
Dua tahun kemudian Mad Gasmin Ayah dari Kasmini datang ke Jakarta, dia mengabarkan pada Kasmini bahwa ibunya sudah kembali dari lampung, sebelumnya ibu dari Kasmini minggat dengan membawa seorang anak lelaki adik Kasmini menuju rumah anak perempuan kedua hasil perkawinan dengan suami pertamanya, dan semenjak kepergiannya, ayah Kasmini sudah menganggap bahwa istrinya sudah meninggal. Mad Gasmin ayah kandung Kasmini pun mencari perempuan lain.
Dengan datangnya kabar Ibunya masih hidup dan sudah kembali ke jawa, Kasmini pun mau ikut pulang pada ayahnya, namun begitu sampai di kampung, rupanya mereka tidak tinggal bersama, ibu Lasinah nenek dari Teguh Mandarito ikut bersama anak perempuan pertamanya dengan suami pertama. Mad Gasmin ayah Kasmini marah pada Lasinah istrinya karena anak kedua mereka meninggal di lampung. Kasmini pun memutuskan untuk tinggal bersama kakak kandung ayahnya Ibu Kasiem di Kroya. Profesinya adalah Lengger, dia lah sang penari yang sangat tersohor di masa mudanya, dia tidak memiliki keturunan. Semasa kecil Kasmini di asuh olehnya. Ibu Kasiem merasa bahagia dengan kehadiran Kasmini dan kedua anaknya.
“Kamu boleh nak tinggal di sini, tapi anakmu sing lanang sapa jenangane Kas?” begitu Kasmini masuk ke rumah yang jauh mewah dari rumah milik Ayahnya.
“Teguh Mandarito wa’” jawabnya dengan lembut. Teguh masih tertidur di emban olehnya dengan penuh kasih sayang.
“Sapa? Mandarito? Koe ndongakna anakmu men terus menderita? Nama adalah do’a nak, kasih nama sama anak itu yang bener!” Kasmini hanya bisa terdiam begitu mengetahui kesalahan dalam memberi nama anak keduanya, “Tek ganti jenengane ya nak?” sambil dia mengambilkan air putih dari teko berbahan kramik untuk keponakannya yang terlihat masih kelelahan, Kasmini sendiri sudah meletakkan anaknya di sofa yang belum banyak orang memilikinya, Mami kakak Teguh masih sibuk dengan jajan yang di belikan oleh mbahnya, kakak dari kakeknya.
“Iya wa’ boleh, memangnya nama yang bagus buat anak kedua ku ini siapa wa’?
“Teguh wis apik nggo anakmu, supaya dia akan tetap teguh dalam menghadapi segala cobaan yang akan datang kelak pada perjalanan hidupnya, ning sing dadi masalah, apa yang akan dia pertahankan? Apa yang membuat dia tetap teguh dalam pendirian?”
“Ya saya tidak tau wa’, memangnya siapa wa’?”
“Nah kue Kas, dia harus hati-hati dalam memilih apa yang harus dia pertahankan, apabila itu sesuatu yang buruk, nggo ngapa di pertahankan.”
“Terus?” Kasmini serius menanggapi Uwa’nya yang tak mempunyai anak itu.
“Teguh Prayitno adalah nama yang paling baik dan paling pas untuk anakmu ini, kelak dia benar-benar akan menjaga apa yang harus dia jaga.”
“Teguh Prayitno? nama yang bagus wa’ trimakasih.”
“Dan ingat Kas! Kelak anakmu akan melawanmu, dalam artian dia akan memilih jalan hidupnya sendiri, dia tidak akan segan untuk menghukum kamu bila kamu salah, dan dia akan korbankan nyawanya untuk membela dan melindungimu dari mara bahaya,” Kasmini masih terus mendengarkan nasehat dari kakak kandung ayahnya.
“dan wa’ yakin kalau cucu Mad Gasmin ini akan menjadi sang Pencari Sejati, kebenaran sejati, Karya yang sejati dan Cinta sejati, kamu harus mendukung semua yang akan dia lakukan kelak Kas! Wa’ yakin kamu akan bangga dengan anakmu kelak.” Malam itu juga Ibu Kasiem membuat bubur abang dan memanggil tetangga kepungan untuk meresmikan nama cucu dari adiknya itu.
January 1989
__ADS_1
Waktu berlalu Teguh pun semakin tumbuh, Kasmini tetap tinggal di kampung dan Ayah Teguh tetap di Jakarta, hubungan Kasmini dengan Ayahnya sudah membaik, begitu juga dengan Ibunya, hanya saja hubungan Mad Gasmind dan Lasinah orang tua Kasmini belum juga bisa bersama, Mad Gasmin tetap dengan perempuan lain tanpa status dan menghasilkan seorang anak perempuan di luar nikah.
Jiwa seni yang di miliki wa’ Kasiem menitis pada diri Kasmini, Kasmini pun menjadi seorang Biduan, menjadi penyanyi dangdut ikut sebuah grup dangdut dan ikut manggung. Sebelumnya dia meminta izin pada suaminya, sang suami pun mengizinkan, kedua anaknya dia titipkan pada Ayahnya dan perempuan yang bersamanya setiap kali ada panggilan manggung.
Pada suatu hari, ketika Kasmini sedang manggung anak pertamanya yang bernama Mami mengalami kecelakaan yang sungguh fatal, salah satu kakinya menginjak paku berkarat saat dia bermain dengan teman-teman sebayanya, Mami pulang kerumah menangis sambil menuntun adiknya, Mami tidak akan kuat menggendong adiknya tubuh Mami walau sudah berusia tujuh tahun tubuhnya kecil ramping, rambutnya panjang ikal terurai, banyak tetangga yang bilang dia itu seperti boneka, cantik seperti Kasmini.
“Mami? Koe nangapa balik-balik nangis? Kerah karo batire?” perempuan bernama Gambreng yang selama lima tahun ini hidup bersama kakeknya menanyakan keadaan Mami dengan marah, dia menggendong anaknya yang baru berusia beberapa bulan anak hasil hubungannya dengan Mad Gasmin, kakeknya sekarang sedang tidak ada di rumah, dia sedang bekerja di kebun milik desa, karena itulah pekerjaan kakek Mad Gasmin, mengabdi pada desa.
“Mami midek paku mbok, nang karangan!”
“Alah... ora usah alesan koe! Madang nganah! Dulangi sisan adimu!” Gambreng tidak perduli dengan aduan cucu lelaki yang hidup bersamanya, Mami pun lekas masuk ke dapur dan mengambil nasi yang sudah tersedia di meja, tidak ada lauk di meja yang seharusnya bersama dengan nasi.
“Madang karo uyah, kakimu ora ulih lawuh dina kie!” Mami pun tak berkomentar, pukul sepuluh pagi Mami baru sarapan, dan nasi yang dia makan pun sega wadang, Mami mendulangkan nasi di cobek ke mulutnya sendiri dengan tangannya, dia rasakan nasi sudah tidak enak, tapi dia tetap mengunyahnya, dan menelannya dengan terpaksa, kemudian mendulangkan pada Teguh adik lelakinya,
Teguh segera mengeluarkan kembali nasi yang sudah masuk mulutnya ke tanah dalam rumahnya.
“Ora enak Yu!”
Selesai dia makan dia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tak berkasur di rumah kecil itu, Teguh ikut rebahan di samping kakaknya yang masih menahan sakit di kakinya, tak perlu waktu lama kedua kakak beradik itu pun tertidur pulas, Kakek Mad Gasmin pulang saat tengah hari untuk makan siang.
“Mbreng! Mami karo Teguh pada mengendi?”
“Mami tidur kae sama adiknya, tadi habis makan mereka langsung pada tidur.”
“Kasmini wis Balik?”
“Belum pak! Palingan ngko mbengi dia baru balik, dia lagi manggung di desa tetangga sebelah.”
“Syukurlah, dia memang mewarisi jiwa seni milik kakakku.”
__ADS_1
Kakek Mad Gasmin tidak tahu yang sebenarnya bahwa cucunya terkana paku berkarat, karena memang Gambreng tidak memberi tahukan padanya, selesai makan siang kakek Mad Gasmin pun kembali pergi ke kebun, Mami masih tertidur di ranjang tidurnya dengan adik kandungnya. Di sore hari sampai magrib Mami belum juga bangun, sampai akhirnya kakeknya membangunkannya.
“Mami! tangi Mi! Wis wengi kie!” sedangkan Teguh sudah bangun dari sore sebelum ‘Asar, meskipun kakeknya sudah membangunkan secara halus, Mami masih juga belum mau bangun, “Mami!?” Kakek Mad Gasmin pun mendekati cucunya dan menyentuh tubuhnya, dia terkejut bukan kepalang mengetahui sekujur tubuh cucunya panas, dia baru menyadari di salah satu kaki cucunya itu terlihat biru, dia lekas mencari tau kenapa kakinya menjadi biru.
“Mbreng! Gambreng! Cepet catut gawa ngeneh.” Kakek Mad Gasmin baru menyadari ada sebatang paku berkarat yang menancap di kaki cucunya.
“Nggo ngapa pak!”
“Udah jangan banyak tanya! Ambilin aja!” Mad Gasmin mulai terlihat emosi melihat keadaan cucunya. Gambreng pun langsung mecari apa yang di minta oleh Mad Gasmin.
Setelah catut ada di tangan Mad Gasmin, dia pun langsung berusaha mencabut paku yang sudah bertengger di kaki Mami dari tadi pagi. Tidak ada reaksi dari wajah Mami, dia tetap diam namun tubuhnya masih panas, Mad Gasmin semakin panik, dia langsung membopong cucunya keluar dari rumah membawanya ke puskesmas terdekat. Sedangkan Teguh baru mau tidur lagi.
Suasana rumah Mad Gasmin ramai sekali, ada orang sedang membaca ayat-ayat al-qur’an, dan itu adalah surat yasin, apa yang terjadi?
“Nek langsung di entokna getih kotore, Mami pasti ora mati Dul.”
“Iya bener Min, masalahnya kakek Mad tidak tau kalau cucunya kena paku berkarat Min” di sana terlihat ada beberapa pemuda dan sebagian setengah baya, mereka seperti membuat sebuah keranda orang mati, dan mereka juga sekarang sedang ngomongin tentang orang yang mati itu, ternyata Mami memang sudah tak dapat di selamatkan, hari semakin malam, sebuah delman berhenti di depan rumah ini, sebuah rumah yang sederhana, seorang wanita yang masih muda dia lah Kasmini, dan seorang lelaki yang juga masih muda dan dia lah Sunaryo, mereka turun dari delman dengan terburu-buru. Kasmini langsung menangis begitu sampai di pintu rumah, banyak orang menyambutnya, mereka menjaga Kasmini.
“Ndi anakku Yu! Nang ndi Mami?” belum sempat berbuat apa-apa, Kasmini terkulai jatuh pingsan tak sadarkan diri, ia pun di papah oleh para perempuan yang menyambutnya ke salah satu amben yang sudah tersedia di halaman rumah, di sana juga ada Sisum, kakak tertua Kasmini dari Ibu Lasinah, mereka semua panik melihat Ibu dari Mami jatuh pingsan, berbagai upaya untuk membuat Kasmini tetap sadar pun di lakukan, hingga beberapa menit kemudian Kasmini pun berhasil di sadarkan.
“Sabar Kas! Sabar! Kamu harus mengiklaskannya Kas! Dia sudah tenang di sana.” Kasmini langsung menangis keras lagi, Sunaryo Ayah Mami memegang istrinya, Kasmini pun memeluk Sunaryo.
“Sabar ma! Kita harus sabar! Iklasin Mami, biar dia tenang di sana! Alloh sayang dengan dia makanya dia di panggil untuk menghadapNya.” Kasmini masih tetap menangis, mereka masuk rumah sederhana ini, sesosok tubuh sudah tak bernyawa terbaring di sebuah lincak. Kasmini perlahan membuka kain batik yang menutupi wajah si mayit, wajah anak perempaun berumur tujuh tahun sedang tersenyum ada di balik kain batik itu begitu kain batik di buka, Kasmini pun mengeraskan suara tangisannya di bahu suaminya, Sunaryo pun tak sanggup lagi untuk menahan air mata yang sudah menggunung di pelupuk matanya.
“Hapus air mata mu ma!” Sunaryo pun menghapus air mata sang istri bergantian dengan menghapus air matanya sendiri, perlahan Kasmini mendekat ke wajah anak perempuannya yang sudah terbaring di atas lincak tak bernyawa.
“Maafkan mama nak! Mama sayang kamu Mami!!” dia mengecup kening Mami dengan penuh sayang. Si wanita melihat ke tempat lain, ada Teguh yang baru bangun dari tidurnya. “Teguh!” Kasmini langsung mendekati anaknya dan menggendongnya, dia langsung meneruskan menangis.
“Mama? yayu Mami turune kok ora tangi-tangi sih?” Suara Teguh pelan.
__ADS_1
“Yayu Mami sedang istirahat nak, dia istirahat di sisi Alloh, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi dengannya.” Sang ibu pun memeluk lagi anaknya, Sang ayah pun ikut mendekat ke Teguh, dia mengusap-usap kepalanya, Anaknya yang sedikit gemuk itu pun diam.
***