan rumah Teguh, Teguh menahan Fitri, dia menanyakan status hubungan mereka.
“Dek! Sebenarnya salahku di mana sih dek? Kenapa kamu masih marah juga sama aku, kalau aku punya salah aku minta maaf, tapi aku ngga tau salahku itu apa.”
“Apa sih kamu, awas! Aku mau pulang, minggir!” Fitri mengusir Teguh dari depan motornya, tiba-tiba hujan turun, dia mematikan mesin motor yang di naiki Fitri dengan paksa.
“Aku butuh kepastian dari kamu dek, apa kamu memang sudah punya pacar lagi?”
“Enggak, aku ngga punya pacar, aku masih sendiri.”
__ADS_1
“Terus kenapa? Kenapa kamu cuekin aku? Aku sayang sama kamu dek? Aku mencintai kamu, bahkan dari sisi terburukmu dek!”
“Awas ah!!! Aku mau balik, aku ngga mau mikirin itu, aku mau focus ke sekolah dulu.”
“Tapi aku perlu kepastian dari kamu, aku ngga mau tergantung begini, 4tahun kamu gantung aku seperti ini dek?” hujan semakin deras, Teguh tidak tega melihat Fitri basah kuyup, dia takut Fitri jatuh sakit, dengan berat dia melapaskan orang yang sangat dia cintai pergi tanpa dia mendapat keputusan, dengan reflex hatinya terdorong untuk mengecup pipi Fitri, Fitri pasrah saja pipinya di sentuh oleh bibir Teguh, Teguh menuju rumahnya, sedang Fitri langsung melajukan motornya ke arah rumahnya. Itulah kali pertama Teguh mencium seorang cewek.
Tengah malam pukul 02:00 sebuah sms masuk dalam hape Teguh.
“Tadi sore mamas kan tanya kesalahan mamas apa. Nih aku kasih tau salahnya mamas, mamas tu sudah tua, mamas jelek, aku sudah ngga suka, puas?” terkejut begitu dia mengetahui kesalahan yang ada pada dirinya.
“Kalau itu adalah suatu kesalahan untuk Fitri, mamas tidak bisa mengubahnya Fitri, trimakasih karena Fitri sudah kasih tau kesalahan mamas.” Hancur lebur hatinya hanya karena sms satu itu. Dia tidak mungkin bisa membuat dirinya kembali muda, ataupun mengubah wajahnya seperti Teuku Wisnu atau seperti Vino G. Bastian, atau mungkin seperti wajah orang yang dia sukai, kini jelas sudah semuanya, Fitri sudah tidak suka lagi sama dia.
Dan beberapa menit yang lalu Teguh melihat Fitri dengan temannya di pantai, itu membuat emosinya memuncak, dia ingin mendekati Fitri, tapi hatinya melarang, akhirnya dia berlari ke air laut, dia menangis di sana, begitu banyak orang di pantai, tak ada seorang pun yang tau kalau Teguh sedang menangis, dia terus berjalan mendekati laut, fikiran untuk mengahkiri hidup terlintas di benaknya, tapi kemudian dia teringat pada cita-citanya, teringat pada ambisinya, pada obsesinya sebelum dia mengenal perempuan bernama Fitri itu.
Sekarang Teguh sudah tak ada di pantai itu, Teguh pun menaiki motornya, dia kembali ke rumahnya.
Seminggu setelah kejadian di malam hujan, Teguh mulai mencoba bersikap biasa pada Fitri, juga pada kakaknya, dia masih suka bermain ke rumahnya, dan ternyata Fitri memang pintar menyimpan rahasia, kejadian di malam hujan itu tidak di ketahui oleh familinya, dia yakin kalau hubungannya dengan Fitri masih bisa di perbaiki, oleh sebab itu dia terus berusaha mendekati Fitri, sambil itu dia juga meminta bantuan pada keponakannya yang bernama Fery Ramadani, dia kini sudah besar, keponakannya yang dulu kecil, sekarang sudah menjadi seorang bujang yang gagah, sebenarnya dia ingin curhat pada keponakannya itu, tetapi dia masih yakin kalau dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Karena Teguh merasa pusing dan tidak kuat menanggung semua beban yang ada di fikirannya, akhirnya dia memutuskan untuk bercerita pada keponakannya yang bernama Fery Ramadani, sang keponakan pun meresponnya, dia langsung memberi masukan yang berguna untuknya, dia menyarankan untuk meninggalkan Fitri, tapi ternyata Teguh masih belum bisa melepaskan Fitri, Fery pun memberi usulan lain, yaitu mencari tau siapa biang semua ini. Fery mengusulkan untuk mencari lelaki yang ada di hati Fitri saat ini.
Pada suatu hari Teguh merasa bahwa dirinya benar-benar terbebani dengan masalahnya ini, awalnya Teguh adalah orang yang rajin beribadah, sholat lima waktu tak pernah di tinggalkannya, selalu menepati janjinya pada setiap dia berjanji, dan orang yang bisa di percaya, satu lagi, Teguh adalah penjaga prinsip sejati, tapi sekarang Teguh bukan seperti yang tertulis di atas, sholat kalau dia mau, semua janji yang di ucapkan pada fitri, tak ada satu pun yang dia tepati, dan dia menjadi seorang pembohong, terutama dia bohong pada dirinya sendiri, dia masih mencintai Fitri, tapi dia bilang pada semua orang bahwa dia sudah tak mencintainya, dia bukan cowok yang doyan ngerokok, tapi hari ini dia sudah mau menghisap pembunuh perlahan manusia terbesar di bumi Indonesia, satu prinsip Teguh gugur, padahal dulu dia pernah bilang pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menghisap rokok. Jiwanya benar-benar sudah labil.
Teguh mencoba focus dalam pencarian bahan tulisan yang ingin dia tulis karena dia berharap hobynya bisa meringankan bebannya, tapi dia tak mampu untuk melupakan Fitri, di dalam kepalanya mulai bimbang lagi, dia bingung, mau kembali pendekatan lagi pada Fitri, atau meneruskan menulis buku, saking pusingnya dia, akhirnya dia mengabaikan bukunya tersebut, dan juga tidak melakukan pendekatan pada Fitri, tetapi keponakannya, si Fery ternyata diam-diam melakukan sesuatu untuk dirinya.
“Lik! Sini sebentar!” Fery memanggilnya sewaktu dia main ke rumah Fery, Fery memberi Hape miliknya, “coba kamu baca!” Teguh pun membaca sebuah sms.
“Iya yang, katanya dia pacaran sama orang situ juga.” Itu bunyi sms di hape Fery, Teguh belum mengerti.
“Maksudnya apa Fer? Aku ngga ngerti deh.”
“Jadi, ternyata Dedek pacaran sama orang sini aja.”
“Dedek? Dedek siapa Fer?”
“Dedek Fitri lah, ini aku lagi cari informasi tentang dedek lewat mamaku”
__ADS_1
“O…” Teguh tidak menyangka sama sekali kalau ternyata keponakannya perduli dengan dirinya, dia merasa terharu, dan Fery benar-benar menanggapi masalahnya itu dengan serius. Yang di maksud mamanya itu adalah pacarnya Fery.
***