Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 1: Nama adalah Do'a (3)


__ADS_3

Tujuh hari sudah berlalu Kasmini masih merasakan duka akan kepergian anak pertamanya Mami. Sunaryo suaminya sudah bisa menerima kepergian Mami, dia akan kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja, dia pun berpamitan pada sang istri tercinta. Namun Kasmini masih suka berdiam diri Sunaryo pun pergi walau tanpa respon dari Kasmini istrinya. Mad Gasmin mertua dari Sunaryo baru selesai membuatkan rumah di sebelah rumahnya untuk sang menantu dan anaknya dengan di bantu oleh tetangga.


“Kas! Ramane wis rampung nggawe gubuk nggo koe karo bojomu, dan kamu Sunar! Kamu tidak usah pergi lagi ke Jakarta, rewangi ramane bae kerja nang tegalan ndesa.”


“Tapi Ma!” Sunaryo mencoba menolak pemberian dari ayah mertuanya, “matur kesuwun banget nggo niat apike Ramane, Nggawe gubug aku karo bojoku, pantang bagiku menerima sesuatu dari orang lain, saya akan membuat rumah sendiri kelak sekarang saya akan ke Jakarta lagi.”


“Bapak!” Kasmini tiba-tiba membuka bicara dengan bentakan kepada suaminya, “sombong sekali kamu! Jadi kamu anggap Ramaku itu orang lain? Kamu tau kenapa dia dulu mengusir aku dari rumahnya? Karena bapak tidak pernah menafkahi aku istrimu dan anak-anakmu, bagaimana mungkin kamu bisa bicara seperti itu? Kamu itu manusia biasa pak! Jangan sombong!”


“Aku janji Kas! Aku akan membuatkan rumah buat kamu.” Sunaryo pun menggendong tas yang sudah dia siapkan dia keluar dari rumah mertuanya.


“Pak! Kamu mau pergi juga? Bapak! Kamu egois pak! Mana tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga? Pak! Kamu itu manusia biasa pak, jangan melebihi malaikat.” Kasmini tak kuasa untuk mencegah kepergian suaminya.


“Teguh!” Sunar memanggil Teguh yang sedang bermain dengan teman-teman di halaman rumah, Teguh pun mendekat pada ayahnya.


“Bapak mau pergi kemana?”

__ADS_1


“Bapak mau bekerja lagi, Teguh jaga diri ya! Jaga juga mamamu, nanti kalau Bapak kembali, bapak akan bawakan mainan yang bagus buat Teguh.”


“Temenan pak?” Sunaryo menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


“Bapak berangkat dulu ya!”


“Iya boleh pak! Teguh main lagi ya pak!” Teguh pun kembali bermain, Sunar sekilas melihat rumah yang akan dia tinggalkan, yang di sana ada istrinya dan mertuanya.


Setelah Sunar jauh dari rumah gubug milik mertuanya, Mad Gasmin Mertua Sunar bergegas ke dapur dan mengambil minyak tanah, kemudian dia keluar dari rumah menuju rumah yang baru dia selesai membuatnya. Kasmini pasrah dengan apa yang ingin di lakukan oleh Ayahnya, dia hanya bisa menangis melihat ke egoisan suaminya, sudah delapan tahun dia hidup dengan suaminya dan terus menahan keegoisan sang suami, kali ini dia tidak tau harus berbuat apa. Sedangkan Ayah Kasmini sibuk menyiramkan minyak tanah pada sekujur rumah baru yang dia buat, setelah yakin sudah merata minyak tananhnya, dia pun menyalakan korek api yang dia pegang.


Dengan seketika api pun melalap rumah gubug itu, Mad Gasmin tidak bisa menerima apa yang di ucapkan menantunya, dia tidak di anggap siapa-siapa, gejolak marah masih merana di dalam hatinya. Sakit hati sudah pasti, siapa orangnya yang terima dengan kelakuan ini.


Terlihat dari raut wajahnya tanpa beban, Kasmini yang sekarang bukanlah Kasmini yang dulu, seorang biduan terkenal dan kondang di kampungnya. Maman adik lelakinya lebih sering bermain di mushola terkadang pulang ke rumah, dan Kamisah sudah mulai bekerja di Jakarta membantu Kasmini memenuhi kebutuhan keluarga, Kasmini masih belum mencari pengganti ayah Teguh, sedangkan Sunar setiap bulan datang ke rumah Teguh, karena dia sudah mengikat janji untuk memberi makan, memberi nafkah Teguh sampai dia beranjak dewasa, terkadang Teguh di ajak ke Jakarta tinggal di sana sampai sebulan kemudian, dari itulah kulit Teguh tampak lebih putih dari teman sebayanya, Teguh merasa bahagia dengan keadaan ini, kedua orang tuanya menyayanginya, walaupun dia tidak tau bagaimana keadaan ke dua orang tuanya yang sebenarnya.


Sampai suatu hari Kasmini baru pulang dari Jakarta dan Maman adik lelaki Kasmini sedang wirid di dalam kamarnya sendiri di tengah malam, Kasmini sendiri sedang tidur bersama anaknya Teguh, seseorang yang memakai topi monyet, yang terlihat hanya matanya saja, tidak bisa di pungkiri lagi kalau lelaki itu adalah maling, mungkin karena dia bingung dengan rumah yang baru kali ini dia masuk, dia menyangka bahwa kamar Maman adalah kamar sang Biduan yang sudah kondang di kampung, si maling langsung saja masuk ke kamar Maman.

__ADS_1


“Pletok...” sebuah gayung yang terbuat dari batok kelapa mengenai kepala si maling.


“Ngapurane mas, koe sapa?” Maman dengan sopan menanyakan jati diri si maling, karena dengan gerak hatinya Maman memukulkan gayung itu ke kepala si maling, “maafin aku ya maling! Kamu maling kan? Aku sedang wirid mas maling, maaf ya mas! Aku ngga sengaja.” Dengan gerak cepat si maling langsung melarikan diri sambil memegangi kepalanya.


“Sapa Man?”


“Maling yu, malah tek thuthuk canthuk, waduh dosa kie nyong yu, dongane kan nyong ora ulih nglarani wong, nyong kan agi wirid.” Dengan polos Maman mengadukan apa yang baru dia lakukan pada si maling kepada sang kakak.


“Koe keprie sih? Ngeliat maling bukannya di tangkep, eh malah minta maaf sama dia.”


“Tapi kan nyong agi wirid yu.”


“Ya sudah sana lanjutin lagi wiridnya!”


Maman kembali bersemedi di kamarnya dan Kasmini kembali tidur di samping Teguh yang masih juga tidur pulas, sambil dia masih waspada kalau-kalau si maling kembali lagi, tapi kemudian dia tersenyum sendiri menyadari kejadian yang baru saja di alami oleh adik lelakinya, ‘memang Maman itu terlalu jujur untuk dunia ini.’ Batin Kasmini membanggakan adik lelaki satu-satunya.

__ADS_1


“Mama berharap kamu bisa menuruni sifat Lilikmu itu Guh!” Kasmini berbisik pada anaknya yang masih juga tertidur pulas, “jujur itu sangat mahal harganya, bahkan Lilikmu sendiri entah bisa atau tidak mempertahankan sifat yang sekarang ini, sangat berat mempertahankan sifat jujur Guh!” Kasmini memperhatikan wajah anaknya yang masih sangat lugu itu dan tak lama kemudian dia pun terlelap menyusul anaknya ke dalam dunia mimpi.


***


__ADS_2