Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 1: Nama adalah Do'a (4)


__ADS_3

Saat musim layangan tiba, teman-teman sebaya Teguh pada main layangan, Teguh juga punya ke inginan untuk main layangan dia coba buat, tapi dia tidak bisa buat layangan, kemudian dia meminta belikan layangan sama mamanya.


“Ma! Teguh kepengin layangan! tukokna ya ma!” karena Kasmini emang sayang sama Teguh, Kasmini langsung membelikan dia layangan, Teguh pun bermain layangan dengan teman-teman sebayanya lari ke sana-lari kesini, dia begitu gembira sampai akhirnya dia kecape’an, dia pun tertidur dengan pulas begitu selesai bermain layang-layang, itu pagi hari sore harinya begitu Teguh bangun tidur dia pun langsung bermain lagi, tapi kali ini Teguh main sendirian, mungkin teman-temannya belum pada bangun tidur kali, sewaktu main layangan ternyata benangnya putus, itu artinya Teguh harus menyambung benang layangannya, namanya juga anak kecil, dia pun saat itu masih bodoh, maksudnya belum pinter, entah bagaimana ceritanya Teguh mencari parang lalu dia mencoba memutuskan tali rafiah, entah kenapa dia ingin memutus tali rafiah, dia pun menemukan parang besar, namanya juga anak kecil, dia pun mengangkat parang dan menjatuhkan ke tali, tali itu tidak putus, dia coba lagi dan tali itu dia pegangin, parang pun jatuh ke tempat yang sama, tapi kali ini parang itu tidak mendarat di atas tali, melainkan di atas jempol tangan Teguh yang sedang memegangi tali, Teguh tidak menangis dan dia juga tidak merasakan apa-apa, dia angkat parang itu lagi, saat itu juga darah mengalir keluar dari atas jempol tangan yang tadi ke jatuhan parang, dia dengan reflex membuang parang dan berlari mendekati mamanya.


“Ma! Mama! Tangan Teguh nangapa kie ma?”


“Masya Alloh Guh! Koe dolanan apa miki?” Kasmini panik bukan main, dan Teguh tidak tau kenapa mamanya panik, dia pun menjawab pertanyaan mamanya dengan lugu.


“Miki Teguh arep ngethok rapiah karo bedhog, ning kena jempol Teguh ma!” Kasmini semakin panik, karena dia melihat jempol tangan anaknya hampir putus akibat kejatuhan parang tadi, dia langsung merobek baju yang sedang dia pakai lalu membalutkannya ke tangan Teguh, tak lama setelah itu Kasmini membawa anaknya ke sebuah klinik terdekat, rupanya klinik itu tidak menerimanya, katanya luka ini sudah terlalu serius, akhirnya Teguh di bawa ke puskesmas, di sana Teguh di suntik dan di jahit pada jempol yang hampir putus itu, Teguh melihat bagaimana dokter menjalankan pekerjaannya, dia sangat ketakutan, Teguh takut ngelihat jarum suntik. Semenjak saat itulah Teguh menjadi phobia pada jarum suntik, Dengan kejadian ini Kasmini teringat pada sahabatnya Paerah yang pernah menasehatinya saat dia memberi nama anaknya ketika masih dalam kandungan, mungkinkah benar apa yang sahabatnya bilang bahwa memberi nama bayi yang belum lahir itu pamali? Banyak kejadian aneh yang di lakukan anaknya di usianya yang masih belia, anaknya selalu melakukan sesuatu tanpa bertanya dulu, ataukah benar apa yang di katakana wa’nya bahwa dia akan menjadi sang pencari sejati? Anaknya akan mencari sesuatu yang baru? Sesutu yang belum dia ketahui?


***


Kasmini mulai merasa jenuh dengan profesinya, para lelaki yang menyukainya mulai berbuat sesuatu yang sangat mengganggu dirinya, para istri pun mulai tidak menyukai keberadaannya di kampung, dia memutuskan untuk pergi merantau ke Malaysia begitu ada orang yang menawarkan padanya pekerjaan di negri sebrang.


Dua tahun kemudian Kasmini baru kembali ke kampungnya dengan sedikit rejeki. Dengan sisa rejeki itu akhirnya Kasmini membeli sebidang tanah, namun karena uangnya masih belum cukup, dia pun meminta bantuan pada adik bungsunya Kamisah yang selama ini bekerja di Jakarta, Kamisah dan Maman memang tidak pernah selesai sekolah, bahkan Kasmini sendiri tidak pernah sekolah, Kamisah kelas tiga SD sudah pergi ke Jakarta, jangan salah saat dia masih kelas tiga usianya sudah 13tahun.


Dengan uang 600ribu rupiah Kasmini membeli sebidang tanah persis di depan rumah yang dia tinggali dengan ibu kandung dan anaknya, tanah yang dia tinggali adalah milik keponakan Ayahnya.


Ada seorang tetangga yang tidak terima dengan keberhasilan Kasmini di kampung, awalnya kasmini cuek saja dengan semua yang di lakukan dan di katakan oleh sang tetangga, si tetangga selalu menyindir anaknya yang terlihat berbeda dengan kebanyakan anak sebayanya, anaknya memang cengeng, dia selalu kalah bila berkelahi dengan teman sebayanya, ujungnya ya dia menangis. Tapi kemudian kemarahannya tidak bisa tertahan lagi, kemarahan itu di sebabkan sang tetangga melecehkannya, kata tetangga. “Din! Aja ngulaih Teguh! Teguh tulih anake wong ayu, ayune kaya Lendra.” Lendra adalah ikan laut yang mulutnya ada di tepi, itu yang membuat dia sangat berang, emosinya sampai di ubun-ubun. Kasmini tidak ragu lagi di datangilah rumah si tetangga dengan emosi yang meluap-luap.


“Eh…congor paceran! Keluar kamu dari kandangmu ini!” dengan kedua tangan memegang pinggang, persis seperti orang yang sedang menantang musuh tuk bertarung, Kasmini berdiri di depan rumah si tetangga, paceran adalah saluran air limbah dari sumur, jadi baunya bukan main, bau banget, dan baunya itu Kasmini samakan dengan kalimat si tetangga yang tidak bisa di terima olehnya. Mendengar Kasmini berteriak-teriak di depan rumahnya, si tetangga pun keluar.


“Ana apa kie?”

__ADS_1


“Koe miki ngomong apa?”


“Emangnya aku ngomong apa?” si tetangga pura-pura bodo, dia pura-pura lupa dengan kalimatnya, tanpa ragu lagi Ibu kandung Teguh itu menjambak rambut si tetangga, dia tarik dari mulut pintu rumahnya, hingga ke pelataran rumah, si tetangga berteriak kesakitan, dan Kasmini tanpa ampun terus menjambak rambutnya dan terus menjambak, di tarik sana, tarik sini.


“Kalau ngomong jangan asal ngomong kamu ya!” di perlakukan seperti itu si tetangga malah makin menjadi menghina Kasmini, jadi Kasmini juga jadi makin semangat tuk menghajar dia. Si tetangga meronta, akhirnya jambakan Kasmini terlepas, dia si tetangga langsung lari masuk rumahnya lagi dan menutup pintu.


“Eh jangan kabur kamu! Eh…congor paceran!” kemarahan Kasmini begitu besar, karena dia tidak terima dengan hinaan yang si tetangga katakan padanya.


***


“Yu, aku arep meng Jakarta!”


“Kamu mau ke Jakarta Man?” Kasmini terkejut dengan ke inginan Maman adiknya.


“Ya apik nek kaya kue.”


“Aku janji yu, aku tidak akan menikah sebelum aku bisa berbakti pada byunge juga pada Yayune yang selama ini sudah bersusah payah menafkahi aku.”


“Kalau itu sudah menjadi ke inginanmu Yayune tidak akan melarangnya, lakukan lah semua yang menurut kamu baik.”


“Tapi yu.”


“Apa lagi?”

__ADS_1


“Aku tidak punya ongkos untuk ke Jakarta yu.” Kasmini pun mengambil dompetnya di kamar kemudian kembali menemui Maman.


“Nyah! Yayune due duit limangewu, ini cukup untuk pergi ke Jakarta, kamu menuju alamat bapaknya Teguh saja, nanti biar dia yang mencarikan kamu kerja.” Ke esokan paginya Maman pun pergi meninggalkan kampungnya.


Namun belum satu bulan dia ke Jakarta, dia sudah kembali lagi dengan membawa seorang perempuan cantik.


“Yu ini Karni.” Maman memperkenalkan gadis cantik bernama Karni pada kakaknya.


“Siapa dia Man?”


“Aku mencintainya yu, aku ingin memperistri dia.” Kasmini langsung tertawa lepas mendengar niat baik Maman.


“Kamu masih ingat janji kamu dulu sebelum kamu pergi ke Jakarta?”


“Iya yu, aku ingat dan aku minta maaf karena aku tidak bisa memenuhi janjiku itu.”


“Tidak masalah Man, Yayu ngerti kok, lagi pula ini kan bukan suatu kesalahan, niatmu baik, terus sekarang yanune harus berbuat apa untuk kamu?”


“Aku mau Yayu pergi ke rumahnya di Banyumas dan melamarnya untuk aku.”


“Baik besok Yayu akan ke Banyumas.” Kasmini masih menahan tawa yang menggelitik, adiknya yang masih berusia 18tahun sudah mau menikahi perempuan pilihannya.


***

__ADS_1


__ADS_2