Ranting Kering Menantikan Hujan

Ranting Kering Menantikan Hujan
Bab 11: Inspirasi (3)


__ADS_3

Sedikit demi sedikit dia mencoba tuk menjauh dari Ayu, dia sekarang punya sepeda ontel, jadi kalau berangkat kerja naik sepeda, ngeri juga naik sepeda di jalan raya, tadi aja waktu dia berangkat kerja tangannya kecantol sama setang motor, untung aja dia tidak roboh, kalau roboh? habis lah dia di lindes mobil, tapi dia bawa enjoy aja.


Dia tadi ngeliat ada cewek cleaning service, cakep anaknya, putih, rambutnya pendek, tiba-tiba saja cewek itu lewat, Teguh pun kembali memperhatikannya, dia belum tau namanya siapa, dia kan kerja di sini belum lama-lama amat, kira-kira dia bisa tidak ya jadi pengganti Ayu? Entahlah, yang jelas setiap kali dia inget Ayu, dalam dadanya ada yang menyayatnya, tapi dia harus ngelupain Ayu! kenapa dia selalu saja harus melupakan manusia yang sedang dia cintai, semuanya, dari mulai cinta monyetnya pada Tusmiati, terus datang Kuwat menggantikannya, lalu datang Intan dengan senyum manisnya, tiba-tiba datang Yani merebutnya dari Intan, Yani dia putusin, Zahra dan Maryam kasih harapan ke dia, harapan tak kesampaian dia merana, lalu masih mencari cinta datang menghibur si Titi, lalu Vina datang tak di undang, terakhir kini hadirlah Astuti Tri Ratna Hartayu, dengan kesempurnaan yang sempurna, yang belum pernah dia alami sebelumnya, terpesona pada pandangan pertama.


“Hallo ma!” sudah lama dia tak pernah menghubungi Kasmini mamanya, semalam lah pertama kalinya dia menghubungi mamanya, dan sekarang dia juga ingin kembali mendengar suaranya.


“Ya hallo! Apa hal mas?”


“Saje…”


“Eh mas! Mamas ada kawan anaknya pak RT tak?” Teguh tidak mengerti apa yang di maksud mamanya, semenjak Afiq lahir Kasmini jadi terbiasa memanggil anaknya dengan sebutan ‘mamas’


“Anaknya pak RT mana?” tapi kemudian dia ingat, si Beti kan anaknya pak RT di kampungnya, “O…Beti ya ma? Ada.”


“Mamas suka ke?” Teguh pun kali ini lebih terkejut.


“Apaan sih mama? Kita emang suka telpon-telponan, kita cuman curhat-curhatan kok, kita cuman teman.”


“O…ingat kan mamas suka, mama pun suka, sebab mamanya Beti tu kawan mama, dia yang tau kisah tentang mama, masa dulu buat pergi ke Jakarta, mama tengah mengandung Teguh, dia jual ayam dua ekor buat mama pergi ke Jakarta, dia tau hal itu Guh.” Dia lah Paerah sahabat terbaiknya dulu, dan Beti adalah anaknya.

__ADS_1


“Mama tau dari mana? Kalau mamas punya kawan Beti?”


“Mama kan mamanya Teguh, tentu tau lah!” dia pun tak tau apa maksud mamanya. “Kalau mamas bener suka Beti, mama juga suka, jadi tak jauh-jauh, mamas tau tak? mamas dah tak muda lagi tau.” Mulai lagi, mama ngomel-ngomel lagi, padahal baru semalam mama ngomelin dia, gara-gara dia masih belum berubah fikiran, dia masih pengen di Jakarta aja dulu..


“Udah ya ma! Teguh mau kerja lagi nih.” begini kerjaan Teguh tiap hari, naik turun lift sampai bosen.


***


Oh cinta…oh jiwa…oh yang kuasa. Males banget dia mau bengun hari ini, serasa dia tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, mungkin sekarang sudah jam sebelas siang, dia bener-bener males, dia males, males dan males, buat apa dia bangun, kalau setelah bangun dia hanya akan merenung? Kamera Teguh kan lagi di pinjam sama Ayu, kemaren pagi waktu dia mau berangkat ke Glodog, dia di datangi Ayu sama kakaknya, Ayu kan kemaren juga ada acara, yaitu ngerayain pernikahan kakaknya, pasti kemaren bagi Ayu adalah hari yang penuh kebahagiaan penuh canda tawa, dan Teguh? dia adalah manusia tersedih di dunia, sungguh bagaikan langit dan bumi, bagaikan juga Ayu dan Teguh, yang akan selalu berbeda, mungkin selamanya mereka takkan sama, tak akan pernah sama, Teguh kemaren habis dari tempat ‘audisi selangkah menjadi bintang layar lebar 2008 bersama Rudi Soejarwo’ yang bertempat di mega glodog kemayoran, tapi ternyata dia juga gagal mewujudkan mimpinya. Setelah itu dia kembali mengingat manusia yang selama ini terus mengganggu hidupnya, mengusik fikirannya dan terus membayangi langkah-langkahnya dialah Ayu.


“Andaikan aku bisa ungkapkan perasaanku sama kamu Yu, tapi itu ngga mungkin, sudah begitu banyak lelaki yang mengatakan bahwa dia suka sama kamu Yu, dan begitu banyak lelaki yang masih menunggu kata putusmu Yu. Dan di antara mereka terdapat aku Yu, aku manusia tak berdaya ini, aku ngga, aku ngga sanggup tuk mengatakan bahwa aku adalah lelaki yang paling untukmu, aku ngga sanggup tuk katakan bahwa aku adalah lelaki yang paling mencintaimu, aku juga ngga mampu tuk katakan bahwa aku adalah lelaki yang sempurna untukmu, karena mereka yang mencintaimu, mereka yang menyayangimu, mereka yang rela berkorban untukmu, pasti akan mengatakan satu kalimat yang sama, satu harapan yang sama, dan yang mampu aku katakan adalah aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku bahagia bila aku melihat senyum manis merona di wajahmu, aku ngga mau melihat air mata menetes di pipimu, aku ngga bisa lupa akan manisnya wajahmu, betapa sucinya hatimu, betapa sholeh pendirianmu, dan aku takut tuk memilikimu, aku tak pantas untukmu, aku yang hina ini tak akan bisa bahagia kan dirimu, karena aku hanyalah seorang pengembara cinta, sang pencari sejati, entah kapan aku bisa berlabuh dan menetap di satu darmaga cinta yang sejati.” Inilah ungkapan hati Teguh yang dia goreskan dalam buku novelnya yang berjudul ‘Pengembara Cinta’ sebuah buku yang terinspirasi dari seorang Ayu yang sangat dia cintai saat ini tentunya, dia berencana akan memberikan buku itu pada Ayu bila sudah selesai nanti, dan ini adalah bentuk cintanya untuk Ayu, kisah tentang perjalannya menemukan Ayu.


Kalau sudah rapih begini kan mau ngapa-ngapa juga pede, sekarang dia mau telpon mamanya, dia mau bilang ke mamanya kalau dia siap terbang ke Malaysia kapan saja, tapi dia takut mau ngomongnya, akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dia pun beraniin, biasa, dia cari nama mamanya di hapenya, „mama‟ langsung dia telpon.


“Hallo ma? Mamas sudah siap ke Malaysia, mamas sudah berubah pikiran.”


“Ya…baguslah kalau begitu…” sepertinya harus di sensor sedikit, aslinya Kasmini tu banyak ngomong, tapi dia ngomongin yang Kasmini pernah ngomong ke anaknya dulu, dia sudah siap berangkat ke ITC, dia pengen ketemu Ayu, itu tujuan utamanya, dan memang selama ini setiap dia ke ITC, tujuan utamanya adalah Ayu, tak ada tujuan lain, paling kalau tidak nyetak foto, ngapain kek buat alasan agar dia bisa ngeliat wajah manis Ayu, biasa, dia bawa sepeda ontelnya, dia santai aja, untuk melipur sedikit kesedihan yang menimpa dirinya dia pun teringat kenangan indah bersama Ayu hari senin yang lalu, kenangan terindah yang sudah dia abadikan dalam novel yang sudah dia tulis dengan tangannya sendiri.


“Aku nonton Ayat-ayat cinta bareng Ayu tau, tau ngga, saat itu adalah saat paling romantis, saat paling istimewa, paling special banget, ngga ada hari seindah hari itu, aku sama Ayu ngga ada jarak, aku sama Ayu duduk berdampingan, aku di samping Ayu dan Ayu di sampingku, sudah kaya raja dan permaisurinya, kayak sepasang pengantin yang sedang berbahagia, tapi yang di sayangkan adalah aku ngga bisa menyentuh Ayu sama sekali, aku cuman bisa ngeliat Ayu, ngeliat Ayu dengan begitu dekat, tapi walau bagaimana pun aku tetap bersyukur karena bisa sangat dekat dengannya. Dan yang ngebuat aku seneng aku bisa nonton ke bioskop bareng dia, itu adalah pertama kali aku nonton di bioskop, walaupun ngga berdua, alias rame-rame, awalnya aku kecewa juga tau, sebab, Ayu nya jauh dariku, tapi ternyata Ayu salah duduk, Ayu duduk di tempat yang salah, lha, ni gimana sih? Cerita kok di bolak-balik? Kalau telur dadar sih malah bagus, ngga gosong, nih mau cerita atau gimana sih? Iya…iya…nih aku serius lagi, sampai mana tadi? Iya ternyata yang di duduki Ayu bukan kursinya, dan kursinya adalah kursi yang ada di samping kiriku, bingung ya? ya sudah lah ngga usah di pikirin, yang penting Ayu ada di sampingku akhirnya, aku tau Ayu pasti ngga ngerasa apa-apa duduk di sampingku saat itu, tapi yang aku rasakan serasa darah ini mengalir begitu deras, jantung yang aku punya cuman satu ini serasa bergerak meronta begitu kuat, dan yang dapat merasakan semua itu hanya aku, aku yang saat itu sedang ada di samping seorang wanita yang aku puja, sangat aku cintai, yang aku ketahui dia sudah menjadi milik orang lain, yang sudah tentu Ayu sangat mencintainya, sakit hatiku, kalau inget saat itu tapi aku mencoba untuk meng ikhlaskan semua ini, ini lah yang harus aku terima. Inilah suratan takdir yang harus aku lalui, kamu mendukungku kan? kamu tetap jadi my brother kan? Walaupun aku ngga dapat memiliki cinta sejatiku ini? toh kalau memang Ayu adalah jodohku, dia pasti ngga akan ke mana ya, sungguh beruntung si Danang yang sudah menjadi orang nomer satunya, dan sangatlah merugi orang-orang yang sudah menjadi mantannya, mungkin kah aku bakal menjadi orang yang merugi karena telah memutuskan tuk mengangkat bendera putih tanda menyerah. Aku ngga mau menjadi orang yang di benci sama Ayu, seperti orang-orang yang pernah aku cintai, aku sayangi membenciku. Sudahlah, sekarang lebih baik aku berusaha tuk meng ikhlaskan Ayu, biar lah dia bahagia dengan orang yang dia cintai, bersama orang yang menjadi pilihannya, aku ikhlas, aku sudah siap menerima semua ini.”

__ADS_1


23 April 2008


Semua sudah selesai, ini sudah menjadi keputusannya, dia harus pergi, dia harus pergi jauh dari Ayu, ini satu-satunya jalan tuk bisa meng ikhlaskan Ayu untuk Danang, setidaknya dia sudah bisa nunjukin padanya bahwa dia sayang sama Ayu, perhatian sama Ayu, dia pun merasa Ayu sudah tau kalau dia selama ini memang suka, cinta sama Ayu, dia yakin Ayu tau itu, kemaren dia kasih kado ulang tahun buat Teguh, berbentuk jam tangan, itu sudah menandakan bahwa Ayu sudah mengenalnya, tapi sayang, dia tidak bisa ngasih kado buat Ayu, karena kado yang seharusnya selesai pada hari ulang tahunnya terjadi kemunduran, sekarang buku itu sudah selesai dan besok dia akan mengantarkannya ke Ayu. tapi dia sudah gantikan, dia sudah kasih Ayu kue ulang tahun brownies, bukan dia mau mengunggkit-ungkit sesuatu yang sudah dia kasih kan ke orang lain, tapi dia hanya ingin sekedar kasih tau, kalau dia sudah berbuat itu untuk Ayu yang sangat dia puja, dia juga dapat kado istimewa dari Kasmini mamanya, pada tanggal dua puluh satu pukul nol nol nol nol, dia bisa duduk di antara dua orang yang sangat dia cintai lebih dari segala yang pernah dia cintai, dan tentu mereka mencintainya, yaitu mama dan byunge.


Dia mau tidur, besok dia mau anterin kado sebuah novel ciptaannya buat Ayu, dia harap Ayu akan senang menerimanya walaupun dia telat satu minggu ngasihnya, yang penting dia bisa kasih tau kalau dia sangat mencintainya, apa pun kan dia korbankan, hanya demi melihat senyum manisnya, itu sudah cukup bagi Teguh, ngebuat dia tetap tersenyum, meskipun dalam dadanya menjerit meronta memprotes semua yang sudah dia perbuat pada Ayu, Ayu bukan siapa-siapa, tapi dia sangat mencintainya, biarlah menjadi rahasia, segala yang tak harus di ketahui Ayu, biarlah tetap tidak Ayu ketahui, cukup Ayu tau dia mencintainya, lebih dalam dari samudra, lebih tinggi dari gunung, lebih luas dari langit, dan kini dia akui siapa dirinya.


Matahari menyingsing di ufuk timur perlahan naik terus menemani Teguh yang sedang bergejolak di dalam dadanya, dia sekarang jalan menuju ITC Fatmawati, dia tidak kuat, dia pun harus menangis, sebenarnya tidaklah pantes, masa’ cowok nangis? Gimana ngga nangis? dia harus berpisah dengan orang yang sangat dia cintai, dan orang yang dia cintai belum tau kalau dia cinta padanya, mangkanya dia sekarang lagi jalan menemui orang itu, maksudnya dia lagi ke tempatnya, naik sepeda ontel, bukanya jalan kaki, dia kesana adalah untuk memberikan buku yang di buatnya sendiri, buku ini adalah kisah tentang perjalanan menemui orang yang dia cintai, semuanya, tanpa terkecuali, dan sore ini dia cabut dari Jakarta, dia mau menuju ke Malaysia, ini keputusannya, dan untuk ke sekian kalinya dia naik sepeda ontelnya, dia ke ITC untuk menemui Ayu, aslinya dia emang cengeng, dia cowok tapi dia cengeng, dia suka nangis, kayak cewek aja, tapi ini lah dia, dia tak tau entar kalau dia ketemu sama Ayu, Ayu tak tau kalau suara jeritan dalam dadanya lebih keras dari pada isak tangisnya ini, tapi dia emang tidak mau Ayu tau itu.


Dengan langkah gontai dia keluar dari gedung ini, dia baru bisa nangis waktu dia mulai menginjak tangga turun gedung ITC, tapi syukurlah dia tidak nangis di depan Ayu, walaupun sudah ada setetes air yang turun memaksa keluar.


“Sekarang lebih baik aku jalan pulang ngga usah tengok belakang, aku ngga usah lihat ITC lagi, mulai sekarang aku adalah Teguh Prayitno, ya…Teguh Prayitno yang baru, bener-bener baru, aku ngga mau lagi bersedih, aku kan berjuang tuk menjadi Teguh Prayitno yang ceria, yang selalu menghibur manusia yang sedang berduka,” Titi sudah tidak marah lagi, kemaren Teguh hubungi dia di kampung, dia sudah mau ngobrol dan bercanda lagi sama dia, Zahra juga begitu, dia sudah ngga marah sama Teguh, dia emang sudah nganggep Teguh tu seperti abangnya sendiri, Teguh aja yang salah pengertian, ya syukurlah kalau begitu, Yani sudah aman, dia sudah menjadi seorang istri, Intan, Kuwat, Tusmiati, entah mereka ada di mana, tapi yang pasti mereka tidak marah sama Teguh, tinggal si Vina yang masih takut ketemu dengannya, Maryam masih di Al-Zaytun, sekarang dia harus hapus air mata nya, Teguh! Kembalilah tersenyum!


Dia kayuh sepeda kesayangannya, dengan senyum yang lebar, dia masuk jalan raya, dia terus kayuh sepedanya, Kasmini sedang menunggunya di kontrakan dengan Byunge, kali ini mereka akan ke Malaysia bersama, dan Ayu pasti masih sibuk dengan semua pelanggannya, hadiah darinya pasti masih di taruh di suatu tempat, dan tempat itu tidak terjangkau dari dirinya, mungkin dia akan mulai membuka hadiah dari Teguh waktu dia sudah di rumah nanti, itu pun setelah dia pergi ngaji, dan dia ketemu dengan Danang di forum pengajian itu, mungkin juga nanti Ayu akan bercerita tentang hadiah dari Teguh itu ke Danang, Teguh sudah bilang ke Ayu kalau hadiah ini adalah sebuah buku karyanya sendiri, Teguh juga kasih tau kalau judul buku itu Pengembara Cinta, tapi Teguh tidak kasih tau kalau isi buku itu menceritakan tentang diri Teguh, dan semua pengembaraan Teguh untuk menemuinya, Teguh berharap dia bisa terima semuanya, Teguh tidak ingin apa-apa dari dirinya, Teguh hanya ingin dia tau, kalau Teguh sayang sama dia, Teguh hanya ingin dia tau kalau Teguh mencintainya, itu sudah lebih dari cukup buat Teguh.


Seminggu setelah Ayu menerima novel yang Teguh tulis dengan tangannya sendiri, di kediaman Ayu berlangsung akad nikah, Ayu di nikahi oleh seorang Danang, calon dokter yang sangat Ayu cintai. Sebelum berlangsung pernikahan Ayu kembali melihat buku pemberian Teguh dan sedikit tersenyum, dia hanya bisa berbuat itu setelah membaca habis coretan-coretan tangan Teguh, kini dia sudah mengetahui segalanya tentang Teguh, seorang lelaki yang sangat memujanya.


“Baru kali ini aku bertemu dengan orang asing dan dia jatuh cinta padaku dengan begitu tulus, sungguh beruntung wanita yang akan mendapingi sisah hidupnya, maafkan aku Teguh, kamu terlambat memberi tahuku tentang perasaanmu padaku.” dia meletakan buku itu kembali di dalam lemari di bawah tumpukan baju yang biasa dia kenakan, entah karna dia ingin menjaga buku itu, atau supaya Danang tak tau tentang buku itu, tak terasa air mata menetes dari pelupuk matanya,


“Terimakasih karena kamu mau mencintaiku!” dia pun meninggalkan kamarnya dan menemui orang-orang yang sudah menunggu kedatangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2