Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 20: Hati sekeras Batu


__ADS_3

Dengan hati yang penuh dengan gejolak, dan penuh pertanyaan yang sulit untuk mendapatkan jawaban, akhirnya ia pun pergi menuju ibu kota, yang di sana ia pernah berusaha untuk menakhlukan si kota terkejam di Indonesia, itulah jakarta, tujuannya adalah Rany care beauty, sebuah salon kecantikan.


Dengan uang enam puluh ribu yang ia ambil dari hasil usahanya menjual pulsa ia pun melangkah dengan pasti. Ia tak tau apakah ia masih bisa memperbaiki hubungannya dengan gadis bernama Icha Elisa. Ia sangat berharap bisa memperbaikinya, bukan hanya demi dirinya sendiri, namun demi Ibunya, juga demi Byunge. Ia tak akan sanggup lagi untuk membuat orang yang mencintainya menangisi nasib dirinya yang selalu mendapatkan pahitnya cinta. Andai ia memang harus tersakiti, itu sudah hal biasa buat dirinya, namun menyakiti Ibunya dan juga Byunge, itu yang tak mau ia ulangi, andai kan saja karna usahanya mempertahankan Icha adalah suatu yang akan membuat ia merasakan sakit, ia akan merelakannya, namun tak akan ada yang tau apa yang akan terjadi di hari esok, termasuklah dirinya sendiri.


Kreta Api tujuan Jakarta melaju dengan kecepatan penuh seperti fikirannya yang tak hentinya memikirkan sang pujaan hati.


Tepat pukul 04:00 wib. Tanggal 9 bulan maret, Teguh pun sampai di stasiun yang tak asing lagi untuk dirinya, yup stasiun Kota, ia turun dari kreta dengan langkah pasti bahwa masalahnya akan terselesaikan dengan mulus, tanpa ada kendala apapun, karna ia yakin bahwa ia masih memiliki rasa sayang, rasa cinta terhadap Icha. Dengan fikiran yang masih memikirkan Icha ia mulai mencari kendaraan menuju Icha.


Sampai di terminal bus blok M, yang di sana juga pernah ada sejarah cintanya saat ia menanyakan perasaan cintanya pada Mimi, ia meneruskan berjalan kaki tuk memastikan posisi Icha. Ia tak mau lagi membuka sejarah pahit dengan Mimi di terminal ini.


Begitu ia menemukan tempat Icha, ia pun melanjutkan perjalananya ke rumah kontrakan Maman, liliknya yang sangat perduli dengan dirinya berjalan kaki, yang disana juga ada sejarah cintanya dengan seorang gadis bernama Vina, yang juga berakhir pahit.


Setelah ia merasa sudah memulihkan dirinya selama seharian, ia pun mengabarkan keadaanya pada mamanya Icha, dan sungguh ia terkejut begitu mendengar berita dari mamanya Icha bahwa ia sudah memutuskan Icha, itu membuat suhu tubuhnya tidak normal, getaran dari emosi yang meluap dari tubuhnya keluar, ia ingin segera tau apa yang sedang terjadi dengan hubungannya itu, ia mencari motor milik Lik Maman dan menuju tempat kerja Icha, ia tau saat ini Icha masih kerja, ia juga tau kalau ini akan mengganggu pekerjaannya, namun ia sudah tak perduli yang terpenting sekarang ia harus bertatap muka dengannya dan mencari jawaban yang selama ini ia pertanyakan tentang hubungan mereka.


Hanya memerlukan waktu tak lebih dari sepuluh menit, ia pun sampai di depan tempat kerja Icha, ia tak langsung bertemu dengan Icha, ia hanya bertemu dengan temannya, ia pun memberi kode pada temannya bahwa ada dia di depan kerjaannya, karna temannya pun tak bisa menemuinya, begitu temannya menyampaikan pesan pada Icha, Icha pun membalas pesannya, bahwa Icha sedang bekerja, Icha menyuruhnya untuk pulang, nanti malam datang lagi ke sini, tapi Teguh tak mau menuruti kemauan Icha, ia tetap menunggu Icha menemuinya, walau sampai besok pagi sekalipun.


Waktu bergulir lambat yang di rasakan oleh seorang Taguh Prayitno, namun akhirnya ia pun mengahiri penantiannya, setelah Icha keluar dari gedung tempat ia kerja.


“Ada apa mas?” sebuah pertanyaan yang sangat datar dan seperti tidak menyambut kedatangannya, “mau ngapain kesini?” Teguh bingung mau jawab apa, ia melihat Icha dengan begitu bahagia, namun berbeda dengan Icha, ia memang tidak mengharapkan kehadirannya.


“Mamas kesini kepengin...”


“Kepengin apa?”


“Ya banyak, pertama kepengin ketemu, kepengin nanya, kepengin tau kabar Icha, kepengin tau kepastian.”


“Oke sekarang ketemu sudah, mau nanya? Oke nanya lah! Akan aku jawab semuanya kalau perlu sampai pagi pun akan aku layanin.” Melihat Icha seperti itu Teguh jadi semakin bingung, apa yang harus ia lakukan, ia pun sudah menduga-duga hal yang belum pasti.


“Emang bener kata Mama? Kalau Icha bilang Mamas udah mutusin Icha.”


“Iya!”


“Kapan Mamas mutusin Icha?”


“Isi inbox mamas ke temen Icha udah cukup kok sebagai bukti kalau kita sudah putus.”


“Itu karna emosi Cha, karna Icha ga pernah ngerespon Mamas, Icha di telpon ngga mau angkat, SMS ga di bales, FB di blokir.”


“Ya memang salah Icha juga sih ngediemin mamas, tapi kan tak seharusnya Mamas cerita sama mama tentang Icha suka dugem, suka keluar sama Om-om?”


“Siapa yang bilang begitu sama mama? Mamas cuman curhat sama mama tentang hubungan kita Cha!” emosi keduanya sudah semakin menaik, mereka saling membela diri sendiri.


“Icha cuman pernah cerita hal ini sama Mamas, karna Icha kira mamas tu kan calon suami Icha, selama ini Icha belum pernah di marahi mama sampai mama nangis mas, mantan Icha ngga pernah melakukan hal seperti ini pada Icha. Ini kesalahan mamas yang sangat fatal.” Dek!!! Seperti jantung Teguh berhenti ia sangat terkejut, ini bisa menandakan bahwa hubungan mereka memang tak bisa di selamatkan lagi.

__ADS_1


“Ini kesalahan Mamas? Oke, mamas minta maaf kalau hal ini menjadi sebuah kesalahan buat mamas, tapi mamas ingin tanya sama Icha, apa sebab Icha marah sama mamas?” Icha terdiam sejenak ia seperti mencari sesuatu yang hilang, dan kemudian.


“Saat itu memang Icha lagi ngga beres, semua yang Icha lakuin tuh salah, dan emang mamas jadi ikut kena dampaknya, emang ngga seratus persen kesalahan mamas sih, ada kesalahan Icha juga.”


“Terus sekarang bagaimana? Apa kita bisa lanjut?”


“Setelah apa yang Mamas lakukan pada Icha? Kayaknya mustahil mas, hati Icha itu sekeras batu, jadi Icha ngga mungkin bisa nerima mamas lagi.”


“Sefatal itukah kesalahan mamas?”


“Fatal!” sungguh tak ada yang terfikirkan oleh Teguh kecuali dua orang yang sangat ia cintai, Mama, dan Byunge, apa yang harus dia lakukan untuk tetap mejaga hatinya? Ia masih memikirkan hal itu, ia tak akan sanggup tuk melihat air mata yang kan mengalir dari dua pasang mata yang sangat menyayanginya.


“Dulu mamas ngga ada perasaan sama Icha, kemudian mamas belajar untuk menanam perasaan cinta pada Icha, setelah rasa itu tumbuh subur, tiba-tiba Icha pergi begitu saja, tanpa alasan yang jelas, kemudian Icha datang lagi dan perasaan itu masih ada dan semakin subur, tapi kenapa sekarang setelah mamas yakin bahwa Icha adalah yang selama ini mamas cari, Icha akan pergi lagi?”


“Sekarang Icha punya alasan mas, karna kita itu terlalu berbeda, dari obrolan kita selama ini Icha bisa menyimpulkan bahwa kita memang tidak cocok, Icha ingin menjadi wanita karir, gaya hidup Icha sangat berlawanan dengan gaya hidup Mamas, Icha ingin hidup gaya metropolitan, Icha ingin mengenal dunia luar mas, dunia yang belum pernah Icha kenal, Icha bosan hidup miskin mas, bukanya Icha ngga percaya mamas bisa menanggung hidup Icha bila sudah menjadi istri mamas kelak, tapi karna Icha ingin fokus pada karir Icha.” Panjang lebar Icha terus menerangkan alasan Icha meninggalkan Teguh, dan Teguh hanya bisa mendengarkan setiap kata, setiap kalimat yang tak bisa juga ia mengerti.


“Icha yakin mamas masih bisa mencari wanita lain yang lebih dari Icha, yang mau berada di bawah telapak kaki mamas. Yang mau menjadi istri mamas dalam waktu dekat ini, karna untuk mencapai karir Icha, Icha memerlukan waktu yang banyak, tidak cukup setahun atau dua tahun ke depan.” Teguh masih terdiam di depan Icha, ia tak tau harus bagaimana sekarang.


“Dulu mamas pernah merasakan pahitnya cinta Cha, dulu mamas sudah pernah membuat mama menangis, dan sekarang hal itu...” diri Teguh pun terlihat, Teguh yang cengeng, ia tak kuasa untuk menahan rasa sakit yang sedang ia alami saat ini, kejadian yang kedua kalinya ia alami.


“Aku emang lebih rendah dari binatang Cha...” ia keluarkan amarahnya, ia marah pada dirinya sendiri.


“Air mata mamas tidak akan bisa meluluhkan hati Icha, hati Icha sekeras batu, Icha ngga akan mungkin bisa kembali ke mamas.”


“Ngga bisa mas! Setelah apa yang mamas lakukan pada Icha.”


“Mamas tidak sengaja menyakiti Icha, dan mamas ngga akan bisa menyakiti hati mama dan Byunge lagi Cha.” Teguh masih mecoba menahan tangisannya di hadapan Icha. Sungguh Teguh sangatlah rendah saat ini, ia mengharapkan sesuatu dari Icha yang sudah jelas Icha tidak akan memberikan sesuatu itu padanya. “tanggal tiga puluh ini mama akan tetap ke rumah Icha, terserah Icha mau terima atau tidak lamaran mama.”


“Tidak mungkin orang tua Icha menolak lamaran mamanya mamas, Icha akan menyerahkan segalanya pada kedua orang tua Icha. Tapi Icha ngga akan pernah menyerahkan hati Icha untuk mamas, terserah mamas, kalau masih melanjutkan rencana mamas, Icha akan mengikuti permainan ini, Icha akan menerima lamaran mamas, tapi yang seperti Icha bilang tadi, Icha ngga akan bisa memberikan hati Icha untuk mamas. Dan mamas akan tersakiti oleh Icha.”


“Baiklah mamas akan terima sakit ini, terpeting buat mamas, mama dan Byunge bahagia.”


“Oke! Icha akan ikuti permainan ini, sampai kapan permainan ini akan bertahan.”


Tak kuasa Teguh pun menangis lagi. Ia masih memikirkan mama dan byunge, betapa sakit yang akan mereka terima bila berita ini sampai mereka dengar.


“Mamas yakin Icha adalah manusia, hati Icha terbuat dari cinta, mamas yakin Icha pasti akan berubah suatu saat nanti.”


“Ngga mungkin mas! Mamas jangan memaksakan diri, sekarang mamas putuskan Icha, karna ngga mungkin Icha memutuskan mamas. Icha tau mamas itu lelaki yang kuat, lelaki yang lembut hatinya pada wanita, menghormati wanita, Icha tau itu, tapi hati Icha sekeras batu. Icha yakin mamas pasti akan menemukan pengganti Icha. Sudah Mamas ngga usah nangis lagi!”


“Mamas sudah menahan sebisa mamas Cha, tapi hal ini sungguh sangat sakit Cha, mamas mempunyai prinsip Cha, mamas punya prinsip! Dan prinsip itu hancur semuanya. Mamas sudah habis.”


“Sekarang terserah pada mamas.” Icha memegang tangan Teguh dengan lembut, Teguh pun meraihnya dengan lembut juga, ia melihat mata Icha, ia tak melihat sedikitpun iba di mata Icha, memang dia sedang merasakan sakit di dada ini sendirian, tak ada yang bisa berbagi dengannya untuk menanggung sakit ini. Tak ada yang harus ia lakukan selain memberi keputusan yang jauh dari keinginannya.

__ADS_1


“Baiklah!” Teguh berusaha menghapus air matanya sendiri dan menguatkan diri untuk mengucapkan keputusannya. “mulai saat ini kita putus, Icha jelaskan semuanya pada mama Icha dan keluarga, dan mamas akan menjelaskan semuanya pada keluarga mamas.” begitu sulit ia ingin mengukir senyuman pada wajahnya.


“Terimakasih mas! Icha yakin Teguh Prayitno adalah orang yang kuat”


“Mamas ingin tanya satu hal lagi sama Icha.”


“Apa itu?”


“Hati Icha untuk siapa sekarang?” Icha terdiam sejenak.


“Hati Icha untuk karir Icha, ngga ada yang lain.” Teguh tak pernah percaya sama Icha. itu dia tetapkan semenjak beberpa menit yang lalu.


“Mamas yakin kita akan bertemu lagi kelak dengan kesuksesan masing-masing.”


“Dan dengan keluarga masing-masing.” Tangan Icha masih ia pegang dengan erat, Teguh tersenyum polos pada Icha, Icha pun membalas senyuman itu entah dengan keadaan seperti apa.


“Icha...” Teguh menyebut namanya.


“Teguh Prayitno...” Icha pun membalas menyebut namanya.


“Icha Elisa...” Teguh melepaskan tangan Icha dengan sangat perlahan, “maaf ya Cha, Icha harus melihat air mata mamas, Icha adalah wanita pertama yang melihat air mata ini.” di hatinya terasa seperti di sayat, sakit yang sangat luar biasa ia rasakan, ia pun meninggalkan Icha di depan tempat kerjanya tanpa ia mau melihat ke aranya lagi. Rasa sakit masih menguasai dirinya, tubuhnya tak berdaya lagi untuk menopang lara yang di rasakan jiwanya, mulai saat ini juga ia pun memutuskan untuk berhenti mencari sesautu yang tak pasti, memang Cinta sejati hanya ada di dalam dada. Cintanya lah yang pantas untuk di sebut cinta sejati. Cinta yang tak pernah rela orang lain merasakan sakit, cinta yang tak pernah kenal dengan kata benci, meskipun ada orang yang mengatakan bahwa perbedaan antara cinta dan benci itu setipis kulit ari, tapi bagi seorang Teguh Prayitno, cinta adalah cinta dia seperti intan permata, meskipun sudah masuk kedalam lumpur ia tidak akan tercampur dengan lumpur, apapun bentuk cinta, dia tak pernah mempunyai salah, cinta itu seperti rumput ia berhak tumbuh di mana saja, tapi kita sebagai manusia harus tau mana rumput yang harus kita jaga, kita pelihara, dan mana rumput yang harus kita racun, kita bakar dan kita musnahkan.


***


Air mata masih mengalir dari pelupuk mata Rany, ia meraih tisyu yang sudah ia siapkan di atas kasurnya, dan tisyu bekas sudah berserakan di dalam kamar Rany yang terlihat sangat rapih.


“Namanya Teguh Prayitno, dan dia benar-benar menjadi seperti namanya, namun sayang, novel ini berakhir dengan begitu menyedihkan, ia tak menemukan apa-apa dari semua pencariannya, hiks... dia udah seperti sebatang ranting kering.” Ia masih berusaha membersihkan air mata dan air lendir yang keluar dari hidungnya.


“Bukan! dia bukan sebatang ranting, tapi dia adalah sebatang pohon yang ranting-rantingnya sudah kering, kalau ada hujan, gue yakin dia masih bisa meneruskan hidup, dan ranting yang sudah kering biarkan ia mengering, ia akan menumbuhkan ranting-ranting yang baru.”


“Aku harus mendata nama-nama di dalam novel ini, alamat-alamatnya dan aku harus memastikan mereka juga mengenal lelaki ini, dia harus mendapatkan hujan, sudah cukup musim kemarau yang telah membuat ranting-rantingnya kering, kamu adalah manusia istimewa Teguh! Benar apa yang di katakan oleh Ibu Kasiem tentangmu, kamu adalah sang pencari sejati.”


“Yang terdekat adalah Icha, dia harus aku temui, aku yakin nama salon kecantikan yang ada di buku ini adalah salon kecantikan Mama, dia harus membayar apa yang telah dia lakukan terhadap Teguh. Dia itu manusai pemburu karir, akan aku pastikan kehancuran karirmu Icha!” Rany begitu sumringah, terlihat sekali kalau dia itu sangat marah pada wanita bernama Icha yang telah mempermainkan perasaan Teguh.


Kali ini ia pun hanya bisa marah, karna sekarang matanya sudah terlihat sayu dan sedikit bengkak. dan ia sangat kelelahan karna terus membaca tulisan-tulisan di dalam notebooknya, ia pun akhirnya menyerah dan memejamkan matanya yang kemudian ia terlelap.


Sesuai dengan namannya Teguh Prayitno, dia selalu teguh dalam menghadapi cobaan yang menimpa dirinya selama ini, dan begitu waspada dan tetap dia hati-hati dalam menentukan apa yang harus dia teguhi. Pencarian mencari sejati lah yang selama ini dia teguhi. Karya sejati, dan cinta sejati.


Inilah do’a dari seorang Kasmini, salah satu perempuan terkuat di muka bumi khususnya Indonesia, dan aku yakin masih ada banyak manusia kuat lain yang mengalami pengalaman jauh lebih berat dari apa yang tertimpa pada Kasmini.


Tetaplah teguh sobat, karna sudah tertulis dalam Al-Qur’an: yang Artinya : “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.” (Al Baqarah : 287)


Selesai

__ADS_1


Lanjut "Ranting Kering Menantikan Hujan 2"


__ADS_2