Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 16: Menggapai Mimpi (2)


__ADS_3

Sebotol air bersoda, cukuplah untuk bertiga, Teguh keluarkan uang tiga ringgit lima puluh sen, dia bayarin ke nenek yang tunggu kantin, dia keluar dari kantin dua temennya sudah menunggunya.


“Emangnya dukuhnya sudah masak Guh?”


“Ya ngga tau lah No, mangkanya kita lihat sudah masak apa belum?”


“Lama masaknya dukuh itu Guh?”


“Ya ngga apa-apa, kita nongkrong aja di sana.” mereka bertiga mengayuh sepeda mereka masing-masing, menuju ke sebuah tempat, mereka masih memakai pakaian kerja, sekarang adalah jam dua belas siang hari minggu.


Akhinya mereka sampai di tempat ini, sebuah tempat yang ada pohon dukuh, bawahnya semak-semak, tapi sepertinya ini tempat biasa buat nongkrong, dan memang Teguh dan ke dua temennya ini setiap minggu pasti datang ke sini, mereka banyak membicarakan tentang cita-cita, yang sering di eluhkan Deglag adalah dia tidak betah di sini, Teguh juga sama, dia tidak betah di sini dia kepengin balik aja, sekarang dia sedang mencari cara agar mereka ngerasa betah di sini, dan mereka bisa bertahan di sini, ya setidaknya bisa bertahan sampai dua tahun lah, Teguh pun langsung buka pembicaraan.


“Gemana nih Glag? Jadi kan kita buat film?”


“Ah elu lagi Guh! Film lagi-film lagi, mau pake apa ngebuat filmnya? Kita ngga punya apa-apa.”


“Sekarang kita ngga punya apa-apa Glag, kalau kita mau kita pasti bisa.”


“Elu serius Guh? Ngga di coba fikirkan kembali?”

__ADS_1


“Udah lebih dari serius malah No! Emang ini cita-cita gue dari kecil” bila nanti Teguh sudah mempunyai sebuah computer, dan sebuah handycam, setelah itu semuanya tinggal melakukannya, tapi entah kapan dia bisa memiliki dua barang yang sangat dia butuhkan itu.


“Terus kita mau mulai dari mana Guh?”


“Gue kan punya hape Glag, kita syuting pake hape aja dulu.”


“Gue yakin kalau orang lain denger cerita tentang elu mau buat film di orchid ini, gue yakin banget mereka bakalan bilang ‘Mimpi kok siang bolong!?’ gue yakin banget itu Guh!” apa? ‘mimpi kok siang bolong?’ bagus tu, kalau begitu dia akan buat film dan judulnya ‘Mimpi kok siang bolong’.


“Bagus itu Glag!”


“Apanya Guh?”


“Mimpi Kok Siang Bolong, nanti film kita, kita kasih judul Mimpi kok siang bolong, bagaimana Glag, No?”


“Begini No! Ceritanya adalah cerita tentang kita, lu ngerti ngga? Sekarang gue pengen tanya sama elu No, lu cita-citanya apa?”


“Gue? gue pengen jadi artis terkenal lah Guh!”


“Bagus, mungkin ngga lu jadi artis yang terkenal?”

__ADS_1


“Yang namanya artis itu pasti terkenal Guh, gimana sih lu! Elu juga No! Mimpi kok siang bolong!?”


“Tepat sekali Glag, mimpi kok siang bolong!? Ngga mungkin lu bisa jadi artis, emangnya siapa elu No? Elu tu cuman seorang TKI, pahlawan devisa Negara, bisanya elu ya emang cuman mimpi, bener ngga Glag? Elu juga sama, elu ngga mungkin jadi kemeramen yang hebat Glag.”


“Nah elu sendiri? Mana mungkin elu bisa jadi seorang sutradara, mimpi kok siang bolong!?” hebat banget, pembicaraan mereka nyambung.


“Sekarang dengerin gue semua! Kita akan wujudkan semua impian kita, elu No! Elu bakalan jadi artis, elu jadi bintang film di film gue, elu juga Glag, elu bakal jadi seorang kameramen, dan gue akan menjadi seorang sutradara, sekarang masalahnya kalian percaya ngga sama gue?” dua orang temen Teguh itu diam, mereka saling pandang, mungkin Teguh belum berhasil meyakinkan mereka. “Oke! Kalau emang kalian belum bisa percaya sama gue, ngga masalah, gue akan membuat sekenario film kita, nanti kalian baca, baru kalian bilang percaya sama gue.” masalahnya Teguh mau nulis sekenario itu dengan apa? Itu artinya dia memang harus punya computer dulu, tidak mungkin dia menulis sekenario dengan bolpen, itu sama artinya juga dia harus super rajin bekerja.


Semenjak pembicaran Teguh dan kedua temennya itu, mereka jadi sedikit ada semangat bekerja di sini, meskipun mereka masih ada potongan gajih untuk permit, sebulan setelah itu kabar dia mau buat film di orchid ini mulai menyebar, orang-orang pun benar-benar mengejeknya dengan kata-kata ‘mimpi kok siang bolong’ persis dengan judul film yang akan dia buat, kerani yang dulu menjemput mereka ke pelabuhan pun ikut serta mengejeknya, dan masalahnya lagi, dia sama sekali belum menulis sekenario filmnya itu, lha mau nulis pake apa? Kalau begitu dia harus lebih giat bekerja, jangan ada cuti di bulan ini, bulan dua, bulan februari hanya ada dua puluh delapan hari, usahakan bulan ini dia tidak cuti. Sekarang dia sedang menyemprot bunga di kawasan baru, dia sudah beli sepeda baru, harganya lima puluh ringgit, lumayan bagus, bisa lah di naiki, untuk pulang pergi kerja, aslinya sepedanya itu sudah jelek banget, tapi dia langsung semprot pake cat, dengan warna biru, ya jadi seperti baru lagi lah. Ada lori lewat, dia berhenti.


“Hai Teguh? gemana mimpi kok siang bolongnya?” namanya Eko, dia itu temen Cenot, yang memisahkanya dari rombongannya, tugas mereka ya taruh tai, tai ayam, di lori itu juga sekarang ada tiga orang, Eko, Cenot dan Oma, mereka bertiga emang selalu bersama, sudah kayak geng aja, cocok banget kalau di kasih nama Geng tai!


“Iya nih masih dalam proses, kalian tau juga rencana gue mau buat film itu?”


“Ya tau lah, kan emang sudah tau semua, boleh tu kita ikutan jadi artisnya.”


“Iya Guh! Gue mau main film, tapi yang pemainnya dua orang aja.” sudah biasa si Cenot emang begitu, dia selalu berusaha membuat kita tertawa dengan semua kata-katanya.


“Ya sudah Guh! Kita mau taruh tai di ujung sana, sukses aja lah!” di lori itu memang ada beberapa buah bek tai yang siap di taruh, lori itu di namakan lori hantu, karena lori itu bentuknya sudah seperti hantu, cuman ada kepala, dan mesin aja, itu pun kepala sudah karatan ngga karuan. Terus masalah komputernya gemana? Dia sudah minta sama mamanya kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, mungkin selama bulan satu kemaren dia menyinggung tentang computer sama mamanya, tapi belum ada respon, sedangkan sekarang sudah di pertengahan bulan dua, kabarnya buat film sudah merata di mana-mana. Dia yakin banget, kalau dia pasti bisa ngebuat film itu, yakin banget, cerita dalam mimpi kok siang bolong pun sudah mulai sempurna, tapi belum bisa dia tulis, mau tulis dengan apa? Wong komputernya belum ada.

__ADS_1


Tidak terasa bulan dua habis juga, dan memang bulan ini dia tidak cuti walau hanya sehari, tapi sama aja lah, walaupun dia tidak cuti sekali pun, bulan ini gajihnya masih di potong buat permit, terus bulan ini juga cuman duapuluh delapan hari, jadi ya sama saja tidak banyak gajihnya, tapikan setidaknya dia pernah tidak cuti dalam satu bulan selama dia kerja di orchid ini, iya kan? sekarang sudah tanggal empat bulan maret, itu artiya besok tanggal lima bulan tiga, tau kan hari apa itu? Hari kemerdekaan kali? Ya bisa di bilang begitu, kan setiap tanggal lima setiap bulan, adalah hari gajian di orchid ini, biasanya kalau sudah begitu mamanya pasti datang untuk memungut sisah gajihnya, je ileh memungut, ya iya lah kan sisah gajihnya sedikit, nah kalau banyak lain namanya, apa dong? Namanya merampok, dalam beberapa hari ini, dia rada pusing, gara-gara gossip tentang dia mau buat film di orchid ini sudah menyebar luas, dan tanggapan mereka bagus-bagus, walaupun ada yang menanggapinya dengan nada sedikit asem, kalau di rasa dan sedikit ngejek, kalau di dalami kata-katanya.


“Teguh mau buat film? Hahaha… tidak mungkin bisa, emangnya ngga tau siapa mandor kita apa?” itu satu-satunya nada yang tidak mendukung obsesinya untuk membuat film, siapa yang melontarkan kalimat itu untuknya? Dekong! Masih inget siapa dia? Dia adalah temen yang datang ke sini bareng sama rombongan Teguh, dan dia juga sempat deket banget sama Teguh, sayangnya dia tidak ngomong langsung sama Teguh, dia ngomong sama Cenot, dan Cenot ngomong ke dia, cenot sendiri sekarang sudah ngedukung dia seratus persen, luar biasa, dia seneng sebenarnya dengan respon mereka, tapi ada satu pertanyaan yang belum bisa dia jawab. ‘siapa yang akan bermain di filmnya?’ bukan itu saja yang sekarang dia sedang pikirkan, handycam? Computer? Sama sekali belum ada yang dia miliki, tapi mereka semua sudah terlalu gembira, dengan apa yang ingin dia buat di orchid ini, mereka selalu menanyakan hal ini setiap ada kesempatan untuk bertanya sama dia, entah itu bermaksud mengejek atau karena penasaran, dia tidak tau isi hati mereka, karena ternyata dia hanya lah manusia biasa, seperti manusia lainnya.


__ADS_2