Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 2: Monyet (4)


__ADS_3

Mey 1997


Kelas 4SD, Teguh masih polos, walau begitu dia masih tetap bahagia, karena kakek neneknya sayang padanya, walaupun juga dia hidup apa adanya, ala kadarnya, bahkan rumahnya pun masih beralaskan tanah belum ada teras, masih belum ada tembok yang menutup dinding rumahnya, sumur pun masih sekedar lubang berair, bila pernah melihat sumur di tengah sawah, ya seperti itu lah keadaan sumur di belakang rumahnya, di kelas inilah kemudian Teguh kembali merasakan getaran hati pada seorang gadis cantik nama aslinya adalah Tri Nur Hayati, Nampangnya Kuwat. Jauh memang dengan nama aslinya. Ya sudah tidak perlu ngebahas soal nama, dia anak yang termasuk pintar di kelas Teguh, rangking pertama masih dia pegang semenjak mereka masih duduk di bangku kelas 2, kepintarannya itulah yang membuat dia banyak di sukai oleh kaum Adam, termasuk Teguh, soal Tusmiati dia tinggal kelas waktu kenaikan kelas dari kelas tiga ke kelas empat, mungkin karena tidak pernah sekelas lagi lah yang membuat Teguh tidak lagi memperhatikan Tusmiati, semua terjadi begitu saja, awalnya sih Teguh sekedar suka saja, tidak ada perasaan apa-apa, dan biasanya hal seperti itulah yang selalu membuat seorang lelaki jatuh cinta, Teguh memang tidak akrab sama dia karena rumah mereka berjauhan, jadi tidak ada acara pulang sekolah bareng, mereka bertemu hanya bila mereka masuk kelas saja, jadi kalau hari libur atau hari minggu mereka tidak ketemu. Waktu terus berlalu, entah kenapa di hatinya ngerasa gimana gitu kalau dekat dengan dia, dan Teguh baru menyadari ini ketika dia berusaha membedakan bila dia dekat dengan Kuwat dan bila dia dekat dengan cewek lain, rasanya beda banget, kalau dekat dengan Kuwat dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia seperti berusaha untuk merebut simpatinya, tapi Kuwat cuek aja, dia cuek pasti karena dia tak tau perasaan Teguh padanya, suatu hari di kelas Kuwat nangis, gara-garanya ada temen kelas yang terus ngatain dia, kata temen kelas ‘ih cewek kok kumisan, kayak cowok aja.’ Dan memang rada aneh kan, masa’ cewek ada kumisnya? pertama Teguh juga tidak percaya, Teguh saja belum punya kumis, dan entah kenapa Teguh melihat dia nangis Teguh juga ikut sedih, tapi Teguh tidak ikut nangis. Teguh berkeingian untuk ngedeketin dia, dan ingin membela dia, tapi itu hanyalah ke inginannya saja, Teguh tidak bisa ngedeketin dia, bukannya tidak bisa, tapi dia tidak berani, dia coba bersabar, Teguh pun yakin suatu saat nanti pasti dia bakal berani, entah kapan itu Teguh sendiri juga tidak tau.


Waktu masih terus berjalan, Teguh masih seperti ini, hanya memiliki ke inginan untuk bisa mendekatinya, tapi dia masih belum bisa berani, ya masih seperti ini, bila Kuwat lewat di depannya, dia hanya bisa diam, tidak tau harus berbuat apa, seperti Kuwat tu selalu menghipnotisnya, dia masih bersabar, kenapa Teguh terus bersabar? Karena dia masih belum berani. Terus mau sampai kapan keadaan akan seperti ini? Ya sampai kapan si Teguh bakal berani, ya sekedar berani untuk mendekatinya saja lah, bila dia emang tak bisa berani tuk mengungkap isi hatinya ini. Dan kalau itu dia juga tidak bisa, bermakna keadaan ini akan terus seperti ini hingga akhirnya Teguh bisa ngelupain dia. Dan sekarang cewek itu, cewek yang sedang Teguh taksir, cewek yang Teguh sedang pedekate kepadanya ada di depannya, Kuwat sedang berkumpul dengan teman-temannya bercanda, tertawa, senyumnya terus menghibur hatinya yang sedang lara karena terus berfikir tentang dia, dan ngga ada lelah di hatinya untuk terus menyebut namanya Tri Nur Hayati, itulah nama satu-satunya yang kini ada di hati Teguh.


“Hari ini aku dapat nilai sembilan nih Tun, kamu dapat nilai berapa?” suaranya yang manja menggetarkan jiwa milik Teguh, walaupun dia sedang berbicara dengan Atun, cewek yang lebih tinggi dari dirinya, tapi Teguh ngerasa Kuwat seperti lagi ngobrol dengannya.


“Kalau aku hari ini dapat nilai enam Wat.” Dah tentu Kuwat ngga ngedengar suaranya, sebab Teguh hanya berbicara dalam hati saja. Mana mungkin sih Teguh berani ngomong sama dia, baru deket sama dia aja Teguh sudah kayak anak kucing yang kehilangan induknya, kok jadi bawa-bawa anak kucing sih? Untungnya Sage teman Teguh yang dulu pernah berantem dengannya gara-gara Tusmiati juga tinggal kelas di kelas 2. Tusmiati dan Sage sekarang duduk di kelas tiga, jadi perhatian Teguh pada Kuwat tidak akan terganggu.


Sampai sekarang ini pun Teguh tetep tak bisa ngungkapin perasaannya itu ke Kuwat, dia hanya bisa meluapkan perasaannya itu pada seorang sahabatnya, namanya Iwan Dahlan, dialah yang akhirnya menjadi teman curhat Teguh, semua yang ada di dadanya dia curahkan pada Iwan, tanpa terkecuali, emang Iwan baik banget orangnya. Begitu Iwan mendengar semua cerita darinya, dia hanya bisa membantu Teguh lewat moril saja, tapi tetep saja Teguh ngga bisa ngungkapin perasaannya itu pada Kuwat.


“Ah kamu mah!...” begitu kalimat pertama yang di ucapkannya bila saran-sarannya tak bisa Teguh jalankan, banyak banget, saran dari Iwan tapi satu pun tidak ada yang Teguh bisa lakukan, akhirnya ya…

__ADS_1


“Kalau kamu tidak berani ya selamanya kamu tidak bakal berani Guh! sudah ah aku tak mau lagi kasih saran buat kamu.” Itu bukan kalimat pertama yang Teguh dengar dari Iwan, selalu dia kasih saran lagi, dan Teguh tidak bisa lagi, kalimat yang sama pun dia ucapkan lagi, emang Teguh tu orangnya ndhableg banget.


Hari kenaikan kelas pun tiba, kenaikan kelas dari kelas 4 naik ke kelas 5, dan saat itulah penyesalan Teguh yang terbesar terjadi, sungguh sangat memalukan, tau apa yang terjadi? Teguh tidak naik kelas! Alias tinggal kelas, Teguh jadi malas sekolah lagi, bayangin aja, saat itu Teguh lagi pedekate sama cewek, dan cewek itu sekarang sudah ninggalin dia di kelas 4, sedih banget, rasanya Teguh pengen pergi aja dari lingkungan tempat tinggalnya, tapi apa sih yang bisa di lakukan oleh seorang Teguh Prayitno bocah? Hanya bisa bersedih aja, rasanya dia tu tidak percaya kalau dia sampai tidak naik kelas, temennya yang lebih bodoh pun naik, masa’ dia tidak? ada untungnya juga sih, Teguh akhirnya bisa sekelas lagi dengan Tusmiati, tapi ya sudah tentu perasaan yang dulu pernah ada untuk Tusmiati sudah sirna dan sudah berpindah pada Tri Nur Hayati. Namun apa sih yang menyebab kan dia tidak naik kelas, Teguh pun masih terus bertanya-tanya, Ya akhirnya pak guru Saliman, guru kelasnya memanggilnya, katanya ingin ngomong empat mata sama Teguh.


“Kamu tau alasan Bapak memutuskan kamu ngga naik kelas?” dia tidak menjawab, karena Teguh masih emosi, dia cuman menggelengkan kepala, sebenarnya dia sudah ingin menjawab pertanyaan itu, dia ingin menjawab alasan gurunya tidak menaikkan dirinya karena dia itu bodoh, idiot dan berfisik lemah, namun dia mengurungkan niatnya, “Kamu tau berapa kali kamu ngga masuk kelas dalam satu bulan selama kamu di kelas 4 kemaren?” ‘hah? Apa maksud pak guru?’ Pikirnya sambil tercengak tak mengerti, dia memang belum paham tapi begitu dia ingat, dia langsung menjawab.


“Empat hari pak!”


“Itu bulan kemaren, dan itu yang paling sedikit.” Baru Teguh menyadarinya, memang Teguh mengakuinya, bahwa dia sering tidak masuk sekolah, tapi dia tidak masuk sekolah bukan tanpa alasan, tapi walau apapun alasannya bila tidak masuk kelas dan tidak izin pada sekolah itu sama saja mbolos! Ya kesalahan Teguh sendiri, jadi dia tidak berhak untuk marah sama gurunya, tapi kemudian dia pengen membuktikan pada semua bahwa dia tidak naik bukan karena dia goblok, jadi ya Teguh semakin rajin belajar, tahun berikutnya dia naik kelas, dengan bertambahnya usia karakter dirinya pun mulai terbentuk, sedikit demi sedikit fisiknya pun mulai kuat seperti layaknya anak-anak seusianya, tapi dia tidak bisa sekelas lagi sama Kuwat, dan memang tidak mungkin bisa, Teguh jadi tidak berani sama sekali tuk mendekati si Kuwat, tapi dia tetep curhat sama Iwan, tantang perasaannya pada Kuwat, dan Iwan tetep kasih saran ke Teguh, dan Teguh? ya masih begitu, masih tetap tidak berani.


Mendengar Teguh tidak naik kelas, Kasmini kecewa, dia pun langsung pulang ke kampung, dan memutuskan untuk tetap tinggal di kampung, dia berencana membangun rumahnya seperti rumah orang-orang, di tembok dengan batu bata dan mempunyai alas yang terbuat dari semen, sesuai janjinya dulu, Kasmini pun memaksa Kamisah untuk kembali ke kampung, dia biayai semua transportasi untuk Kamisah suaminya juga anaknya yang baru berusia tiga tahun, anak Kamisah dan Wagiyo perempuan bernama Puji Dayanti.


Tanggung jawab Kasmini untuk mengembalikan Kamisah pada ayahnya sudah selesai.

__ADS_1


“Ini Ma anak bungsumu! Aku tidak pernah menjual anak kesayanganmu ini, sekarang Ramane sudah percayakan sama aku?”


“Ramane njaluk ngapura wis nuduh koe adhol adimu ya Kas, iya Ramane wis percaya maning maring koe Kas!” Mad Gasmin di kumpulkan dengan Kamisah oleh Kasmini anak pertamanya dengan Lasinah.


“Dan ini,” Kasmini mengeluarkan uang sebanyak 300ribu rupiah, “aku kembalikan utang yang dulu pernah aku pinjam ke Kamisah, karena dulu perjanjiannya aku meminjam uang sama Kamisah untuk melunasi pembayaran tanah ini bukan membeli tanah bersama, jadi mulai sekarang tanah ini adalah murni milik aku, untuk sementara kalian semua tinggal lah di rumah dan tanah ini.” Permasalahan utang piutang antara Kasmini dan Kamisah pun selesai sampai disini, rumah Kasmini yang sekarang akan di pindah ke belakang menghadap ke barat, dan di tempat rumah sekarang akan di pondasi dan di buat tembok, Kasmini sangat bersyukur dengan rizki yang Alloh berikan padanya, menurut kisah, Lasinah dulunya adalah seorang anak yang berpunya, anak orang besar di desa Jetis ini, karena dia menikah dengan Mad Gasmin lah kemudian kedua orang tua Lasinah tidak mengakui Lasinah, harta yang di wariskan pada Lasinah pun habis untuk berbagai keperluan hidup selama dia mempunyai suami Mad Gasmin, karena menurut kisah juga dulu Mad Gasmin adalah pria yang gemar berjudi, sebagian besar harta Lasinah habis hanya untuk berjudi oleh suaminya, itu juga yang menyebabkan Lasinah minggat ke lampung dan meninggalkan ke tiga anaknya dengan suaminya.


Dan kini Kasmini sudah merasa berhasil karena sudah bisa kembali memiliki tanah dan rumah sendiri, ketekunannya mengumpulkan sedikit demi sedikit rizki yang di berikan Alloh padanya, juga ketabahannya menghadapi cobaan dari Alloh membuat dia semakin menjadi orang yang berguna untuk orang-orang yang di cintainya.


Dalam waktu kurang lebih satu bulan rumah itu pun berdiri kokoh di atas tanah milik Kasmini, Kasmini merasakan ke jenuan di rumah, dia pun kemudian pergi lagi ke Malaysia, Kamisah juga kemudian pergi ke Singapore, Puji di titipkan pada Kakek dan nenek, Wagiyo pun ikut pergi merantau ke Malaysia, kembali di rumah hanya ada Teguh dan kedua orang tua Kasmini dan Kamisah, namun kini bertambah Puji yang masih berusia tiga tahun bersama mereka.


Tanpa sepengetahuan dari semua orang yang di kenal Maman, ternyata Maman mengalami musibah dalam bahtera rumah tangganya, secara sepihak istri Maman Karni menggugat cerai Maman, begitu dia datang ke rumah Karni, di rumah itu sudah ada seorang lelaki yang di jodohkan oleh orang tua Karni, sedangkan Maman sudah mempunyai seorang anak dari Karni, seorang lelaki bernama Shaleh, sungguh Maman adalah seorang yang sangat penyabar, begitu dia kembali ke Jetis, di jetis juga dia mendapat berita duka, guru ngajinya meninggal dunia, dia menjadi bingung harus berbuat apa, mau atau tidak dia memerlukan hiburan, dan teman lah yang bisa menghiburnya. Dalam waktu singkat dia sudah tidak berbeda dengan teman-temannya, pemabuk dan urakan bukan lagi seorang Maman yang selalu mengaji dan selalu wirid di tengah malam.


Tidak sampai setahun Kasmini kembali dari Malaysia dan membawa seorang lelaki asal Jawa Timur, namanya Agus Makin, kemudian dalam waktu sebulan dia pun di nikahi oleh si lelaki, inilah pernikahan ke tiga Kasmini dalam hidupnya, kali ini Kasmini akan menetap di kampung dia pun membuat sebuah warung makanan di depan rumahnya, mie rebus dan berbagai makanan lain.

__ADS_1


Kembali pada Teguh, setelah dia menerima keputusan Pak Saliman untuk tidak naik kelas, dia menemukan sahabat baru, di antaranya Sugianto, Lasino, Dwi Septiani, dan Sri Paryani, mereka lah yang mengerti akan perasaan Teguh saat ini.


***


__ADS_2