
Teguh mulai bingung lagi, bimbang lagi, Teguh memang masih cinta sama Yani, tak tau cintanya seperti apa, karena sudah tercampur dengan kemarahan. akhirnya Teguh cari cara untuk memutuskan hubungannya dengan Yani. Teguh berfikir keras mencari caranya. Teguh makin pusing di sebabkan Yani sakit keras, Yani demam dan kena tipes, pasti Yani tak pernah makan gara-gara itu, sedangkan Teguh masih pusing, Teguh tak berani datang ke perkhidmatan, atau rumah sakit di Al-Zaytun, kebetulan temen Teguh yang namanya Arif kelas tiga SMP yang juga murid Theater, ternyata dia punya buku Harry Potter yang terbaru yang tebelnya sampai 1200 halaman. Teguh adalah salah satu penggemar si bocah sihir itu, jadi ya…
“Rif, gue pinjem Harry Potter nya dong! gue lagi stres nih.” Langsung saja Teguh datang ke kamar Arif yang masih satu asrama dengannya, dia temuin Arif yang sedang pegang buku super tebel itu di ranjang kamarnya.
“Ya elah kak, gue belum selesai baca kak, besok aja deh nanggung nih setengah buku lagi.”
“Ah elu, setengah buku kok nanggung, itu mah bukan nanggung kali, tapi masih segunung, bentar doang Rif! gue janji deh, berapa lama elu kasih gue waktu? Ntar gue langsung balikin deh, swear!” sepertinya janji Teguh belum bisa meluluhkan hati Arif “Masa’ lu tega sama gue Rif? Jauh-jauh gue datang ke elu, hanya demi Harry Potter Rif!” kali ini Teguh memelas pada Arif, end the finally…
“Iya deh gue kasih pinjem! Tapi cuman tiga hari ya kak! Jangan telat ngembaliinnya!”
“Siii…p lah, emang elu murid gue yang pinter!” Padahal, Arif tu salah satu muridnya yang kurang cerdas, tapi ada yang harus di inget, walaupun Arif tu kurang cerdas, tapi Teguh adalah satu dari sekian orang yang pantang ingkar janji, inget ya, ‘pantang ingkar janji’. Mangkanya Teguh memproklamasikan diri pada semua orang bahwa dia sangat takut untuk berjanji.
“Lu janji ya kak!”
“Iya deh gue janji, tiga hari pasti gue sudah selesai!” sebenernya dia tidak perlu janji untuk menyelesaikan buku itu dalam waktu tiga hari, karena membaca adalah sesuatu yang sudah biasa di lakukan oleh Teguh, tapi apalah daya, dia sudah berjanji, maknanya dia harus menepatinya.
Dan, baru satu hari Teguh pegang buku itu, Fauzi yang tampangnya seperti orang cina, walaupun kulitnya tidak terlalu putih, dan rambutnya tak lurus-lurus amat, dan temen deket Teguh juga teman sekelasnya, datang menemuinya, emang dia sudah seperti jaelangkung, datang tak di jemput pulang tak di antar, biasanya kalau dia datang pasti ada maunya, atau mungkin ke taman untuk nemuin Hamidah makhluk yang sedang dekat dengannya, tapi entah apa tujuan Fauzi sekarang, dia emang belum cerita masalah yang sedang di alaminya dengan Yani. Mungkin karena Teguh belum sempet ngobrol sama Fauzi, sebab Fauzi sendiri sekarang jarang nyamper dia, mungkin karena Fauzi lagi ada masalah sendiri, entah lah, liat aja nanti apa mau Fauzi nemuin Teguh yang sudah dapat di yakini kalau dia lagi ngga mau di ganggu.
__ADS_1
“Je… lagi sibuk ni ye?”
“Tumben lu? Dah lama lu ngga ke kamar gue? gue tau, pasti banyak urusan ya?” Teguh hanya melihat sekilas temen karibnya, dan masih focus pada buku super tebal milik Arif.
“Ya elah Guh, segitunya sama gue lu!? Ngga kok, gue kesini sebagai kurir.”
“Maksud lu?” Teguh masih seperti tadi, masih terus membaca kata demi kata cerita yang ada di dalam buku yang dia pinjem dengan pengorbanan janji pada Arif.
“Ya…maksudnya, namanya kurir kan bermakna menyampaikan pesan Guh? Ya sudah tentu lah gue kesini membawa pesan penting, dari sang Permaisuri, untuk sang Raja.”
“Udah lah Zi, lu jangan bikin buyar konsentrasi gue! gue lagi sibuk nih!”
“Yani?...” Teguh langsung me-respon ucapan Fauzi, dan Fauzi terkejut bukan kepalang.
“Santai dong men! Calm, you know? Bikin jantungan gue aja! Respond sih boleh, tapi seharusnya dari tadi dong!” Fauzi jadi sewot sendiri dengan apa yang terjadi pada Teguh.
“Emangnya Yani sudah sembuh Zi? Dia kan lagi sakit?”
__ADS_1
“Elu gimana sih? Bahkan kabar cewek sendiri ngga tau. Dia cuman pesen, sekarang kan hari kamis, besak hari jum’at, nah elu di tunggu di taman.”
“Besok?” Teguh terkejut lagi.
“Tu kan terkejut lagi.” dia curiga dengan wajah Teguh, dia mulai menyelidiki pikiran sahabat sekelasnya. “Jangan bilang elu ngga bisa ya men!”
“Elu datang kesana kan besok?”
“Ya iya lah! gue kan mau nemuin si Hamidahku sayangku, cintaku, muah…” Fauzi begitu girang menjawab pertanyaan Teguh, dan Teguh masih memikirkan sesuatu.
“Ya sudah kalau gitu gue nitip pesen aja ya Zi!” dengan kecepatan tinggi, bahkan sangat tinggi, wajah Fauzi berubah total, dari wajah girang berseri-seri, berubah menjadi wajah yang mengkerut dan bertanya-tanya.
“Kenapa lagi Guh? Emang elu ngga kangen sama Yani? Bukankah elu sudah seminggu lebih ngga ketemu dia?”
“Lu kan tau sendiri Zi, gue gi sibuk banget nih, gue harus selesai baca buku ini, dan gue harus segera mengembalikannya sama Arif, lain waktu kan bisa Zi!” Teguh kembali mencoba memfokuskan diri pada buku terpentingnya saat ini. Dan Fauzi masih mencoba membujuk sahabatnya yang dia sendiri sudah tau jelas siapa Teguh, Teguh adalah orang yang selalu memegang prinsip. Jadi…ya…
“Ya elah Guh! Ayolah temenin gue! gue pengen nembak Hamidah besok, besok tu moment yang paling tepat Guh!”
__ADS_1
“Ngga bisa Zi! gue sudah janji sama Afif, lu ngerti kan?” dan akhirnya Fauzi pun harus mengalah, karena emang dia tidak mungkin bisa menang sama Teguh dalam hal Prinsip. dia pun pergi dengan kekecewaan yang sempurna. Gimana bentuknya ya kekecewaan yang sempurna? Ada-ada aja, tidak perlu di gambarin deh, yang jelas Fauzi tu marah besar sama Teguh, mungkin? dan pasti dong! Mungkin Teguh pantas di vonis jahat banget. Ya! Kalau di fikir memang seperti itu, Teguh juga yakin kalau apa yang sudah menjadi keputusannya adalah yang terbaik untuk dirinya. Itulah prinsip, kata orang, ngga punya prinsip mending ngga usah hidup, karena dia hanya akan menyusahkan orang yang hidup di sekitarnya. ambil saja contoh, orang yang plin-plan, dia nyusahin kan? Orang yang suka ingkar janji, dia merugikan kan? Terus orang yang suka koar-koar, congkak, atau sombong, mereka menguntungkan buat orang lain tidak? Itu lah contoh orang yang ngga punya prinsip, dan orang yang ngga punya prinsip biasanya mudah tumbang, mudah kalah, dan mudah menyerah, akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri kan? Semoga kita bukan salah satu dari mereka, amiiiiin…
***