
Akhirnya sampai lagi di rumah, dia di anterin sama orang yang menjemputnya tadi pagi, keadaan rumah sepi, Gerbangnya ke buka, pintu juga tidak di kunci, mobil atau Kreta ayahnya juga ada, tidak biasanya rumah ini sesepi ini.
“Assalamu’alaikum! ma! Teguh pulang!” tak ada jawaban, rasa capek sudah menyelubungi tubuh Teguh, dia pun berfikir mau langsung tidur aja. dia mencari hapenya. Tadi pagi dia ngecasnya di samping TV, dia terkejut karena hapenya tak ada di tempat.
“Guh! coba Teguh baca sms ini!” Teguh kaget dia terperanjak, Kasmini tiba-tiba datang dari kamarnya membawa hapenya yang dia sedang cari, mamanya nunjukin sms, dia pun membaca sms dari Lik Kamisah, memang dia tidak memberi nama, karena dia tak pernah nyimpen nomernya.
“Guh, tu mama engkau sedang gayut, muak aku dengernya.” Kasar banget bahasanya, dia pun tak percaya kalau itu tulisan liliknya, dia sama sekali tidak percaya Kamisah sekasar itu.
“Memang tadi mama dapat talipon dari Harun, bos Teguh itu, tapi Harun cuman pengen ngajak mama tengok istrinya dekat hospital, apa hal dia sms macam ni pada Teguh? Tak salahkan mama buka sms hape Teguh? Toh Teguh anak mama?” Kasmini marah panjang lebar sama Teguh, segala pertanyaan di lontarkan padanya, dia bingung ngejawabnya, jadinya dia tak ngejawab semuanya, dia dengerin aja apa yang mamanya bilang, apa yang mamanya bicarakan, Kasmini juga bilang kalau dia sudah marahin Kamisah atas sms yang dia kirim untuknya, dia rasa mamanya sekarang sudah marah banget, dulu dia pernah marah pada tetangganya hanya karena dia menghina dirinya di depan umum, yang kemudian dia melabrak tetangga itu ke rumahnya.
Sekarang Kasmini merasakan hal yang sama, dia merasa terhina dengan sms yang adiknya kirimkan ke anaknya, Kamisah mengira Kasmini dan Harun tu ada main, dari wajahnya Teguh bisa bilang kalau mama memang marah besar, di ajaklah Teguh ke pekarangan depan rumah, sekarang Kamisah masih di kamarnya, entah apa yang sedang di lakukan olehnya Teguh juga belum sempat ketemu sama Kamisah, dia belum sempat untuk menanyakan maksud liliknya mengirim dia sms itu, di pekarangan Kasmini marah-marah lagi, tapi kali ini dia bukan marah sama Teguh ataupun Kamisah, ini bisa di bilang shering.
“Apa kurangnya mama buat Lik Kamisah Guh? dia dah bohongi kita, mama masih maafkan dia, dia hamil dengan Misam atas kebodohannya mama yang menanggungnya, mama tolong dia, mama izinkan dia tinggal di rumah mama, mama bohong pada semua orang, sama tetangga, bahwa dia hamil dengan suaminya, apasal ini balasannya?” belum selesai Kasmini shering pada anaknya, dia masih terus bercerita semuanya pada anak satu-satunya, pada Teguh Prayitno, pada bocah bau kecur dalam masalah kekeluargaan, tapi dia juga sudah bisa tau mana hitam dan mana putih.
“Teguh tau apa hukuman orang yang melindungi orang kosong di Malaysia?” orang kosong di sini maksudnya orang tanpa documents, tanpa identitas, Kamisah lah salah satunya, memang awalnya dia masuk Malaysia menggunakan passport, tapi karena waktu izin tinggalnya sudah habis dan dia tidak nyambung ke imigration, maka dia sudah termasuk orang yang tidak di akui keberadaanya di Malaysia. “Denda RM20ribu plus kurungan dalam penjara 5tahun, siapa yang kena hukum? Ayah engkau tu hah!” makin membara mama, “Mama dah putuskan Kamisah harus pulang kat Indon.” ‘Alloh…’ Teguh terkejut mendengar keputusan mamanya dia bigung, ini semua sebenarnya bukan salah Kasmini, bukan juga salah Kamisah, ini semua gara-gara si Harun brengsek itu, sebenarnya Teguh ikut ngebaca setiap sms yang Harun kirimkan untuk Kamisah, pertama dia tak percaya, tapi dia kenal nomer hape bosnya itu, dan bener itu sms dari Harun, di dalam sms itu si Harun mengaku kalau dia ada main dengan Kasmini, tapi begitu dia berani menanyakan langsung pada mamanya, itu semua tidak bener.
“Mama pernah cakap kan sama Teguh, kalau mama akan serius, ini yang terakhir mama menikah, mama bersumpah, mama akan menjaga janji mama, ngga mungkin mama selingkuh. Apa untungnya buat mama?” Kasmini sudah berulang kali menikah, namun selalu dia gagal menjaga pernikahanya, dan itu terjadi karena dia memilih untuk tetap bersama Teguh anaknya, anak satu-satunya yang selalu membuat dia naik darah, membuat dia menangis, tapi itu semua tidak akan lagi Teguh lakukan, sekarang dia akan bertekat untuk tetap membuat mama tersenyum, terutama dia tersenyum karena melihat Teguh sukses, melihat dia meraih mimpinnya, walau pun hingga saat ini Kasmini belum pernah meng ‘iya’kan semua impiannya.
“Kalau menurut Teguh, ini salah Harun ma! Harun yang selama ini selalu sms-an sama lik Kamisah, Harun yang cakap dengan Kamisah kalau dia ada hubungan sama mama.”
“Ngga mungkin lah Guh! kurangajar si Harun, Teguh percaya kan sama mama?” bukan hanya percaya, dia sangat dan teramat percaya dengan mamanya, percaya banget sama Kasmini. Kebenaran mulai nampak, dia sudah tau siapa yang harus di salahkan, tidak lain tidak bukan, dialah Si Harun biang semua ini, Kamisah melambaikan tangan ke Teguh, dia memanggil Teguh, sudah mau magrib.
“Sana liat Lilikmu! Takutnya dia bunuh diri, kan entar tambah repot urusannya.” Kamisah nangis, dia marah-marah sendiri di dalam rumah, kelihatan dari luar Teguh langsung aja masuk, terlihat Kamisah pergi ke belakang rumah dia lari, Teguh juga harus cepet-cepet ke sana, takut terjadi apa-apa sama Kamisah, bukan apa-apa ini waktu magrib, setan berkeliaran, sepertinya Kasmini tidak apa-apa di depan sendirian.
“Astagfirullohal’adzim ya Alloh ya robbi…” Kamisah bawa racun serangga dari belakang rumah, “ya Alloh!!!! Lik! Apa-apaan ini!” Teguh langsung merebut racun yang sudah di buka tutupnya sama Kamisah itu dari tangannya, kuat sekali pegangannya, “ya Alloh!!! Astagfirulloh!!! Ampun….”
“Lepasin aku Guh! lepasin aku! Aku pengen mati saja!” Kamisah meronta-ronta, tenaganya kuat benget.
“Jangan tolol Lik! Jangan goblok!” Teguh terus berusaha merampas racun dari tangannya, dia coba membanting racun itu, tapi tangan Kamisah masih memegang erat racun itu, racun tumpah kemana-mana di dalam dapur, dengan susah payah dia terus berusaha merampas racun itu, begitu dapat, dia langsung membanting botol berisi racun itu di lantai dapur, “Prang…” pecah.
“Lepasin aku Guh! aku ingin mati saja!” Teguh panik, dia tak tau harus gimana sekarang, Kamisah memeluk erat tubuhnya, dagunya di sandarkan di pundak Teguh, dia lihat mamanya mendekat, sambil menelpon, Kasmini terlihat begitu santai medekati mereka, seolah dia tak pernah perduli dengan apa yang akan terjadi dengan Kamisah.
“Bang! Balik! Ada yang mau bunuh diri, adik engkau tu nak minum racun serangga!” Kasmini menelpon suaminya dengan santai mengadukan apa yang baru saja terjadi, dan Kamisah masih memeluk tubuh Teguh yang masih panik sambil menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi baju Teguh, keringat banjir di badannya, dia tak tau harus berbuat apa sekarang, dia hanya bisa diam dan diam, tak dapat berbuat sesuatu apapun. Suasana mendingin beberapa menit, dia tarik nafas panjang, sekali, dua kali, terlihat dia sangat kecapekan menahan beban Kamisah dan kandungannya di dadanya, tapi Kamisah masih menangis tersedu, walaupun tidak seperti waktu tadi, sewaktu Teguh baru berhasil merampas racun di tangannya.
“Kenapa Teguh tolongin dia? Biar aja dia mati biar tambah repot mamamu ini, biar dia puas!” ribut lagi, Teguh bingung, Teguh sangat kerepotan, ‘kemana sih si Ayah?’ batinnya, dia tak bisa apa-apa, Kasmini dan Kamisah sudah mulai membombardir dengan membuka aib yang lain, yang sebenarnya Teguh sendiri juga sudah tau.
“Ada apa ini hah? Siapa nak bunuh diri? Siapa nak minum racun?” ‘Alhamdulillah ayah sampai juga’ batinnya sedikit bersyukur, tapi tetap dia tak bisa ngomong apa-apa. “Dek! Bunuh diri itu dosa! Dosa besar! Kenapa adek mau mati? Sedangkan adek belum di tentukan untuk mati? Itu sangat di benci Alloh dek!” Ayob cuman ceramah, terjadi lagi perang, kali ini lebih dahyat, tapi kali ini Teguh rada ringan, karena sudah ada yang jagain Kasmini, tapi…
“Emang semua salah aku, aku ini ngga ada gunanya…” ‘astagfirulloh...’ Kasmini mukul-mukul kepalanya sendiri, dia tendang kipas angin yang sedang berdiri di kamar Teguh, lemari baju besar yang ada di kamar Teguh di tendang sampai bergeser, ‘ya Alloh apa yang mama lakukan?’ Teguh semakin panik.
“Ika! Jangan begitu Ika! Nyebut Ka!” Ayob mencoba mencegah aksi Kasmini yang mulai membabi buta, Teguh sudah tidak tahan ngeliat mamanya berusaha melukai dirinya sendiri.
“Mama…mama…” dia nangis, dia tidak kuat, dia tidak tahan melihat semua ini, dia menangis sekencang dia bisa.
Dia tidak tahan, dia ngeliat mamanya masih terus membabi buta memukul badannya sendiri, Kasmini membenturkan kepalanya pada lemari, pada tembok dinding, pada lantai, ‘ya Alloh apa yang sedang terjadi?’
__ADS_1
“Mama…mama…mama…” Teguh masih terus menangis menyebut kata ‘mama’ karena saat ini yang ada di fikirannya hanya mama, mama dan mamanya, dia terus mencoba mencegah Kasmini berbuat sesuatu yang bakal melukai tubuhnya, Teguh dekap tubuh mamanya dengan erat, sekuat-kuatnya, sekuat tenaganya dia memeluk mamanya, dia tidak mau mama melukai dirinya lagi, akhirnya Kasmini berhenti melakukan itu semua, tubuh Kasmini kaku, Teguh takut mamanya masih mengerang.
“Ika! Nyebut Ka! Istighfar! Astaghfirullohal’adzim!” Ayob dari tadi cuman ngucapin kata-kata itu, sambil meredakan Kasmini mengamuk, dan Teguh masih menagis mengucurkan air mata.
“Mama…mama…” Teguh tidak tau harus ngomong apa, yang ada di otaknya hanya mama, mama, dan mamanya, sekilas dia lihat Kamisah, dia sedang ngeluarin baju-bajunya dari lemari dan memasukkannya ke dalam tas, Kasmini sudah tidak ngamuk lagi, sudah agak reda, dia serahkan Kasmini sepenuhnya pada suaminya, dan dia langsung menyusul Kamisah yang sudah di depan pintu, langsung dia tutup pintunya, dia kunci, dan dia cabut kuncinya.
“Biarkan aku pergi Guh! sedetik saja aku sudah ngga tahan tinggal di rumah ini!”
“Mau pergi kemana kamu?” dia bentak Kamisah dengan kasar.
“Kemana aja deh, yang penting keluar dari rumah ini!” Kamisah masih menangis tersedu, Kamisah mencoba merayunya, tapi dia cuekin, dia hapus air matanya sendiri yang sudah membanjiri mukanya, bukan lagi membasahi pipi, sedangkan Kamisah masih terus merayunya untuk membukakan pintu agar dia bisa keluar dari rumah ini, dan Teguh tidak akan membuka kan pintu rumah ini untuk dia pergi, dia pun masih menagis.
“Glubrag…” suara dari ruang makan.
“Astaghfirulloh…Ika!” Ayob istighfar lagi, ‘kenapa lagi mama?’ Teguh mengkhawatirkan mamanya, dia tinggalin Kamisah dan dia langsung mendekati Kasmini mamanya di ruang makan, ternyata Kasmini jatuh pingsan di ruang makan.
“Ika!...sadar Ika! Nyebut! Astaghfirulloh!” Ayob panik lagi, Teguh bingung, dia harus berbuat apa. Apa yang seharusnya dia perbuat, Kasmini adalah seseorang yang teramat dia sayang, lebih dari yang pernah dia sayang, dia cinta, lebih dari yang pernah dia cinta, dialah yang melahirkan nya, tanpa adanya Kasmini, tak akan pernah ada dia di atas bumi ini, di sisi lain, Kamisah sedang mengalami kesulitan karena kebodohanya sendiri, toh Kasmini sendiri yang mengambil keputusan untuk mengambil anak yang sedang di kandung Kamisah, tak kan dia ikut memusuhinya? tidak mungkin mereka di sini, di negri ini hanya bertiga, tak ada family lain lagi, mereka harus saling menjaga saling melindungi, bukannya saling menjatuhkan, dan saling memusuhi, sekarang dia harus telpon Misam, karena Ayob ingin Kamisah biar di urus oleh Misam, dialah yang seharusnya bertanggung jawab pada Kamisah, atas apa yang mereka pernah lakukan. Teguh ambil hapenya, dia cari nomer Misam.
“Halo, Misam? Bisa datang ke sini sekarang? Penting banget!”
“Ini siapa ya? aku lagi kerja nih, pulangnya nanti jam sepuluh malam.”
“Aku Teguh, ya sudah kalau begitu pulang kerja kamu ke rumah aku ya! penting banget nih!”
“Emangnya sudah kerasa mau ngelairin ya Guh?”
Kemelut sudah mulai reda, Kasmini sudah siuman, Kamisah sudah berhenti menangis, meskipun dia masih duduk di depan pintu yang sudah Teguh kunci, satu jam lebih, baru semua kelar, ini semua gara-gara si Harun bajingan, sengaja dia mengadu Kasmini dan Kamisah, Teguh tidak dapat menerimanya, dia tau persis siapa Harun, memang dia baik banget sama Teguh, bener apa kata Kasmini, kebaikannya ada maksud yang tersembunyi, dan dia sudah menemukan apa yang di maksud oleh si Harun, hampir setiap hari dia bertemu dengan si Harun itu, jadi apa gunanya dia selama ini mengikuti pendidikan theater kalau dia tak bisa menebak karakter si Harun, dia emang orangnya baik pada semua orang, tapi dia juga ingin di lihat oleh orang lain apa yang sudah dia perbuat pada orang lain, maksudnya, dia adalah tipe orang yang selalu ingin jadi perhatian orang lain, dari itu dia kasih perhatian pada orang lain dengan berlebihan, dan belum tentu semua orang bisa menerima perhatiannya, seperti Kasmini, lain sekali dengan Kamisah, Kasmini jauh lebih kuat dari Kamisah, buktinya setelah si Harun mencoba mencari perhatian Kasmini ternyata dia gagal kemudian dia berpindah pada adiknya, dan dia terpedaya dengan semua yang telah dia rancang, dan akhirnya mereka salah paham, jadilah peperangan ini, kenapa Teguh tak menyadari dari dulu, tapi apa pun alasan si Harun, Teguh tetep marah sama dia, dia sudah keterlaluan, dia sudah merusak ke harmonisan dua manusia yang mengalir darah yang sama di tubuhnya, dan Teguh bangga punya Kasmini sebagai mamanya, dia tetap bisa menjaga apa yang pernah dia janjikan pada Teguh, dia janjikan pada dirinya juga, ‘semangat mama! Teguh akan selalu ada untuk mama.’
Sekarang tak perlu lagi ngebahas apa yang baru saja terjadi, sebab Teguh ingin ngelupain semua ini, meskipun walau seumur hidupnya, dia takan bisa lupa dengan semua ini, memori kelam yang tak perlu di ingat, tragedy yang sangat memalukan.
Badai telah berlalu kerinduan pada orang yang tersayang pun di rasakan olehnya, sebuah nama yang ingin dia buang dari ingatannya, namun ternyata itu tak semudah membalikan telapak tangan, kerinduan yang tak mungkin terobati walau dengan apapun jua, dia pun meluapkan kerinduannya pada sebuah buku, buku yang pernah dia beli, rencananya buku itu dia beli untuk menulis novel, karena hobynya menulis masih tetap ingin dia jaga, di dalam buku itu sudah ada banyak goresan tinta yang membentuk menjadi sebuah huruf yang kemudian menjadi kata, dan kata-kata itu terangkai menjadi sebuah kalimat, kalimat-kalimat itu menjadi ba’it, ba’it demi ba’it pun akan menjadi sebuah rangkaian cerita, di halaman terbelakang dari buku ini lah kemudian dia menulis sebuah kerinduan pada seorang wanita bernama Vina.
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Toks
Vina
Terkadang rembulan pun harus bersembunyi di balik awan yang hitam, agar manusia di bumi tak dapat melihat sinar yang indah darinya, tapi manusia terus menunggu awan pergi dari sang rembulan, bukan menunggu sang rembulan menampakan dirinya.
Terkadang cinta harus di sembunyikan, karena hati tak mampu tuk mengungkapkan, dan mata tak mau tuk melihat kenyataan, bahwa itulah cinta, yang hadir tak melihat masa, yang datang dengan tiba-tiba.
Vina! Aku tulis kata-kata ini ketika aku benar-benar tak mampu lagi tuk berbohong pada diriku ini, semakin kamu membenci aku, semakin kamu mengkristal dalam ingatanku, aku berusaha semampu apa yang dapat aku perbuat tuk menghapus namamu, karena aku tau kamu ngga pernah ada cinta untuk aku, namun dengan itu pula, hatiku ini semakin terluka, pedih rasanya, dan itu tak akan bisa terobati oleh apapun jua.
Vina! Aku ingin ucapkan terimakasih padamu, untuk senyuman yang pernah kamu berikan padaku, meski entah apakah senyuman itu tulus padaku, atau karena terpaksa. Namun bermula dari senyummu itu lah, benih cintaku mulai tumbuh dalam dadaku, meskipun cinta itu seperti anak tanpa bapak yang bermakna anak haram, namun cinta ini tidak berdosa, cinta ini suci.
__ADS_1
Vina! Aku tau dan aku mengerti, memang benar apa yang di katakan oleh banyak orang, bahwa cinta itu bukan berarti harus memiliki, cinta tidak dapat di paksakan, cinta hanya dapat di ungkapkan, kalau tidak, akan membuat manusia berbuat jahat, dan sekarang aku sudah ungkapkan semua perasaan cintaku kepadamu.
Vina! Aku mempunyai dua harapan di dunia ini, andai saja aku bisa bertemu kembali denganmu, aku berharap kamu sudah tak mengenalku, karena kamu pasti akan membenciku, dan aku akan kembali merasakan sakit, dan andai saja aku tak bisa bertemu lagi denganmu, aku berharap jangan pernah kamu melupakan aku, manusia, hamba Alloh yang dengan tulus mencintaimu!
Atas nama
Teguh Prayitno
***
Teguh harus paksa dirinya untuk bangun, sebab dari tadi mamanya sudah teriak-teriak minta dia bangun, karena selama satu hari ini dia kerjanya cuman tidur dan tidur, ‘lagian mau ngapain lagi kalau ngga tidur?’ pikirnya, ‘Kerja ngga, makan juga ngga boleh, ya sudah gue tidur aja lagi.’
“Eh…malah tidur lagi, bangun Guh! mau ikut apa ngga? Kita mau ke hospital lagi nih, liat keadaan adek kamu di dalam perut lilik, sekalian buka di luar, ntar kita makan sate kambing deh!” emang pinter Kasmini, tau aja kalau anaknya suka benget sama yang namanya sate kambing, terpaksa Teguh pun harus bangun, mandi, trus sholat „asar, terus siap-siap pergi, tapi sepertinya dia sedikit malas, malesnya ternyata mereka pergi dengan si Harun, tapi dia harus bisa belajar memaafkan kesalahan orang lain, dari itu dia pun ingin mencobanya.
Semua sadah siap, tinggal nunggu si Harun sampai, setiap manusia memiliki hal yang istimewa, yang akan membuat orang lain melihat dirinya beda, dan setiap manusia juga memiliki satu hal yang buruk, yang membuat orang lain melihat dirinya cacat, tidak ada manusia yang istimewa saja, dan tidak ada manusia yang hanya buruk saja, tak ada manusia yang putih, dan tak ada manusia yang hitam, ambil contoh, manusia pertama yang di ciptakan Alloh, nabi Adam, moyang manusia yang berakal, dia pernah melangar perintah Alloh dengan memakan buah kuldi, sahabat nabi, Umar ibnu khotob, dia pernah mengubur anak kandungnya sendiri hidup-hidup, sunan Kalijaga pernah menjadi perampok, kenapa bisa begitu? Karena mereka manusia, kalau mau putih aja ya sudah jadi malaikat aja, kalau mau hitam aja ya sudah jadi setan aja! Itulah istimewanya manusia, bukan malaikat tapi ada manusia yang di samakan dengannya, bahkan ada yang lebih taat darinya, dan bukan juga setan, tapi ada manusia yang di samakan dengan setan, bahkan ada manusia yang kelakuannya melebihi kejinya setan, itulah manusia, dan kita adalah manusia, kita harus terus berusaha untuk mendekati yang terbaik, bukan malah ikuti yang jelas kita tau itu buruk, bila kita emang sudah ada di jalan yang salah, seharusnya sesegera mungkin berbelok! Cari jalan yang lurus, kalau kita lihat orang yang salah jalan, kita jangan ragu untuk meluruskannya, kalau tidak sanggup dengan perbuatan, cukup dengan perkataan, kalau perkataan tidak sanggup juga, ya sudah dengan do’a, kalau dengan do’a tidak sanggup juga? Ya tak tau, biar yang kuasa yang menegurnya. kenapa malah jadi ceramah sih? Kayak ustadz aja. Tapi bener kan, apa yang tertulis di atas, dan sama juga dengan si Harun itu, meskipun dia punya kekurangan dan dia punya salah, tapi ternyata dia menyadari kekurangannya dan dia mengakui kesalahannya, kenapa Teguh tak memaafkannya? Toh dia kan manusia, sudah kodratnya manusia itu selalu memiliki kesalahan, seperti Teguh sendiri juga tidak mungkin terus memiliki kebenaran, dia juga pasti terkadang salah, mungkin juga apa yang dia anggap benar di mata orang lain salah, itu artinya Teguh masih jauh dari sempurna, lalu apakah ustadz itu sempurna? Sama aja dengan manusia lainnya, hanya saja dia mempunyai keinginan untuk memperkokoh tembok Islam, mungkin yang lain juga menginginkan hal yang sama dengan para ustadz, tapi tentunya tekad mereka ada jaraknya, lebih jauh para ustadz dan juga lebih kuat tidak mudah di robohkan.
Harun belum sampai juga, Teguh merasa kasihan ngeliat Liliknya, perutnya sudah gede banget, wajahnya juga kelihatan menyimpan beban yang sangat berat, dan tidak semua manusia kuat memikulnya, kenapa Kamisah di uji sebegini beratnya, yang pasti Alloh memberi cobaan pada manusia atas kemampuan dia melaksanakan cobaan itu, kok jadi banyak ceramahnya?
“Tit-tin…” sampai juga si Harun.
“Lik! Ayuk berangkat!” Kamisah masih melihat dirinya sendiri di dalam kaca, tidak mungkin dia jadi langsing walaupun di lihatin terus, tunggu beberapa bulan lagi! Kasmini keluar dari kamarnya, Kamisah pun sudah siap, Teguh juga sudah pasti! yang utama buat Teguh adalah sate kambing , ‘sate kambing!... cihui…enak banget tau, sudah ngiler aku, tapi sekarang baru jam setengah tujuh, aku masih puasa donk’ dia membatin sendiri, dia pun masuk kreta si Harun di depan, Kasmini dan Kamisah di belakang, Kasmini belum masuk kreta dia masih mau mengunci pintu gerbang, Kamisah di belakang masih diem, nampak dari raut wajahnya bahwa dia masih marah benget sama si Harun, Kasmini sudah masuk, sekarang mereka mau berangkat.
“Langsung nyate kan ma?”
“Enak aja! Ke hospital dulu dong!” kretanya sudah jalan, keadaan sunyi, tak ada yang ngobrol, tak ada yang bersuara, persis seperti kuburan melaju dengan kecepatan 100km/jam. Ya Teguh pun memilih untuk tidur aja sepanjang perjalanan.
Jalan-jalan di taman sendirian, sambil nunggu adzan magrib main ayunan, kayak anak kecil yang baru di omelin sama orang tuanya kabur terus kaya Teguh ini tak punya tujuan.
“Allohu akbar…allohu akbar…” sudah adzan, harusnya kalau dia di kampung, pasti sudah mainan bedug, bareng sama anak-anak yang lain, jadi makin kangen kampung dia, sekarang dia mau buka puasa tuk yang terakhir kalinya di ramadhan tahun ini, Alhamdulillah Teguh penuh puasanya, terakhir dia bolong puasa adalah kelas Empat SD, ya syukur lah.
Dia sudah sampai rumah, Kasmini manyun. ‘jam segini baru pulang, hapenya ngga di bawa, dari mana kamu Guh?’ itu kali arti manyunnya Kasmini.
“Teguh benar mau pulang kampung?” ‘hah, siapa yang nanya tu? Ternyata mama yang nanya ke aku, ya Alloh, ternyata bener, engkaulah yang mengatur segalanya.’ Batin Teguh karena inilah yang dia harapkan.
“Ya sudah, Teguh maunya kapan pulangnya?”
“Ya kalau bisa secepatnya ma!”
“Raya ke dua boleh tak?” ‘sekarang juga bisa ma!’ jawab Teguh dalam hati, Tapi dia tidak berani ngomong begitu sama mamanya, dia seneng banget, akhirnya dia bisa pulang kampung.
***
Oktober 2007
Takbir berkumandang di setiap sudut dunia ini, mengagungkan kebesaran Alloh, tanpa terkecuali, bahkan dedaunan, serangga-serangga, bebatuan, karang-karang, ombak laut, gunung, semuanya mengagungkan kebesaran yang telah menciptakannya, sunguh nista mereka yang tak mengakui keagungan yang menciptakannya, inilah hari kemenangan, inilah hari kembali menjadi seorang bayi, seorang yang fitrah lagi, luar biasa kebahagiaan yang menyelimuti hati kita, ngga ada kata-kata lain selain “Allohuakbar” Teguh juga semalam takbiran, tapi tidak rame, dia takbiran sendiri di kamar, dia nangis, dia nangis bukan karena apa, dia nangis karena dia tidak tau harus berbuat apa lagi setelah hari ini, dia minta di kasih petunjuk sama Alloh, karena dia sudah berjanji padaNya, bahwa dia akan berbuat sesuatu yang akan membuat manusia ciptaanNya mengakui keberadaannya, mengenalnya, dan menerima dia ada di antara mereka. Pulang sholat id al fitri, sungguh hatinya sekarang sedang bergebu-gebu, dia ingin segera berada di Jetis, di kampung yang dia sayang. Sekarang dia mau sungkem dulu sama mamanya, sama suami mamanya, sama adik dari mamanya, sama saja, sungkem di mana-mana ya mengakui kesalahan dan memohon ampunan, dia tidak kuat, dia pasti banyak salah sama mamanya, dia langsung menangis di pangkuan mamanya, Kasmini jadi ikut nangis, tapi setelah itu dia akan ngerasa beda, terakhir dia sungkem pada Kasmini adalah saat dia masih kelas satu SMP, dia lega banget bisa sungkem sama mamanya, karena mereka tak pernah hari raya di tempat yang sama, Kamisah baru keluar dari kamarnya, dia belum berpakaian rapih, dia masih memakai baju harian, dia mendatangi kakaknya, dia langsung berlutut, dia sungkem sama Kasmini, dia menangis, dia mengakui kesalahannya, dia memohon ampun, dan Kasmini menerima pengakuanya, sudah di lebur lah dosa dua orang kakak beradik itu, semua selesai.
__ADS_1
***