Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 12: Keberanian (3)


__ADS_3

14 September 2008


Teguh sudah siap, dia mau ke blok M, mau buka bersama dengan Mimi, Ida berhasil membujuk Mimi, tapi dia sudah bilang ke Ida supaya dia tidak bilang ke Mimi kalau dia yang ajak Mimi buka bersama, sebenarnya dia sudah dapat signal dari Mimi, kata Ida, dia sudah tau kalau Teguh naksir sama dia, dan dia sedang mempertimbangkan keputusanya, kemaren waktu Teguh SMSan sama Ida ternyata dia sedang bersama dengan Mimi, mereka sedang mengadakan buka bersama dengan kawan-kawan alumni SMK mereka, dan Ida menunjukan SMS dari Teguh yang pertama pada Mimi, Mimi langsung diam, dan berfikir, itu artinya ada harapan kalau Mimi akan menerimanya, tapi jangan terlalu berharap dulu, cewek memang gampang-gampang susah, apa lagi kan sebentar lagi dia bakal jauh dari Mimi, dia akan menjadi bunga bangsa di Malaysia, jadi pahlawan devisa, kedengaranya sih sangar gitu, pahlawan gitu loh. Jadi rencananya begini, Teguh dan Ida ke blok M bareng, tapi sampai di Blok M nanti mereka pisah, karena di rencana mereka, mereka seolah-olah tidak sengaja ketemu di Blok M dan akhirnya Teguh ngajak mereka untuk buka bersama, dan seolah-olah juga dia tu lagi cari baju untuk adiknya si Afiq anaknya Kamisah, nah begitu mereka ketemu, mereka langsung ke restoran ayam bakar, di lantai paling bawah blok M, Teguh tidak tau tempatnya di mana, tapi kata Ida kemaren mereka buka bersamanya di sana.


“Udah siap Guh?”


“Udah, gimana penampilan gue?”


“Waduh…” Ida langsung memegang jidadnya yang sedikit njenong, “Kok penampilan elu kayak begitu sih Guh?” ternyata Ida tidak setuju dengan style pakaiannya, celana panjang lebar bawah, kotak-kotak besar warna kuning dan coklat, blusdru, dan sebuah kaos oblong warna hijau, “Ganti sekarang juga! Mau nembak cewek kok ngga nyentrik gitu sih?”


“Tapi gue ngga ada baju lagi, semua baju gue di losmen.”


“Pinjem dulu sama om Maman.” Ya akhirnya dia pinjem celana dan baju Maman, dia ganti baju ganti celana, celana hitam bahan, dan baju kemeja bergaris-garis putih warna hitam, dia keluar lagi dari kamar Maman. “Nah itu kan mending, kayak anak muda, yuk kita berangkat!” Teguh langsung jalan sama Ida.


Dadanya terus berdebar, dia sedikit grogi, ‘ntar aku ngomong apa sama Mimi?’ itu yang sedang dia pikirkan, ‘Apa mungkin aku sanggup mengucapkan sedikit saja dari isi hatiku ini? ikuti saja air sungai yang mengalir, karena aku tau setiap air sungai pasti tujuannya cuman satu, yaitu laut, nah tujuanku apa? Tujuanku adalah nembak Mimi, aku mau nembak Mimi, aku mau nanya apa dia mau jadi pacarku, apa dia mau jadi istriku? apa pun jawaban dari dia, aku sudah siap.’ dia ingin jujur dengan dirinya, dia jujur kalau dia tu suka sama Mimi, naksir sama Mimi, begitu dia berhasil mengutarakan perasaan ini, sudah habislah semua hutang, sudah jujur pada dirinya sendiri namanya, dan itu lah yang di sebut dengan sebuah keberanian, berani menerima segala resiko atas apa yang di perbuat.


Mereka sudah sampai, Teguh dan Ida turun dari Bus.


“Sekarang gue masuk lewat sini ya Guh, nah elu lewat pintu sebelah sana, ntar kita ketemu di depan penjual baju di sana, ok?!” Teguh ikuti arahan dari Ida, dia langsung masuk ke dalam mall, dia turuni tangga di mulut blok M, sedang Teguh muter ke pintu yang lain. Sesuai rencana begitu dia sampai di dalam mall dan dia sedang melihat baju-baju anak kecil, Ida dan Mimi nyamperin dia.


“Eh Teguh? Lagi ngapain?” Ida menyapanya, seolah dia dan Teguh tak pernah merencanakan ini. Hebat!, dia cocok banget kalau jadi artis, actingnya luar biasa, Teguh jadi bingung mau ngomong apa tapi dia kemudian ngejawab sekenanya.


“Ini lagi mau cari Baju buat adiku, kalian lagi ngapain?”


“Lagi jalan-jalan aja kok, ya sudah ya kita jalan dulu.” Teguh grogi lihat Mimi diam saja, dia jadi bingung, ‘apa aku biarin mereka pergi ya? tapi itu bukan rencana kita, rencana kita adalah mengajak Mimi buka bersama.’ Pertengkaran batin terjadi.


“Ida, Mi, kebetulan kita ketemu di sini, kalian puasa kan? Kita buka bersama yuk! Biar gue yang traktir.”


“Serius lu Guh, Mi gimana nih?”


“Kalau dia mau traktir kita ya gue ikut aja.” Berhasil, akhirnya mereka akan buka bersama, sekarang mereka akan cari air minum dan kurma untuk membatalkan puasa, setelah batal ntar mereka magriban dulu, baru ke restaurant ayam bakar, Teguh, Ida dan Mimi masuk ke supermarket di dalam mall, Ida cari kurma Teguh dan Mimi cari air minum, Teguh memilih air minum begitu sampai tujuan mereka.


“Lu mau air apa Mi?”


“Terserah elu aja Guh! o iya Guh? memangnya bener lu mau ke Malaysia?”


“Tau dari mana lu?”


“Dari Ida, itu sudah keputusan elu? Kenapa ngga habis lebaran aja?”


“Visa gue sudah turun Mi, gue harus segera ke sana, ngga bisa di tunda lagi.”


“Terus ke Jakarta lagi kapan?”


“Ya paling lambat setahun lagi gue pasti ada di Jakarta.”


“Bukannya seorarang TKI balik ke Indonesia dua tahun baru bisa balik?”


“Kalau buat gue dalam waktu lima bulan balik Indonesia juga bisa.” Sepertinya ada ke khawatiran yang tersirat di mata Mimi, Teguh ngerasa beda dekat dengan dia, Teguh ngerasa ada kenyamanan bila bicara dengan dia, dia senang ada di dekatnya, dia ambil tiga botol fresstea dan sebotol aqua.

__ADS_1


“Urusan kantor gimana?”


“Senin besok gue resign.”


“Hari rabu aja Guh, setelah kita buka bersama di Wadas.”


“Ngga bisa Mi, gue juga harus pulang kampung dulu, gue mau pamit ke nenek gue.” Mimi seperti tidak rela di tinggal sama Teguh, dia jadi bingung, tapi dia harus pergi, ‘apa sebaiknya aku tembak dia sekarang ya? sebaiknya jangan, nanti bisa berpengaruh dengan buka bersama kita di restoran, nanti saja setelah acara makanya sudah selesai.’ Kembali pertengkaran di hati nya terjadi.


“Bagi para pengunjung blok M yang sedang melaksanakan ibadah puasa, sekarang sudah memasuki waktu sholat magrib, waktunya berbuka puasa, dan selamat menjalankan sholat magrib, terima kasih.” Peringatan dari resepsionis di mall blok M.


“Udah waktunya nih, yuk kita batalkan puasa!” mereka baca do’a berbuka puasa, setelah itu mereka buka botol freestea masing-masing, mereka duduk di tangga blok M, mereka makan korma, lima menit kemudian mereka menuju mushola di mall ini, sholat magrib dan kemudian mereka kembali ke dalam mall, menuju ke restaurant pesan tiga porsi, sekali gus dengan minumannya.


“Ayam bakar di sini enak banget tau Guh, pokonya lu ngga bakal nyesel nraktir kita di sini deh.” Ida semangat banget, mereka duduk di meja nomer tujuh, mejanya berbentuk bulat, Ida di depan Teguh dan Mimi di samping kirinya, sebentar Teguh lihat wajah Mimi, dia cantik, dia memang cantik, dia orangnya pendiam, tidak banyak ngomong, sekarang aja dia masih diam, dia sedang membersihkan kacamatanya, dia lebih cantik lagi kalau tidak pake kacamata, kalau dia pake kacamata terlihat sedikit lebih tua, tapi itu tidak penting buatnya, yang penting dia Mimi orang yang dia taksir sekarang ini.


Pesanan mereka sampai, mereka pun melahap hidangan yang sudah tersedia di depan mereka, dengan itu mereka pun mulai tanya jawab tentang diri mereka masing- masing, Teguh bercerita tentang dia yang mau ke Malaysia, Ida bercerita tentang ayam bakar yang sedang di makan oleh mereka, dan Mimi dia bercerita tentang keluarganya, tentang dia lahir di jogja, tentang dia punya adik lelaki satu, tentang dia hidup dengan dua orang tuanya yang masih utuh, tentang ayahnya yang tegas, tentang dia yang harus membantu biaya sekolah adiknya. Sampai akhirya semua ayam bakar di piring habis, dan Ida pergi ke tempat cuci tangan. Teguh bingung mau ngapain sekarang, dia tau Ida pergi karena memberi kesempatan padanya untuk bicara dengan Mimi, tapi dia tidak bisa ngomong, ya dia diem aja, sampai Ida balik lagi dan sekarang Mimi yang ke tempat cuci tangan.


“Udah ngomong Guh?”


“Belum.”


“Kok belum sih? Cepetan ngomong! Kalau ngga sekarang kapan lagi?”


“Iya nanti gue usahain bisa ngomong deh Da!”


“Jangan nanti donk Guh! ni sudah malam.” Mimi sudah kembali ke kursinya, dia duduk dan sekarang giliran Teguh pergi ke kasir.


“Bentar ya! gue mau ke kasir dulu.” dia bayar semua makanan yang sudah mereka makan, dia pesan satu gelas jus alpokat entah kenapa dia kepengin jus itu, urusan dengan kasir sudah beres mereka pun segera keluar dari mall ini, Ida pamit ke dua temannya, dia ada urusan sendiri, dia masih berdua dengan Mimi, dia antar Mimi ke terminal di atas mall ini.


“Ya bener lah, memangnya lu kira gue bohong sama elu?”


“Memangnya ngga bisa di tunda sama sekali?” sekarang dia dan Mimi sudah di atas mall alias sudah di terminal, di sana-sini ada bus, dia mencoba mengumpulkan keberanian, untuk menyusun kata-kata yang tepat.


“Mi, lu percaya ngga?”


“Ngga, percaya apaan?” dia masih mencoba merangkai lagi kata-kata.


“Lu percaya ngga kalau gue suka sama elu?” dadanya bergemuruh, dan Mimi hanya tersenyum melihat dia, “Gue serius Mi!”


“Ngga, gue ngga percaya!”


“Tapi itulah kenyataanya, kalau gue suka sama elu, gue sayang sama elu?”


“Terus?” dia bingung mau ngomong apa lagi?


“Mau ngga elu jadi cewek gue?” Mimi lagi-lagi hanya senyum.


“Memang lu suka gue dari mananya?”


“Gue suka semua tentang elu Mi.”

__ADS_1


“Sejak kapan lu suka sama gue?”


“Sejak pertama lu senyum sama gue, waktu gue baru sampai di wadas.”


“Tapi kan elu mau ke Malaysia?”


“Kita kan bisa hubungan dengan telpon?”


“Tapi Guh, gue belum kepengen pacaran, coba lu tanya gue tahun depan Guh, mungkin gue bisa jawab iya, tapi untuk sekarang gue ngga bisa jawab apa-apa, gue sadar kalau gue juga ada perasaan sama elu tapi gue ngga bisa nerima elu, gue sudah anggap elu tu sahabat gue.” hancur hatinya, jawaban dari Mimi tidak sesuai dengan harapannya.


“Kenapa Mi? gue bakal ngebahagiain elu Mi, gue janji!”


“Tapi gue ngga bisa Guh, coba elu datang lagi tahun depan, mungkin gue sudah mempunyai jawaban untuk elu.” Dia tak bisa ngomong apa-apa lagi, dia diam, tapi dalam hatinya terus bertanya, „kenapa dia nolak aku, dan kenapa aku ngga sedih? Seakan aku tu ngga pernah nembak dia, dan aku ngga pernah di tolak sama dia,‟ padahal untuk mengucapkan kalimat yang baru saja dia ucapkan untuk Mimi begitu sulit, ‘kenapa ini, ada apa? Apa memang dia bukan lah orang yang aku cari?’ dia masih diam, Tapi dia masih penasaran, apa mungkin ini sudah menjadi keputusan Lasmi?


“Mi?”


“Apa lagi?”


“Apa ini sudah menjadi keputusan elu?” dia coba lagi, dia coba untuk menanyakan keputusan Mimi, sekarang Mimi sedang tersenyum, dia manis banget kalau sedang senyum.


“Harus berapa kali gue bilang ke elu sih Guh? kalau elu masih penasaran, mending lu datang lagi tahun depan ke gue, mungkin gue sudah merubah keputusan gue, untuk sekarang, gue tetap ngga bisa nerima elu sebagai kekasih, kita lebih cocok jadi sahabat Guh.”


“Oke!” dia sekarang sedang mencoba lagi, sekarang dia coba untuk tegar, tapi kenapa begitu mudah dia nerima keputusan Mimi? angkutan umum jurusan ke rumah Mimi sudah datang. “Kalau ini sudah keputusan elu, do’akan saja agar gue bisa nerima semuanya, sekarang lu pulang ya! sudah malam nih!”


“Ngga Guh! elu dulu yang pulang, gue pengen memastikan kalau lu sampai rumah dengan selamat, ngga ada apa-apa, dan gue juga ngga mau bertanggung jawab kalau elu nekat.”


“Maksud elu? Bunuh diri? Ngga segitunya kali, ya sudah makasih ya Mi, lu sudah beri gue keputusan, meskipun keputusan itu tidak sesuai harapan gue, tapi jujur lu sudah kasih pelajaran cinta untuk gue, karena ini adalah pertama gue bilang cinta sama seorang wanita, gue akan selalu ingat hari ini, tanggal 14 september, bertepatan dengan 14 ramadhan.” Teguh tinggalin cewek berphoni berkacamata, yang memiliki nama asli Lasmi Ningsih, dia naik bis Kopaja 605 itu adalah bis jurusan ke rumah kontrakan Maman, ngapain dia ke sana? Dia mau kasih tau kabar buruk ini sama Ida, karena Ida sudah pulang ninggalin mereka berdua di Blok M. hanya dia yang tau tentang ini, tentang Teguh yang naksir Mimi, tentang buka bersama dengan Mimi, dan dia juga yang akan tau tentang Mimi yang menolak cintanya, mungkin bukan dia tidak menerimanya, tapi belum menerimanya tuk menjadi orang yang istimewa untuk hatinya, dia masih kasih Teguh harapan.


Tahun depan di tanggal yang sama dan bulan yang sama, dia akan datang lagi tuk menanyakan hal yang sama dengan hari ini, tapi dia tidak janji, kalau datang insya alloh, dia pasti datang, tapi kalau tepat waktunya dia tidak tau, yang penting tahun depan dia akan datang, ‘tunggu aku Mi! mudah-mudahan dalam satu tahun ini aku tetap akan bisa mempertahankan cintaku ini untukmu’ rasanya tidak mungkin sebab sekarang aja dia seperti sudah bisa menghilangkan perasaan hampa karena di tolak Mimi, apa lagi entar kalau dia sudah jauh dari Mimi? semua yang akan terjadi adalah kehendak Alloh, dia tidak boleh mendahuluinya, dia tetap tak bisa menyalahkan siapa-siapa, tapi dia akan tetap mengambil hikmah dan pelajaran atas kejadian di hari ini, setidaknya dia sudah tau bagaimana rasanya mengutarakan perasaannya pada orang yang bener-bener dia sayang, dia yakin ini bukan patah hati yang terakhir, dulu dia sudah sering patah hati, dan mungkin nanti dia juga akan merasakan patah hati lagi, dan dia akan merasakan patah hati yang terakhir adalah dikala Allah memintanya untuk berada di sampingNya, bukan hanya dia yang merasa patah hati, semua orang yang sayang padanya akan merasa patah hati, dan itu adalah hal yang pasti.


Sekarang dia ada di mall lagi, dia itu punya seorang sepupu cewek, namanya Puji, Teguh mau belikan baju untuk dia, rencananya hari ini adalah, selepas dari mall ini dia mau ke tanjung priuk, mau beli karcis untuk perjalanannya ke tanjung balai hari jum‟at ini,dia mau lewat laut saja, males lewat udara, terlalu cepat, enakan lewat laut, banyak pemandangan, itu rencananya, sekarang dia sedang mencoba memilih baju di tempat penjual baju, ‘sepertinya ini bagus’ pilihnya dalam hati, ‘berwarna hijau, eh ada satu lagi motifnya sama tapi yang ini warnanya pink, aku beli dua ah, buat Fitri satu.’ Fitri adalah keponakan Iwan sahabat kecilnya dulu, sahabat curhatnya saat dia naksir berat pada Kuwat, dia sekarang baru masuk kelas satu SMP, masih sangat muda, tapi dia sudah istimewa buat Teguh. Akhinya dia bungkus dua baju itu, sekarang masih jam satu siang, sekarang dia harus ke pelabuhan untuk beli karcis.


Karcis sudah dia beli, sekarang sudah jam empat sore, dia sekarang sedang ada di dalam bus angkutan menuju blok M lagi, tadi dia sudah beli karcis langsung ke pelabuhannya,


Hapenya bunyi, ini nada sms, dia lihat hapenya, dia lihat ada satu sms di dalam hapenya, dari Mimi.


“Lagi di mana Guh? sudah pergi ke kampung apa belum?” ‘ngapain dia tanya hal ini? ngga penting buat dia kali.’ batinya tapi dia senang dapat sms dari Mimi, ‘ternyata dia masih perhatian sama aku’ dia pun membalas sms itu seolah dia kecewa sama keputusannya.


“Gue masih di Jakarta Mi, masih di dalam bus dengan ke adaan hampa, hancur dan tak berdaya.”


“Cobalah untuk mengiklaskan ke adaan ini Guh, gue yakin suatu saat nanti akan ada cewek yang lebih baik dari gue.” kok dia malah balas begitu sih? Ya dia jadi bingung mau ngomong apa lagi, dia ikutin pembicaraan Mimi.


“Gue sudah berusaha untuk melakukan itu Mi, tapi rasanya gue ngga bisa. Gue terus mikirin elu Mi, gue tu sayang banget sama elu Mi.” ‘coba lihat, dia mau bales gimana sekarang’ dia tertawa dalam hati.


“Gue yakin elu bisa lupain gue, gue percaya itu karena elu orang yang kuat, lu orang yang tegar Guh.” emang dia tu pinter ngomong, dia tu pikirannya sudah dewasa banget, sudah waktunya dia tu mempunyai teman hidup, tapi sepertinya orang yang beruntung karena bisa hidup denganya bukanlah Teguh.


Bus yang Teguh naiki ini masih terus melaju menuju ke blok M, begitu sampai di kontrakan Maman nanti, dia langsung menuju ke stasiun Pasar Senen, Mimi sudah tidak lagi sms ke dia, mungkin memang Mimi tak pernah suka sama dia kali, itu artinya dia juga harus segera menghapus semua tentang Mimi dari ingatannya, mungkin ini adalah garisan hidup, tidak semuanya yang di inginkan itu akan di dapatkan, seperti seseorang yang membuat suatu rencana, sebaiknya dia jangan pernah berharap rencana yang dia buat itu akan berjalan seperti yang dia inginkan, karena tidak ada rencana yang sempurna kecuali rencana Alloh, bener ngga? je ileh, dalam banget kata-katanya,


Kembali ke bus yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi ini. perhatikan setiap gedung yang berdiri kokoh di sela-sela Jakarta ini, kalau di perhatikan dengan seksama sebenarnya Jakarta tu indah, tapi terkadang ada aja yang tidak suka ke indahan Jakarta, jadi ya dia berbuat sesuatu yang merusak ke indahan Jakarta, contohnya? Yang paling kecil aja, buang sampah sembarangan, itu hal yang sepele, yang kata orang ‘alah sampah doank aja di permasalahkan.’ Orang yang berkata begitu berarti dia itu tidak suka dengan ke indahan Jakarta, dia lah musuh Jakarta yang sesungguhnya, jadi orang seperti itu yang harus di brantas, ini hanya mengingatkan, barang kali yang terlupa jadi teringat lagi, di tengah Jakarta ini banyak banget gedung yang megah, dan tentu besar dan tinggi, orang bilang „gedung pencakar langit‟, kasian banget langitnya di cakar-cakar sama gedung entar lama-lama ada yang terkoyak lho, kalau langitnya sudah terkoyak tidak indah lagi deh, tapi dengan adanya gedung-gedung yang berdiri itu, Jakarta malah jadi ramai, iya ngga?

__ADS_1


***


__ADS_2