
Dia tidak tahan, dia ngeliat mamanya masih terus membabi buta memukul badannya sendiri, Kasmini membenturkan kepalanya pada lemari, pada tembok dinding, pada lantai, ‘ya Alloh apa yang sedang terjadi?’
“Mama…mama…mama…” Teguh masih terus menangis menyebut kata ‘mama’ karena saat ini yang ada di fikirannya hanya mama, mama dan mamanya, dia terus mencoba mencegah Kasmini berbuat sesuatu yang bakal melukai tubuhnya, Teguh dekap tubuh mamanya dengan erat, sekuat-kuatnya, sekuat tenaganya dia memeluk mamanya, dia tidak mau mama melukai dirinya lagi, akhirnya Kasmini berhenti melakukan itu semua, tubuh Kasmini kaku, Teguh takut mamanya masih mengerang.
“Ika! Nyebut Ka! Istighfar! Astaghfirullohal’adzim!” Ayob dari tadi cuman ngucapin kata-kata itu, sambil meredakan Kasmini mengamuk, dan Teguh masih menagis mengucurkan air mata.
“Mama…mama…” Teguh tidak tau harus ngomong apa, yang ada di otaknya hanya mama, mama, dan mamanya, sekilas dia lihat Kamisah, dia sedang ngeluarin baju-bajunya dari lemari dan memasukkannya ke dalam tas, Kasmini sudah tidak ngamuk lagi, sudah agak reda, dia serahkan Kasmini sepenuhnya pada suaminya, dan dia langsung menyusul Kamisah yang sudah di depan pintu, langsung dia tutup pintunya, dia kunci, dan dia cabut kuncinya.
“Biarkan aku pergi Guh! sedetik saja aku sudah ngga tahan tinggal di rumah ini!”
“Mau pergi kemana kamu?” dia bentak Kamisah dengan kasar.
“Kemana aja deh, yang penting keluar dari rumah ini!” Kamisah masih menangis tersedu, Kamisah mencoba merayunya, tapi dia cuekin, dia hapus air matanya sendiri yang sudah membanjiri mukanya, bukan lagi membasahi pipi, sedangkan Kamisah masih terus merayunya untuk membukakan pintu agar dia bisa keluar dari rumah ini, dan Teguh tidak akan membuka kan pintu rumah ini untuk dia pergi, dia pun masih menagis.
“Glubrag…” suara dari ruang makan.
“Astaghfirulloh…Ika!” Ayob istighfar lagi, ‘kenapa lagi mama?’ Teguh mengkhawatirkan mamanya, dia tinggalin Kamisah dan dia langsung mendekati Kasmini mamanya di ruang makan, ternyata Kasmini jatuh pingsan di ruang makan.
__ADS_1
“Ika!...sadar Ika! Nyebut! Astaghfirulloh!” Ayob panik lagi, Teguh bingung, dia harus berbuat apa. Apa yang seharusnya dia perbuat, Kasmini adalah seseorang yang teramat dia sayang, lebih dari yang pernah dia sayang, dia cinta, lebih dari yang pernah dia cinta, dialah yang melahirkan nya, tanpa adanya Kasmini, tak akan pernah ada dia di atas bumi ini, di sisi lain, Kamisah sedang mengalami kesulitan karena kebodohanya sendiri, toh Kasmini sendiri yang mengambil keputusan untuk mengambil anak yang sedang di kandung Kamisah, tak kan dia ikut memusuhinya? tidak mungkin mereka di sini, di negri ini hanya bertiga, tak ada family lain lagi, mereka harus saling menjaga saling melindungi, bukannya saling menjatuhkan, dan saling memusuhi, sekarang dia harus telpon Misam, karena Ayob ingin Kamisah biar di urus oleh Misam, dialah yang seharusnya bertanggung jawab pada Kamisah, atas apa yang mereka pernah lakukan. Teguh ambil hapenya, dia cari nomer Misam.
“Halo, Misam? Bisa datang ke sini sekarang? Penting banget!”
“Ini siapa ya? aku lagi kerja nih, pulangnya nanti jam sepuluh malam.”
“Aku Teguh, ya sudah kalau begitu pulang kerja kamu ke rumah aku ya! penting banget nih!”
“Emangnya sudah kerasa mau ngelairin ya Guh?”
“Bukan masalah itu, ada masalah yang lain, ini penting banget, datang ya Sam!”
Sekarang tak perlu lagi ngebahas apa yang baru saja terjadi, sebab Teguh ingin ngelupain semua ini, meskipun walau seumur hidupnya, dia takan bisa lupa dengan semua ini, memori kelam yang tak perlu di ingat, tragedy yang sangat memalukan.
Badai telah berlalu kerinduan pada orang yang tersayang pun di rasakan olehnya, sebuah nama yang ingin dia buang dari ingatannya, namun ternyata itu tak semudah membalikan telapak tangan, kerinduan yang tak mungkin terobati walau dengan apapun jua, dia pun meluapkan kerinduannya pada sebuah buku, buku yang pernah dia beli, rencananya buku itu dia beli untuk menulis novel, karena hobynya menulis masih tetap ingin dia jaga, di dalam buku itu sudah ada banyak goresan tinta yang membentuk menjadi sebuah huruf yang kemudian menjadi kata, dan kata-kata itu terangkai menjadi sebuah kalimat, kalimat-kalimat itu menjadi ba’it, ba’it demi ba’it pun akan menjadi sebuah rangkaian cerita, di halaman terbelakang dari buku ini lah kemudian dia menulis sebuah kerinduan pada seorang wanita bernama Vina.
Bismillaahirrohmaanirrohiim
__ADS_1
Toks
Vina
Terkadang rembulan pun harus bersembunyi di balik awan yang hitam, agar manusia di bumi tak dapat melihat sinar yang indah darinya, tapi manusia terus menunggu awan pergi dari sang rembulan, bukan menunggu sang rembulan menampakan dirinya.
Terkadang cinta harus di sembunyikan, karena hati tak mampu tuk mengungkapkan, dan mata tak mau tuk melihat kenyataan, bahwa itulah cinta, yang hadir tak melihat masa, yang datang dengan tiba-tiba.
Vina! Aku tulis kata-kata ini ketika aku benar-benar tak mampu lagi tuk berbohong pada diriku ini, semakin kamu membenci aku, semakin kamu mengkristal dalam ingatanku, aku berusaha semampu apa yang dapat aku perbuat tuk menghapus namamu, karena aku tau kamu ngga pernah ada cinta untuk aku, namun dengan itu pula, hatiku ini semakin terluka, pedih rasanya, dan itu tak akan bisa terobati oleh apapun jua.
Vina! Aku ingin ucapkan terimakasih padamu, untuk senyuman yang pernah kamu berikan padaku, meski entah apakah senyuman itu tulus padaku, atau karena terpaksa. Namun bermula dari senyummu itu lah, benih cintaku mulai tumbuh dalam dadaku, meskipun cinta itu seperti anak tanpa bapak yang bermakna anak haram, namun cinta ini tidak berdosa, cinta ini suci.
Vina! Aku tau dan aku mengerti, memang benar apa yang di katakan oleh banyak orang, bahwa cinta itu bukan berarti harus memiliki, cinta tidak dapat di paksakan, cinta hanya dapat di ungkapkan, kalau tidak, akan membuat manusia berbuat jahat, dan sekarang aku sudah ungkapkan semua perasaan cintaku kepadamu.
Vina! Aku mempunyai dua harapan di dunia ini, andai saja aku bisa bertemu kembali denganmu, aku berharap kamu sudah tak mengenalku, karena kamu pasti akan membenciku, dan aku akan kembali merasakan sakit, dan andai saja aku tak bisa bertemu lagi denganmu, aku berharap jangan pernah kamu melupakan aku, manusia, hamba Alloh yang dengan tulus mencintaimu!
Atas nama
__ADS_1
Teguh Prayitno
***