Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 16: Menggapai Mimpi (3)


__ADS_3

Lumayan banyak, empat ratus ringgit lebih sisah gajihnya bulan ini, dia potong buat bayar kantin, dan sisanya semuanya dia kasih kan ke mamanya, dan sekarang dia sedang ada di dalam kreta dengan mama, besok dia mau cuti, jadi sudah pasti sejarah bulan dua tidak akan terulang di bulan ini, dia lagi seneng, besok mamanya mau ngajak dia ke kedai computer.


“Mama diam bukan berarti mama tak perduli dengan Mamas, mama diam karena mama mikirin Mamas, kemarin mama sudah ke kedai computer, mama sudah carikan mamas laptop.” Begitu mamanya sampai di kongsinya, mama langsung mengoceh, dia terus saja membicarakan computer yang selama ini dia minta, yang awalnya dia kira mamanya emang tidak akan mau membelikannya computer, tapi sekarang dia baru tau.


“Kok laptop ma? Computer kan lebih murah, ngapain beli laptop?”


“Mamas ngga akan selamanya tinggal di sini kan? Mamas ngga akan menjadi karyawan di orchid sampai tua kan? Mamas bakal menikah kan? Mamas akan balik ke Indonesia kan? Apa mamas akan menenteng computer ketika mamas besok balik Indon?” iya juga sih. Kenapa dia tidak kepikiran sampai situ ya? dan laptop itu lebih praktis, jadi dia bisa nulis di mana saja dan kapan saja, memang Kasmini itu ya, is the best deh! Itu sudah cukup membuktikan kan? Kalau Kasmini emang sayang sama anaknya, yaitu Teguh, sebentar lagi, tidak lama lagi, dia akan mewujud kan semua mimpi-mimpinya, akan dia buktikan kalau impiannya bukan sekedar mimpi di siang bolong.


“Makasih ya ma! Mama emang yang terbaik buat mamas. Makasih banget.”


“It’s okey! Demi anak mama, dan demi cita-cita anak mama, semua akan mama usahakan.” Ada yang ganjil deh, kenapa tidak ‘semua akan mama lakukan’ ya? tapi tidak masalah, yang penting bagi dia, demi cita-citanya, demi mimpinya, dia akan berusaha, dan semua akan dia lakukan, termasuk terus berusaha untuk mendapat kata „iya‟ dari mamanya, setiap dia menyinggung tentang membuat film ke Kasmini, atau tentang ke inginannya untuk sekolah perfilman sama mamanya, dia selalu bilang, “Mamas jangan terlalu tinggi kalau mengkhayal, takut kalau nanti mamas terjatuh, sakit rasanya mas, mamas tu cuman anak orang miskin, inget itu, terima saja apa yang sudah di beri Alloh sama kita, yang penting sekarang kerja, cari duit sebanyak-banyaknya, untuk masa depan mamas!” dan kalau mama sudah berbicara begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi dia ngeliat perubahan dari mamanya, dengan mama membelikan dia sebuah laptop besok, itu artinya mama sudah mendukung apa yang akan dia lakukan, ‘makasih mama!’


Sekarang dia rasa waktu yang tepat, jarang dia bisa kerja bareng sama kang Yono, karena dia itu salah satu dari pemetik bunga, mungkin sekarang dia sedang kehabisan bunga, ya akhirnya dia ke sini, ke tempat depan kongsi, dekat kantin, atau tepatnya di halauan babi lama, itu tempatnya yang di namakan halauan babi lama, sebuah tempat yang di kasih seng, tapi sekarang tempat itu tidak di gunaian, mereka di sini sedang cabut pokok, nah pokok yang sedang dia dan temen-temen cabutin ini namanya pokok aranda, jenis bunga angrek atau orchid itu ada dua, yaitu jenis yang di tanam langsung di tanah, dan jenis yang harus di tanam di pot atau pasu, yang sedang di cabut ini adalah yang di  tanam langsung di tanah, aranda maupun pasu ada banyak macamnya lagi, sekarang dia mau memanfaatkan kesempatannya untuk bicara sama kang Yono, mumpung sekarang Akok, mandornya lagi tidak di sini.


“Gemana nih kang?” serbunya waktu kang Yono datang ke deketnya untuk mengusung pokok aranda yang sudah dia cabutin.


“Gemana apanya?” rupanya kang Yono emang belum nyambung.

__ADS_1


“Filmku, sudah tau kan?”


“O…film yang ingin kamu buat? Bagus itu, terusin aja, entar di jual, pasti laku tu Guh.” Kang Yono antusias banget.


“Tapi masih ada masalah ni kang, laptop sih aku sudah ada, tapi yang buat nyoting itu kang, aku belum ada.” Kang Yono jadi ikut berfikir sebentar “mau beli tapi ngga murah tu kang, mendingan kalau ada aku pinjem aja dulu, entar kan tu film aku bisa jual, setelah itu baru deh aku beli handycam sendiri.”


“Kenapa ngga pinjem ke IKMI aja Guh!”


“IKMI? Wah aku malu kang, emang IKMI punya handycam?” dia pura-pura bodoh dulu, seolah dia tidak tau segalanya.


“Aku pernah lihat pak Yogi ke sini bawa handycam, ya mudah-mudahan masih ada.”


“Iya deh besok malam, besok malam kan malam jum’at, mereka pasti datang, dulu waktu aku sama temen-temen main ke IKMI juga kita di suruh nonton Film buatan TKI, filmnya lucu, aku yakin, kita juga bisa buat film di sini, tenang aja Guh! Aku dukung kamu.”


“Kalau kang Yono di suruh ikut main filmku ini…” sedikit ragu dia, ngeliat kang Yono yang terkejut mendengar pertanyaannya ini, tapi dia terusin aja pertanyaannya ini, “…kang Yono mau?”


“Hah?” tu kan, dia kaget, dia diem, mungkin dia sedang berfikir, tapi akhirnya, “iya deh tapi kamu ajarin aku ya Guh! Susah ngga sih?”

__ADS_1


‘Siiip lah! Dia mau, untuk Yayu Sar, entar aja lagi, sedikit-sedikit aja, sekarang berikutnya adalah geng tai. aku yakin mereka pasti mau’ tersirat kebahagiaan di wajah Teguh, sekarang dia mau nerusin pekerjaannya, mengeluarkan pokok-pokok tua ini ke jalan, yang kemudian akan di buang ke tempat pembuangan sampah, karena ya pokok-pokok ini adalah sampah yang tak di gunakan lagi.


Malam ini malam jum’at, ikmi datang ke kebun, dan pak Yogi, meminta Teguh memberikan naskah Mimpi kok siang bolong, alhamdulilah sekarang di tangannya ada lima belas lembar kertas yang berisi naskah yang di minta olehnya. Seorang temannya yang bernama Bodhong punya printer, dia baru beli hari minggu kemarin, jadi dalam waktu tiga hari dia langsung kebut menulis naskah dan hari ini sudah selesai, dia langsung kebut menulis begitu dia yakin kalau pak Yogi memang mau meminjamkan handycam ke dia, soalnya hari senin kemarin dia datang ke sini membawa handycam itu, kemarin ada acara isro’ mi’roj.


Dia seneng banget, dia akan segera mewujudkan mimpinya, dia akan membuat sebuah film di sela-sela kesibukan orang yang sedang bekerja mencari ringgit. Semuanya sudah siap.


Sekitar dua minggu yang lalu, sebelum persiapan acara isro’ mi’roj, di mushola ini mengadakan diskusi, dan dia di undang untuk mencatat semua hasil dan kesimpulan diskusi, dia pun datang dengan laptop barunya, diskusi pun berjalan dengan baik, ada yang tidak hadir di mushola ini, seseorang yang Teguh harap dia ada di sini, karena di akhir diskusi ini dia ingin mengungkap ke inginannya membuat film, dan dia adalah Sar, yayu Sar, istrinya Kang Yono, sedikit kecewa memang, tapi, mungkin dia ada halangan mungkin, walau begitu malam ini dia harus membeberkan ke inginanya.


“Sebelumnya saya minta maaf, kepada semuanya, ini kesempatan saya untuk berbicara dengan kalian semua.” Dengan sedikit rasa grogi di dalam dada dia beranikan terus berbicara di depan mereka semua, mereka pun focus dengan bahan pembicaraannya, “Saya berniat untuk membuat sebuah film di orchid ini, dan film yang ingin saya buat adalah tentang keadaan kita di orchid…” dia terus menerangkan tentang ‘Mimpi kok siang bolong’ yang sudah lama berada di otaknya ini, dia juga sebutkan siapa-siapa saja yang akan bermain di filmnya ini.


Deglag, nama itu yang Teguh sebut pertama kali, dan tanpa ada jeda antara nama Deglag dan senyum yang langsung terukir di wajah mereka semua.


“Deglag akan ikut di filmku ini, begitu pun dengan Rasno, Cenot, Ekong, Oma, dan saya sendiri, film ini menceritakan tentang saya, maksud saya di filem ini nama saya Nagun yang mempunyai keinginan membuat film di sebuah kebun tempat dia bekerja, dia mempunyai dua orang sahabat yang selalu bersamanya, dia adalah Deglag yang juga mempunyai keinginan untuk menjadi seorang cameramen, dan satu lagi Asno yang ingin menjadi artis,” dengan semangat dia terus menceritakan apa yang ada di otaknya ini, “Tapi tidak semua orang percaya dengan apa yang ingin di buat oleh Nagun, tiga orang kawan kerjanya yang selalu mengejek Nagun pun semakin semangat mengejeknya karena apa yang di koar-koarkan Nagun belum juga dia laksanakan. Terjadilah pertengkaran antara klompok Nagun dan klompok Ekong atau saya sebut geng DNA dan Geng Tai. DNA adalah singkatan nama Deglag, Nagun, dan Asno, sedangkan Tai, itu provesi mereka yang bertugas taruh tai ayam di kebun orchid.” Mereka masih terus focus dengan ceritanya, dia jadi tidak grogi, begitu dia tau kalau setiap mata yang ada di dalam mushola itu tertuju padnya, seorang Teguh yang sedang bermimpi di siang bolong.


“Dan sebuah masakan itu tidak akan terasa enak tanpa di bumbui kan? Maka dari itu saya menyisipkan kisah cinta yang romantis dalam cerita ini, ceritanya Nagun mempunyai seorang kakak yang cantik, bernama Risma, usianya sudah tidak muda lagi, tapi dia belum juga menemukan jodohnya, dia selalu mendapat ejekan dari teman-teman sebayanya, terutama adalah Endah, yang tidak pernah suka dengannya,” masih saja dia terus bercerita, “Bang Yon, dia adalah seorang pemuda yang bukan karyawan di kebun ini, yang dia adalah pacar dari Risma, yang Risma belum juga mau di pinang olehnya, dengan alasan, ingin membantu orang tuanya dulu,” terus dia bercerita pada mereka semua, sampai pada akhir kisah film yang ingin dia buat itu, yaitu Nagun berhasil membuat sebuah film dengan rintangan yang luar biasa berat, sampai dia hampir terbunuh, karena ulah Endah yang membayar preman untuk merampas hasil syuting yang sudah selesai, dan di akhir cerita Risma akhirnya menikah dengan bang Yon. “Dan yang akan menjadi Risma adalah Sar, dan Bang Yon adalah Yono, untuk Endah saya sudah menemukan orang yang pas, dia adalah Yuna.” Kesunyian pun terpecah dengan berbagai komentar dari mereka semua.


Dan sekarang dia sudah di dalam mushola ini dengan lembaran naskah yang di minta oleh Pak Yogi, seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Malaysia, dalam naskah ini dia sudah buat sedemikian rupa supaya semua karyawan orchid berperan dalam filmnya ini, untuk kang Yono dia sudah menerima peran itu, untuk Yayu Sar juga sudah menerimanya, dia sudah membaca naskah itu, untuk Yuna, dia belum kasih jawaban, sekarang dia sedang membaca naskah itu, seneng banget Teguh, mudah-mudahan ini adalah awal yang baik untuknya.

__ADS_1


***


__ADS_2