Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 15: Perihnya Setia (5)


__ADS_3

Oktober 2010


Lebaran sudah berlalu, suasana biasa saja tak ada yang istimewa, waktu terus berlalu masalah dengan Fitri semakin meruncing, setelah dia menepati janjinya untuk meluruskan rambut Fitri semakin banyak cowok yang naksir padanya, Fitri selalu curhat tentang cowok-cowok yang nembak dia pada Teguh, cemburu menggrogoti hatinya ingin pulang selalu menghantuinya, kerinduan semakin membara, tapi dia berusaha untuk menahannya.


Seorang tetangga di kampungnya yang mengenal Teguh juga mengenal Fitri datang di kawasan kebun bunga ini, dia adalah seorang wanita.


“Mas Teguh!”


“Iya Yu! ana apa?” saat itu Teguh dan semua karyawan baru pulang kerja, wanita bernama Sri, memanggilnya dan menyuruhnya duduk di depannya.


“Aku arep takon, tapi Njenengan aja kesuh ya!”


“Anu ana apa sih Yu?”


“Iya aku Njaluk ngapura seurunge, tapi bener ya kamu jangan marah!”


“Iya ada apa Yu! Kenapa aku harus marah?” Sri seperti ragu ingin berbicara.


“Sebenere Mas Teguh karo Fitri hubungane keprie sih?”

__ADS_1


“Biasa aja kok, memangnya kenapa?”


“Kemarin waktu di kampung aku melihat Fitri jalan berdua dengan cowok, mesra banget mas!”


“Ah paling batir sekolaeh Yu!”


“Tapi mas!” Teguh tidak merespon Sri, dia langsung pergi begitu saja, Sri seperti ingin memberi tahukan sesuatu yang lebih serius.


Sebulan kemudian hubungan Teguh dan Fitri semakin membaik, tapi tiba-tiba saja Puji adik sepupunya anak Kamisah melaporkan hal yang sama dengan yang di laporkan Sri padanya, akhirnya dia pun menanggapi laporan itu. Hatinya bergejolak, padahal hubungannya dengan Fitri masih terlihat biasa saja, mereka masih berkomunikasi seperti biasa, dia percaya dengan laporan dari adiknya, dia pun berencana untuk pulang tanpa di ketahui Fitri, dia juga tidak bilang pada Kasmini kalau dia mau pulang, dia langsung menemui Akok, bosnya di kebun anggrek itu.


Begitu mamanya mengetahi bahwa dia sudah meminta izin pada bosnya dan di perbolehkan mamanya marah besar pada Teguh.


“Bukannya mama yang bilang kalau mamas harus mempertahankan cinta mamas?”


“Tapi tidak begini caranya mas! Cari kerja itu susah mas! Kalau mamas cop mati, nanti mamas mau kerja di mana lagi?” Kasmini marah pada anaknya, memang dia pernah bilang pada Teguh bahwa cinta itu seperti Rumput, dia bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja, Kasmini menasehati Teguh saat Teguh benar-benar di ambang perpisahan dengan Fitri, saat dia ingin memutuskan untuk tidak lagi memberi setia pada Fitri, karena nasehat dari Kasmini lah kemudian dia memupuk lagi perasaannya pada Fitri, dan kini dia ingin tau kebenaran dari omongan orang-orang. Dia akan pulang bareng dengan Deglag, sahabatnya yang datang bareng denganya, karena ketika dia pamitan, Deglag ngga mau di tinggal oleh Teguh, dia mau ikut pulang.


Kasmini menghantarkan Teguh pulang danga Harun, di tengah jalan Kasmini masih terus bertengkar dengan anaknya.


“Berhenti Bah!” Kasmini sudah menangis karena setiap perkataanya selalu di sangkal Teguh, Harun masih melajukan kretanya.

__ADS_1


“Engkau ni anak mama atau bukan sih? Kenapa mamas tak pernah mau dengar apa kata mama?” Kasmini semakin menjadi menangis sampai tersedu, “mama sayang dengan mamas, tapi mana balasannya, hanya karena Fitri, mamas berani melawan mama? Kenapa mas?” kreta berhenti dan menepi, Kasmini keluar dari kreta dan melanjutkan menangis di luar, Teguh tak dapat berbuat apa-apa, karena sekarang pasport Teguh sudah di cop mati, itu artinya dia memang harus pulang, Deglag yang ikut pulang pada Teguh hanya terdiam di samping Teguh, Rasno, Dekong dan Cenot sudah lama mendahuluinya cop mati, perlahan Harun menenangkan Kasmini yang akhirnya dia pun mau masuk dalam kreta lagi.


“Bulan depan mama akan balik kampung, mama akan melamar Fitri buat mamas.” Kasmini sudah tidak menangis lagi, tapi suaranya masih serak basah, Teguh tak tau harus bagaimana sekarang, dia merasa senang dan juga sedih, senang karena mama akan melamarkan orang yang dia cintai, sedihnya karena dia sudah membuat mamanya menangis lagi.


***


09 February 2011


Celana panjang yang terbuat dari bahan kain berwarna hitam sudah basah oleh air laut yang asin, matanya masih mencoba menahan laju air mata yang memaksa keluar, yang di fikirannya hanya ada fikiran yang negative saja, sesekali dia melihat ke arah pantai, di mana sebuah motor supra x tahun 2004 berwarna silver berdiri tersangga oleh sekandar besi, antara pria kurus itu dengan motornya berjarak sekitar 100meter, mungkin karena pria itu berpostur tubuh tinggi, jadi nampaknya kurus, ombak terus menerjang tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan, pasir di bawah telapak kakinya seperti terbawa arus air, sehingga seperti membuat lubang, sesekali dia melihat ke arah pantai lagi, dia mencari sesuatu, dan dia tidak menemukannya, matahari sudah jauh condong di ufuk barat, tubuhnya makin menggigil, sekarang bukan saja celana panjangnya yang basah, kaos berkerah bercorak doreng putih hijau pun kini ikut kebasahan, perlahan dia membalikan badanya dan mulai berjalan mendekati pantai mendekati motor supra x miliknya yang baru di beli beberapa hari ini, dia terus mencoba menghapus air mata yang terjatuh di pipinya dengan punggung tangan kanan, kemudian dengan tangan kirinya dia membuang cairan bening yang keluar dari hidungnya, dia mencuci mukanya dengan air laut, kemudian melanjutkan berjalan lagi, kini dia merasa lega, dialah Teguh Prayitno, kini dia tidak lagi di Malaysia, dia sudah kembali ke jetis, dia sedang merenungi nasibnya, dia sedang merasakan betapa perihnya setia, dia pun mulai sedikit menampakkan senyuman di raut wajahnya yang kata seseorang, dia tu jelek, tua, dan seseorang itu tidak suka sama dia, seseorag itu bernama Dian Safitri, dia adalah seseorang yang sangat dia cintai, sayangangi dan juga sangat dia harapkan menjadi istrinya suatu saat nanti,


Seminggu yang lalu dia sampai di Jetis dan dua hari yang lalu, terjadi suatu yang tidak di inginkan oleh Teguh, semua berawal dari minggu siang sehari sebelum kejadian yang tak di inginkan olehnya.


Pagi minggu yang cerah, dia datang ke rumah Dian Safitri, dia berniat baik untuk mengajak seseorang yang dia sayangi untuk jalan, tapi…


“Dek, ngga ada rencana kan? Kita jalan yuk!”


“Ngga mau lah mas! Aku mau belajar, bentar lagi mau ujian akhir.”


“O ya sudah ngga masalah, belajar yang rajin ya!” Teguh pun dengan sedikit kecewa pulang ke rumah, tanpa dia curiga dengan perubahan sikapnya beberapa hari ini, perubahan itu terjadi setelah Teguh memperbarui hapenya, ternyata di rumah sudah ada kakak sepupunya Ami anak wa’ Sisum, dia mengajak jalan-jalan dengan anak perempuannya yang masih berusia 8thn. Akhirnya seharian Teguh pergi dengan kakak sepupunya itu serta keponakannya. Rencananya mau ke pedalen, sebuah tempat penampungan ikan, jalannya nanjak ke pegunungan, tapi karena anak sepupunya takut, akhirnya di tengah perjalanan mereka balik arah, mereka jadinya ke pantai congot, sebuah tempat pariwisata di desa Jetis, begitu mereka masuk ke jalan menuju laut, Teguh melihat Dian Safitri ada di jok motor bebek dengan seorang cowok yang tak dia kenal, mereka sepertinya ingin ke suatu tempat, ada sesuatu yang panas di dalam dada Teguh, emosi membakar seluruh isi hatinya, amarah membuat tubuhnya gemetar, arah Fitri berlawanan dengan arah Teguh, karena Teguh memboncengkan kakak sepupunya, dan dia tak mau membuat masalah, dia pun menahan amarahnya, sampai di laut, Teguh pun menurunkan kakak dan keponaknya itu, lalu dia mencoba mencari kemana perginya Fitri dan cowok yang tak dia kenal itu, tapi sepertinya dia sudah kehilangan jejak, dia menyerah setelah dia mencari di pantai logending tak ada.

__ADS_1


***


__ADS_2