Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 15: Perihnya Setia (2)


__ADS_3

Malam hari pun akhirnya sampai, tamu sedang ramai di rumahnya, kongsi maksudnya, semua anak bujangan, teman seperjuangannya, para bunga bangsa, pahlawan devisa Negara.


“Senang ya Guh! Baru satu tahun sudah pulang kampung!” sepertinya ada yang cemburu, namanya Oma, dia itu salah satu geng tai, ada rahasia umum yang Teguh tau tentang dia, tau Warti? Satu-satunya cewek di rombongan angkatan Teguh? Nah Oma tu ngefans banget sama dia tau, mungkin kayak Teguh ngefans banget sama Sar istrinya Yono, tunggu dulu, kok bisa bilang Teguh ngefans Sar? Dari pada di bilang kalau Teguh jatuh cinta sama dia? dia emang kagum sama kecantikannya kan? tapi tidak mungkin kalau dia jatuh cinta sama istri orang, dia jauh lebih tua dari Teguh, tapi sayang Yono dan istrinya tidak datang, mungkin ada halangan.


“Oke Guh! Hati-hati ya di jalan!” Oma juga yang mendahului pamitan “masih ada urusan lagi nih! Gue tunggu lu di sini ya!”


“Oke gue pasti datang lagi Ma!”


“Hati-hati ya Guh!” semua orang pamit padanya, semua orang pergi, sekarang dia sendirian di kamarnya, amplop penuh di saku baju, juga celananya, dia buka amplop-amplopnya, ‘waw!!’ dia mulai menghitungnya, ada yang sepuluh ringgit, ada yang dua puluh ringgit, ada yang lima puluh ribu rupiah, nah semua sudah di buka, ‘sekarang aku mau hitung hasilnya, rupiahnya dulu, semua lima puluh ribuan, satu, dua, tiga… sepuluh, dan sebelas, itu artinya lima ratus lima puluh ribu rupiah, waw, banyak juga ya’ sekarang ringgitnya, ‘satu, dua, tiga, empat… dua lima, dua enam, dua tujuh. Oke dua tujuh kali sepuluh ringgit, sama dengan dua ratus tujuh puluh ringgit,’ lumayan belum final ini, masih akan ada yang datang.


“Assalamu’alaikum!...”


“Wa’alaikum salam! Eh Nces!” Siska, teman kampungnya, ingat Siska dia jadi inget sama Attin, padahal dia baru ngeliat Attin sekali lho, dia terus ingat sama Attin, dia juga punya rencana untuk PDKT sama Attin nanti sesampainya dia di Jetis, sampai sekarang dia belum bisa dapat nomer hapenya, dia hanya dapat nomer hape temennya di Jetis, namanya Gesta, nomer ini yang kasih adalah Ncus, entah apa yang sedang berlaku, Ncus tak mau kasih nomer hape Attin sama Teguh, tapi tidak masalah, dia coba minta sama Gesta aja nanti. “kok lambat Ces?” tau lengkapnya nick name Siska tidak? Princess, ya dia selalu pake nama Princess setiap dia kirim sms ke Siska, dulu, awal-awal Teguh kenal dia karena dia sempat deket sama Teguh, waktu dia baru-baru jadian sama Salim, dia suka curhat sama Teguh tentang cowoknya itu, ternyata Salim cemburu banget kalau ngeliat Teguh dekat sama dia, sekarang mereka sedang renggang, entah apa mereka sudah putus apa belum, setaunya, orang tua Siska tidak setuju kalau dia pacaran sama Salim, tapi buat Teguh itu tidak penting,


“Sorry banget deh Guh! Aku sibuk tadi, jadi ya baru sampe deh, nih aku cuman mau titip ini aja kok!” dia bawa sebuah bungkusan dan di dalam bungkusan itu ada beberapa pakaian, “ini ada empat helai pakaian anak kecil buat keponakan aku, dia masih kecil Guh! Aku suka anak kecil, dan ini ada uang sedikit aku masukan amplop, ini untuk nenekku ya!”


“Sudah? Itu aja? Aku buka aja ya bungkusannya? Nanti sampai di Jetis aku bungkus lagi, soalnya aku balik cuman bawa laptopku aja.”


“Ya boleh aja, bisa bungkusnya lagi kan?”


“Mangkanya ajarin dulu!” dari sekian banyak karyawan orchid, cuman dia yang maksa mau nitip ke Teguh, dan memang dia tu manja banget sama Teguh, ada banyak kesamaan antara dia dan Teguh, dia anak tunggal, Teguh juga, dia di tinggal mamanya merantau sejak kecil, Teguh juga, terus dia lahir di hari selasa wage, Teguh juga, jadi Teguh sedikit banyak tau watak dia, dan antara dia dan Teguh tidak jauh berbeda, mereka sama-sama suka membantah orang tua, keras kepala, kalau Teguh memang bisa di bilang begitu, karena memang mereka, Teguh dan mamanya jarang sependapat, selalu saja selilis pendapat, sampai bosen Kasmini menghadapinya, terkadang Kasmini terpaksa membiarkannya, dan akhirnya dia kalah. Begitu pun dengan Siska.

__ADS_1


“Sekarang sudah bisa? Kalau begitu besok kalau sudah sampai sms aku ya! Tau rumah nenekku kan?”


“Iya tau, dari rumahku juga kelihatan kok! Kan cuman nyebrang sawah sekali.”


“Ok! Kalau begitu aku pamit dulu ya!”


“Kok cepat-cepat sih Ces!”


“Udah malam Guh! Dan ini buat kamu! Hati-hati di jalan ya Pangeranku!” dia jabat tangan Teguh dengan amplop yang berisi duit tentunya, tapi tidak ada adegan seperti di film-film, cium pipi kanan dan kiri, mereka hanya berjabat tangan, sentuhan antara telapak tangan dan telapak tangan, tapi rasanya tidak, karena ada amplop di antara tangan mereka, dia senyum lalu pergi, selepas dia pergi, Teguh langsung buka amplop yang ada di tangannya itu, seratus ribu rupiah. Lumayan, bisa buat beli tiket kreta api besok sesampainya di Jakarta, ternyata Neneknya Siska adalah ibu dari Poniem, masih ingat nama itu? Dialah yang dulu waktu Teguh kelas lima SD mengirim surat cinta untuk Teguh.


***


Jadi kan awalnya dia minta nomer Attin sama Ncus, tapi dia tidak ngasih, malah nomer Gesta ini yang dia kasihkan pada Teguh, katanya cewek ini akan membantunya untuk bertemu dengan Attin, ya sudah dia langsung hubungi nomer bernama Gesta, yang ternyata namanya Sulis, dan memang bener, Sulis cewek yang baik, dia banyak kasih tau Teguh tentang Attin, bahkan saking baiknya dia, dia kasih tau Teguh kalau ternyata Attin sudah tunangan, baik banget kan dia? Dari saat itu lah Teguh berusaha berhenti untuk memikirkan bidadarinya yang sudah bukan miliknya lagi, karena dia sudah milik orang lain, sedih dan kecewa ya wajar lah kan dia manusia, meskipun dia pun menyadari satu hal, Attin baru tunangan kalau dia mau dia bisa memperjuangkannya, tapi dia sudah memutuskan untuk tetap setia pada satu wanita.


Sampainya dia di stasiun Kroya, seorang perempuan, dia adalah Kamisah, dia yang menjemput Teguh, salah satu tujuannya pulang ke jawa ya menyelesaikan urusan Liliknya dengan suaminya, sebenarnya ini bukanlah urusan penting buat dia, tapi walau bagaimana pun dia adalah adik dari mamanya, jadi ya dia harus perduli, itu nasehat dari Kasmini waktu dia masih ada di Malaysia kemaren. untuk sementara abaikan masalah ini.


Sekarang dia lebih focus untuk menemui Fitri, bidadari kecilnya, yang sekarang sudah besar dan sudah mengenal cinta, mudah-mudahan cintanya lah yang pertama dia kenal.


“Halo Fitri? Pa kabar nih?” dia menyapa bidadari kecilnya ini yang sekarang sudah sedikit lebih besar dari terakhir kali dia melihatnya setahun yang lalu, setelah selama sehari semalam dia berada di perjalanan. Pagi hari dia menemuinya.


“Eh mas Teguh? Kabar baik.” Dia tersenyum pada Teguh, tapi sepertinya dia masih sangat pemalu, Teguh mendekatinya dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Dek!” Teguh mulai menggodanya, dia tersenyum tapi dia tetap tidak mau lihat wajahnya.


“Apa sih mas Teguh nih! aku kan malu!” mereka berdua duduk di bale-bale warung milik mamanya Fitri, dan sekarang Fitri sedang sendiri sedang memainkan hape pemberian darinya dulu.


“Memangnya Dedek ngga kangen sama mamas ya?”


“Memangnya kalau kangen aku harus teriak-teriak gitu biar semua orang tau?”


“Ya ngga segitunya kali.” Dia juga sedikit bingung menghadapi bidadarinya ini, “jalan-jalan yuk! Ke laut!”


“Males ah! Tiap hari ke laut.”


“Ya ketempat lain aja kalau ngga mau ke laut! Dedek maunya ke mana?”


“Kemana ya? Aku juga ngga tau mas.”


Setelah beberapa menit dia berembug dengan yang paling tersayang, akhirnya dia pun jalan ke laut bertiga, yaitu dengan sepupunya, anak dari Kamisah yaitu Puji, sepanjang jalan dia berusaha menggoda Fitri, tak terasa pantai sepanjang 2km mereka lewati, di sana dia memaksa Fitri untuk naik kuda, tapi ternyata Fitri takut dengan kuda, akhirnya ya mereka kembali ke pantai di mana mereka tadi pergi.


Hari berikutnya Teguh di ajak jalan-jalan oleh Puji dan ke dua sahabat sejolinya, Martini dan Linda, bersama mereka kurang lebih 3 jam, Teguh pun mulai mengenal mereka, sedikit perhatian dia curahkan pada Linda, cewek yang sedikit pendiam, jauh berbeda dengan Martini yang sedikit lebih aktif, sepertinya dia mulai meng-istimewakan cewek sedikit gemuk ini, tidak salah kan dia? Hari berganti ke istimewaan itu semakin menjadi, tapi dia masih tetap berharap pada Fitri, dia masih berusaha untuk tetap memberikan setianya untuk yang tersayang Fitri, dia mulaih bingung kalau harus memikirkan hal ini, tapi ada posivenya juga, dia merasa terhibur karena Fitri sedikit cuek padanya akhir-akhir ini.


***

__ADS_1


__ADS_2