
Keadaan panik, Teguh berjalan terburu-buru, menuju kamar 505, dia buka pintu tanpa ketuk pintu seperti biasa, langsung dia menuju ke kamar mandi, di kamar itu semua teman-teman Rahmat dan juga temen-temennya main bola ada.
“Wa! Di mana Rahmat?”
“Di dalam.” Cowok bertubuh ngga jauh beda dengan Teguh, hanya saja dia seperti biasa senam, jadi tubuhnya sedikit membentuk, menunjuk kamar mandi, dia pun langsung membuka pintu kamar mandi.
“Gue peringatin elu sekali lagi ya! Jangan pernah lu deketin Maryam lagi!” seorang cowok yang postur tubuhnya lebih kecil sedikit dari Rahmat sedang di pegang kerah bajunyanya dan sedang di ancam oleh Rahmat, mukanya ada bekas tonjokan, dan bibirnya pecah mengeluarkan darah segar.
“Mat, sudah Mat!” Teguh menenangkan Rahmat, dia masih seperti menahan emosi.
“Dia coba-coba deketin Iyam Guh! Gue ngga teriama lah, dia kan masih mungkin balikan lagi sama gue.”
“Sory Mat, gue ngga bermaksud ngedeketin Maryam, gue cuman berteman.”
“Udah lu jangan ngomong lagi kecoa!” sebuah bogem mentah dari tangan kanan Rahmat mengarah ke mukanya sekali lagi.
“Ampun Mat, iya gue diem, gue diem sekarang! Gue sudah diem Mat!” si cowok itu merintih kesakitan, darah segar keluar dari hidungnya.
“Udah Mat, dia sudah minta ampun kan sama elu.” Sadis emang Rahmat ini, Teguh tidak kenal sama cowok ini, cowok yang kata Rahmat lagi pedekate sama Maryam.
***
Hari ini semua ujian sekolah sudah selesai, semua kelas tiga SMA merasa bebas, se-bebas-bebasnya, karena setelah ini tidak akan ada lagi yang akan memaksa mereka untuk mandi pagi, untuk kemudian makan pagi, lalu kalau telat mandi terpaksa ngga sarapan, berangkat sekolah harus berlarian, supaya tidak kena strap, kemudian keliling stadion empat kali. Uh capeknya, justru hal itulah yang membuat mereka rasanya ngga mau berhenti sekolah. Mereka pasti rindu saat-saat kena marah sang guru, berselisih paham dengan teman yang kemudian berujung muka bengep habis itu tidak ke sekolah deh satu minggu, rasanya pasti berat ninggalin sekolah, pasti kalau sudah tidak sekolah temen bermain akan berkurang, kalau bertingkah pasti orang akan bilang ‘Idih sudah bangkotan kok tingkahnya bocah, malu dong tuh sama kumis!’ ya walau bagaimana pun Teguh harus ninggalin bangku sekolah, walau begitu dia ngerasa bebas, dia belum pernah ngerasa sebebas ini, akhirnya dia harus pergi juga dari sekolah Al-Zaytun ini. Saat Teguh berjalan pulang ke asrama dia melihat Zahra di lapangan hokey, diam-diam Teguh memperhatikannya ‘Zahra kalau di perhatikan kok lama-lama cantik ya? ah tapi kan dia baru kelas satu SMP sedangkan aku? aku kan bentar lagi mau tamat sekolah, dan aku bakal jauh sama bocah cantik ini. Ih...mikir apa sih aku, pokoknya aku ngga bakal menanam cinta pada Zahra, ngga bakal, pokoknya ngga bakalan deh, tapi, Zahra cantik banget, ya walaupun agak jutek gitu deh sama aku.’ Itulah yang di fikirkan olehnya tentang Zahra, dia memang sedang bingung, secara saat ini ada dua cewek cantik adik kelasnya yang selalu dekat dengannya, Maryam dan Zahra, satu kelas tiga, satu lagi kelas satu, dan keduanya masih di SMP, tapi setiap kali dia mengingat dua cewek itu, dia selalu teringat dengan janjinya, dia tidak akan berpacaran lagi.
“Ra, sudah lama ya?” si Zahra lagi sendiri, Lestari baru selesai main hokey.
“Ngga kok, baru sampai, kakak sudah selesai ujiannya?”
“Pasti kakak banyak salahnya ya.”
“Tau dari mana lu Les?”
“Ya... dari tampang kakak lah!” nyebelin juga Lestari. tidak seperti yang Teguh kenal, “Becanda kak, jangan di ambil hati ya!” si Lestari jadi akrab gini? “Zahra, kak Teguh, Lestari pergi dulu ya!” ‘nah pergi aja yang jauh, aman deh, sekarang sudah ngga ada yang ngeganggu aku dan Zahra.’ Batin Teguh berikutnya.
“Berarti kakak bentar lagi bakal ninggalin Al-Zaytun untuk selamanya dong kak?”
“Ya engga lah, nanti kalau kakak ada waktu kakak pasti datang ke sini untuk tengokin Zahra, oke?”
__ADS_1
“Mana mungkin lah, kakak pasti akan sibuk sekali setelah keluar dari sini, dan pasti kakak akan lupa sama Zahra kan?”
‘kenapa tampang Zahra serius banget ya? aku jadi bingung nih, apa mungkin Zahra juga ngga rela pisah sama aku? Apa mungkin Zahra juga suka sama aku? Ah, rasanya ngga mungkin deh, tapi kenapa dia bertanya seolah dia ngga mau pisah sama aku?’ Teguh masih membatin dan terus memperhatikan Zahra. Seperti perasaannya pada Maryam ternyata dia juga memang sudah lama nyimpan rasa sama bocah cantik ini, tapi lagi-lagi dia tidak yakin kalau dia bakal berani ngungkapin isi hatinya ini ke bocah cantik ini, dan rasanya berat banget, ngucapin selamat jalan sama bocah cantik ini, besok Zahra akan balik ke Bekasi, karena emang dia orang Bekasi, kalau Teguh? Dia masih seminggu lagi di sekolah ini, mungkin selama masa itulah dia akan mencoba me review lagi semua tentang sekolah ini.
Teguh duduk di atas rumput lapangan hokey yang hijau, dan Zahra ikut duduk di sampingnya, banyak orang di sana, bukan satu, dua atau tiga orang saja, tapi lebih dari itu, karena lapangan hokey ini letaknya di belakang stadion sepak bola, sebenarnya ada dua lapangan hokey, di samping lapangan hokey ini ada dua lapangan Basket, di samping lapangan hokey yang sebelah lagi ada dua lapangan volley, di sebelah lapangan volley ada lapangan tennis, dan setiap lapangan ada yang sedang bermain, begitu pun lapangan hokey yang satu lagi, posisinya sama, ada lapangan basket, volley dan tennis semua lapangan ramai orang, kecuali lapangan bola, di stadion itu juga sebenarnya ramai, tapi hanya di pinggir lapangannya, karena di pinggir lapangan ada trek lari, tapi Teguh tak perduli dengan semua itu, Teguh tetap menganggap dia sedang berdua saja dengan Zahra, dia tak tau kapan dia bisa duduk sedekat ini lagi dengannya, mungkin ini adalah saat terakhir, seandainya saat ini dia punya keberanian tuk mengungkap semua yang ada di dalam dadanya ini, itu hal yang mustahil terjadi, sekarang aja dia lagi diem, dia diem di sebabkan dia bingung mau ngomong apa sama Zahra.
“Ra!” Teguh coba membuka pembicaraan, Zahra hanya menoleh melihat wajahnya, “Kakak pasti bakal merindukan Zahra.” Dia tak bisa ngomong banyak lagi, dia jadi tidak bisa menyusun kata-kata, dan bener-bener otaknya blank, seperti tak ada isinya gitu, dan Zahra juga diem aja, ya akhirnya hampir lebih setengah jam mereka diem-dieman, “Ya sudah sekarang Zahra balik aja, jangan lupa do’ain kakak ya biar lulus ujian.” Gitu aja, ngga ada lebihnya, sebenarnya tadi tu Teguh pengen banyak Tanya sama Zahra, tapi entah kenapa semua pertanyaan itu tak ada yang keluar dari mulut yang dia punya cuman satu ini, jadi inget sama lagunya jamrud yang judulnya ‘30 menit’ emang bener banget apa kata mereka, dan itu yang di alaminya saat ini, sepertinya dia harus kursus dulu menyusun kata-kata untuk bicara, dan sekarang Zahra pun pergi ninggalin dia sendiri di sini dengan keada’an yang hampa, apa yang dia ingin kan tak ada yang menjadi kenyataan, dan semua masih ada di situ, di dalam dadanya, sekarang dia malah terus bertanya pada dirinya sendiri,
“apa mungkin Zahra suatu saat akan tau tentang perasaanku ini? Dan apa yang akan di lakukanya begitu dia tau hal ini? Hanya dia yang bisa menjawabnya, Zahra lah orangnya. Fatimah Azzahra.”
***
Teguh sedang tiduran, dia tidak sendirian, banyak orang sebenarnya di kamar ini, tapi mereka ada di ranjang tidur mereka masing-masing, Teguh tiduran di ranjangnya, tapi sepertinya dia lagi tidak tenang, ada yang sedang di pikirkannya, saat ini yang masih ada di Al-Zaytun adalah semua kelas tiga, baik SMP maupun SMA, mereka sudah melakukan UN, Zahra sudah kembali ke Bekasi, lalu apa yang membuat Teguh gelisah?
“Kenapa aku selalu inget kamu sih Iyam! Apa mungkin aku sudah jatuh cinta sama kamu Yam? Tapi rasanya ngga mungkin, kalau aku jatuh cinta sama kamu itu mungkin Yam, tapi kalau kamu bisa terima aku, itu sepertinya yang ngga mungkin, aku jadi bingung Yam.” ternyata dia memang lagi jatuh cinta, sudah kaya cacing kepanasan, tidurnya muter sana-muter sini, serba salah, perhatiannya kali ini hanya tertuju pada seorang cewek saja, dan dia adalah Maryam, apa seperti itu tingkah orang lagi jatuh cinta?
“mungkin ngga sih aku berani mengutarakan isi hatiku ini sama kamu Yam? Terus gemana dengan Rahmat? Dia temen baikku, tapi aku sayang kamu Yam! aku sayang banget sama kamu Yam! Gemana dong? Pusing aku jadinya deh!”
“tau ngga sih Yam, jauh sebelum Rahmat kenal kamu, aku sudah mengenal kamu, dan sejak saat itu, aku sudah sayang sama kamu Yam! aku suka dengan semua gelakmu, aku suka sama manjamu Yam! aku suka sama senyumanmu.”
“aku kangen sama kamu Yam! aku ingin ketemu sekarang juga, tapi kenapa setiap aku ketemu kamu, aku ngga bisa ngungkapin perasaanku ini, begitu banyak cowok yang mengharapkan kamu Yam!”
10 Juny 2006
Dia duduk sendiri di tepi sungai kecil, gedung-gedung jauh dari tempat ini, suasananya sepi, dia masih duduk diam di atas rerumputan yang tumbuh di tepi sungai kecil ini, di sebrang sungai kecil ini terhempas sawah yang hijau, sepertinya gedung-gedung di belakang Teguh itu ada di tengah-tengah sawah, ada dua orang cewek datang menghampirinya yang sendirian, yang satu gendut, Teguh mengenal mereka, Maryam dan Zizah, Maryam langsung menghampirinya, Zizah langsung mencari kesibukan sendiri, entah mau apa mereka semua.
“Udah lama ya kak!”
“Baru sampai kok Yam, Iyam dari mana?” Maryam mengeluarkan sebotol air mineral, dia memberikan ke Teguh, “Makasih.”
“Iyam dari kantin kak, habis makan, males makan di kamar, lauknya telur mulu.”
“Udah di packing belum barangnya?”
“Udah kak, tinggal di bawa pulang aja besok pagi, kakak kenapa?”
“Kenapa? Apanya kenapa?”
__ADS_1
“Kakak kayak orang lagi putus cinta deh.”
“Ah masa? Enggak ah! Kakak terakhir putus cinta tu ya waktu putus sama kak Yani, setelah itu kan kakak ngga pernah punya pacar lagi Yam.”
“Mangkanya kakak cari pacar lagi biar ada tempat untuk berbagi cerita.”
“Mamang Iyam sudah bosen denger cerita dari kakak?”
“Bukan begitu kak, bentar lagi kan Iyam balik ke Bandung, nah kakak juga balik ke kampung kakak, kalau Iyam kan bakal balik lagi ke sini, kalau kakak kan enggak, ntar mau cerita sama siapa kalau Iyam ngga di dekat kakak lagi.” Wajahnya semakin sedih, dia lagi berbicara sendiri di dalam hatinya, kira-kira apa ya yang sedang di batin oleh Teguh?
‘Karena itu lah Yam! Aku sedih, aku sedih karena aku akan jauh dari kamu, selama ini kamu yang selalu membuat aku tersenyum, tapi kenapa aku ngga bisa juga jujur sama kamu, kalau aku sayang sama kamu’ itulah kata hatinya.
“Kak! Kakak nangis ya?”
“Iya, kakak emang lagi sedih, sedih banget Yam, sebenarnya kakak ngga mau pergi dari Al-Zaytun ini, terlalu banyak kenangan yang kakak lewati di sini, terutama kenangan dengan orang yang kakak cintai, kakak sayangi.”
“O…” Iyam tersenyum, “rupanya sudah ada pengganti kak Yani ya? Siapa kak?”
“…” Teguh jadi diem, dia bingung mau jawab apa sekarang ‘dia adalah kamu Yam, ya Alloh, kenapa kata-kata ini tidak bisa keluar dari mulutku? Kenapa mulutku seperti terkunci?’
“Ayo jawab kak! Siapa dia?”
“Kakak belum ada penggantinya Yam.”
“Berarti kakak masih cinta sama kak Yani dong?”
“Ngga Yam, kakak sudah ngga cinta sama dia, kalau kakak cinta kenapa kakak putusin dia dulu?”
“Ya mana Iyam tau kak!”
“Yam!”
“Iya kak! Ada apa gerangan?” Maryam menjawab dengan riang, dia memang tidak bisa mendengar kata hatinya, dan dia juga tak bisa melihat isi hatinya.
“Apa Iyam ngga kangen nanti kalau kakak sudah ngga di Al-Zaytun?”
“Ya pasti kengen lah kak, mangkanya kakak sering-sering datang sini ya! Tengokin Iyam yang imut yang cantik, yang baik hati ini, hehehe…” anak ini memang tidak bisa serius apa ya, dia emang anaknya ceria benget, bener kata Teguh, dia emang terlalu mudah untuk di sayangi.
__ADS_1
Teguh pergi dari Al-Zaytun dengan meninggalkan perasaanya pada Maryam, dia pun tak tau bagaimana nasib perasaan ini yang dia abaikan.
***