Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab: 6 Bengkel Asmara


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Teguh lagi tidur pakai baju hitam, celananya juga hitam, serba hitam, kaya mau layat orang mati, tapi kemana si Arsyi? biasanya selalu berdua? kali Arsyinya lagi ada urusan sendiri mungkin, pantesan Teguh pake baju serba hitam, kalau begitu berarti di ruang bend pasti sepi, kan dram, guitar, sama sounsystemnya sudah di pindah ke gedung serba guna buat pentas seni bulanan malam ini, berarti si Teguh lagi nunggu si Darmawan, Teguh mau latihan pantomim.


Darmawan adalah murid kelas satu SMA yang sudah pandai berpantomim, Darmawan baru datang. Dia langsung masuk ke ruangan seolah tak punya dosa, padahal dia kan sudah telat, Teguh sudah ketiduran gara-gara nunggu Darmawan.


“Teguh, sorry I’m late.”


“Hah…” Teguh terkejut, dia emang sudah tidur, matanya merah. “Dari mana sih lu?”


“Sorry Gun, gue habis ada urusan.”


“Ya sudah lah kita langsung latihan aja ya!” Teguh tidak marah, emang tu anak kelewat baik.


Jam menunjukan pukul 16:00 mereka pun selesai latihan, karena mereka berlatih dari pukul dua siang. Latihan Pantomim sangat membosankan, mereka tidak berdialog, bikin bete’. Tapi, kalau sudah di atas panggung, begh…itu adalah sajian atau suguhan tanpa kata yang luar biasa.


“Nagun, gue duluan ya!” Nagun adalah nama beken Teguh yang lain, nama ini di beri oleh teman-teman Teguh, kata mereka kumis Teguh kalau panjang seperti kumis naga, makanya mereka memberi nama Teguh dengan Naga Gunung atau Nagun.


“Ya sudah sana, langsung balik ya Peng! ntar gue lagi, yang kena marah sama wali kamar elu.” Dan Topeng adalah nama beken dari Darmawan, karena dia juga berprofesi sebagai tari topeng, sebuah tarian tradisional dari cirebon.


“Dasar lu Naga Gunung!”


“Dari pada elu Topeng! eh tunggu dulu dong! buka dulu Topengnya, masa Topengnya mau di bawa balik? Buka dong! Biar orang pada liat muka elu!” seorang cewek nyamperin Darmawan yang baru keluar dari ruangan theater.


“Eh Maryam.”


“Halo kak Darmawan? KTPnya ada?”


“Ada, pantomim! Naga! Ni Maryam nyariin!” dasar Topeng! Teguh deket gitu manggilnya kaya di tengah hutan, pake teriak-teriak segala.


“Tanks ya kak!” Teguh langsung keluar dari ruangan dan nyamperin Maryam.


“Sama-sama Iyam! Eh Yam, hati-hati ya ntar di sembur, haaah… gosong deh.”


“Eh Topeng! Lu ngomong apa?” lagi-lagi dua orang itu berantem, tapi berantemnya tidak perlu tonjok atau tendang, hanya dengan kata-kata.


Maryam adalah anak yang manis, wajahnya juga cantik, lembut, bibirnya tipis, walaupun terkadang bikin orang gondok, sok cuek, padahal sebenarnya dia perhatian, yang jelas Maryam tu anaknya selalu ceria, dia sangat dekat dengan Teguh, mungkin lebih dekat dari saudara, hampir mendekati kekasih lah, tapi Maryam bukan kekasih ataupun pacar Teguh, dan Maryam juga bukan saudara Teguh, tapi Teguh lebih suka nganggep dia seperti adiknya sendiri, walaupun Maryam sudah punya dua saudara di sekolah ini, pertama perempuan, dia sudah lulus tahun lalu dan kedua, lelaki, dia kelas dua SMA, dan Maryam sendiri kelas tiga SMP, pokoknya Maryam anak yang begitu mudah untuk di sayangi, itu kata Teguh, dan sekarang Maryam sedang ada konflik dengan cowoknya, seperti biasa, Teguh lah yang selalu menjadi tumpuan Maryam.


“Gimana Yam? sudah beres?” Maryam geleng kepala, Teguh pun mengerti arti gelengan kepalanya.


“Bentar ya! kakak mau kunci ruangan ini.” Maryam menunggu di depan, sedangkan Teguh sedang mengunci pintu ruangan Theater, ruangan yang sudah seperti rumahnya sendiri, bagaimana tidak, setiap hari dia selalu ke ruangan itu, Sekarang sudah di kuncinya ruangan itu, dia nyamper Maryam.


“Yuk kita ke gedung serba guna!”


“Kak, gimana dong?” sambil terus melangkah kan kakinya menuju gedung dimana di sana sudah berkumpul semua murid yang akan memeriahkan acara pentas malam ini, Teguh mencoba memberi saran terbaiknya untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi oleh Maryam.


“Yam, kalau Iyam memang masih suka sama Rahmat, ya sudah baikan aja lagi! Rahmat juga pasti berharap seperti itu Yam. Beres kan? Rahmat juga sering curhat sama kakak, sebenarnya kalian tu masih suka sama suka, hanya saja kalian tu sama-sama egois, mau menang sendiri.” Teguh hanya ingin apa yang pernah dia alami dulu tidak di alami oleh orang lain, begitu banyak kegagalan yang dia alami dalam asmara, itu yang membuat dia menjadi seperti bengkel asmara.


“Terus baiknya gimana kak?”


“Sekarang Iyam temui Rahmat ya! dia sekarang sudah di gedung serba guna, tadi kakak sudah bilang ke Zizah, kakak suruh dia jemput Rahmat.” Rahmat sudah pasti cowoknya Maryam, Sekarang mereka sudah di gedung serba guna. Tadi Teguh sama Maryam jalannya lelet dan yang di bahas itu-itu aja, Maryam sedang naik tangga. Sampailah mereka di lantai dua gedung serba guna Al-Akbar,


Si Zizah ternyata hebat menjalankan tugas. Sekarang dia sudah bawa Rahmat, semoga aja rencana Teguh dan Zizah sukses,


“Tuh dah datang bocahnya, sekarang lu bilang ke Maryam, lu minta maaf gitu deh, lu pasti paham kan?”


“Iya deh, tapi..”


“Apa lagi?” Rahmat keliatan kaku, dia pun sedikit melirik Zizah, dan kemudian…


“Zah lu temenin gue ya! gue takut.”


“Takut apa lagi?” sepertinya Zizah menolak, itu artinya Zizah tau, kalau ini bukan lah tugasnya, “Kan kak Teguh kemarin sudah bilang kalau Iyam emang masih suka sama elu!” Rahmat pun kembali berfikir.


“Oke deh! gue bakal berusaha, makasih Zah! lu sudah mau Bantu gue.”


“Sama-sama lagi, good luck! Semangat ya!” Rahmat pun pergi dan duduk di salah satu kursi penonton Gedung serba guna Al-Akbar ini.


Zizah Khodijah Adalah anak kelas tiga SMP berbody langsing, kalau di lihat dari ujung monas, alias Gendut, mungkin bisa tergolong anak manja, walaupun dia hanya seorang anak karyawan seperti Teguh, sedikit bawel, tapi penurut, keliatan banget manjanya kalau dia ketemu sama Teguh Prayitno, terus ada maunya. Zizah menemui Teguh dan Maryam, dan meninggalkan Rahmat.


“Kak tuh Rahamatnya, sudah Zizah bawa, Zizah seret dia dari ranjang tidur, masa jam segini dia tidur? Gak gaul banget kan?” Zizah hanya bercanda, karena tidak mungkin murid perempuan boleh masuk dalam kamar murid lelaki.


“Hebat dong? Tapi ya…wajar aja lah, Rahmat kan sudah kayak lidi, badannya kecil.” Di ikuti dengan sedikit tawa Teguh, dan ternyata ada yang tidak terima.


“Kakak jangan gitu dong! Walaupun Rahmat kuyus, tapi dia kuat, hebat main bola, nah kakak bisanya apa?”


“He…he… apa ya?” Teguh sedikit tersenyum, tiba-tiba Zizah menarik Teguh, dan berbisik ‘Kak, sudah biar mereka berdua ketemu!’ Teguh pun mau pergi meninggalkan Maryam yang sudah putus dan sekarang mau mencoba menyambung kasihnya bersama Rahmat kembali. “Yam kakak pergi dulu ya! sana temuin Rahmat!” tapi Wajah Maryam masih cemberut “Apa lagi? sudah deh inget apa yang kakak bilang tadi, oke?” Maryam berbisik pada Teguh.


“Iyam masih takut. Temenin!”


“Udah lah langsung aja!”


“Ngga mau, pokoknya Antarin!” Apa boleh buat, Teguh memang pantang dengan suara manja setiap Wanita, apa lagi suara milik orang yang istimawa untuknya, tidak bakal ada kata ‘ngga’ untuk dia yang istimewa.


“Ya sudah ayo! Zah, Zizah ke temen-temen yang lain ya! kakak nganterin Iyam dulu.”


“Uh…dasar Iyam manja!”


“Biarin weee…”  


“Iya deh, ntar kakak ke sana ya!”


“Iya!” mereka memang suka gitu, saling iri meng-iri dengan perhatian Teguh, tapi Teguh tetap berusaha membagi perhatian pada mereka sama rata, karena mereka itu adalah orang-orang istimewa. Teguh pun membawa Maryam mendekati Rahmat yang sedang duduk di salah satu kursi penonton.


“Halo Mat? Pakabar?” seperti pertemuan dua sahabat, mereka akrab. “Nih ada yang mau ngomong sama elu, Yam, sudah ya! ni Rahmatnya, Kakak mau gladi resik dulu.”


“Kak, Iyam Malu!”


“Ya elah, sekarang Iyam duduk aja di sini, selesaikan masalah kalian, ambil yang terbaik ya!” Teguh pun pergi. sekarang saatnya Teguh nemuin anak-anak asuhnya, angklung dan theater. Di sana sudah ada Zahra, dia pun duduk di samping Zahra sambil bercanda, bercerita dengan semua anak asuhnya, sambil sesekali memantau Maryam dan Rahmat.


Zahra adalah cewek yang paling dekat dengan Teguh saat ini semenjak putusnya dia dengan Yani. ‘kira-kira apa ya yang di omongin Rahmat dan Maryam?’ pikir Teguh, ‘Tinggalkan mereka berdua biarin dua insan yang sedang bergebu-gebu detak jantungnya itu, mending dengerin cerita Zahra nih, sebab Zahra sedang cemberut mrengut, mukanya mengkerut, dagunya ketekuk.’ Masih dalam batin Teguh

__ADS_1


“Kak? Kakak kenal sama anak cewek yang itu ngga?”


“Yang mana?” Zahra menunjuk seorang cewek yang Teguh emang kenal.


“Itu yang lagi ngobrol berdua, mereka kelas dua.”


“Oo.. itu Lurry, kenal, memang kenapa?”


“Tadi Zahra tabrakan sama dia, kan dia yang nabrak, eh.. malah dia yang marahin Zahra.”


“Gantian dong marahin lagi!” Zahra makin cemberut. “Ih..Zahra jelek ya kalau cemberut? Zahra mau kakak datangi Lurry terus kakak marah-marahin Lurry? ‘eh Lurry! Kenapa elu tadi marah-marah sama cewek cantik yang bernama Zahra ha!?’ gitu?”


“Ngga usah, buang waktu aja, lagian kakak ngga bakal berani kan?”


“Eit..eit..siapa bilang kakak ngga berani? Bakal kakak buktiin nih.” Teguh berdiri, tapi begitu Teguh berdiri cewek yang bersama Lurry memanggilnya.


“KTP! Sini!” wah Teguh jadi tak enak sama Zahra.


“Pergi aja kak! Zahra ngga apa-apa kok.”


“Bener ya ngga marah!” Teguh pun memenuhi panggilan cewek kelas dua SMP yang sudah pasti dia kenal yang sekarang sedang dengan Lurry. Sekilas dia melihat keadaan Maryam dan Rahmat dari jauh. Dari jauh Maryam melambaikan tangan pada Teguh dan tersenyum. Sudah sampai tujuan, cewek yang di samping Lurry langsung membuka obrolan dengan satu pertanyaan.


“Kakak nanti tampil apa?” cewek yang kulitnya putih ini, walaupun dia bukan keturunan American, ataupun British, juga bukan china, yang jelas dia anak yang cantik namanya Erika. Dia adalah salah satu cewek yang suka curhat sama Teguh tentang cowoknya, emang si Teguh seperti bengkel asmara, sana-sini pada nanya soal asmara.


“Bukanya kakak mau berbohong, tapi ini rahasia, Erik sendiri tampil apa?”


“Rahasia juga dong!”


“Kalau masalah dengan Anto sudah beres?”


“Udah kak, makasih ya kak, berkat kakak, Anto sekarang sudah ngga marah lagi.” sebenarnya apa yang buat Erika menjadi salah satu cewek istimewa buat Teguh? Sikap manjanya, ya sama dengan yang lain, Zizah, Maryam, Zahra, mereka semua mempunyai sikap manja.


“Ya, itulah gunanya seorang kakak, ya ngga Lurry?” seperti biasa Lurry dia cuek abiz sama Teguh, tapi terkadang dia tersenyum padanya, mungkin itu sifat jeleknya, dia jutek, sepertinya Maryam dan Rahmat sudah habis urusan, mereka masih diem-dieman, Teguh pun merasa begitu, akhirnya Teguh pun meninggalkan Erika dan Lurry menuju ke arah Maryam, Maryam tau Teguh sedang datang ke arahnya, dia pun langsung berlari menghampiri Teguh, dan langsung bermanja pada Teguh.


“Udah selesai?”


“Udah kak!”


“Dia dah ngomong?”  


“Udah.”


“Terus?”


“Kita jadian lagi.” Teguh merasa gembira, ternyata dia masih bisa berbuat baik untuk orang lain.


“Kalau begitu, mulai sekarang Iyam harus bisa menjaga perasaan Rahmat, inget kata-kata kakak! Kalian harus saling terbuka! Ya sudah sekarang pulang yuk!”


“Iyam mau ke kantin sama Zizah.” Zizah datang dari kerumunan anak-anak theater, karena Zizah adalah salah satu dari anggota theater, “Kakak temenin Rahmat aja!” Teguh melihat Rahmat yang masih duduk di kursi penonton semenjak tadi dari sebelum Teguh dan Maryam datang sampai Teguh ninggalin Maryam dengannya, bahkan sampai sekarang Maryam meninggalkanya lagi. Betah banget tu anak duduk di sana.


“Kakak mau pulang dulu ah! Kakak mau siapin buat ntar malam.” Mereka pun mendekati Rahmat.


“Tunggu dulu dong Yam!” ya inilah Zizah, dia mendekati Teguh. “Kak! Zizah mau ke kantin nih.”


“Ya sudah pergi aja!” tapi Zizah belum beranjak juga, rupanya di balik ke diaman Zizah ada maksud tersendiri, dan bukan Zizah kalau tak begitu. Langsung saja Teguh mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan kemudian mengeluarkan duit selembar lima ribuan dari dompetnya.


“Tanks kak!” baru si gendut pergi dengan Maryam, sudah kayak sama bapaknya aja!


“Guh, makasih ya! tanpa bantuan elu ngga bakal gue jadian lagi sama Maryam.”


“It’s ok lah Mat, kita kan friends.” Time is over, sekarang Teguh mau balik, istirahat, nanti malam jangan lupa lihat penampilannya di Gedung serba guna Al-Akbar. ‘Emang beda ya, nolong orang, walaupun ngga ada untungnya buat aku, tapi seneng ngeliat orang seneng.’ Batin Teguh sambil menuruni tangga dan menuju asramanya, kalau semua manusia seperti ini, dah tentu dunia ini serasa seperti surga.


***


Teguh duduk di samping Zahra, Zahra sudah selesai penampilan, Teguh juga sudah tampil di atas pentas, para fans Teguh tak henti-hentinya memuji Teguh.


“KTP, bagus banget tadi…”


“KTP, lagi dong!...”


“KTP, ajarin dong kak!...” dan Teguh ngga bisa berbuat apa-apa, Teguh hanya meng iyakan mereka, setelah berhasil membereskan mereka, Teguh langsung menuju ke Zahra, dan duduk sampai sekarang.


“Kak, ada yang mau kenalan tuh.”


“Hah? Kenalan? Emang masih ada orang yang ngga kenal kakak?”


“Ih... GR banget sih, tu anaknya, namanya Lestari.” Wow besar banget, maksudnya dewasa banget tampangnya, “Dia temen kelas Zahra.” Hah? Berarti dia baru kelas satu? kirain dia dah kelas berapa gitu, habisnya dia sudah montok, molek, dah mengkel gitu deh, emang papaya mengkel segala. “Dia ngefens berat sama kakak.”


“Wah… ternyata banyak yang ngefans sama kakak ya?”


“Tapi ngga termasuk Zahra ya kak!” Zahra pun memanggil si Lestari si mengkel itu ke Teguh.


“Nih kak Teguh, dah kenalan sana!”


“Hai kak? Aku Lestari temennya Zahra!”


“Ya... kakak sudah tau dari Zahra, katanya Lestari ngefans berat ya sama kakak? Berarti di dalam dada Lestari sedang menggebu-gebu degub jantungnya dong?”


“Ngga juga kak.”


“Ngga? Bo’ong kali?”


“Kakak kok jadi keGRan gitu sih?” Zahra jadi sewot, akhirnya mereka ngobrol bertiga, gagal lah rencana Teguh untuk pedekate sama Zahra.


Tanggal 2 april, itu tanggal hari ini, Teguh sedang di dalam ruangan, biasa memang tempatnya di sana, sewaktu Teguh sedang latihan Si Zahra datang, Teguh seneng banget dia langsung menyambutnya, tapi begitu dia keluar.


“Nih Lestari mau ngomong sama kakak!” ternyata, dia datang bareng si mengkel, langsung sirna kegembiraannya.


“Oo... mau ngomong? Ngomong apa Les?” Lestari mendekati Teguh, dengan membawa sesuatu.

__ADS_1


“Lestari ada sedikit makanan buat kakak.”


“Lho…acara apa ini? Kok kamu kasih kakak makanan? Mau nyogok ya?”


“Lestari hari ini ulang tahun kak, makanya ayo kita kerjain!”


“Oo... bener Les? Kirain mau nyogok kakak biar Lestari bisa masuk anggota theater yang baru, o iya theater buka pendaftaran anggota baru lho.” Wah promosi nih, ngga ada yang perduli kali. “Harusnya kan kakak yang kasih kado ke Lestari, sorry kakak ngga tau sih.”


“Ngga apa-apa kok kak, KTP mau menerima makanan ini aja Lestari sudah seneng banget.” Itu baru ngefens. itu mah namanya kelewat ngefans kali. Tapi ya biarin aja, toh itu suatu keberuntungan Teguh, sebagai orang yang banyak fansnya.


“Ya… makasih banget deh Les! Sering-sering aja! O iya Sekarang kalian mau kemana?”


“Kalau Lestari mau pulang aja kak.”


“Wah sorry nih kakak ngga bisa nganterin, kalau Zahra? Zahra sini aja ya temenin kakak!”


“Kalau Zahra temenin kakak di sini, terus yang temenin Lestari pulang siapa? lain kali aja kak?”


“Iya kakak ngerti kok, kakak bercanda, tapi lain kali bener ya! kakak masuk dulu ya! mau melatih anak-anak nih.” Ya begini nih jadi orang sibuk, tapi entah apa yang ada di wajah Teguh, padahal di wajahnya hanya ada senyum manis yang murah saja, dan di dalam dadanya hanya ada hati yang berusaha jujur, walaupun terkadang terpaksa tidak jujur, Teguh sekarang bukan hanya menjadi anggota theater, tapi juga menjadi asisten guru theater, kalau mereka tak bisa mengajar, maka Teguh dan kawan-kawannya yang akan mengajar anggotanya.


Dengan menjadi perantara Teguh punya usaha mencucikan baju teman-teman sekolahnya, dia yang mengumpulkan baju itu dan bapaknya yang mencuci, itu menjadi pendapatan untuk Teguh yang tak pernah meminta uang pada bapaknya, hasil dari cucian itu pun di bagi dua, buat ibu tirinya dan buat dia sendiri, terkadang ibu tirinya tidak terima dengan pembagian itu karena terkadang semua uang yang di dapatnya dia gunakan untuk keperluan sekolahnya, juga untuk iuran Theater, pertengkaran dengan ibu tirinya pun tak terelakkan, namun masih beruntung karena Sunar, bapak Teguh adalah orang yang sangat sabar, dia selalu melerai dua orang yang dia sayang itu.


Dan kali ini Teguh sedang duduk di kantin umum dengan seorang cewek yang dia kenal.


“Kak!”


“Iya Iyam!” dia lah Maryam.


“Kalau setiap hari kakak traktir Iyam, nanti kakak bisa bangkrut lho.”


“Kok Iyam ngomong gitu sih?” Teguh memakai kemeja berlengan panjang orange, celana bahan berwarna hitam, ga nyambung banget, dan di depannya, Maryam pake krudung putih, baju warna merah dan rok panjang berwarna putih, cocok banget, kayak bendera Indonesia merah putih, “tapi kan kakak ngga setiap hari traktir Iyam, cuman hari jum’at aja, setelah sholat jum’at, jadi kakak ngga akan bangkrut.” di kantin ini mereka tidak berdua saja masih banyak murid lain di kantin umum ini, mereka berpakaian rapih-rapih karena mereka baru pulang dari masjid.


“Maryam!”


“Masya Alloh Zizah!!!! Iyam ada di sini Zah! Iyam ada di kantin! Bukan di hutan.” Tiba-tiba Zizah nyamperin mereka berdua dengan mengejutkan Maryam, si gendut itu memang anaknya ceria, sekarang aja dia masih tersenyum setelah puas membuat Maryam terlonjak dari kursi yang di dudukinya.


“Makasih ya kak, mie ayamnya, kak, Iyam kan ngga suka sama mie ayam, kok dia di traktir mie ayam juga sih?”


“Ye… kata siapa Iyam ngga suka Mie ayam? Iyam tu ngga suka sama sambelnya aja.”


“Terus kenapa belum di makan tu mie ayamnya?”


“Tungguin kamu biar makannya bareng sama kamu, ntar kan habisnya bareng.”


“Udah ah… jangan ribut terus, kapan mau makannya? Yuk kita makan!” Teguh mencoba melerai mereka, dan mereka pun diam, mereka mulai focus pada mie ayam mereka. “O iya Yam, bagaimana kabar Rahmat?”


“Rahmat? Ngga tau kak, dua hari ini kita ngga ketemuan.”


“Kenapa emang?”


“Ngga tau kak.” Zizah gendut masih asyik dengan mie ayamnya, sedang Iyam masih main-main dengan mangkuk yang berisi mie ayam.


***


Sekarang bukan hari jum’at juga tidak di kantin, Teguh dan Maryam berada di antara dua gedung besar Asrama Rijal dan Asrama Nisa’, Maryam duduk di sebuah beton tepi jalan, Teguh berada tepat di sampingnya.


“Iyam bingung kak!”


“Kalau menurut kakak, Iyam salah kalau tiba-tiba Iyam minta putus lagi dari Rahmat, ngga logis tau, secara kemarin Iyam terima dia dengan suka rela, sekarang Iyam putusin dengan sepihak.”


“Terus Iyam harus gimana?”


“Kakak dukung semua keputusan Iyam, tapi dengan satu syarat.”


“Syarat?”


“Iyam tau kan, Rahmat itu temen kakak, walaupun sekarang kakak kelas tiga SMA dan dia tiga SMP seperti Iyam, tapi dia temen main kakak, kakak ngga rela kalau dia di sakiti sama cewek, apa lagi itu Iyam.”


“Jadi? Iyam harus gimana?”


“Iyam buat satu alasan yang logis, yang mungkin Rahmat bisa teriama keputusan Iyam, dengan begitu Iyam ngga bohong sama Rahmat, karena kakak ngga suka cewek pembohong. Oke?”


“Alasan?” Iyam pun mulai memutar otaknya, dia mencari alasan. “Iyam tau kak, bagaimana kalau Iyam pake alasan kalau Iyam belum boleh pacaran sama mama juga bapa?” Teguh yang ada di samping Iyam, diam sejenak.


“Boleh juga, kalau kakak jadi Rahmat, kakak pasti akan terima alasan itu Yam, tapi itu ada unsur bohongnya Yam.”


“Ngga juga kak, emang Iyam belum boleh pacaran sama mama.”


“Oke, kalau begitu kakak terima. Kapan Iyam mau nemuin Rahmat?”


“Iyam ngga berani nemuin dia kak, Iyam mau tulis surat aja.”


“Kalau begitu sukses ya! Kakak mau balik ke kamar dulu, bentar lagi sholat ‘asar.”


“Iya kak, makasih ya!” Teguh ngeliat Maryam dengan pandangan yang berbeda, dia pergi menuju gedung yang ada di samping kanan mereka, dan Maryam ke gedung sebelah kiri, Maryam berlari kecil, dan Teguh, dia ngeliat Maryam pergi. Teguh senyum terus dia melanjutkan perjalannya.


“Gue masih punya harapan.” Teguh marasa senang, “Iyam! Kenapa sih kamu belum bisa juga ngerasain perasaan gue ini?” sepertinya dia memang suka sama Maryam, dia memang ada rasa sama cewek bernama Maryam Thowilah ini. Bener-bener sesuatu yang susah di mengerti.


Dia ada di atas gedung, bukan atas gedung tapi Teguh ada di dalam gedung asrama, dia sedang berjalan di selasar, atau koridor asrama, ada banyak pintu-pintu, dan di atas pintu itu ada nomer kamarnya, dia berhenti di salah satu kamar yang bernomer 505, kemudian dia masuk tanpa mengetuk pintu, begitu dia membuka pintu itu, di dalam kamar ada banyak anak muda, jauh lebih muda darinya, Teguh lihat seorang pemuda yang sedikit kurus, emang dia kurus, bukan sedikit lagi, dia sedang membaca selembar surat, Teguh tau itu pasti surat dari Maryam, dia pun mendekat ke Rahmat cowok yang baru saja di putusin secara sepihak oleh Maryam.


“Eh, Teguh, kabar buruk nih Guh!”


“Ah? Kabar buruk? Maksud elu apa Mat?” Teguh pura-pura tidak tau, apa ini bisa di bilang jahat?


“Iyam mutusin gue lagi Guh! Nih suratnya, lu mau baca?”


“Engga lah, emang dia ngomong apa?”


“Alasanya ngga masuk akal Guh! Masa dia ngga boleh pacaran sama mamanya, kenapa ngga dari dulu dia bilang ke gue?” Teguh  kelihatan seperti kebingungan, dia tak bisa ngomong apa-apa, “Nih gue mau bales suratnya, gue kasih dia lagunya Ungu, yang judulnya ‘jika itu yang terbaik’ cocok banget lagunya Guh.” Teguh tak tau apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tau Rahmat pasti sedang kecewa banget sekarang ini, belum seminggu dia jadian lagi sama Maryam, kalau saja Teguh yang jadi dia, pasti dia juga kecewa, tapi Teguh bukan dia, lain banget sama Teguh yang sekarang masih duduk di sebelah Rahmat, dia kelihatannya tidak sedih, dia kelihatan senang, tapi tidak mungkin kesenangannya itu akan di tunjukan ke Rahmat.

__ADS_1


***


__ADS_2